Balapan Liar Di Tanah Abang

Malam ini saya melintas di jalan KH Mas Mansyur (daerah Tanah Abang) menuju Casablanca naik taksi Blue Bird. Dari arah Cideng kami naik jalan layang Jati Bening Jati Baru, lalu turun masuk terowongan (underpass) Tanah Abang. Sopir Blue Bird dan saya kaget serempak saat ada 3 motor yang bergerak melawan arus tepat di “mulut” underpass Tanah Abang. Si sopir kaget sambil menginjak rem dalam dalam saat salah satu motor putar balik di ujung underpass, sementara saya kaget karena taksi direm mendadak. Taksi sempat goyang karena direm mendadak. Untung motor tadi selamat dan kami juga selamat tidak diseruduk mobil dari belakang.

Rupanya mereka akan melakukan balapan motor. Gila, di tengah lalu lintas yang masih cukup ramai, mereka sudah siap beraksi. Yang menonton pun banyak, semua memadati pinggir jalan Tanah Abang di sepanjang pagar pembatas underpass. Foto di atas memang bukan saya ambil tadi, tapi situasinya persis seperti itu : banyak orang nonton balapan liar dari atas underpass. Memprihatinkan mereka-mereka itu, baik yang balapan maupun yang nonton, sama-sama kurang hiburan.

Sampai tulisan ini diketik, saya masih bisa mendengar derum motor yang sedang balapan. Saya sedang di Telkomsel Karet Tengsin saat ini. Tadi sempat ngobrol sebentar dengan satpam Telkomsel, mereka membenarkan cerita saya kalau di Tanah Abang rutin diadakan balapan motor liar. Biasanya diadakan dari dekat layang Casablanca sampai dekat jalan layang Pejompongan. Kali ini lokasi balapan diubah karena kabarnya polisi sudah menandai area yang biasa mereka pakai balapan.

Tadi supir Blue Bird juga sempat bercerita kalau pernah ada rekannya yang dihajar massa karena tidak sengaja menabrak pembalap liar di Jl Panjang (daerah Kebon Jeruk Jakarta Barat). Lucu kan para pembalap liar ini, sudah salah eh malah lebih galak. Tidak hanya dihajar massa, taksi Blue Bird itu pun jadi sasaran amuk massa. Polisi lalu lintas harusnya segera turun tangan kalau ada laporan tentang balapan liar kan sudah termasuk tindakan merugikan kepentingan umum. Kalau tidak bakal ada banyak pihak yang bisa dirugikan, pengguna jalan lain tentunya. Kalau mereka yang mati tertabrak mobil sih memang sudah resiko mereka sendiri. Nah yang repot kan pengendara lain yang ikut kena getah balapan mereka.

Jadi hati-hati kalau melintas di jalan KH Mas Mansyur (daerah Tanah Abang) saat malam akhir pekan. Ini bukan HOAX, cuma sharing pengalaman saya untuk Anda.

Bandung (part 4) – Pulang

Komik di bawah ini adalah foto yang saya ambil Sabtu sore di stasiun Bandung dan foto dari dalam kereta api Argo Gede saat melintas di atas Cipularang. Dua foto di bagian bawah adalah foto jalan tol Cipularang. Keduanya seolah saling beradu cepat memberikan jalur Bandung Jakarta.

Dengan menggunakan kereta api sekelas Argo Gede, teorinya (seperti yang tercetak di tiket) jarak Bandung Jakarta ditempuh dalam waktu 2.5 jam…tapi faktanya sulit memperoleh waktu tempuh sependek itu. Seringnya Bandung Jakarta ditempuh dalam waktu 3 jam. Sore ini saja saya pulang dari Bandung dengan Argo Gede jam 14.30, teorinya saya sampai 17.13 tapi faktanya saya baru sampai Gambir pukul 18.05. Tiga setengah jam waktu perjalanan saya sore tadi.

Sama halnya seperti waktu saya berangkat dari Jakarta ke Bandung Rabu malam lalu. Rabu malam saya berangkat dari Jakarta pukul 19.30 dan baru sampai ke Bandung pukul 22.40…..3 jam 10 menit. Memang susah memperoleh kepastian waktu perjalanan dengan kereta api. Selama ini, saat bepergian menggunakan kereta api jarang sekali perjalanan saya tepat sesuai jadwal.

Setelah jalan tol Cipularang beroperasi, kereta api Bandung – Jakarta jadi sepi peminat. Argo Gede saja yang dulu mematok tarif Rp75000,- – Rp85000,- sekarang banting harga jadi Rp45000,-. Cukup jauh kan bedanya. Kebanyakan para pelanggan kereta api Bandung Jakarta akan memilih menggunakan travel/bus/mobil sendiri. Perjalanan Bandung Jakarta (dan sebaliknya) jauh lebih cepat ditempuh dengan menggunakan jalan tol Cipularang. Kalau lalu lintas normal, perjalanan Bandung Jakarta lewat Cipularang bisa ditempuh dalam waktu 2 jam. Pahit-pahitnya 3 jam kalau sedang padat lalu lintasnya.

Dari perbandingan waktu tempuh, tidak heran banyak orang yang beralih menggunakan travel/mobil pribadi untuk perjalanan Bandung Jakarta. Tidak heran pula, PT KAI banting harga tiket. Argo Gede yang dulu jauh lebih mahal daripada kereta api Parahyangan sekarang dibuat murah tiketnya. Dulu saya masih ingat, harga tiket Argo Gede lebih mahal daripada harga tiket kereta api Cirebon Express (kelas eksekutif seharga Rp65000). Sekarang malah terbalik situasinya, tiket kereta Argo Gede malah lebih murah daripada Cirebon Ekspress. Ongkos travel Bandung-Jakarta sekarang berkisar antara Rp45000,- sampai Rp60000,-. Entah apa lagi yang harus dilakukan oleh PT KAI untuk menarik kembali sebagian besar pelanggannya yang lari menggunakan travel/bis.

Bagi saya sendiri, perjalanan dengan menggunakan kereta api lebih menyenangkan daripada dengan menggunakan mobil (asumsi saya tidak punya mobil pribadi). Kalau masalahnya adalah waktu, kereta api memang bukan pilihan yang bijaksana. Tapi kalau saya punya waktu longgar, saya lebih pilih naik kereta api. Entah apa pilihan saya bisa berubah kalau sudah punya mobil sendiri 😀 Bagaimana dengan Anda, kalau ke Bandung dari Jakarta pilih mana kereta atau mobil?

Bandung (part 3) – Beli Bayi Tikus

Berhubung mouse saya yang dulu dipinjam untuk pengganti spare part mouse yang rusak untuk mesin Primepower 250 di Telkomsel, saya akhirnya beli mouse lagi di Bandung. Jumat siang saya beli mouse di Ganesha Stationary, jalan Taman Sari Bandung (dekat BNI 46 Taman Sari). Pilih-pilih akhirnya beli mouse model retractable (yang bisa digulung tuh).

Harganya cuma Rp55000,- lebih murah dari mouse yang dulu saya beli di Surabaya; tapi tanpa garansi. Lucu juga modelnya, kecil mungil. Ya gak apalah, kalau rusak nanti saya jadikan gantungan kunci saja 😀 (atau lempar saja ke got di depan kos). Biar murah keren juga tuh kemasannya.

Bandung (part 2) – Ijazah Gajah Duduk

Sejak lulus Juli 2006 lalu, saya belum mengambil ijazah dari kampus. Tahun lalu saya sudah ke kampus tapi hanya mengambil transkrip nilainya saja. Waktu itu ijazah saya tidak bisa diambil karena terkait masalah legalisir fotokopi ijazah. Untuk meminta legalisir fotokopi ijazah (butuh tandatangan dekan) perlu menyertakan ijazah asli. Nah sialnya April 2007, dekan tidak berada di Bandung jadi harus ditinggal deh ijazahnya. Sejak itu saya tidak pernah balik lagi ke kampus untuk mengambil ijazah. Baru kali ini saya balik lagi ke kampus untuk ambil ijazahnya. Ini dia foto ijazah saya, aseli cap “Gajah Duduk” 😀 :

Siang ini saya ke kampus sekitar pukul 1 siang. Kampus ITB sepi, mungkin karena sedang musim ujian akhir semester. Siang yang teduh, mendung terus jadi cukup nyaman berjalan kaki dari hotel Royal Dago menuju kampus. Ini salah satu foto yang saya ambil, foto gedung teknik elektro & farmasi ITB :

Untung ijazahnya masih ada, saya pikir sudah bulukan karena terlalu lama tidak diambil :)) .

Bandung (part 1) – Hotel Royal Dago

Niat berangkat dari Jakarta dengan kereta pukul 6, terpaksa dibatalkan. Macet di mana-mana gara-gara demo (ngapain juga ya orang-orang demo, emangnya mereka pikir kalau demo sampai jerit-jerit gitu terus BBM jadi turun?? realistis aja lah). Lah kok jadi komentar soal demo…mungkin saya termasuk orang dengan kadar nasionalisme dan jiwa sosial yang rendah, gak peduli BBM naik apa gak.

So singkat cerita saya berangkat dengan kereta pukul 19.30. Teorinya kereta akan sampai Bandung pukul 22.00, faktanya pukul 22.40 baru sampai stasiun Bandung. Sudah lama saya tidak pergi pulang Bandung dengan kereta api. Seingat saya terakhir ke Bandung setelah wisudaan 2006 lalu. Dari stasiun saya naik taksi ke Dago. Kenapa ke Dago, karena saya sudah dipesankan kamar di hotel Royal Dago. Tadi pagi disuruh memilih antara 3 hotel, Royal Dago, Kedaton, atau Patra Jasa. Saya pilih Royal Dago sajalah…kasihan nanti ada yang kena omel kalau saya banyak maunya soal hotel. Dalam hati sih inginnya nginap di Sheraton atau Jayakarta Hotel…tapi seperti yang saya bilang di atas, realistis sajalah…engineer ya engineer. Terima saja hotelmu, jangan banyak komplain, dipecat baru tahu rasa lu !!!

Berikut liputan pandangan mata dari hotel Royal Dago.

Hotel ini letaknya tidak jauh dari Simpang Dago, tidak jauh pula dari kampus saya dulu. Entah mengapa saya baru ngeh kalau di kanan kiri jalan Dago ada hotel Royal Dago. Ternyata hotel Royal Dago itu ada 2 bagian. Masing-masing bagian saling berhadap-hadapan, yang satu di sisi kanan & yang lain di sisi kiri Jl. Ir H Juanda (Dago bekennya). Kalau kita berjalan dari Dago bawah (dari BIP), di sisi kiri jalan Juanda ada hotel Royal Dago yang versi mahalan dikit. Nah kalau Anda jalan dari Simpang Dago, di sisi kiri jalan ada juga hotel Royal Dago…nah ini yang lebih murah (katanya suite-nya aja cuma Rp300 ribuan). Pusing gak bacanya? Ya sudahlah gak penting. Pokoknya kalau mau nginap di Royal Dago masuk dulu lalu tanya saja sama resepsionisnya, mana hotel Royal Dago yang lebih murah ;)) .

Saya menginap di hotel Royal Dago (yang mahalan dikiiit). Nuansanya seperti masuk ke rumah jaman Belanda. Pilar-pilar di teras, bentuk jendela jendela, langit-langit yang dibuat tinggi….pas lah kalau dibilang hotel antik. Hotel ini cuma punya kamar 43 buah (kata sekuritinya), semuanya penuh malam ini saat saya datang. Ada calon tamu yang datang persis di depan saya terpaksa batal menginap karena kamarnya penuh. Setelah check-in, masuk kamar lalu foto-foto dulu seperti biasa. Cukup foto-foto baru pergi lagi. Malam ini ada pekerjaan upgrade HCP di server Fujitsu Primepower 1500 (mesin INny Telkomsel Bandung). Nanti saya update lagi cerita dari hotel Royal Dago.