Buka Bareng NSN

Ini adalah liputan yang agak basi, tertunda penulisannya. Jumat 19 September lalu kantor saya mengadakan buka puasa bersama dengan rekan-rekan dari Nokia Siemens Network. Buka puasa ini diadakan bagi semua member tim support IN & HLRi Telkomsel. Acara ini diadakan di rumah makan ayam goreng Mbok Berek di Pancoran. Acara ini dimulai sekitar pukul 5 sore, tidak ada aturan protokoler sih memang karena peserta buka bareng ini pun datang tidak bersamaan. Ada yang datang terlambat karena terjebak macet. Jakarta hari Jumat sore memang biangnya macet. Beberapa rekan saya juga terlambat datang karena terjebak macet dari kantor saya di Sudirman sampai ke Pancoran.

Rumah makan Mbok Berek ini benar-benar dipadati pengunjung yang mengadakan acara buka puasa bersama. Beberapa kelompok dalam jumlah besar memenuhi rumah makan ini. Pendingin ruangan yang ada tidak sanggup mendinginkan ruangan yang sudah dipenuhi oleh banyak orang. Banyak orang, termasuk saya, yang merasa gerah berada dalam rumah makan ini. Ventilasi udara yang tidak cukup juga menambah panas dan menyebabkan asap rokok terperangkap memenuhi ruangan.

Bagi saya ayam goreng Mbok Berek biasa saja rasanya. Agak mirip ayam goreng Suharti. Menu yang kemarin disajikan antara lain : kolak pisang sebagai tajil bagi mereka yang berpuasa (saya juga dapat sih πŸ˜€ ), ayam goreng, ati ampela goreng, gudeg kering, tahu tempe goreng, ikan gurami goreng, plus buah-buahan untuk hidangan pencuci mulut.

Acara buka bersama rekan-rekan NSN ini bagi saya pribadi adalah kesempatan untuk mengenal rekan-rekan NSN yang selama ini sering kali berhubungan hanya lewat telepon tidak pernah kopi darat. Beberapa dari rekan NSN sudah saya kenal dan pernah bertemu muka, ada Pak Nana, Pak Irsal, Richard, Mas Deddy, Danang, Denny. Seperti biasa, saat ada acara kumpul-kumpul seperti ini saya sibuk memotret. Kamera Nikon L14 saya tidak cukup powerfull untuk memotret dalam situasi kurang pencahayaan, apalagi asap rokok di mana-mana membuat gambar yang dihasilkan sedikit kabur seperti memotret di tengah cuaca berkabut. Berikut hasil foto-foto saya yang saya rangkum dalam komik (maaf tidak semua yang hadir bisa masuk fotonya dalam komik ini πŸ˜€ ) :

Selain komik review di atas saya juga buat komik lucu-lucuan yang banyak memuat imajinasi & humor saya πŸ˜€ . Salah satunya adalah komik di bawah ini :

Kesempatan buka puasa bareng ini juga berhasil mengumpulkan semua tim UNIX support Fujitsu. Hari-hari biasaya rekan-rekan engineer Fujitsu selalu sibuk bepergian ke daerah. Tapi untungnya saat acara buka puasa bareng ini rekan-rekan 1 tim beserta para manager bisa datang semuanya. Tidak dilewatkan kesempatan memotret full team ini. Ah lagi-lagi kamera saya tidak bagus memotret. Ini hasil foto bersama tim Fujitsu :

Hmm..missing 1 person actually, Maya our admin πŸ™ She was going home early.

Surabaya (part 3) – Menu Hotel Garden

Sejak April 2008, saya lebih dari 5 kali menginap di hotel Garden Surabaya. Review tentang hotel Garden sendiri perah saya tuliskan di sini. Tiap kali menginap saya hampir dapat dipastikan pesan makan lewat room service. Kemarin terpikir di benak saya untuk membuat liputan kuliner kecil tentang makanan-makanan yang pernah saya coba di hotel Garden ini. Berikut review-nya dalam komik :

Ada setidaknya 6 jenis makanan yang pernah saya coba :

  1. Rawon komplit
    Tidak ada yang spesial dari rawon ini. Dagingnya sih memang cukup empuk, tapi rasanya biasa saja. Tidak bisa dibandingkan dengan rawon setan yang terkenal itu.
  2. Nasi goreng kambing
    Nasi goreng kambing disajikan dengan tampilan yang cukup menarik. Nasinya ditutupi dengan telur dadar, dilengkapi pula dengan emping, sambal, dan sedikit salad & acar. Daging kambing yang ada dalam nasi goreng ini memang boleh dibilang cukup banyak. Karena saya senang makanan yang asin, bagi saya nasi goreng kambing ini terlalu hambar. Cukup lah untuk mengganjal perut, meskipun tidak terlalu spesial.
  3. Sate kambing
    Sate kambing di hotel Garden terbuat dari kambing sporty. Kambingnya rajin fitnes sampai-sampai ototnya kencang, cukup alot maksudnya :-p Masih bisa dimakan sih tapi untuk Anda yang sudah “terbatas” giginya, tentu akan menyiksa makan sate kambing di sini.
  4. Sapi masak kaylan
    Menu sapi masak kaylan ini salah satu menu favorit saya. Dagingnya empuk dengan porsi yang cukup banyak. Sayur kaylan yang dipakai juga lembut. Menu ini layak untuk direkomendasikan.
  5. Sapi masak merica hitam
    Selain sapi masak kaylan, saya juga beberapa kali mencoba makan sapi lada hitam. Sapi lada hitam di hotel Garden dagingnya besar-besar. Cukup empuk tapi bagi saya rasanya masih kalah dengan sapi lada hitam di tempat lain (misalnya yang pernah saya coba di hotel Sagita Balikpapan & hotel Wisata Palembang).
  6. Tenderloin steak
    Tenderloin steak yang saya coba Senin sore kemarin benar-benar luar biasa. Luar biasa keras maksudnya. Untuk steak seharga Rp100.000,- steak ini tidak pantas dicoba. Di buku menu dituliskan kalau daging yang digunakan adalah daging sapi impor dari Australia. Asumsi saya daging impor lebih empuk daripada daging lokal (belajar dari pengalaman makan steak di Abuba). Steak ini cukup bagus untuk melatih rahang Anda.

Selalu ada orang yang terheran-heran mengapa saya mau menghabiskan uang untuk makan di hotel. Makan di hotel memang lebih mahal dibandingkan dengan makan di tempat lain. Bagi saya urusan makan itu nomor 1, mahal/murah yang penting enak dan saya suka. Saya juga heran kalau ada orang yang mau menghabiskan uang banyak untuk beli pakaian, memburu gadget teranyar tapi sayang membelanjakan uangnya untuk makanan. Saya sendiri lebih memilih mengutamakan urusan makanan daripada membeli barang-barang lain. Jujur memang saya termasuk orang yang boros tapi untuk makanan saya rela-rela aja tuh membelanjakan uang untuk beli makanan mahal. Biar pakaian seadanya, handphone butut, gak pernah jalan-jalan ke mal, tapi makan enak cukup kenyang :-p (aneh katanya mau review makanan kok malah curhat)

Surabaya (part 2) – Boeing 737-800 NG

Tadi perjalanan ke Surabaya saya tempuh dengan menumpang pesawat barunya Garuda, Boeing 737-800 NG. NG itu singkatan dari New Generation. Pesawat ini merupakan armada baru Garuda. Tadi salah satu pramugari Garuda tanpa saya minta bercerita pada saya kalau pesawat ini biasa dipakai untuk penerbangan Jakarta Beijing. Karena penerbangan ke Surabaya hari ini begitu padat penumpangnya, maka dipinjamlah pesawat baru ini.

Dari luar mudah pesawat barunya Garuda ini mudah dikenali dengan adanya lekukan pada ujung kedua sayapnya. Di bagian lekukan itu diberi gambar logo Garuda. Lekukan di ujung sayap itu membuatnya sepintas mirip pesawat-pesawat besutan Airbus. Lihat foto ujung sayap Boeing 737-800 ER ini :

Pesawat ini menggunakan susunan kursi sama seperti pesawat 737 lainnya, di kelas bisnis 2 kursi di kanan/kiri sementara di kelas ekonomi ada 3 kursi di tiap sisi. Kursi di kelas ekonomi sampai nomor 29. Bedanya dengan pesawat Boeing 737 seri 300,400,500, ruang kaki di tiap kursi kelas ekonomi lebih luas sedikit. Entah cuma sugesti saya atau memang lebih luas, tapi rasa-rasanya sih memang lebih luas. Masih kalah besar sih dengan Boeing 737-900 ER-nya Lion Air.

Terbang dengan pesawat baru seharusnya lebih mulus dan nyaman, tapi tidak kali ini. Cuaca memang sedang tidak bersahabat, perjalanan kali ini juga diwarnai banyak guncangan akibat turbulensi udara. Langit di atas Surabaya juga dipenuhi awan tebal. Pantas kemarin ada berita pesawat China Airlines yang dihantam turbulensi kuat hingga banyak penumpang yang luka-luka. Eh Anda sudah tahu kan berita itu? Kemarin pesawat China Airlines dengan nomor penerbangan CI-687 dari Taipei menuju Bali mengalami turbulensi kuat dan mendarat dengan keras di bandara Ngurah Rai Bali. Pesawat jenis Boeing 747-400 itu memang tidak mengalami kerusakan teknis tapi kasihan juga penumpang-penumpang yang terluka akibat sedang tidak menggunakan sabuk keselamatan saat turbulensi terjadi.

Surabaya (part 1) – Mati Lampu Di Bandara

Siang ini saya berangkat ke Surabaya setelah semalam diberi perintah oleh minijer saya untuk mengganti tape library di Telkomsel Surabaya. Hari Minggu berangkat kerja…mantap kan? Memangnya kamu sedang tugas standby, kok kamu yang berangkat? Tidak sedang standby sih, tapi kan saya kelakuannya seperti anak kecil, jadi paling gampang diatur-atur….disuruh berangkat kapanpun jadi lah :-/ Tadi sampai di bandara Soekarno Hatta pukul 12 kurang sedikit. Saat sedang check-in tiba-tiba listrik padam sekitar 1 detik, lampu tidak mati karena rupanya generator listrik langsung mem-backup listrik di bandara. Sayangnya komputer semua counter check-in tidak dilengkapi dengan UPS. Akibatnya saya yang tinggal menunggu petugas mem-print boarding pass, jadi terhambat proses check in-nya. Tunggu punya tunggu komputer di sana lama sekali booting-nya. Setelah menyala pun ternyata ada gangguan di sistem check-in. Terpaksa saya dibuatkan boarding pass manual….ditulis tangan tuh πŸ™ Halah, malu-maluin aja ya….mbok ya komputernya dilengkapi dengan UPS gitu loh. Masa komputer dengan fungsi critical seperti itu tidak di-backup power-nya dengan UPS?

**wifi gratis lagi di Garuda lounge nih :-p **

Soal Tidur

Kapan Anda bisa menikmati saat-saat tidur yang lelap/pulas? Saya sering sekali mendapat tidur yang nyenyak saat berada di perjalanan. Nah di postingan ini saya akan bercerita sedikit tentang saat-saat saya tidur selama di perjalanan.

Salah satu saat tidur yang benar-benar saya nikmati adalah tidur di dalam taksi. Di Jakarta saya sering bepergian dengan menggunakan taksi. Perjalanan di dalam kota tentu hanya butuh waktu sebentar, kalau macet itu lain lagi ceritanya. Di dalam taksi saya sering mendapat tidur yang benar-benar nyenyak. Memang kalau bepergian di siang hari saya kadang membaca buku, tapi kalau otak sedang lelah, mata ngantuk, saya lebih memilih untuk tidur. Mungkin karena alam bawah sadar saya tahu kalau perjalanannya singkat, sehingga pikiran bawah sadar saya yang memerintahkan otak dan badan untuk benar-benar menikmati kesempatan tidur yang sebentar itu. Perjalanan dari/ke bandara misalnya, bisa jadi saat-saat tidur yang menyenangkan bagi saya. Perjalanan yang normalnya 40 menit dari tempat saya ke bandara, bisa jadi waktu yang cukup untuk sekadar memejamkan mata πŸ˜€ Beberapa kali saya tidur di taksi menuju bandara Soekarno Hatta dan bangun setelah si supir bertanya : “Pak, terminal berapa?”. Biasanya supir bertanya setelah masuk gerbang tol bandara, setelah lewat patung Soekarno Hatta.

Kalau perjalanan saya pulang ke rumah lewat Slipi, saya biasanya dibangunkan supir saat hampir perempatan Tomang. Itu karena si supir bingung harus pilih jalur yang mana di perempatan Tomang. Memang bagi yang tidak biasa melintas perempatan Tomang dari arah Slipi, perempatan tadi cukup membingungkan. Ada jalur yang lurus menuju Taman Anggrek, ada jalur yang dipakai untuk putar balik menuju Slipi lagi, ada juga 2 jalur yang menuju Tomang. Dua jalur itu yang kadang membingungkan karena dipisahkan oleh tiang jalan layang menuju Tangerang. Loh kok malah ngomongin jalur jalan, tadi kan lagi cerita tentang tidur :-/

Tadi soreΒ  misalnya, saya baru saja pulang dari Plasa Semanggi sekitar pukul 19.00 setelah main biliar dari jam 2 siang. Lagi-lagi saya bisa tidur dengan nyenyak sekali di taksi. Saya baru terbangun ketika taksi sudah berada di dekat perempatan Tomang. Itu pun karena supir taksi bertanya, “Pak, lurus atau belok kanan?” Ah kalau saja supir taksi tadi tidak bertanya macam itu, saya bisa dapat tidur yang sedikit lebih lama. Mungkin enak kalau punya supir pribadi, sepanjang jalan bisa tidur dan baru dibangunkan setelah sampai rumah. Ah ngimpi kamu, cuma engineer kok mau pakai supir pribadi….lagian mana mobilnya? Tidurnya di taksi tadi kok sampai di rumah masih ngimpi ya :))

Tidak hanya perjalanan dengan taksi saja, perjalanan di pesawat, kereta api, bus juga bisa menciptakan suasana yang nyaman bagi saya untuk tidur sejenak. Saya sering sekali tidur di perjalanan antar kota. Di pesawat saya sering tidur begitu pesawat take off. Rasanya enak sekali bisa terlelap sampai nanti terbangun gara-gara pramugari membagikan makanan (kalau naik Garuda loh ya, kalau naik yang lain mah tidur terus lah wong gak dibagiin makanan). Waktu tidur yang pendek tapi lelapnya benar-benar sempurna.

Di kereta api juga sama, kalau saya pulang ke Cirebon dengan kereta api biasanya saya baru bisa tidur selepas stasiun Jatinegara. Itu karena di stasiun Jatinegara, kereta hampir dapat dipastikan berhenti di sana mengangkut penumpang yang naik di Jatinegara. Nah selepas Jatinegara barulah tenang tidak ada lagi penumpang yang naik ke kereta. Bagaimana dengan perjalanan dengan bus? Hmm ini dulu sering sekali saya lakukan saat masih kuliah di Bandung. Dari Bandung saya biasanya pulang naik bus patas. Dulu saya masih ingat, biasanya mulai tertidur saat bus melewati Jatinangor dan terbangun saat masuk Sumedang. Itu juga karena bus cenderung banyak mengerem ketika masuk jalanan kota. Kalau pergi numpang mobil teman biasanya saya tidak pernah tidur, paling tidak menemani yang punya mobil ngobrol πŸ˜€

Ada tidur yang memang saya niatkan sejak awal perjalanan, ada juga yang terjadi tanpa sengaja. Nah paling kesal kalau sudah meniatkan untuk tidur, tapi ada gangguan sepanjang jalan. Mulai dari supir taksi yang sok akrab membuka percakapan, penumpang sekitar yang ngobrol terus-terusan dengan suara kencang, penumpang sebelah yang ajak saya berbincang-bincang, supir yang suka menginjak pedal rem mendadak, sampai anak kecil yang menangis sepanjang jalan. Jadi memang paling enak adalah tidur-tidur yang tidak saya rencanakan, tiba-tiba ngantuk, merem sebentar, lesssss langsung tidur….. I-)

Bagaimana dengan Anda? Sering mendapat kesempatan tidur yang tidak terduga-duga?