Standby Surabaya (part 3) – Temennya Mana?

Liburan gratis kali ini di Surabaya, sudah saya niatkan untuk main biliar sepuasnya. Seperti sekarang ini, saya masih duduk-duduk di Posh Pool & Lounge. Tempat biliar ini selalu jadi tempat favorit saya di Surabaya. Pernah saya tulis reviewnya di blog ini. Tadi malam juga saya datang ke sini.


Tiap kali datang ke sini sendiri, hampir semua petugas yang ketemu saya pasti bertanya “Temennya mana? Kok main sendiri?” Bosan juga ditanya seperti itu. Namanya juga mau latihan, sadar diri main masih jelek jadi harus banyak-banyak latihan sendiri kan?

Eh di sini ada hotspot gratis loh 😀 Selesai latihan, coba browsing dulu sekalian ngeblog.

*** Updated 5 Oktober 2008 : insert the photo ***

Standby Surabaya (part 2) – Hotel Singgasana Surabaya

Sore tadi saya tiba di bandara Juanda Surabaya pukul 14.30. Lama menunggu bagasi saya keluar membuat saya baru meninggalkan bandara pukul 3 lebih 5 menit. Dari bandara saya naik taksi menuju hotel Singgasana yang ada di Jalan Gunung Sari. Surabaya sore ini cuacanya benar-benar cerah, cenderung terik malah. Saya sudah dipesankan hotel selama 11 hari ke depan. Hotel Singgasana ini masih 1 grup dengan hotel Singgasana Makassar. Tapi hotel Singgasana Surabaya ini konsepnya berbeda dengan yang ada di Makassar. Di Surabaya, hotel Singgasana berkonsep back to nature. Nuansanya kok jadi seperti di hotel Safari Garden Puncakeh tapi hotel ini menurut saya lebih bagus daripada Safari Garden.

Lobi hotel ini luas dengan nuansa budaya Jawa yang kuat. Seperangkat gamelan diletakan di dekat meja resepsionis, entah cuma pajangan atau sesekali dipakai untuk bermusik. Konsep budaya Jawa lainnya yang nampak adalah ukiran-ukiran di atap, oh ya atapnya bebentuk joglo dengan kayu-kayu kerangka atap yang dibiarkan terlihat. Lobi hotel Singgasana ini hampir seluruhnya bernuansa coklat karena banyak penggunaan kayu, mulai dari kerangka atap, kayu pelapis tembok (eh atau memang tidak ada temboknya ya 😀 ). First short impression for me : nice & comfort hotel.

Selesai check-in saya langsung diantar oleh bellboy ke kamar. Kamar-kamar hotel ini dibangun dengan konsep bungalow/cottage dikelilingi taman yang kelihatan menghijau di mana-mana. Di tengah-tengah taman ada kolam renang yang kelihatannya cukup besar. Karena saya tidak bisa berenang, fasilitas kolam renang tersebut tidak menarik perhatian saya 😀 Karena semua kamar berada di lantai 1 (sepertinya tidak ada kamar berlantai 2), dapat dipastikan hotel ini menempati lahan yang cukup luas. Jarak dari lobi menuju kamar saya cukup jauh. Mungkin karena nuansa hijau, campur gemericik air dari air mancur buatan membuat saya tidak terlalu mempermasalahkan jarak yang cukup jauh dari lobi ke kamar. Tiap bangunan terdiri atas 4 kamar terpisah. Kalau dilihat dari jauh, tiap bangunan seolah-oleh memiliki atap sendiri-sendiri.

Masuk ke kamar saya cukup puas melihat sepintas kondisi kamar. Seolah-olah ada ruangan lain di dalam kamar. Begitu masuk kamar, di sebelah kanan ada kusen pintu (tidak ada daun pintunya) saya pikir itu adalah kamar mandinya. Ternyata kalau kita masuk situ ada pintu kamar mandi. Nah ruangan di antara kusen tak berpintu dan pintu kamar mandi, diletakan wastafel. Itu sepintas tentang ruangan di sisi kanan. Dari pintu utama kamar, kalau kita bergerak lurus baru ada ruangan utama kamar. Ruangan itu juga seolah-oleh berpintu lagi, padahal cuma kusen doank. Nah di dalamnya lantainya berlapis parket (lapisan kayu). Beda dengan ruangan wastafel dan kamar mandi yang menggunakan keramik. Ruangan kamar terlihat luas, ada 4 barang yang mendominasi ruangan : sebuah kursi malas dari rotan plus meja bundar kecil, meja tulis plus kursi rotan juga, rak tv, dan tentu saja spring bed-nya. Di tengah ruangan diletakan sebuah permadani (permadani atau sajadah ya…tapi kalau sajadah kok gede banget). Jendela kamarnya besar-besar, langsung menghadap ke taman. Cahaya matahari sore tadi masuk lewat jendela-jendela tadi. Susah juga mendeskripsikan kamarnya, lihat komiknya saja ya :

Di hotel ini ada fasilitas internet. Tiap hari tamu bisa memperoleh voucher internet gratis selama 1 jam. Kalau ingin berinternet lebih lama, kita bisa membeli voucher internet seharga Rp30.000,-/2 jam. Jangkauan sinyal wifi cukup kuat di kamar saya, walupun katanya sinyal paling bagus di lobi dan di dekat kolam renang. Televisnya pun dilengkapi dengan siaran tv kabel yang lengkap. Tidak seperti di hotel Singgasana Makassar, minibar kamar ini lengkap isinya 🙂

Kelemahan yang saya rasa ada di kamar mandinya. Selang shower air pendek sekali, tidak bisa digantungkan di atas (padahal di atas ada gantungan shower). Jadi kalau mandi mau tidak mau 1 tangan harus memegang shower-nya. Kelemahan lain letak hotel Singgasana cukup jauh dari pusat kota Surabaya. Ah kalau ini sih tidak terlalu menjadi soal buat saya, toh bisa telepon pesan taksi. Oh ya…di hotel ini juga ada pangkalan taksi Blue Bird jadi tidak usah telepon, tinggal minta dipanggilkan saja oleh door man di lobi.

Hmm..overall saya bisa bilang hotel ini nyaman, highly recommended. Soal makan di hotel ini akan saya bahas dalam tulisan terpisah.

Standby Surabaya (part 1) – Liburan / Kerja?

Siang ini saya akan berangkat ke Surabaya…mudik? Tentu bukan, kali ini saya berangkat ke Surabaya untuk standby selama liburan Lebaran 2008. Beberapa rekan engineer Fujitsu juga sama-sama berangkat ke kota-kota besar di Indonesia, ada yang berangkat ke Medan, Semarang, Palembang. Saya kebagian standby di Surabaya, berjaga-jaga siapa tahu sepanjang liburan Lebaran ada server yang bermasalah di Telkomsel. Rencananya saya akan berada di Surabaya sampai tanggal 7 Oktober 2008.

Siang ini bandara Soekarno Hatta terlihat sudah ramai. Banyak orang dengan bawaan seabreg terlihat lalu lalang di counter check-in terminal 2F. Saya sendiri berangkat dengan 1 backpack, 1 tas troli, dan 1 cue case (bawa stik biliar siapa tahu bisa main di Surabaya 😀 ). Mudah-mudahan selama libur lebaran ini tidak ada masalah sama sekali dengan server-servernya Telkomsel, supaya saya benar-benar bisa menikmati liburan kali ini. Kapan lagi liburan dibayari kantor kan? :))

Selamat mudik bagi Anda semua yang punya kampung halaman 🙂 dan selamat menyambut hari raya Idul Fitri bagi Anda yang merayakan.

Modem Speedyku Tewas

Sudah 10 hari akses Speedy di kamar saya bermasalah. Status modem selalu “ADSL Link Down”. Beberapa kali lapor ke 147 juga tidak ada hasil. Saya ngotot kalau modem saya baik-baik saya, karena kemungkinan yang paling masuk akal adalah ada gangguan di sisi Telkom. Lah wong modemnya tidak diapa-apakan masa bisa berubah sendiri jadi ngaco? Kemarin petugas Speedy dari Telkom datang ke kos saya memeriksa sambungan telepon dan internet.

Saat itu saya sedang di kantor, orang di rumah yang menelepon saya membiarkan petugas tadi bicara dengan saya. Dia melaporkan kalau modem saya mati total. Halah…apa lagi ini ceritanya. Selasa malam modem saya masih berfungsi, hanya saja koneksi ADSL yang mati…kok sekarang jadi modemnya yang mati total. Petugas tadi mungkin merasa saya menuduh dia macam-macam. Padahal saya tidak niat menyalahkan dia. Yang saya ingin tegaskan adalah saya sudah coba dengan beberapa modem pinjaman dan faktanya tetap ADSL Link Down. Apa 3 modem yang saya coba semuanya rusak dalam waktu bersamaan?

Hari ini terpaksa berinternet dengan Telkomet Instan lagi. Tumben juga hari ini koneksinya stabil dan cukup powerfull untuk membuka beberapa web yang berat aksesnya…..salah satunya bisa membuka Outlook Web Access kantor yang super lambat.

Harus segera cari modem baru nih.

Butuh Atau Gaya Doank?

Tulisan ini sengaja saya beri judul yang mirip dengan tulisan saya sebelumnya “Doyan Atau Cuma Life Style”. Ini sekaligus menjawab pernyataan rekan saya, katanya saya ganti ponsel untuk gaya doank.

Minggu 14 September lalu saya akhirnya memutuskan membeli ponsel baru. Tadinya budget yang ada adalah budget untuk membeli kamera DSLR D60…ternyata kurang budget-nya :(( Jadi beli ponsel aja lah. Pilihan jatuh pada Nokia E51. Berangkat ke Roxy Square dengan rekan saya, susah juga mencari Nokia E51 ini. Rupanya E51 termasuk ponsel favorit, jarang toko yang punya stok E51. Untung masih ada toko yang bisa menyediakan Nokia E51. Tawar menawar tidak berlangsung lama, yang lama justru menunggu yang punya toko mengambil stok ponselnya. Saya tinggal belanja dulu ke Superindo daripada bengong duduk-duduk di counter hape.

Dari dulu saya selalu sayang mengeluarkan uang banyak untuk membeli ponsel. Saya pikir untuk apa ponsel mahal-mahal, toh hanya untuk SMS dan telepon saja. Kan yang penting pulsanya ada terus. Buat apa ponsel mahal-mahal, canggih-canggih tapi pulsa di kisaran ribuan rupiah saja :-p Selain itu kok rasanya saya kurang pantas berponsel mahal. Malu sama slip gaji kayaknya kalau pakai ponsel mahal :)) Sebelum beli ponsel pun saya sempat bertanya sama beberapa teman dekat : “pantes gak sih saya pake ponsel mahal?”

Dari dulu saya selalu pakai ponsel murah, yang harganya berkisar setengah jutaan. Ponsel pertama yang saya beli adalah Siemens A35, saya beli tahun 2001. Tidak lama saya tukar tambah Siemens A35 saya dengan Siemens M35. Saya masih ingat Siemens M35 yang dulu saya pakai, bodynya dilapisi karet dengan warna kuning & biru yang mencolok. Tahun 2002 saya ganti lagi tukar tambah dengan Siemens C35. Ponsel ini cukup lama saya pakai selama kuliah. Siemens C35 warna hitam dengan antena di kiri atasnya. Ponsel ini berakhir umurnya tahun 2004. Saya ingat momen ganti ponsel ini karena waktu itu bertepatan dengan awal masa kerja praktek saya di RS Hasan Sadikin Bandung. Siemens C35 ini istirahatkan dan berganti dengan Nokia 2100. Sekian lama pakai Siemens, akhirnya saya beralih juga pakai Nokia. Sekitar bulan April 2005 saya tambah 1 ponsel lagi, Nokia 6585 CDMA. Saya beli Nokia CDMA ini untuk berinternet. Awal-awal 2005, internet dengan CDMA sedang mulai ngetrend.

Ponsel kelima saya beli pertengahan tahun 2005. Saya ingat beli Motorola C380 setelah dapat honor mengajar training komputer untuk para dokter se-Kotamadya Bandung di Lab Biomedika ITB. Motorola C380 itu saya beli di BEC (Bandung Electronic Centre). Ah, Motorola ini juga cukup lama melayani saya. Sampai saat saya kerja di Jakarta ponsel ini masih saya pakai. Berakhir nasibnya saat saya lempar ke tembok 😀 pecah berantakan….tes ketahanan dan terbukti Motorola C380 kalah lawan tembok =)) Sementara saya istirahat pakai GSM, saya pakai Nokia 6585 saya saja. Sampai kemudian akhir tahun 2007 saya beli ponsel Nokia 1600. Murah meriah, Rp450ribuan. Kenapa balik lagi pakai GSM? Cape juga pakai CDMA untuk urusan kerja. Kalau saya pergi-pergi saya harus mengaktifkan nomor CDMA di kota lain. Ah repot, jadi saya putuskan untuk membeli lagi ponsel GSM. Cari yang benar-benar murah dan hanya bisa telepon & SMS.

Saat orang mengidam-idamkan ponsel canggih, berkamera, bisa MMS, berlayar warna, bisa putar musik, bisa nonton video, dll….saya enjoy aja (loh kok kaya iklan?) menggunakan ponsel murahan. Ah itu sih elo aja yang miskin ga sanggup beli ponsel mahal :-p Ya mungkin juga benar begitu, saya lebih memilih membeli barang lain daripada sekadar membeli ponsel. Saya lebih memilih membeli stik biliar, kamera digital, dll. Gampangnya, ponsel canggih bukan salah satu barang yang saya idam-idamkan. Balik lagi seperti yang saya tulis di atas, lebih baik ponsel jelek tapi pulsa banyak (gak takut kehabisan pulsa) daripada ponsel mewah tapi krisis pulsa terus 😀 .

Lalu mengapa akhirnya saya perlu ponsel yang lebih “canggih” daripada ponsel Nokia 1600 saya? Paling tidak ada 3 alasan dan “gaya” tidak termasuk di dalamnya :

  • Saya perlu HP dengan phonebook lebih besar
  • Saya perlu HP yang bisa menyimpan banyak SMS
  • Saya perlu HP yang bisa dipakai sebagai modem 3G/HSDPA. Ini penting karena belakangan saya sering pergi ke luar kota dan tak jarang kesulitan memperoleh akses internet.

Terus kenapa akhirnya saya memutuskan membeli Nokia E51? Selain 3 kemampuan di atas, E51 dilengkapi dengan wireless network adapter. Dengan fitur wifi ini, saya bisa memanfaatkan E51 untuk browsing saat dapat hotspot gratis bila tidak memungkinkan menggunakan notebook untuk berinternet (alasan yang dicari-cari ya 😀 ). Fitur-fitur lain ( kamera, musik/video player, radio) bagi saya bukan hal yang prinsip. Dulu saya selalu geli kalau ada orang yang bilang : “pengen punya henpon yang ada kameranya” (beli kamera digital aja donk, geus puguh hasilnya bagus); geli juga kalau dengar orang bilang : “pengen punya henpon yang bisa nyetel MP3” (beli MP3 player atau iPod donk geus puguh bagus suaranya.)

Apa yang aneh dari Nokia E51 ini?

  • Di phonebook, saya bisa menuliskan nama orang terpisah antara nama depan & nama belakangnya. Tampilan phonebook (Contact) pun bisa diatur untuk menampilkan nama depan dulu baru diikuti oleh nama belakang. Tapi anehnya saat menerima SMS, nama yang muncul justru dalam urutan terbalik (nama belakang ditaruh di depan :-/ ).
  • Sejak dibeli satu minggu lalu, ponsel ini sudah beberapa kali gagal menampilkan menu utama. Ketika tombol menu utama ditekan, tampilan menu tidak muncul. Alih-alih menampilkan menu utama, layar tetap menampilkan nama provider dan lain-lain (persis seperti saat ponsel tidak digunakan).
  • Baterenya sepertinya kurang bertenaga. Kalau ponsel ini dipakai untuk memutar lagu, mendengarkan radio, apalagi dipakai berinternet dengan wifi, baterenya cepat sekali kosong.
  • Tombol Delete yang diletakkan di bawah tombol navigasi, kadang-kadang tidak sengaja tertekan saat saya akan menekan tombol navigasi bawah. Tapi memang dedicated delete button ini banyak juga manfaatnya, lebih mudah menghapus huruf saat sms, menghapus sms, menghapus menu, dll.
  • Saat digunakan untuk memotret, saya tidak bisa mematikan suara shutter. Jadi tidak mungkin memotret secara diam-diam 😀 Utak-atik sampai sekarang belum menemukan di mana menu untuk mematikan shutter sound itu. Ah bukan kendala berarti, toh saya tidak suka memotret dengan kamera ponsel ini. Heran juga dengan orang yang memasukkan fitur kamera ponsel saat memilih ponsel…kamera ponsel mana sih yang bagus hasil fotonya :-/
  • Susah juga kalau mau menyisipkan nomor kontak orang ke dalam SMS. Saya harus masuk ke Contact lalu melakukan Copy dan Paste, atau ada cara lain yang lebih cerdas? Lebih sederhana Nokia 1600 saya, ada menu Insert Number..bisa comot langsung nomor kontak orang dari dalam phonebook. Ah itu sih dasar lu aja gaptek pake ponsel canggih.

Jadi gaya doank atau memang kebutuhan? Hmm…sepertinya sih kebutuhan. Paling tidak berponsel mahal juga diimbangi dengan pulsa yang cukup (ya iyalah elo kan pake Halo tagihannya bayarnya di belakang X-( )