Surabaya (part 8) – Linux On USB Drive

Finally I found the simple way to install Linux to my USB stick drive. Few days ago, I read the article on Internet about Unetboot; it’s a Windows application that made for help Windows user install Linux to a USB drive. It’s require at least 1 GB USB drive. After download the source from http://unetbootin.sourceforge.net/ , I want to try it immediately but I didn’t bring any Linux CD. So I decided to download Linux from the Internet, looking for the small Linux distro and Puppy Linux it is. No more painfull way for installed Linux to USB drive.My first plan to try boot from USB was using virtual machines. But unfortunately, both of VMWare and VirtualBox doesn’t provide the USB boot mechanism. So I must try it directly with my notebook.

And here is me now browsing and blogging using Sea Monkey web browser, which is include in Puppy Linux installed on my USB drive. After put in Puppy Linux into my USB, I can run the Puppy installation wizard so that Puppy Linux installed permanently on my USB drive not just live session. It will be nice have tools like this one (unetboot), because whenever I have Linux ISO image I can try it without need to burn it into a cd. I can use my USB drive to try the Linux also without need virtual machine.

** Just another activity to killing boring time at the hotel **

Surabaya (part 7) – Menu Hotel Singgasana Surabaya

Sudah hampir satu minggu saya menginap di hotel Singgasana Surabaya ini. Cerita tentang hotel Singgasana sendiri, sudah saya tuliskan di sini. Sekarang saya ingin cerita tentang menu makan yang disediakan di hotel Singgasana. Sejak Jumat lalu saya sering kali makan di hotel karena malas keluar dari hotel untuk sekadar cari makan. Saya coba beberapa menu yang disajikan di buku menu yang ada di hotel. Daftar menu yang ada di kamar menurut saya kurang lengkap (menurut saya masih lebih lengkap buku menunya hotel Garden Surabaya). Beberapa menu masakan yang sudah saya cicipi, saya rangkum dalam komik di bawah ini :

Nomor-nomor yang ada di gambar di atas menunjukan tingkat “lezat”nya makanan versi saya sendiri 😀 , berikut sedikit catatan dan komentar tentang makanan-makanan tersebut :

  1. Ikan gurami sambal tomat
    Ini adalah menu favorit saya dari beberapa menu yang sudah saya cicipi. Ikan gurami yang disajikan kira-kira ukuran setengah kilo, cukup besar ukurannya untuk dimakan sendiri. Tapi habis juga tuh 😀 malah seringnya nasinya sudah kepalang habis dulu sementara daging ikannya masih banyak. Ikan bakar ini dilumuri bumbu kecap manis dan kacang, bumbu yang pas itu dipadukan dengan segarnya daging ikan plus hitung-hitung harganya membuat menu ini jadi menu favorit saya di hotel Singgasana. Dengan harga sekitar Rp50.000,- ikan gurami ini paling cocok untuk mengenyangkan perut. Sayang kali kedua saya pesan ikan gurami ini, ikannya terlalu gosong.
  2. Daging sapi lada hitam
    Sebenarnya di buku menu tidak ada menu sapi masak lada hitam. Saya iseng saja bertanya pada room service apakah ada menu sapi lada hitam, eh ternyata ada. Saya yakin restoran bisa menyediakan sapi lada hitam karena Minggu pagi kemarin, salah satu menu breakfast adalah daing sapi yang dimasak dengan bumbu lada hitam. Untuk harga sekitar Rp85.000,- porsi daging sapi masak lada hitam ini terlalu sedikit. Dagingnya memang empuk tapi rasanya kurang top. Selama jalan-jalan keliling beberapa kota, masakan sapi lada hitam yang menurut saya benar-benar enak adalah yang disajikan di hotel Wisata Palembang dan hotel Sagita Balikpapan. Biarpun masih kurang top, menu sapi lada hitam di Singgasana masih menarik bagi saya makanya saya beri peringkat 2 🙂 .
  3. Ayam kampung goreng kalasan
    Mungkin karena ayam goreng ini menggunakan daging ayam kampung jadi rasanya enak. Daging ayamnya yang empuk dan kulit ayamnya cukup garing. Bumbunya juga cukup meresap ke dalam daging. Sayang porsinya kekecilan buat saya. Bagi saya ada yang lucu, biasanya gurami bakar lebih mahal harganya daripada ayam goreng. Tapi di sini terbalik, ayam goreng malah lebih mahal harganya daripada gurami bakar. Bagi saya lebih untung pesan gurami bakar daripada ayam goreng….lebih ngejeduk di perut.
  4. Tongseng kambing
    Sewaktu memesan tongseng kambing saya membayangkan akan memperoleh sepiring nasi putih dan semangkuk tongseng kambing. Ketika makanan datang kaget juga ternyata tongseng kambingnya tanpa kuah, disajikan bersama nasi dalam 1 piring. Saya pesan tongseng pedas, daging kambingnya kurang empuk tapi masih bisa dimakan sih (bukan kambing binaragawan 😀 ). Ada untungnya saya pesan tongseng pedas, rasa yang biasa-biasa saja tertutupi oleh pedasnya rasa tongseng (banyak irisan cabe rawit di dalamnya).
  5. Buntut goreng
    Di buku menu tertulis sop buntut/buntut goreng, saya lebih tertarik untuk mencoba makan buntut goreng. Ternyata bedanya hanya daging buntut sapinya terpisah dari kuahnya. Daging buntutnya sudah digoreng dan disajikan terpisah dari kuah sop. Dagingnya tidak terlalu banyak, itupun tidak semuanya empuk.
  6. Bihun goreng
    Bihun goreng ini porsinya cukup besar, sebenarnya cocok untuk dimakan berdua. Butuh sedikit perjuangan bagi saya untuk menghabiskan sepiring bihun goreng ini. Rasanya standar saja, mungkin ini pengaruh porsinya yang terlalu banyak jadi agak eneg makannya. Ah tapi tidak, pertama mencicipi bihun goreng ini saya langsung tahu kalau rasanya biasa saja. Hmm kurang nikmat memang makan bihun goreng dengan menggunakan sendok garpu, lebih nikmat rasanya kalau makan mie atau bihun dengan sumpit.

Baru 6 jenis menu makanan yang saya coba di hotel ini. Eh bayarnya belakangan nanti kalau check-out, jadi tiap kali makanan datang saya cukup tandatangan di bonnya saja 😀 Ini gara-gara tiap kali mengantarkan makanan, bell boy-nya menyerahkan bon plus bolpen…ya sudah cukup tanda tangan saja kalau begitu :-p Overall, makanan di hotel Singgasana ini bisa dibilang enak dan cocok dengan selera saya. Jauh lebih baik daripada menu makanan di hotel Singgasana Makassar.

Standby Surabaya (part 6) – Selamat Lebaran

Selamat merayakan hari raya Idul Fitri bagi Anda yang merayakan.

Surabaya pagi ini terlihat masih cukup sepi. Saya keluar dari hotel sekitar pukul 7 pagi. Tadi pagi saya sudah bangun jam 5, minum kopi dulu. Enak kalau di kamar hotel disediakan teko pemanas air, saya bisa merebus air untuk menyeduh kopi Kapal Api sachet-an yang saya bawa sendiri 🙂 Saya kurang suka minum kopi instan semacam Nescafe yang disediakan secara cuma-cuma oleh hotel. Habis kopi, mandi, lalu bergegas sarapan. Sarapan di hotel Singgasana Surabaya memang top abis. Menu makanan beratnya pas di lidah saya. Sudah 5 hari menginap di sini, baru 2x saya makan pagi karena keseringan bangun siang 😀 . Untuk ukuran sarapan pagi, boleh dibilang makanan di sini wah. Ada daging sapi lada hitam, ayam goreng, udang saus, kakap goreng tepung, cumi-cumi, wah pokoknya enak-enak. Hari Minggu lalu juga makannya enak; ada daging sapi saus steak,  beef burger saus barbeque. Pagi ini saya sudah bersiap pergi ke Telkomsel, standby di sana.

Di beberapa tempat saya lihat sampah koran berserakan di jalanan. Di tempat itu sepertinya baru selesai dipakai masyarakat menunaikan ibadah sholat Id. Entah koran-koran itu disediakan oleh panitia masjid atau jemaah membawa sendiri. Tampak beberapa orang sedang sibuk membereskan sampah koran-koran itu. Cukup heran mengapa mereka malas sekali membersihkan koran-koran yang sudah mereka pakai untuk duduk.  Sebagian besar koran bahkan berserakan di tengah jalan. Ah mungkin mereka sudah tidak sabar berlebaran bersilahturahmi bersama keluarga sampai-sampai tidak sempat membereskan koran-koran itu. Bayangan opor ayam, rendang daging, dan ketupat mungkin juga sudah depan mata memaksa mereka melupakan koran-koran yang tadi sudah mereka pakai sebagai alas duduk. Ini fenomena yang biasa dilihat di pagi hari lebaran, jalanan ditutup karena dipakai masyarakat sholat Id. Untung saya melintas setelah sholat Id selesai, kalau tidak tentu taksi yang saya tumpangi harus memutar mencari jalan lain.

Fenomena lain yang saya perhatikan, banyak orang pagi ini yang mengendarai sepeda motor tidak menggunakan helm. Bisa jadi karena jalanan yang saya lewati adalah jalanan kompleks (bukan jalan pr otokol), makanya banyak pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm. Hal ini cukup menarik perhatian saya karena sejauh pengamatan saya, wilayah Jawa Timur khususnya Surabaya, masyarakatnya cukup patuh berlalu-lintas. Di jalanan biasanya saya lihat orang naik motor dengan helm lengkap. Helm yang dipakai biasanya minimal helm half face, jarang saya lihat di Surabaya orang naik motor dengan help proyek (helm yang asal nutup kepala). Makanya pagi ini saya cukup heran mengamati orang-orang bermotor tanpa memakai helm. Kebanyakan dari mereka sepertinya baru pulang dari sholat Id atau hendak pergi berlebaran. Bapak-bapak yang bermotor banyak yang menggunakan peci, ada yang masih bersarung & berbaju koko. Beberapa ibu juga terlihat berjilbab tanpa helm naik motor. Memangnya kalau sudah pakai peci kepalanya jadi kuat kah? Kalau jatuh dari motor siapa yang rugi? Atau dengan dalih “ah cuma pergi dekat saja kok, ngapain pakai helm” dibenarkan tidak memakai helm?

Pagi ini di televisi banyak menyiarkan liputan malam takbir di beberapa daerah, yang menarik bagi saya tentu kegiatan takbir keliling di Jakarta. Tadi pagi saya juga melihat berita beberapa orang di Sukabumi meninggal karena kecelakaan motor saat bertakbir semalam. Ada yang nekat naik di atas metromini, truk berkeliling Jakarta. Waduh, kok mereka senekat itu. Puluhan motor juga berkeliling ikut takbir, lagi-lagi saya lihat mereka tidak pakai helm. Padahal mereka yang berkeliling kan lewat jalan raya. Terlepas dari nyawa mereka yang double, kok mereka tidak takut ditilang Polisi? Atau karena Polisi terlalu sibuk mengamankan malam takbiran, sampai tidak sempat menangani peserta takbir yang tidak pakai helm? Hari biasa jangan harap bisa seenaknya melintas jalanan ibukota naik motor tanpa helm. Oh ya yang lucu adalah tertangkapnya seorang remaja bertakbir keliling sambil bawa clurit. Halah…mau takbiran atau mau tawuran Om?

He..he..he..postingan yang simpang siur ya 🙂

** foto ilustrasi di atas adalah foto beduk di depan pintu masuk hotel Singgasana Surabaya, baru diambil fotonya tadi pagi **

Standby Surabaya (part 5) – Tunjungan Plaza

Beberapa kali berkunjung ke Surabaya, saya tidak pernah sekalipun mampir ke Tunjungan Plaza. Mal yang katanya terbesar di Surabaya ini tidak membuat saya tertarik untuk menyambanginya. Baru sore ini karena bingung kurang kerjaan di hotel saya mampir juga ke Tunjungan Plaza (TP). Sekitar pukul 16.30 saya keluar dari hotel, awalnya niat saya malah mau pergi ke Surabaya Plaza. Di jalan saya pikir lebih baik mampir saja ke TP, itupun karena TP terlewati oleh taksi saya.

Bangun siang tadi saya belum makan, nah tujuan utama keluar dari hotel adalah makan. Niat awal cari Hoka-hoka Bento. Putar-putar TP saya tak kunjung menemukan Hokben. Sudah tanya satpam pun masih belum ketemu. Bukan anak mal jadi agak malas berputar-putar cari Hokben. Alih-alih ketemu Hokben, saya malah masuk ke American Grill. Ternyata tidak seterkenal namanya, steak-nya alot. Sapinya mantan binaragawan kayaknya…benar-benar berotot keras. Pesan American Grilled steak, tidak ada daging tenderloin…hanya ada sirloin. Mungkin kalau tenderloin masuk menu harganya bisa tinggi jadi sengaja ditiadakan dari menu. Pelayanan di sini memang OK, stafnya ramah-ramah, sayang tidak didukung dengan menu yang nikmat & tidak alot dagingnya.

Eh di sini ada hotspot loh..entah siapa yang menyediakan hotspot. American Grill atau restoran lain. Lumayan, bisa cek email sekaligus ketik postingan ini. Sudah ambil foto steaknya tadi, tapi kualitas fotonya jelek (kameranya E51 tidak dapat diandalkan). Bingung juga cara upload fotonya. Nanti sajalah menyusul saya upload fotonya di hotel.

Edited 1 Oktober 2008

Baru sempat upload fotonya pagi ini. Ini foto pesanan saya kemarin sore di American Grill : Premium New York Steak welldone with mashed potato, pepper sauce, and garlic herb sauce.

Jelek ya foto hasil jepretan Nokia E51, hmm tapi kan yang penting momennya tidak terlewat :-p

Standby Surabaya (part 4) – Toshiba Portege M600

Ini tulisan yang belum sempat saya publikasikan dari beberapa minggu lalu. Menyambung tulisan tentang Masalah Instalasi Windows XP, saya mengalami kejadian yang serupa saat mencoba menginstal Windows XP di notebook Toshiba Portege M600. Tanggal 9 September lalu, saya dimintai tolong oleh Pak Win (rekan kos saya) untuk mengganti Windows Vista yang sudah terinstal di Portege M600nya. Pak Win juga mengalami kesulitan menggunakan Windows Vista, katanya lebih familiar dengan Windows XP.

Ketika saya coba boot notebook dengan CD instalasi Windows XP, muncul pesan error “Setup did not find any hard disk drives installed in your computer”. Sama seperti error yang muncul saat saya menginstal Windows XP di Lenovo 3000 N200 dan Fujitsu Lifebook S6410 (silakan baca tulisan saya sebelumnya supaya lebih jelas). Di dua tipe notebook itu saya harus mematikan fitur AHCI (SATA Compatibility), makanya saya tenang-tenang saja menghadapi error begini. Eh ternyata Toshiba Portege M600 ini tidak menyediakan pengaturan AHCI di BIOS-nya.

Langsung tanya Google tentang masalah instalasi Windows XP di Portege M600. Untung sudah banyak yang menulis tentang topik ini. Saya pilih salah satu tulisan untuk diikuti langkah-langkahnya, tulisan ini berasal dari blog http://amphie09.blogspot.com. Singkatnya saya harus menyusupkan driver SATA ke dalam CD instalasi Windows XP…bahasa kerennya “remastering CD” 😀 . Seperti yang saya baca di blog tadi, saya download dulu program nLite untuk mengubah CD instalasi Windows XP. Saya download juga driver SATA di sini. Proses berikutnya tidak terlalu susah, nLite cukup mudah digunakan. Hasilnya adalah sebuah image CD Windows XP. Lalu saya burn file image itu ke sebuah CD. Nah CD inilah yang akhirnya bisa saya gunakan untuk menginstal XP di Portege M600 ini.

Aneh juga mengapa Toshiba tidak menambahkan pengaturan SATA controller di BIOS notebook-nya. Apakah Toshiba yakin semua orang akan menggunakan Windows Vista yang sudah pre-installed di dalam notebook-nya.