Puasa Ngeblog

Satu minggu ini benar-benar saya lewatkan tanpa menulis apapun di blog ini. Sibuk? Ah saya tidak senang menggunakan kata sibuk, karena sebenarnya saya tidak terlalu percaya pada sibuknya orang kerja 😀 Sesibuk-sibuknya orang harusnya punya waktu untuk menulis blog. Saya lebih senang berdalih cape kerja :-p (**ngeles mode is ON**), beneran satu minggu ini badan saya cape sekali. Mungkin karena itu pula pikiran saya jadi tidak fokus untuk menulis di blog. Sejak minggu lalu saya terlibat proyek instalasi server Primepower 1500 di Telkomsel (yang ada di TB Simatupang) untuk dipakai sebagai mesin IN (intelligent network). Mesin IN itu mesin yang dipakai untuk menghitung pemakaian pulsa pengguna selular pra bayar.

Instalasi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak hari Kamis 28 September 2008 lalu. Waktu itu saya bekerja bersama minijer saya, Manggar. Sulit kah instalasinya sampai memakan waktu satu minggu lebih? Sulit secara teknikal sih tidak, tapi sulit secara fisik iya. Kesulitan terbesar saya adalah mengulur kabel puluhan meter melewati raised floor. Raised floor itu apa? Itu loh penutup lantai yang bisa dibuka-tutup semacam puzzle. Biasanya ruang server (datacentre) menggunakan raised floor dengan tujuan untuk meletakkan kabel jaringan, saluran AC, jaringan listrik di bawah lantai. Satu papan raised floor ukurannya 60cm x 60cm. Lihat foto di bawah ini saat saya pura-pura mengangkat satu papan raised floor =))

Papan raised floor itu cukup berat loh, punggung saya saja sakit gara-gara kebanyakan buka tutup papan raised floor. Teman saya bilang mungkin ada bagusnya saya kerja terus seperti itu, biar kurusan dikit katanya 🙁 Tidak biasa bekerja menarik kabel seperti itu membuat saya benar-benar tersiksa. Hari Sabtu minggu lalu pun Manggar terkapar sakit tidak bisa menemani saya lagi bekerja. Terpaksa mendatangkan bantuan, saya minta rekan-rekan engineer Fujitsu lainnya membantu saya. Ada Yudi, Subastian, Kusno yang sempat membantu saya bekerja. Foto di bawah ini sengaja saya ambil waktu memasukan kabel ke bawah raised floor dibantu oleh Subastian (narsis? bukan, supaya ada kenang-kenangan aja).

Kalau yang di bawah ini adalah foto Subastian yang saya ambil saat dia sedang berusaha keras merapihkan tumpukan kabel yang super ruwet (biar badan pegel, kedinginan yang penting foto-foto dulu :)) ) :

Jujurnya sempat malu juga dengan rekan-rekan engineer Siemens yang katanya mampu menarik kabel puluhan meter melewati & meletakkannya di bawah raised floor sendirian….iya sendirian (**sambil ngelirik Pak Nana 😀 **). Oh ya salah satu hambatan lain bekerja di bawah raised floor adalah hawa dingin yang menusuk. Di bawah raised floor ada saluran AC dengan hembusan angin yang kencang dan dingin. Di dalam ruang server saja suhu udaranya sudah dingin, apalagi di bawah raised floor. Untungnya Jumat tanggal 5 kemarin, hampir 95% pekerjaan saya di sana sudah selesai. Tinggal membuat dokumen saja, tanpa perlu tarik-tarik kabel lagi.

Thanks to Manggar, Yudi, Subastian, Kusno yang sudah banyak membantu. Thanks juga untuk Pak Nana & team yang sudah memberi banyak petunjuk 🙂

Nah jadi itu ceritanya mengapa satu minggu ini saya ikutan puasa, puasa ngeblog maksudnya. Pulang malam, badan pegel-pegel, boro-boro nulis blog 🙁 Hari ini saya akan coba menebus puasa saya dengan menulis beberapa postingan sekaligus.

Jakarta Hujan Lagi

Musim hujan sepertinya sudah datang. Sudah 1 minggu terakhir hujan turun beberapa kali di Jakarta. Sabtu kemarin saja hujan sudah turun dari jam setengah 12 siang. Seperti biasa hujan membawa efek yang tidak menyenangkan di Jakarta, genangan air & kemacetan di mana-mana. Ada beberapa kiat dari saya 😀 :

  • Bagi yang biasa pergi pulang kerja dengan kendaraan umum jangan lupa selalu bawa payung & jaket.
  • Bagi yang pergi pulang kerja menggunakan motor, jangan pernah ketinggalan bawa jas hujan…bawa payung juga boleh sih kalau Anda bisa naik motor sambil megangin payung :-p
  • Bagi yang sering pergi pakai taxi siap-siap bakal susah cari taksi.
  • Bagi yang ke mana-mana naik mobil pribadi, siap-siap mobilnya kotor kena air hujan.
  • Bagi yang rumahnya jadi langganan banjir, lebih bijaksana membuat perencanaan evakuasi sedari dini 🙂

Maaf postingannya gak mutu, benar-benar sedang kehilangan mood menulis blog 🙁

Uang Rusak Dari ATM BCA

Hari Senin kemarin saya mengambil uang di ATM BCA Gedung Kyoei Prince Sudirman. Di sana hanya ada mesin ATM pecahan Rp50.000,-. Seperti biasa, saat uang keluar saya hanya menghitung jumlah lembaran yang saya terima. Sorenya saya pergi belanja toolkit di Glodok Plaza. Saat membayar, penjaga tokonya mengembalikan 1 lembar uang lima puluh ribuan yang saya bayarkan. Dia minta tukar dengan lembaran yang lain. Saya juga kaget melihat satu lembar uang lima puluh ribuan yang cacat di bagian ujungnya. Lihat fotonya di bawah ini :

 

Saya begitu yakin uang itu berasal dari mesin ATM karena sebelum mengambil uang saya hanya punya beberapa lembar seratus ribuan di dalam dompet. Kok bisa ya BCA memasukkan uang rusak macam itu ke dalam mesin ATMnya. Kalau uangnya sobek lalu disambung lagi saya masih bisa maklum. Tapi lembaran uang tadi hilang potongan ujungnya. Jadi bagian ujungnya disambung dengan kertas biru menggunakan selotip. Angka 5 dan separuh angka 0 dibuat dengan tulisan tangan, sepertinya ditulis dengan spidol. Ada yang bisa beri tahu saya gak, uang macam ini masih sah sebagai alat pembayaran gak ya?

Makan & Kartu Kredit

Belakangan saya baru tahu kalau cukup banyak rekan kantor saya yang sering makan siang dengan memanfaatkan aneka promo/diskon dari penyedia kartu kredit. Anda yang punya kartu kredit tentu tahu kalau bank penerbit kartu kredit sering mengadakan promo potongan harga dengan beberapa restoran, coffee shop, kafe, dll.

Budaya pinjam meminjam kartu kredit juga rupanya sudah berkembang di antara rekan-rekan saya di kantor. Misalnya di restoran A sedang ada promo makan potongan harga sekian persen dari kartu kredit X, beramai-ramai cari rekan yang punya kartu kredit X untuk pergi makan ke sana. Bergantian tergantung promo apa yang ada dan jenis kartu kredit yang menyediakan potongan harga. Jadi kalimat-kalimat seperti:

“Eh ayo kita makan di sana, ada potongan 10% kalau bayar pakai kartu kredit X” atau
“Kita pinjam kartu kreditnya si A aja, di sana lagi ada diskon 50% pake kartu kredit itu”

sudah biasa terdengar kalau mendekati waktu makan siang. Potongan 10% pun bisa jadi daya tarik tersendiri bagi rekan-rekan saya untuk menentukan tempat makan siang. Hmm..saya juga cukup terheran-heran dengan budaya macam ini. Potongan 10% memangnya ngefek ya? Kalau makan sejumlah Rp100.000,- berarti potongannya cuma Rp10.000,- gak gede-gede amat kan? Mungkin mereka juga tidak sadar kalau pelan-pelan digiring ke budaya konsumtif.

Memang segala yang berbau potongan harga, diskon selalu gampang menarik minat orang….apalagi wanita (karena yang saya lihat wanita yang paling sensitif dengan yang namanya potongan harga). Apalagi kalau potongan harga makanannya mencapai 50%, beramai-ramai pergi makan siang ke sana. Tapi yang paling menggelitik pikiran saya adalah : pikir-pikir kasihan amat ya mau makan saja harus nunggu-nunggu ada diskon. Itupun harus ngutang, bener kan ngutang lah kan bayarnya pake kartu kredit. Paling gak si empunya kartu kredit yang ngutang, karena teman-teman yang pergi bersamanya tentu sudah bayar cash pada si empunya kartu kredit.

Sirik aja sih lo Ted? Ya biarin, cuma menyalurkan pikiran & keheranan saya saja. Ya maklum saya tidak termasuk kelas seperti itu, level saya masih makan di warteg belum kelas makan di restoran mahal :-p Sudah tahu beda kelas kok masih cerewet, duit-duit mereka, kartu kredit juga punya mereka kok lu yang jadi sirik Ted. Biarin, lah blog juga blog saya terserah saya donk mau tulis apa  (**ngeles mode is ON** =)) )

Ganti Casing Pendrive

Sepulang dari Banjarmasin hari Sabtu lalu, harddisk eksternal Pendrive Sense saya rusak. Port USB yang ada di body-nya Sense terlepas. Awalnya saya curiga kenapa ada bunyi “klotak klotak” di dalam Pendrive Sense, saya pikir ada benda apa yang menyusup masuk ke dalam perangkat itu. Saya baru sadar saat akan menyambungkan harddisk eksternal saya ke notebook, colokan USBnya sudah tidak ada. Ternyata port USB-nya lepas dan berada di dalam, itu yang menyebabkan bunyi “klotak klotak” di dalam Pendrive Sense saya.

Nekat saja saya bongkar saja Pendrive Sense itu dengan obeng plus kecil. Sempat pusing juga mencari kotak obeng saya. Setelah cari pinjaman obeng, saya bisa buka casing-nya.Kelihatan lah port USB yang lepas itu. Saya putuskan untuk mencoba menyolder sendiri port USB itu ke circuit board-nya. Setelah menyolder sendiri port USB, saya coba sambungkan harddisk eksternal ke notebook saya. Lampu Pendrive Sense menyala tapi Windows tidak bisa mengenali eksternal harddisk tersebut. Waduh, cukup panik…saya takut harddisk-nya bermasalah & data-datanya hilang.

Sebenarnya harddisk eksternal yang baru saya beli 4 Juni 2008 lalu itu masih bergaransi 3 tahun. Tapi saya malas menukarkannya ke Bhinneka.com tempat saya membelinya dulu. Jadi Senin kemarin ketika pergi ke Glodok Plaza, saya sempatkan mencari enclosure/casing untuk harddisk 2.5″ SATA yang ada di dalam Pendrive Sense saya itu. Harga casing untuk harddisk 2.5″ SATA (entah merek apa) adalah Rp60.000,- Pulang kantor, cepat-cepat saya bongkar Pendrive Sense-nya lalu saya pindahkan harddisk-nya ke dalam casing baru itu. Mudah kok proses pemindahannya. Sayang tidak sempat mengambil foto saat mengganti casing harddisk eksternal kemarin. Berikut komik kumpulan foto harddisk saya sebelum dan sesudah berganti casing.

Sekarang harddisk eksternal saya sudah bisa saya pakai kembali; dengan casing baru tentunya :-p