Palembang (part 1) – Hotel Wisata Palembang

Siang ini saya berangkat dari Jakarta ke Palembang dengan Garuda pukul 14.50. Ternyata Garuda bisa delay juga, jadwalnya semula pukul 14.20. Hmm, tapi saya gak kesal tuh delay kali ini (gak seperti Senin malam kemarin waktu Lion delay :-p ). Tadi pagi sudah dikabari Mbak Julie (Dwidaya Travel), kalau dia tidak bisa menemukan hotel yang bisa di-booking di Palembang. Alhasil saya pusing juga saat datang ke Palembang. Semua hotel berbintang penuh semua. Permintaan Mbak Julie supaya cerita ini (gak bisa booking hotel) tidak dimasukkan ke blog terpaksa saya tolak πŸ˜€ Rasanya tidak afdol menuliskan pengalaman saya tanpa mencantumkan Dwidaya Travel. Tapi tenang aja Mbak, Dwidaya tidak salah kok memang Palembang sedang ramai banyak agenda jadi wajar kalau hotel-hotel rekanan Anda penuh semua.

Katanya sedang ada 2 event besar di Palembang, kongres PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) & IDI (Ikatan Dokter Indonesia) makanya semua hotel dari yang berbintang sampai yang berkomet penuh. Dulu saya pernah menginap di Sandjaja & Sahid Imara Hotel, niat mau kembali ke sana tapi keduanya pun sudah penuh. Novotel, Aston pun penuh (meskipun gak masuk budget kantor saya sih πŸ˜€ ). Dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II saya naik taksi ke kota. Untung supir taksinya baik, dia merekomendasikan hotel-hotel non bintang pada saya. Ada 4 hotel yang saya datangi dan semuanya penuh. Sampai hotel kelima barulah saya dapat kamar, hotel Wisata namanya. Di hotel ini pun ramai para peserta kongres PGRI.

Seperti biasa, memotret adalah rutinitas saya pertama kali masuk kamar untuk bahan cerita saya soal hote ini. Ini review hotel dalam komik :

Hotel Wisata ini berdiri tahun 1994 dan katanya sih merupakan hotel bintang 2. Dengan rate Rp295.000,- saya sudah bisa menempati kamar Superior Triniti…satu kelas di atas Superior (entah apa bedanya dengan kelas Superior biasa). Kata resepsionisnya kamar kelas Superior Triniti itu baru di-upgrade, lucu juga istilahnya (emangnya firmware bisa diupgrade =)) ) mungkin maksudnya baru direnovasi. Memang sih saya lihat kamar mandinya sepertinya masih baru, ACnya juga baru jadi masih dingin banget (iyalah saya set 16 derajat gitu loh). TVnya yang kurang OK, cuma ada saluran TV lokal plus ESPN tapi sayang rata-rata gambarnya jelek. Waktu buka-buka buku menu, saya cukup senang melihat daftar menunya murah-murah πŸ˜€ . Akhirnya pesan sup asparagus, nasi, sapi lada hitam, plus Coca Cola. Mantap nih makanannya, biarpun hotelnya di bawah standar kantor saya (yang katanya selalu pakai standar hotel bintang 3) tapi makanannya bisa direkomendasikan (**mode menghibur diriΒ  ON** =)) ).

Nah jadi kesimpulannya adalah hotel ini cukup bisa direkomendasikan untuk Anda yang cari hotel dengan rate sekitar Rp300.000,- Tapi saya jadi mikir, jangan-jangan gara-gara review ini minggu depan standar kantor diturunkan ke level hotel Wisata (alias dari standar hotel bintang 3 ke bintang 2) =)) .

Eh satu lagi yang ketinggalan : hotspot gratis. Saya buat komik di atas tadi malam dan sekarang baru posting dengan bantuan free wireless internet access di lobi. Ngeblog dulu sambil nunggu pesawat saya jam 4 sore nanti. Menyebalkan juga pulang ke Jakarta dengan pesawat sore, tapi berkurang tingkat sebelnya kalau menunggu ditemani akses internet seperti ini.

Ujung Pandang (part 2) – Hotel Singgasana (full review)

Kembali ke Jakarta, salah satu yang saya lakukan adalah membuat komik & menulis review tentang hotel Singgasana ini. Sebelum baca review lengkapnya, silakan lihat dulu komiknya di bawah ini (1 gambar bicara 1000 kata kan?) :

Yang buat saya cukup kaget adalah harga sewa kamar hotel ini. Kemarin malam sewaktu check-in saya lihat-lihat brosur room rate yang ada di meja resepsionis. Kaget juga melihat harga kamar paling rendah adalah USD $80. Yang buat saya kaget sebenarnya bukan karena mahalnya harga kamar, tapi kok saya dikasih gitu loh…ada angin apa kantor kasih saya menginap di hotel semahal ini? Atau bisa jadi juga sih kalau Dwidaya Travel langganan kantor saya punya special rate πŸ˜€ (nah loh, dikasih hotel jelek komplain, dikasih yang mahal bingung sendiri =)) ) Eh ternyata di Surabaya pun ada hotel Singgasana, tapi kok saya gak pernah disuruh menginap di Singgasana ya kalau ke Surabaya. Mungkin alasannya adalah : “kalau ada yang lebih murah ngapain juga pakai yang mahal” =))

Saya diberi kamar di lantai 9, begitu masuk kamar saya langsung tahu bahwa kamar ini enak untuk ditempati. Jendela kamar lebar menghadap ke luar, menyajikan pemandangan malam kota Makassar. Pemandangan pagi hari pun cukup menarik, dari jauh pantainya terlihat. Entah apakah itu yang disebut-sebut orang sebagai Pantai Losari. Berhubung waktu kunjungan yang super singkat, jadi saya gak ke mana-mana. Boro-boro lihat pantai, niat makan konro bakar saja gak sempat. Ok balik lagi soal kamar, kamarnya cukup luas, bersih, cukup lengkap fasilitasnya. Yang mengesalkan, waktu saya cek minibarnya. Kulkas kecil di dalam lemari itu kosong melompong. Halah…kenapa sih kalau kamar hotel dengan tarif paling murah sering mengosongkan minibarnya? Apa mereka pikir orang-orang yang memilih kamar termurah itu gak mampu beli minuman yang ada dalam minibar? Coca Cola sekaleng Rp16000 aja saya minum kok.

Saya cek kamar mandinya pun ok, cuma mungkin shower-nya saja pagi tadi saya coba kurang mantap semprotannya. Nilai plus lain yang paling penting bagi saya adalah hotspot gratisan πŸ˜€ Seperti yang sudah saya cerita di postingan sebelumnya, pagi tadi saya iseng menemukan bahwa di kamar saya juga terjangkau oleh jaringan internet wireless hotel Singgasana ini. Apa lagi ya yang bisa ditulis tentang hotel ini? Tinggal di hotel cuma hitungan jam jadi susah juga buat review-nya. Oh ya soal makan pagi, makan pagi yang disajikan cukup lengkap. Dari roti, aneka kue, nasi goreng (standar hotel banget πŸ™‚ ), jus, kopi….mungkin ini hal yang biasa ada di hotel-hotel cuma berhubung saya kehabisan bahan tulisan review ya saya tulis saja sekalian :))

Lokasi hotel Singgasana ini tidak terlalu jauh dari pusat kota. Sok tahu ya saya, padahal tau juga gak mana pusat kotanya :)) ya maksudnya gak jauh dari pertokoan gitu lah. Dari hotel menuju bandara Hasanuddin saya naik taksi, cukup jauh sampai memakan waktu 45 menit lebih. Mungkin pengaruh juga karena banyak jalan yang sedang diperbaiki. Dari kemarin malam saya sering sekali melihat perbaikan jalan di Makassar. Mungkin Gubernur/Walikota Makassar sedang giat-giatnya bikin proyek yang wah, berhubung mau Pilkada. Kok tahu Makassar bakal menggelar Pilkada? Ya saya kan lihat di mana-mana ada baliho, poster bergambar calon peserta Pilkada yang foto & tagline-nya narsis semua.

Ok lah itu saja review saya tentang hotel Singgasana Makassar. Thanks buat Dwidaya Travel (Mba’ Julie?) yang sudah rekomendasiin hotel ini untuk saya πŸ˜€

Ujung Pandang (part 2) – Hotel Singgasana

Hei…rupanya di Hotel Singgasana Makassar ada fasilitas akses internet gratis. Barusan setelah breakfast, saya iseng mencoba menyalakan WiFi di notebook dan ternyata ada akses internet di kamar saya. Sinyal WiFi yang tersedia cukup lemah, tapi kencang juga nih akses internetnya. Cukup kencang untuk bisa membuka webmailnya Fujitsu yang lemot & agak susah diakses. Gatel juga gak tulis posting blog dengan internet gratis :-p

Ok mundur sebentar ceritanya, tadi malam setibanya di Makassar, saya langsung menuju Hotel Singgasana. Entah seperti apa Hotel Singgasana itu, belum ada orang di kantor yang pernah ke Makassar. Dwidaya Travel merekomendasikan hotel ini pada bos saya. Jadilah saya datang ke hotel ini. Hmm…sebetulnya seperti biasa saya sudah foto-foto hotel ini, tapi belum sempat buat komik reviewnya. Nantilah sepulang ke Jakarta lah saya buat reviewnya. Secara umum, Hotel Singgasana ini cukup bagus dan layak untuk dapat rekomendasi dari saya (halah..emangnya saya siapa? :)) ).Loh penting kan rekomendasi dari saya, siapa tahu lain kali ada rekan-rekan Fujitsu Indonesia yang akan ke Makassar butuh rekomendasi hotel (atau mungkin nanti saya balik lagi ke sini).

Berhubung nanti saya pulang ke Jakarta dengan pesawat jam 12.00, pagi ini saya memaksa diri bangun pagi padahal tadi baru tidur jam 4 pagi. Seperti biasa, lembur di Telkomsel untuk ganti memori Primepower 1500nya Telkomsel. Tidak terlalu puas sih menikmati tinggal di Hotel Singgasana ini, sayang memang hotel bagus tapi disinggahi cuma sebentar.

Ujung Pandang (part 1) – Lion Itu Pasti

Ah kesampaian juga menginjakkan kaki di tanah Sulawesi. Malam ini saya datang pukul 23.00 di Bandara Hasannudin Makassar (dulu Ujung Pandang kan?). Kali ini naik Lion Air, dapat bonus delay 1 jam. Jadwal berangkat harusnya pukul 18.00, di boarding pass tercantum penumpang boarding pukul 17.40. Sampai 17.40 masih tidak ada tanda-tanda penumpang disuruh naik pesawat (lah pesawatnya aja gak ada).

Sore ini terminal 1A sudah seperti pasar malam saja ramainya. Rupanya bukan cuma penerbangan ke Makassar saja yang delay, beberapa penerbangan lain seperti ke Palembang & Denpasar juga delay.

Dalam hati cuma tersenyum aja saat pukul 18.45, petugas Lion Air di pintu A4 mengumumkan pesawat ditunda keberangkatannya selama 60 menit karena alasan operasional (tepat seperti dugaan saya).Β  Tepat juga seperti prediksi Ramdhan (manajer di kantor) yang mengomentari kepergian saya naik Lion Air. Tadi siang Ramdhan bilang “Ngapain buru-buru ke airport, Lion mah pasti telat πŸ˜€ . Sialan, beneran telat. Langsung saya SMS Ramdhan. Mungkin dia tertawa kalau sudah tahu Lion Air yang akan saya naiki delay.

Jadi Lion itu pasti……pasti delay-nya.

Loh kok kamu naik Lion Air, katanya kantormu yang perusahaan asing itu standarnya pergi pakai Garuda? Entah lah mungkin bos saya malas juga diskusi soal airline dengan saya…kan saya tukang komplain. Tahu-tahu sudah confirm disuruh berangkat naik Lion Air. Mau komplain lagi gara-gara disuruh pergi dengan Lion Air,Β  ntar dibilang kaya anak kecil lagi…nanti sajalah curhat-nya (mungkin di postingan selanjutnya).

Update :
Foto di atas adalah foto boarding pass Lion Air, makin miskin aja Lion Air…jelek amat boarding passnya. Maret lalu sepertinya masih bagus boarding passnya. Lihat nih masih lebih menarik kan daripada cuma kertas putih polos :

Samsung Ultra SlimFit TV

Sudah cukup lama saya ingin punya televisi sendiri di kamar. Niatnya sih ingin pasang tv kabel, bosan lihat televisi lokal yang terlalu banyak sinetronnya. Dari dulu gak pernah jadi beli, akhirnya tadi siang saya beli juga TV baru. Kemarin sempat Googling dulu mencari tipe TV yang bagus dan harganya pas dengan kantong saya. Ternyata harga TV sekarang tidak semahal yang saya pikir. Dulu saya masih ingat tahun 1999, saya beli Toshiba Bomba 14″ seharga Rp1.500.000,-. Rupanya sekarang harga TV mengalami penurunan. Televisi CRT dengan ukuran 21″ rata-rata dijual dalam orde 1 koma sekian juta rupiah (kecuali Sony yang masih mahal harganya).

Dari hasil Googling saya dibawa ke website Glodokshop.com. Saya cukup terkesan dengan Samsung Ultra SlimFit TV, modelnya menarik dan harganya tidak terlalu mahal (hanya di kisaran Rp1.200.000,-). Dulu saya pernah lihat tipe TV ini saat menginap di hotel Ibis Surabaya. Di kamar Ibis, TVnya menggunakan Samsung Ultra SlimFit. Modelnya menarik, cukup ramping untuk ukuran televisi bertabung. Cukup mendekati model LCD TV (masih ngimpi nih punya LCD TV yang bisa digantung di tembok πŸ˜€ ).

Nah tadi siang saya ditemani Manus pergi dulu ke Gajah Mada Plaza. Niat lihat-lihat dulu di Hypermart, di sana saya juga menemui Samsung tipe yang saya cari. Tapi sampai di sana berubah niat malah pergi ke Mangga Dua. DiΒ  Mangga Dua Mall nyasar di salah satu toko (Arta Jaya), langsung tanya Samsung Ultra SlimFit TV. Sempat bingung juga saat ditawari LG Pearl Black (itu loh yang pake Agnes Monica jadi bintang iklannya :-p ), tapi modelnya kurang menarik buat saya. Pearl Black juga lebih mahal, dia ditawarkan Rp1.450.000,- Saya terlanjur “jatuh cinta” dengan modelnya Samsung. Ya sudah lah, saya memang bukan “pebelanja” yang baik (apalagi “penawar” yang baik) jadi malas berlama-lama di toko…cuma basa-basi tawar harga langsung bayar (dikasih potongan Rp50.000,- sih dari harga awal Rp1.250.000,- ).Β  Bayar tunai tapi barangnya saya minta diantar ke rumah sore harinya.

Sore tadi jam 4-an barang datang. Bongkar, beres-beres kamar, langsung pasang. Ini fotonya setelah dipasang di sudut kamar :

TV udah berarti tinggal tv kabelnya πŸ˜€ Pilih Indovision, Kabelvision, atau Astro ya? Sementara masih pakai antena indoor (tadi beli antena sekalian Rp100.000,-), gambarnya jangan ditanya…hampir semua bergoyang gambarnya. Yang bening cuma SCTV, RCTI, Global TV.