Ibu Prita VS Manohara

Dari minggu lalu saya baru tahu tentang kasus yang menimpa Ibu Prita Mulyasari. Curhatnya lewat media internet soal pelayanan yang buruk di rumah sakit Omni Internasional berbuntut panjang. Dia terpaksa ditahan pihak berwajib karena pihak rumah sakit menuntutnya dan menjeratnya dengan pasal pencemaran nama baik UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik). Halah saya benar-benar kaget membaca berita soal Ibu Prita ini. Kasihan sekali rasanya, mungkin seperti sudah jatuh tertimpa tangga, tangganya digilas kuda, kudanya hamil kembar dua belas.Berita lengkapna Anda bisa membacanya di Surat Pembaca Detik.com. Saya pun dulu pertama kali tahu kasus ini karena membaca berita di Detik.com itu. Tak menyangka belakangan banyak dibahas kalau Ibu Prita itu malah diadukan ke pengadilan oleh pihak rumah sakit. Dan lebih kaget lagi setelah tahu kalau Ibu Prita ditahan pihak berwajib selama proses pemeriksaan.

Hmm pasal pencemaran nama baik memang multiinterprestasi. Banyak sekali celah yang bisa dijadikan cara untuk menjegal lawan/pihak yang berseberangan. Kasus yang menimpa Ibu Prita itu benar suatu bukti bahwa menjegal orang lain dengan pasal pencemaran nama baik UU ITE bisa dilakukan terlepas dari fakta & latar belakang siapa yang benar dan siapa yang salah. Jangan-jangan tulisan-tulisan saya seperti misalnya review hotel bisa bernasib sama :(( Siap-siap balik lagi ke era serba tutup mulut kalau begitu. Kemarin saya juga sempat melihat banyak blogger-blogger terkenal di Indonesia sudah menuliskan keprihatinan mereka soal Ibu Prita. Sampai-sampai ada yang membuat situs khusus untuk menggalang keprihatinan dan protes keras atas tindakan ketidakadilan yang dialami oleh Ibu Prita, situsnya adalah http://ibuprita.suatuhari.com. Saya juga sudah ikut pasang banner-nya di blog ini : Selamatkan Ibu Prita Mulyasari.

Tapi herannya sepanjang pengamatan saya, di televisi jarang ada berita soal Ibu Prita ini. Entah saya yang kurang nonton TV atau memang benar tidak ada. Minggu ini saja, televisi sibuk beramai-ramai membahas yang namanya Manohara. Kasus ini sepertinya lebih menjadi favorit. Entah mana yang lebih penting, tapi menurut saya pribadi kasus Ibu Prita ini sungguh lebih pantas di-blow up ke masyrakat luas daripada kasusnya Manohara. Media memilih yang lain, kasus Manohara benar-benar jadi idola di hampir semua media massa. Lihat saja hampir semua stasiun televisi baik acara berita maupun entertainmen memberitakan model satu itu.

Saya pribadi malah tidak punya rasa simpati apa-apa dengan kasusnya Manohara, jauh berbeda dengan rasa simpati saya dengan kasusnya Ibu Prita. Sejatinya kasus Manohara dalam benak saya hanya kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kebetulan terjadi di luar Indonesia sehingga proses perlindungan hukum sedikit tersendat. Lebih itu tidak. Perjuangan ibunya Manohara pun tidak menarik simpati saya. Kalau ABG bilang “lebay”, berlebihan lah… Ibunya mendadak jadi selebritis. Wajahnya muncul terus di televisi, sampai bosan dilihat. Disambut oleh Laskar Merah Putih di bandara Soekarno Hatta, Manohara disambut bak pahlawan negara…geli saya melihatnya. Diberi topi dan rompi loreng-loreng (mungkin pakaian kebesaran Laskar tsb)…lebay kan? Ya suka-suka mereka sih bagaimana mengadakan penyambutan. Tapi di situ memang ironisnya…saya melihat keberpihakan media pada berita yang bakal menyedot rating tinggi. Salah? Tidak juga sih, namanya juga media tentu ingin bisa menampilkan siaran yang menarik banyak pemirsanya. Sepertinya masih banyak kasus kekerasan yang menimpa warga Indonesia tapi kalah populer dengan Manohara. Berapa banyak TKI yang mendapat kekerasan di luar negeri, belum lagi kasusnya David mahasiswa asal Indonesia yang terbunuh di Singapura…sepertinya masih kalah dengan kisahnya Manohara.

Ironis….banyak yang ironis. Yang sakit & dirugikan malah ditangkap, yang bermasalah dengan rumah tangganya malah disiarkan seheboh itu.

Update 25 Juni 2009 :
Hari ini Ibu Prita dinyatakan bebas oleh Pengadilan Negri Tangerang. Semua biaya pengadilan ditanggung negara. Saatnya menghapus banner “Bebaskan Ibu Prita Mulyasari” dari blog saya.

Soal Potong Kuku

Dari kecil salah satu hal yang saya benci adalah soal potong kuku. Rasanya malas sekali potong kuku. Setelah potong kuku, ujung jari terasa tidak enak…gatal dan sedikit perih. Mungkin cara potong kuku yang salah, pokoknya dulu saya malas sekali potong kuku. Katanya guru-guru sekolah sering memeriksa kuku, tapi jaman saya sekolah dulu tidak ada pemeriksaan kuku loh. Entah sekarang bagaimana, apakah masih ada budaya memeriksa kuku oleh ibu guru di sekolah dasar. Jadi dulu saya potong kuku kalau orang tua saya sudah ribut soal kuku yang panjang dan kotor.

Sekarang saya punya “alarm” sendiri tentang kapan harus potong kuku. Kalau kuku saya sudah mulai memanjang, kegiatan mengetik di keyboard jadi terganggu. Saat itulah saya harus segera potong kuku. Kecepatan mengetik jadi terganggu kalau kuku mulai panjang. Ada kalanya kuku yang panjang nyangkut di sela tombol-tombol keyboard. Kecepatan mengetik jelas menurun karena yang sering menyentuh tombol keyboard bukan ujung jari melainkan ujung kuku. Ah sudah saatnya potong kuku kalau sudah begitu. Apalagi kalau mengetik di keyboard-nya Lenovo Ideapad yang kecil itu. Rasanya enak sekali mengetik di keyboard setelah potong kuku 😀 Biarpun sedikit sakit setelah potong kuku, tapi namanya kebutuhan ya mau gimana lagi. Hal yang sama seperti ini kemungkinan besar juga dialami oleh pemain gitar. Cuma mungkin pemain gitar hanya kuku-kuku di salah satu tangannya saja yang bisa jadi alarm. Alangkah susahnya bermain gitar dengan kuku panjang, pasti sulit menekan string dengan kuku panjang.

Mungkin kegiatan potong kuku ini memang butuh treatment khusus. Sampai-sampai ada perawatan manicure padicure. Sering dengar istilah ini tapi saya baru tahu (baru saja setelah buka Wikipedia :-p ) bedanya manicure dan pedicure. Di Wikipedia dijelaskan kalau manicure adalah kegiatan kosmetik untuk perawatan tangan dan kuku. Sementara pedicure adalah perawatan semacam manicure hanya saja objeknya adalah kaki dan kuku-kuku kaki. Keduanya sama-sama berasal dari bahasa Latin. Manicure berasal dari kata manus (yang artinya tangan) dan cura (yang artinya perawatan). Pedicure berasal dari kata pedis (kaki) dan cura. Entah apakah perawatan semacam ini hanya untuk wanita saja. Ada gak ya laki-laki yang pergi mencari perawatan manicure/padicure di salon? ;)) Kalau saya sih yang penting dapat gunting kuku habis perkara :D.