Tes Kecepatan Baca USB Drive

Saat membaca tulisan di sini tentang cara membuat Ubuntu dalam USB drive, saya baru tahu command untuk mencoba kecepatan baca USB drive. Berikut ini adalah hasil tes kecepatan baca USB drive saya :

tedy@tedy:~$ sudo hdparm -tT /dev/sdb1

/dev/sdb1:
Timing cached reads: 1756 MB in 2.00 seconds = 878.23 MB/sec
Timing buffered disk reads: 38 MB in 3.01 seconds =
12.63 MB/sec

tedy@tedy:~$ sudo hdparm -tT /dev/sdb1

/dev/sdb1:
Timing cached reads: 1788 MB in 2.00 seconds = 894.19 MB/sec
Timing buffered disk reads: 40 MB in 3.14 seconds =
12.73 MB/sec

Lalu bagaimana ya cara tahu kecepatan tulis sebuah USB drive? Bagaimana juga ya cara memeriksa kecepatan baca tulis USB di lingkungan Windows? Apakah ada software benchmarking khusus yang bisa dipakai?

Network Printer on OpenSUSE 10.3 (part 2)

In the last post, I’ve explained about installing network printer on OpenSUSE 10.3. The next step must be configured is configure Windows on client PC. See the following illustration :

Driver for Epson Stylus Photo R230 can be downloaded here. The steps to using network printer over Samba protocol already written in this document.

Network Printer on OpenSUSE 10.3

Today I tried to configure my friend’s server to have network printer attached on it. It’s a PC server powered by OpenSUSE 10.3. The printer that must be configure as network printer is Epson Stylus Photo R230, see the photo of that :

I got some difficulties to configure Samba so that printer can be accessed by all Samba user in the network. So here is the conclusion that I’ve got after several hours tweaking OpenSUSE to provide network printer services :

  1. Connected the printer to the server. OpenSUSE recognized Epson Stylus Photo R230 directly as soon as I connected the USB connector to the server. I didn’t need to install or do anything….it’s just work when connected to OpenSUSE. Using lpstat we can know all the printer connected to the operating system. To see installed printer, I use this command :

    # lpstat -v
    device for EPSON_Stylus_Photo_R230: usb://EPSON/Stylus%20Photo%20R230

  2. I must configure /etc/samba/smb.conf. In the existing smb.conf file, I put some codes like this :

    load printers = yes
    printcap name = /etc/printcap
    printing = cups
    printcap name = cups
    [printers]
    path = /var/spool/samba
    browseable = yes
    guest ok = no
    writable = yes
    printable = yes
    printer name = EpsonStylusR230
    valid users = edi, tedy

    [print$]
    comment = printer driver
    path = /etc/samba/drivers
    browseable = yes
    guest ok = yes
    read only = yes

    To be honest, I still don’t know what is /etc/printcap and several other lines stands for. I just know that the path of the printer will announce to all Samba user that there is a network printer which can be used.

  3. The other file that must be configured is /etc/cups/cupsd.conf. This file will make server to provide network printer service to all Samba user. Network printer that use cups will used port 631 to listens printing request from all client. So I must defined that all server network interface that will used for network printer is 192.168.0.4:631 I also add some access control list using Allow From 192.168.0.* to guarantee that only client inside the network can access the printer. In the existing file, I put several lines like these :

    listen 192.168.0.4:631
    Browsing On
    BrowseOrder Allow,Deny
    BrowseAllow @LOCAL
    <Location />
    Order Deny,Allow
    Allow From localhost
    Allow From 127.0.0.2
    Allow From 192.168.0.*
    </Location>

  4. The other file must be edited is /etc/cups/mime.convs Just add this line :

    application/octet-stream application/vnd.cups-raw 0 -

  5. The last file must be edited is /etc/cups/mime.types Just comment out this line :

    application/octet-stream

  6. After edit those files, I must restart cups and samba services using this commands :

    # /etc/init.d/smb restart
    # /etc/init.d/cupsd restart

Mie Tanpa Sumpit

Bagi saya bakmie/mie/yamien apapun jenisnya paling enak dimakan dengan bantuan sumpit. Rasanya ada yang kurang kalau makan mie tanpa menggunakan sumpit. Seperti pagi ini misalnya, saya sarapan bakmie ayam. Si penjual lupa memberi sumpit bambu seperti biasa. Jadilah saya makan bakmie tadi dengan menggunakan garpu. Rasanya sih tetap enak tapi di benak saya, rasa-rasanya ada yang kurang. Rasanya mungkin seperti berangkat ke Paris tanpa melihat menara Eifel **ngawur mode is ON** =)) .

Entah karena kebiasaan atau memang ada sensasi tersendiri kalau makan mie menggunakan sumpit. Bagaimana dengan Anda? Lebih suka makan mie dengan menggunakan sumpit atau dengan sendok garpu layaknya makan nasi?

Hari ini adalah hari kejepit nasional, hari ini saya cuti…jadilah pagi-pagi cari sarapan pagi. Sarapan pagi bakmie Amen, bakmi Amen itu merek dagang tukang mie di jalan Mandala Utara (dekat Roxy Square). Semangkok bakmie ayam; komplet dengan pangsit rebus harganya Rp14000,-. Katanya sih ini bakmie ayam, tapi aroma mie dan aroma kuahnya menebarkan bau babi 😀 . Saya tidak suka makan daging babi – atau lebih tepatnya benci makan babi, tapi entah mengapa saya tetap suka makan bakmie Amen itu. So bagi yang muslim dan mengharamkan makan babi, pikir-pikir dulu kalau mau mencoba makan di sana (percaya deh sama saya, hidung saya super sensitif kalau disuruh mengendus daging binatang berhidung pesek berkaki pendek itu) :-p Oh ya ngomong-ngomong soal kebencian saya makan babi mungkin harus saya tulis di postingan khusus lain kali.

(niatnya mau ngomongin sumpit kok malah ngomongin babi =)) )

Banjarmasin II (part 3) – Soal Bos

Sejak kerja di Jakarta, saya sering sekali orang saling dengan sapaan “BOS”. Dari mulai tukang ojek menyapa penumpang, tukang parkir memanggil tamunya, sopir taksi memanggil tamunya, sampai orang-orang kantoran saling menyapa ke sesama rekan. Jujur saya sebel kalau ada yang panggil saya “bos”. Lah dia bukan anak buah saya kok panggil saya “bos”. Sepertinya kalau saya jadi atasan pun, saya tetap risisapaan “bos”. Saya akan lebih senang dipanggil cukup dengan “pak”.

Di telinga dan di benak saya, sapaan “bos” mengandung sinisme. Terkesan menjilat gitu loh. Kalau pun bukan menjilat, ada muatan sok akrab di dalamnya. Kenapa sih orang di Jakarta (bahkan di daerah lain) suka memanggil orang lain yang bukan atasannya dengan panggilan “bos”. Apa ada ya orang-orang yang memang senang dipanggil “bos”? Mungkin benar juga apa yang dikatakan seorang teman, di Jakarta itu orang gampang jadi bos. Dengan uang Rp1000,- kita bisa jadi bos (lah itu lihat saja kalau bayar parkir sama petugas parkir gelap, langsung dipanggil bos). Dengan uang Rp1000,- orang juga bisa saling bunuh.

Setuju gak dengan pendapat saya? Kalau gak setuju ya silakan, tapi please jangan panggil saya dengan sebutan “bos”.