Naik Taksi Termahal

Selama di Jakarta baru Jumat malam kemarin saya bayar ongkos taksi termahal. Saya naik Bluebird dari depan JW Marriot sekitar pukul 18.05. Dari Mega Kuningan rute menuju Tomang adalah lewat Casablanca lalu lurus terus melewati Tanah Abang. Jumat malam kemarin, perjalanan dari Mega Kuningan sampai fly-over Casablanca saya tempuh dalam waktu 1 jam. Macet di sepanjang Casablanca sampai tepat di samping Le Meridien. Dari sejak naik sampai ke Casablanca saya sudah terlelap beberapa kali, kebiasaan tidur di taksi :-p . Di atas fly-over Casablanca, saya lirik argo taksi sebentar ternyata sudah Rp41.000,-

Gila 😮 untuk jarak sedekat itu (dekat untuk ukuran Jakarta) saya membayar ongkos taksi sama besarnya dengan ongkos taksi biasanya dari rumah ke kantor. Kalau saya pulang dari kantor ke rumah biasanya argo taksi menujukkan angka sekitar Rp36.000,- (jarak tempuh sekitar 8 km). Sekarang untuk jarak sekitar 2 km, saya sudah harus membayar empat puluh ribuan. Kalau dihitung dengan acuan kilometer, perjalanan pulang kantor tadi bisa jadi pengalaman naik taksi termahal selama saya tinggal di Jakarta….ah benar-benar macet yang terkutuk. Untungnya sisa perjalanan melewati Tanah Abang dan Tomang bisa ditempuh dengan lancar. Sampai rumah saya bayar taksi sebesar Rp70.000,-

Padahal Jumat pagi saya sudah sedikit senang melihat lalu lintas Jakarta yang cukup lancar . Saya sempat berpikir jangan-jangan ini efek hari kejepit ini. Kamis lalu adalah hari raya Nyepi dan Jumat ini bukan cuti bersama. Saya duga banyak juga pekerja kantoran yang mengambil cuti di hari Jumat ini.  Wajar kalau Jumat pagi lalu lintas lebih lancar dibandingkan hari-hari biasa. Gara-gara melihat macet Jumat malam tadi (bukan cuma melihat tapi merasakan), saya jadi punya teori lain. Jangan-jangan gara-gara hari kejepit, banyak bos/atasan/manager/petinggi kantor yang mengambil cuti. Lalu karena atasannya cuti, karyawan (anak buahnya) banyak yang pulang cepat; semua bergegas pulang secepat-cepatnya, logis kan hal macam ini memicu macet :-p Eh tapi jangan salah…biarpun bos saya cuti & manajer saya pulang cepat, saya tetap pulang tepat waktu 😀

Thinking of You

Thinking of You mungkin bisa diartikan “mikirin kamu”, atau kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa jadi “ngerasani kowe” (mudah-mudahan tidak salah…tolong dikoreksi kalau salah), atau kalau jadi bahasa Cirebon jadi “mikiri sira” =))

Kira-kira apa yang ada di pikiran Anda kalau foto anjing di atas diberi judul seperti itu? Anjingnya yang sedang mikir atau sebaliknya yang motret yang sedang mikirin anjing itu? Atau malah sedang mikirin yang lain? =))

Count The Balls

Count The Balls adalah judul foto saya ini :

Foto di atas adalah salah satu koleksi foto-foto saat liburan ke Singapura Desember lalu. Aslinya foto tersebut tidak terlalu menarik, terlalu luas tanpa POI (point of interest). Foto aslinya seperti ini :

Foto aslinya tidak mampu bercerita seperti apa yang saya pikirkan waktu itu. Bandingkan foto asli itu dengan foto pertama, menurut saya foto pertama sudah mampu bercerita. Orang sepintas akan mengerti mengapa judul fotonya adalah “Count The Balls”.

Saat sedang duduk-duduk di Marina Bay, saya lihat 2 anak itu bermain-main di dekat pagar pembatas. Tak lama mereka nungging seperti itu, entah melihat apa ke bawah sana.  Mungkin mengagumi bola-bola yang sedemikian banyak di air. Di latar belakang ada banyak bola-bola putih di air (itu laut atau sungai ya…lupa nanya waktu itu). Bola-bola itu katanya dipasang untuk acara malam tahun baru 2009. Posisi saya duduk dengan kedua anak itu cukup jauh. Sayang lensa saya terlalu pendek, zoom sudah maksimum tapi tidak mampu mengisolasi gambar pada kedua anak itu saja. Senin lalu saya iseng mencoba cropping foto aslinya. Cropping/pemotongan gambar saya pilih untuk menonjolkan POI di kedua anak tersebut, dan supaya fotonya bisa bercerita (atau paling tidak bisa seirama dengan judulnya).

Jadi kesimpulannya : foto yang kurang jelas Point of Interest-nya bisa diakali dengan cropping (memotong gambar) pada bagian objek yang ingin ditonjolkan saja. Kesimpulan kedua : belilah lensa tele segera =)) (supaya lain kali bisa mengambil foto momen-momen langka dari kejauhan).

Blade On the Heart

Anda yang membaca tulisan ini dan mengerti bahasa Mandarin pasti tahu apa arti karakter/huruf di samping ini. Jadi ceritanya kemarin rekan saya Joni memberi nasihat yang bagus untuk saya. Dia bilang ada 1 huruf China yang cocok untuk saya…huruf persis yang ada pada gambar di samping ini. Huruf itu adalah huruf ren katanya dibaca “jen“, bingung juga bagaimana menulis huruf ‘e’ dengan ‘topi’ di atasnya. Dalam bahasa Mandarin kalau tidak salah ada 4 macam suara (satu tulisan dengan 4 cara pengucapan, masing-masing punya arti sendiri). Secara literal, huruf ‘ren’ tersebut berarti pedang yang menancap di hati. Huruf ‘ren’ tersebut terdiri dari 2 kata. Bagian yang atas (yang berbentuk seperti M, berarti pedang), sementara bagian yang bawah (yang terlihat seperti W, berarti hati). Kamus Mandarin online Zhongwen (dibaca “cung wen”) menjelaskan kata ‘ren‘ artinya “blade in the heart” 😮

Dalam konteks nasihat Joni pada saya, ‘ren’ diartikan sebagai menahan diri. Huruf-huruf atau kata dalam bahasa Mandarin memang penuh dengan filosofi. Sebuah kata dapat terbentuk dari gabungan beberapa kata, dengan gabungan tersebut terbentuk sebuah makna baru. Memang hebat kebudayaan China itu, pantas diacungi jempol kebudayaan mereka sudah maju sekian abad sebelum Masehi dan penuh dengan ajaran filosofi.

Ya kemarin Joni memang sedang menasihati saya soal “menahan diri”. Awalnya kita sedang bicara soal menabung. Orang yang boros seperti saya memang layak dinasihati untuk menabung ;)) . Pesan moral yang saya dapat mungkin artinya lebih baik menahan diri dulu untuk kebaikan saya di masa depan. Mulai belajar menabung (diikuti hidup hemat tentunya) memang tidak mudah. Apa yang dimaksud dalam kata ren tadi mungkin bisa menggambarkan bagaimana sulitnya mulai menabung. Mengekang keinginan, belajar bersabar, menahan diri tidak konsumtif, bukan sesuatu yang gampang bahkan bisa menyakitkan (tapi bukan sesuatu yang mustahil). Menurut kamus Zhongwen kata ‘ren’ juga dapat diartikan sebagai endure (sabar). Ah memang keren huruf Mandarin yang satu ini…dalam artinya. Tiap kali mulai tidak sabaran, tiap kali mulai tidak bisa menahan diri, tinggal ingat saja ada pedang yang menancap di hati…terasa sakit tapi harus tetap bertahan.

Nah tadi sempat mikir juga bagaimana cara mengetik aksara Mandarin di Ubuntu. Dulu saya sempat menulis tentang bagaimana menulis aksara kanji/Mandarin di Windows, tulisan itu ada di sini. Googling sebentar sampai bertemu dengan panduan ini. Saya ringkas langkahnya seperti berikut ini :

  1. Instal paket-paket berikut ini :
    tedy-laptop:/# sudo apt-get install scim-qtimm im-switch scim-pinyin
    
  2. Atur cara input dengan perintah im-switch :
    tedy-laptop:/ # im-switch -z all_ALL -s scim
    
  3. Logoff dulu dari Ubuntu, setelah login kembali Anda akan menjumpai icon bebentuk keyboard di bagian notification bar (di Ubuntu by default ada di bagian kanan atas layar).
  4. Klik icon tersebut lalu pilih Chinese Simplified untuk mulai mengetik aksara Mandarin. Untuk balik lagi ke mode teks biasa silakan pilih English Keyboard. Gambar huruf di atas saya ketik di OpenOffice.

Jangan terlalu percaya pada penjelasan saya soal huruf Mandarin & cara pengucapannya…lah wong saya gak bisa bahasa Mandarin kok ;)) Saya cuma terkesan saja dengan huruf Mandarin yang itu. Tapi Anda boleh percaya pada penjelasan saya tadi soal bagaimana mengetik aksara Mandarin di komputer berbasis Linux 😀 Tambahan informasi, di situs ini Anda bisa lihat bagaimana cara menulis karakter Mandarin (garis demi garis tidak boleh salah urutannya).

Thanks Pak Jon buat nasihatnya kemarin