GFF Gold

Almost six month travelling Indonesia, here is the final result ๐Ÿ˜€ :

Garuda Frequent Flyer Gold member card. This morning I woke up and get the package from Garuda Indonesia laid down in front of my room. They finally sent me the GFF Gold Member. It’s mean that I can enter the Garuda Lounge on the many domestic airport in Indonesia…maybe it will be a nice waiting time ๐Ÿ˜€ Beside the member card, they also sent me two luggage sign card like this one :

Maybe one will be nice while I put on my suitcase and one on my backpack. So where the next trip? Bali maybe the next stop next week, see what I can report from Bali next week.

Balikpapan (part 1) – Hotel Sagita

Rabu siang saya berangkat ke Balikpapan. First trip to Balikpapan nih. Saya berangkat dengan Garuda jam 3 sore, terlambat setengah jam dari jadwal sebenarnya. Perjalanan diwarnai guncangan-guncangan karena begitu banyak awan tebal sepanjang jalan. Balikpapan sore kemarin hujan cukup deras. Pendaratan juga dilakukan di tengah hujan. Landasan pacu tergenang air, kelihatan derasnya air yang tersapu hembusan angin dari mesin jet pesawat saat pesawat mendarat di bandara Sepinggan. Mulus sih pendaratannya, pengeremannya pun halus walaupun landasan tergenang air. Turun dari pesawat hujan sudah sedikit reda, masih gerimis sedikit. Aneh juga bandara internasional kok belum punya belalai, penumpang harus berjalan kaki di bawah hujan menuju gedung terminal.

Dari bandara saya langsung menuju Telkomsel dengan naik taksi bandara. Saya cukup heran kok jalanan di Balikpapan kecil-kecil. Saya pikir karena daerah sekitar bandara saja, tunggu punya tunggu sampai ke Telkomsel ternyata tidak ketemu jalan besar :)) Sepanjang malam di Telkomsel membuat saya sulit ngeblog. Rupanya hujan sedang sering-seringnya turun di Balikpapan. Semalam saat pergi makan malam pun, hujan turun lagi. Selesai makan terpaksa berlari-lari kecil menuju Telkomsel di bawah hujan gerimis. Untung gak pusing kena air hujan.

Saya baru pulang dari Telkomsel sekitar pukul 4 lebih. Dari situ saya pergi ke Hotel Comfort Sagita Balikpapan. Aman, ternyata ada taksi yang beroperasi 24 jam di Balikpapan ๐Ÿ™‚ Begitu check-in saya langsung tahu kalau hotel ini nyaman untuk ditinggali. Benar saja begitu masuk kamar saya cukup puas melihat kondisi kamar yang cukup luas dan rapih. Silakan lihat sendiri review hotel dan kamarnya di komik berikut ini :

Akses internet gratis sampai ke kamar juga jadi nilai plus bagi hotel ini. Sayang di kamar saya sinyal wifi-nya benar-benar lemah. Biarpun cuma bintang 3 tapi saya puas dengan pelayanan hotel ini. Tadi saya minta late check-out jam 2 siang (waktu Balikpapan). Setelah check-out jam 2 siang tadi, saya masuk ke Chop Stick Restaurant yang ada di dekat lobi hotel. Pesan makan daging sapi lada hitam & iced capuccinno. Mantap sekali rasa daging sapinya, empuk plus ladanya benar-benar nendang. Di restaurant saya bisa akses internet. Pelayan di sana benar-benar responsif. Waktu saya tanya apa ada colokan listrik yang bisa saya pakai, dia bilang ada tapi jauh letaknya dari meja saya. Tidak lama si mbak pelayan balik lagi bawa extended power bar dan memasangkannya untuk saya. Wah benar-benar baik ๐Ÿ™‚ Poin plus lagi buat Hotel Sagita. Langsung tenang deh ngeblog & bikin komik review hotel ini. Next ke Balikpapan pasti saya minta balik lagi ke hotel ini…dengan catatan belum full book :-p

Doyan Atau Cuma Life Style?

Mungkin banyak juga orang yang pada dasarnya tidak suka kopi tapi jadi suka minum kopi sekadar memenuhi tuntutan gaya hidup. Bahasa kerennya life style. Ada juga cerita yang menggelikan dari teman saya (elo geli mungkin karena otak elo dah ngaco Ted). Ada teman saya ngakunya gak doyan kopi, tapi perginya ke Starbucks (ke Coffee Bean juga). Tahu kan Starbucks…itu loh warung kopi bermerek asal Amerika yang gelasnya seperti foto di samping ini.

Lah katanya gak doyan minum kopi, kenapa dia perginya ke warung kopi juga? “Tapi kan di Starbucks juga ada minuman lain selain kopi..ada green tea, ada chocolate?” dalih rekan saya yang lain. Ah kalau menurut saya sih (menurut saya loh ya)….itu namanya “dipaksa-paksain” doyan ngopi (atau at least doyan pergi ke warung kopi Amrik) biar keliatan gaya gitu ๐Ÿ˜€

Menyambung tulisan saya sebelumnya soal makan & kartu kredit, soal minum-minum kopi juga ada loh yang berbau-bau promo kartu kredit. Buy 1 Get Two promo ya namanya? Entah lah apa tepatnya…yang jelas kalau patungan dengan teman bisa minum kopi Starbucks dengan cukup bayar 20ribuanย  (tanpa promo seperti itu segelas kopi dijual sekitar 40ribuan rupiah). Nah sama seperti pendapat saya di atas, orang yang gak terlalu suka kopi pun bisa “memaksa diri” jadi suka kopi. Kok bisa? Lah itu kan ada promo…masa dah punya kartu kreditnya gak dimanfaatkan promonya. Tapi gak doyan kopi? Gak masalah…yang penting ngetrend, ngopinya aja di Starbucks. Orang mana tau sih kalau kopinya promo setengah harga ๐Ÿ˜€

Kalau saya ingin minum Starbucks sih, kenapa saya harus tunggu ada promo. Kalau memang lagi pengen dan isi dompet mencukupi, datang saja langsung beli kopinya. Lah jelas elo ngomong gitu Ted, kartu kredit elo kan cuma satu-satunya Ted…ya jelas gak pernah dapat promo macem-macem. Paling gak elo harus punya kartu kredit bejibun (kalau perlu disusun rapih dalam dompet khusus) supaya elo sering bisa makan di restoran berkelas yang ada promo makan murahnya (makan murah kalau bayar pake kartu kredit gitu maksudnya) …. Nanti kalau lu udah punya banyak kartu kredit, ntar juga elo gak akan bikin postingan nyindir-nyindir melulu kaya gini X( dasar kurang kerjaan bisanya ngurusin urusan orang lain terus. Lah suka-suka gua, blog-blog gua mau nulis apa, mau nyindir apa….

Ah lagian elo kok kurang kerjaan amat ya Ted, biarin deh mereka mau minum Starbucks kek, atau di mana kek…elo mah belum kelas Ted minum kopi di Starbucks. Kelas elo cuma minum kopi Kapal Api sachetan yang dijual di warung kopi, minumnya juga bareng temen-temen supir lu.


NOTE :
Ada dua Tedy sedang berdebat di dalam pikiran saya…yang satu penuh kritikan & sarkasme, yang lain berusaha menimpali seperti layaknya orang kebanyakan :)) Jujur ini tulisan paling ancur yang pernah saya muat di blog sejak awal saya ngeblog. Maafkan kalau kali ini bahasa yang saya pakai kacau balau seperti ini. Foto gelas Starbucks di atas di ambil di Koln, setelah kedinginan dan mencoba menghangatkan badan dengan minum segelas hot cappuccino di Starbucks yang ada di seberang Cologne Cathedral :-p

Masalah Instalasi Windows XP

Sabtu malam saya mengalami sedikit kesulitan saat menginstal Windows XP ke dalam notebook Lenovo tipe 3000 N200. Notebook ini adalah properti kantor rekan saya. Notebook Lenovo ini sudah berisi Windows Vista (preinstalled), saya diminta mengganti Windows Vista yang ada menjadi Windows XP. Masalah yang muncul adalah sistem instalasi Windows XP tidak dapat mengenali harddisk yang terpasang di dalam notebook. Pesan error yang muncul mengatakan bahwa kemungkinan harddisk diproteksi oleh pabrikan (manufacturer) atau ada setting yang salah. Saya sempat foto error yang muncul seperti berikut ini :

Masalah di atas muncul saat sistem instalasi Windows XP baru saja mulai. Ini kali kedua saya mengalami hal semacam ini. Beberapa bulan lalu saya juga sempat dimintai tolong oleh Edi teman saya untuk “membuang” Windows Vista dari dalam notebook Fujitsu Lifebook S6410 milik Edi rekan saya. Pesan error yang sama terjadi.

Ok balik dulu ke masalah instalasi Windows XP di Lenovo tadi. Pertama saya coba boot dulu Windows Vista yang sudah terinstal di dalam Lenovo. Karena ada kata-kata “manufacturer-supplied diagnostic or setup program” pada pesan error di atas, logika saya mengatakan pasti ada partisi lain di dalam harddisk yang sengaja disembunyikan dan menghalangi proses instalasi Windows. Supaya mudah melihat bagaimana partisi harddisk, saya instal Acronis Disk Director supaya mudah mengelola partisiย yang ada. Dengan bantuan Acronis Disk Director saya melihat ada sebuah partisi berukuran sekitar 6GB selain partisinya Windows Vista. Saya tahu bahwa partisi itu adalah tempat menyimpan program recovery Windows (bawaan pabrik). Saya hapus saja partisi tersebut, toh Windows Vista tersebut sudah tidak dibutuhkan lagi dalam notebook ini. Setelah partisi tersebut saya hapus, saya coba lagi boot CD instalasi Windows XP. Eh ternyata pesan yang sama tetap muncul, harddisk-nya tidak dikenali :((

Untung tadi malam saya masih dalam kondisi fit untuk ngoprek :-p Segera saya tanya Google, baca-baca sebentar saya dapat pencerahan di sini. Saya harus mematikan opsi SATA pada BIOS. Saya coba cari-cari di dalam BIOS-nya Lenovo ini. Menu tersebut terlihat seperti pada gambar berikut ini :

Saya ganti opsinya menjadi pilihan Compatibility. Entah apa bedanya cuma rasa-rasanya kok itu yang jadi masalah. Setelah itu saya coba jalankan lagi instalasi Windows XP dan ternyata memang benar langkah tadi menyelesaikan masalah. Dengan mengubah opsi SATA Controller Mode itu, sekarang Windows XP dapat mengenali harddisk dan segera masuk ke menu instalasi (sebelum menampilkan menu partisi, sistem menampilkan End User Agreement dulu). Proses instalasi Windows XP sendiri sama seperti sudah pernah saya jelaskan dulu di sini.

Merasa sukses menyelesaikan masalah pada Lenovo tadi, saya jadi semangat untuk membuktikan teori tadi pada Fujitsu Lifebooknya Edisaya coba menjalankan proses instalasi Windows XP di Fujitsu-nya Edi. Menu Bios Fujitsu Lifebook sedikit berbeda dengan BIOS-nya Lenovo. Saya harus mengubah setting AHCI yang ada di bawah menu “Internal Device Configuration“. Lihat gambar di bawah ini :

Tadi sempat baca-baca di Wikipedia, AHCI (Advance Host Controller Interface) itu adalah teknologi yang memungkinkan software untuk berkomunikasi dengan SATA controller untuk menyediakan kemampuan seperti misalnya hot-plugging dan native command queuing.ย  Selengkapnya silakan baca sendiri ya, agak-agak gak ngerti juga bacanya jadi daripada salah menjelaskan lebih baik Anda baca sendiri ๐Ÿ˜€ Jadi kesimpulannya adalah notebook-notebook dengan OS bawaan Windows Vista (yang rata-rata sudah menggunakan harddisk tipe SATA) sudah menggunakan teknologi AHCI. Hal itu akan menjadi masalah bila kita ingin men-downgrade Vista menjadi XP. Jadi untuk menginstal Windows XP ke dalam notebook yang preinstalled Windows Vista, kita perlu mematikan dulu fitur/opsi AHCI pada setting-an SATA controller.

Masuk Majalahnya Blue Bird

Tulisan ini masih ada hubungannya dengan 2 tulisan saya sebelumnya tentang taksi Blue Bird. Tulisan saya di sini berisi pengalaman saya dengan supir taksi Blue Bird yang niat mengembalikan uang kembalian ongkos ke rumah saya. Tulisan saya lainnya di sini berisi pengalaman saya ditelepon oleh customer service-nya Blue Bird yang membaca postingan saya tadi, dia ingin tanya siapa nama pengemudi taksi yang mengembalikan uang kembalian ke rumah saya.

Nah postingan kali ini masih ada hubungannya dengan 2 postingan tadi. Hari Senin lalu saat berangkat kerja dengan menumpang taksi Blue Bird, saya iseng membaca majalah Mutiara Biru (majalah internalnya Blue Bird Group). Saya iseng membuka-buka majalan tri wulanan tersebut karena majalahnya sepertinya edisi terbaru. Di bagian surat pembaca saya kaget juga menemukan postingan blog saya muncul di sana. Hanya judulnya saja yang diubah menjadi “Mengembalikan Uang Kembalian Ke Rumah”. Aslinya postingan saya tersebut judulnya adalah “Hebatnya Supir Bluebird“.ย  Langsung saya foto saja majalahnya ๐Ÿ˜€ nah seperti gambar di bawah ini fotonya :

Eh rupanya Blue Bird berhasil menemukan data siapa nama pengemudi yang mengantarkan uang kembalian saya itu. Canggih ya sistem GPS dan reservasi online mereka, nama pengemudi dan nomor lambung taksi bisa terlacak dari data pemesanan saya waktu itu. Kesalahan cetak yang cukup fatal adalah pencantuman nama saya, masa ditulis “Teddy” pakai 2 “D”. Anda tahu kan saya sebel dengan kesalahan cetak nama X(ย , kalau belum tahu silakan baca tulisan saya Tedy Dengan 1 โ€œDโ€ dan 1โ€ณYโ€.