Mengetik Aksara Kanji

tedyBagaimana cara menulis (baca : mengetik) aksara kanji (huruf Mandarin) di komputer? Ini pertanyaan bagus dari Mamah saya di rumah saat weekend lalu saya pulang ke Cirebon. Untuk menjawab pertanyaan itu, Minggu pagi saya sedikit ngoprek untuk mencari tahu bagaimana cara mengetik aksara kanji di dalam notebook saya yang menggunakan Windows XP (English version). Setelah Googling sebentar, saya dapat beberapa tips. Langsung saya coba dan setelah sukses mengetik karakter kanji, saya buat deh tutorial bodoh-bodohannya. Mudah-mudahan bisa dimanfaatkan, khususnya oleh Mamah saya yang sekarang punya profesi baru sebagai guru bahasa Mandarin 😀 .

Berikut ini adalah tutorial singkat yang saya buat tentang bagaimana mengetik aksara kanji dalam komputer dengan sistem operasi Windows XP English Version. File tutorialnya dalam format PDF, silakan diunduh di sini (ukuran sekitar 900KB).

(Gambar di atas adalah nama Mandarin saya : Zheng Meng Wei. Sok Cina mode ON =)) )

Statik IP Dengan DHCP Server

Tulisan ini adalah tambahan untuk tulisan saya sebelumnya (“DHCP Server ON OpenSUSE 10.3“)Untuk “mengikat” sebuah alamat IP kepada sebuah perangkat kita dapat menambahkan kode berikut pada file /etc/dhcpd.conf

host printer {
hardware ethernet 08:00:2b:4c:a3:82;
fixed-address 192.168.1.120;
}

Misalnya pada sebuah jaringan yang menggunakan DHCP server, kita ingin memberi IP yang tetap pada sebuah printer nah cara ini bisa dipakai. Kebayang kan kalau printer dibiarkan mendapat IP dari DHCP server tanpa “ikatan” seperti ini. IP berubah-ubah terus, bingung donk user lain yang mau menggunakan printer. Jadi walaupun jaringan tersebut menggunakan IP dinamik yang diberikan oleh DHCP server, printer tersebut selalu memperoleh IP yang sama dari DHCP server. Secara bodoh-bodohan sama saja artinya dengan “memesan/booking sebuah IP” dari DHCP server.

Menyambut Mei

Tidak terasa sekarang sudah bulan Mei. Tanggal 1 Mei yang lalu saya pulang ke Cirebon. Sudah cukup lama saya tidak pulang ke rumah di Cirebon. Tanggal 1 Mei hari Kamis itu saya pulang dengan kereta api. Stasiun Gambir pagi itu cukup ramai. Kereta saya terlambat hampir 45 menit. Seharusnya berangkat pukul 6.00 pagi tapi kereta baru berangkat pukul 06.45. Yah namanya juga bayar murah, gak bisa complain. Bandingkan dengan suasana di ruang tunggu bandara; pasti ramai kalau ada pengumuman delay. Rupanya para pengguna jasa kereta api di sini sudah maklum dan kebal dengan keterlambatan jadwal keberangkatan kereta. Kabarnya sih pagi itu ada ganggunan persinyalan di stasiun Manggarai akibatnya banyak kereta yang harus gantian melewati stasiun itu.

Tidak banyak yang saya lakukan di Cirebon selain makan dan tidur. Sudah lagu lama kalau Cirebon itu panas, hujan yang turun Kamis malam tidak mampu menyejukkan suasana. Jumat kemarin seharusnya saya masuk kerja, tapi saya ambil cuti. Tadi malam saya sudah dikabari untuk berangkat lagi ke Surabaya (mungkin Senin depan)….halah. Pagi ini saya akan pulang lagi ke Jakarta. Jam 5.45 nanti kereta saya berangkat ke Jakarta. Dari jam 3 pagi tadi saya sudah terjaga, daripada bengong saya update dulu blog ini dengan bantuan Telkomnet Instan yang “hidup segan, mati tak mau”….bayangkan lambatnya koneksi internetnya : membuka Write Page-nya WordPress saja harus tunggu 10 menit.

Mouseku Tewas

Sialan…dari tadi malam saya mendadak tidak bisa menggunakan mouse (tetikus) saya ini. Koneksi USB-nya putus-putus. Kadang kalau dicoba dicabut dan dicolokkan kembali, mouse tadi mau berfungsi lagi. Itupun hanya sebentar, kemudian eror lagi. Menyebalkan juga kerja gak pakai mouse (saya kan jadi susah kalau mau ngeblog & bikin komik :-p ) Mudah-mudahan sih masalahnya ada pada Windowsnya, saya masih berharap mouse itu baik-baik saja. Tapi sepertinya harapannya saya harus berhenti di situ; saya coba nyalakan Ubuntu di notebook pun tetap masalahnya sama, mouse-nya tidak bisa berfungsi.

Optical mouse itu bawaan Fujitsu Lifebook S7110 yang dipinjamkan kantor sejak Februari lalu. Mereknya Fujitsu juga. Kabelnya bisa digulung dan bisa ditarik bila diperlukan (sistem retractable katanya), dilengkapi juga dengan scroll button di bagian tengahnya. Hmm harus cepat-cepat beli mouse sendiri nih, karena jaminan susah kalau minta penggantian dari kantor. Dulu waktu saya terima Lifebook S7110 saja, hampir saya tidak diberi mouse. Untung dengan sedikit argumen, saya dapat mouse. Banyak hal yang lebih enak dikerjakan jika ada mouse dibandingkan bila harus pakai touch pad, misalnya bekerja dengan spreadsheet (Excel misalnya), copy paste dokumen, scrolling terminal console (Putty misalnya), atau membuat komik (loh kok balik lagi ke komik…ini kerja atau apa sih 8-} ).

Surabaya III (part 2) – Kapten, Saya Titip Toolkit Ya

Dulu saya pernah cerita tentang membawa toolkit (obeng dkk) di dalam tas ke dalam kabin pesawat. Sabtu kemarin (saat akan terbang ke Surabaya) saya “ketangkap” juga, saya disuruh mengeluarkan toolkit dari dalam tas saya. Kontan saja saya komplain : “lah Pak kemarin-kemarin kok gak pernah nangkap saya bawa toolkit?” Lucu jawabannya : “iya mungkin waktu itu terlewat dari pengamatan kami”. Waduh…kalau begitu petugas scanning kadang-kadang teliti, kadang-kadang lalai donk? Banyak kali masuk bandara Soekarno Hatta bawa toolkit saya gak pernah dilarang bawa toolkit masuk kabin. S

Saya disuruh balik lagi ke counter check in untuk memasukkan tas kecil berisi toolkit ke dalam bagasi. Saya diam saja tidak mau pergi. Tidak lama ada petugas lain yang kelihatannya lebih senior menengahi, sudah disuruh titipkan ke crew kabin aja…katanya begitu. Hmm, saya jadi berpikir mungkin karena petugas yang sore itu menggeledah saya masih mudah jadi mungkin masih taat aturan kali ya, alias idealis. Jadi detil sekali kerjanya. Kalau sudah senior mungkin sambil lalu saja kerjanya 😀

Akhirnya saya diantar oleh petugas yang tadi menggeledah tas saya ke pintu F5 (saya boarding lewat F5). Di sana saya dilayani oleh petugas lain, saya diminta memperlihatkan boarding pass dan menandatangani formulir macam begini :

Petugas tadi menjelaskan pada saya kalau barang saya aman dan setibanya di Surabaya saya tidak perlu menunggu lama untuk mengambilnya kembali. Katanya barang-barang tersebut dititipkan pada pilot & krunya. Jadi di Surabaya saya harus mengambilnya di loket Lost & Found (alias barang loket barang ketinggalan). Ini lebih cepat daripada harus memasukan tas saya ke dalam bagasi. Ini pelajaran bagi saya kalau pergi naik pesawat dengan membawa toolkit.

Lagian suruh siapa pergi bawa-bawa toolkit ;)) Lah saya kan cuma “tukang enjiner”, masa pergi kerja gak bawa toolkit.