Surabaya III (part 1) – Posh Pool and Lounge

Posh Pool and Lounge, tempat biliar ini ada di lantai 6 MEX Building di jalan Pregolan Surabaya. Bisa jadi tempat favorit nih kalau ke Surabaya lagi 🙂 mejanya Brunswick dengan laken super licin. Mantap deh main di sana. Cue stick-nya standar (agak keras tipnya) tapi masih lurus-lurus. Jauh lebih baik daripada main dengan fiber glass cue stick seperti di Nine Ball. Yang bikin mantap adalah paket main sepuasnya dari siang sampe tutup dengan hanya membayar Rp58000,-. Posh Pool & Lounge punya tempat yang cozy, dengan sofa di sisi tiap meja.

Saya tahu tempat ini gara-gara baca brosurnya 2 minggu lalu di hotel Garden. Baru tadi siang saya mampir ke sana. Pelayanannya juga ok, ramah-ramah pegawai di sana. Katanya ada fasilitas wifi gratis juga (tapi gak sempat coba sih). Tadi saya main dari jam 3 siang sampai sekitar jam 7 malam. Benar-benar puas. Note : next trip to Surabaya I must bring my cue stick. Kalau membaca brosurnya, tiap hari ada happy hours di Posh Pool & Lounge. Main bebas dengan tarif lebih murah. Kalau kita mau main dengan hitungan jam saja, per jamnya dikenakan tarif Rp38000,- (mahal kan jatuhnya) mending main sepuasnya bayar Rp58000,- sampai pingsan :-p

Menurut saya tempat ini highly recommeded tempat ini bagi para pecinta biliar. Sayang di Jakarta tidak ada tempat main seperti ini. Saya juga heran mengapa Posh berani mematok tarif murah seperti itu. Hanya harga promosi saja kah? Rasanya tidak karena tempat ini sudah buka selama setahun. Makanan dan minuman di tempat ini juga tidak terlalu mahal harganya, apa untung ya dengan tarif-tarif seperti itu? Jangan sampai cepat gulung tikar lah tempat bagus macam itu.

Ada satu hal yang selalu membuat saya heran : mengapa orang selalu heran kalau lihat orang main biliar sendirian seperti saya? *loh jadi yang heran siapa ya* Namanya juga latihan ya harus sendiri donk. Beberapa pegawai sempat bertanya mengapa saya main sendirian, mungkin saking herannya sampai bertanya begitu. Hmm…kalau mau cepat bisa ya harus latihan sendiri, kalau main terus dengan orang lain pasti lambat berkembangnya. Itu ajaran teman saya Ferry si bos cue pemilik IBProShop. Nanti kalau balik lagi ke Surabaya (atau kalau kembali ditanam di Surabaya), saya pasti balik lagi biliar di sana.

PS : to Budy
When you will go to Surabaya with me to play billiard there? Finally I found the place with low price to play as long as you want . Don’t too busy with your business lah…come on play billiard
with me @ Surabaya 😀

Berpanas-panas di Cengkareng

Kemarin siang saya disuruh berangkat lagi ke Surabaya. Jam 12 siang saya berangkat ke bandara. Pulang dulu ke rumah, ambil baju secukupnya, lalu segera ke bandara. Belum punya tiket jadi rencana go show lagi. Kejadian yang sama seperti Senin lalu terulang. Semua penerbangan sudah penuh, tidak ada counter yang menjual tiket ke Surabaya lagi untuk penerbangan Jumat sore kemarin. Pertama datang ke terminal 2F, Garuda dan Merpati sudah penuh; silakan kalau mau waiting list kata petugas di sana. Heu…kapok lah waiting list lagi, jaminan gak dapat tiket dan terbuang waktu percuma.

Dari pagi saya belum makan, siang pun belum sempat makan siang, berada di bandara yang padat penumpang membuat saya agak loss control. Emosi sudah mulai naik tuh 🙂 Ah untung saya segera sadar, pergilah saya makan dulu di Hoka-hoka Bento. Jam sudah menunjukan pukul 14.00. Habis makan, emosi saya sudah bisa terkontrol. Saya lalu pergi ke terminal 1, berharap masih ada maskapai yang menjual tiket ke Surabaya. Tapi rupanya Jumat sore adalah waktu padat-padatnya penerbangan ke Surabaya. Dari terminal 1A sampai 1B semua penerbangan dari Lion Air, Air Asia, Batavia Air, Sriwijaya Air…semuanya bilang sudah penuh.

Terminal 1 siang ini panas sekali, heran padahal tadi jam 12an Jakarta diguyur hujan cukup lebat. Gerah sekali rasanya berjalan di terminal 1. Seperti biasa, calo-calo berseliweran di depan saya. Damn you CALO….gara-gara elo semua gak ada tiket yang available. Semua calo menawarkan tiket ke Surabaya dengan nama orang lain, tiketnya tidak bisa di-issue dengan nama saya. Biasanya saya jumpai calo-calo tiket itu laki-laki, tapi kemarin siang rupanya ada juga ibu-ibu berkerudung yang jadi calo. Saya terus-menerus mengumpat karena calo-calo ini. Serba salah memang, di satu sisi kalau kondisinya seperti yang saya alami kemarin siang saya memang menyalahkan calo; tapi kalau sudah terdesak mau gak mau saya harus memanfaatkan “jasa” mereka. Eh cerita saya tadi belum selesai, saya tidak jadi berangkat akhirnya sore kemarin. Saya balik lagi ke kantor karena ada perubahan rencana.

Bagaimana aturan percaloan di Indonesia, di Jakarta khususnya. Mengapa begitu banyak calo yang berkeliaran di bandara. Biasanya isu penertiban calo hanya merebak menjelang libur panjang. Menjelang lebaran biasanya, kita dengan gampang mendengar berita kalau petugas menertibkan calo. Lah kenapa hari-hari biasa seperti ini calo tidak ditertibkan. Tidak sulit menemukan calo di bandara. Kalau petugas mau, lebih dari 10 orang bisa terjerat karena berprofesi sebagai calo. Nah yang saya tidak tahu, apakah berprofesi sebagai calo itu melanggar hukum atau tidak? Kalaupun tidak melanggar hukum, tetap saja menyebalkan.

Sekuriti bandara, petugas check in bandara pun bisa bertindak sebagai calo. Buktinya? Kemarin saya keluar dari counter Sriwijaya Air, langsung didekati sekuriti di sana dan dengan sok baik bilang bisa menolong saya menyediakan tiket. Nah repot kan kalau orang dalam sendiri sudah ikut-ikutan. Makanya saya tidak percaya dengan sistem waiting list yang digunakan untuk memfasilitasi penumpang yang belum dapat tiket. Teorinya waiting list diadakan untuk memberi kesempatan penumpang dadakan macam saya untuk mendapat tiket bila masih ada seat yang tersedia. Bull shit lah….bagaimana bisa ada seat kosong yang bisa dibeli dengan harga normal, kalau seat tersebut bisa dijual dengan harga melambung melalui calo? Kalau sistem percaloan masih banyak, mereka tentu akan “memprioritaskan” para calo yang dapat menjualkan tiket/seat tersisa dengan harga berlipat.

Ada salah satu bos saya dengan gampang bilang “go show aja…pasti dapat lah”; ini jawaban saya : “Pak, kalau kantor mau membayari tiket saya berapapun harganya sih, memang betul pasti dapat tiket…”. Lain kali kalau disuruh go show pikir-pikir dulu ah. Kasihan ya Bos saya punya anak buah rewel & banyak maunya seperti saya :-p ….tinggal tunggu saja kapan Bos saya bosan dengan kerewelan saya dan menghadiahi saya SP3 :)) (sensor ah…takut ntar memancing keributan di kantor)

Ada yang punya pengalaman dengan calo? Atau ada yang punya pengalaman dengan sistem waiting list untuk membeli tiket pesawat?

Sancta = Santa ??

Dulu waktu saya masih kerja di daerah Pasar Baru Jakarta, saya tiap hari lewat jalan Juanda. Di sana ada gedung sekolah Santa Maria. Dari dulu saya selalu heran mengapa sekolah ini memasang papan nama besar di depan gedungnya dengan tulisan “Sancta Maria”. Saya pikir mereka salah pasang 😀 atau kelebihan huruf “C”. Seperti ini tampilannya :

Foto di atas saya ambil kira-kira 1 minggu yang lalu. Tadi iseng mencari di Google, ternyata kata “Sancta” itu adalah bahasa Latin. Artinya ya “santa”, alias wanita kudus dalam kepercayaan Katholik. Untung belum sempat protes kenapa “Santa Maria” ditulis “Sancta Maria” 😀 Eh dulu saya SMA juga di Santa Maria loh…tapi bukan yang di Jalan Juanda Jakarta ini, tapi Santa Maria di Cirebon.

Oh ya, saya jadi ingat kalau sekolah-sekolah dari yayasan Katholik rata-rata menggunakan nama-nama orang kudus. Lihat saja Santa Ursula (di depan Pasar Baru), Santa Maria (di Jakarta, Bandung, Cirebon ada), Van Lith (ada di Yogya), Santo Thomas (kalau tidak salah di Lampung), Santo Aloysius (di Bandung), Santa Angela (di Bandung juga), Kolese de Britto (di Yogya), Santo Kristoforus (di Jakarta), Santo Carolus (di Surabaya), Santo Yosef (di Solo), Santo Albertus (di Malang), Santo Peter (di Jakarta), Santo Loyola (di Semarang)…..banyak kan?

**sebagian data nama sekolah di ambil dari sini**

Jam Ngaco

Ini cerita saya tentang jam tangan saya. Siang ini saya baru sadar kalau ada yang aneh dengan jam tangan saya. Sekitar pukul 3 sore saat keluar kantor, saya kaget melihat angka 6 dan angka 12 di jam saya terbalik posisinya. Jarum jam masih menunjukkan waktu yang benar, hanya saja letak angka 12 berada di bawah dan angka 6 ada di atas. Halah…rupanya background jam tangan ini bergeser. Saya tepuk-tepuk jam tangan saya dan background itu bisa berputar sendiri. Entah dari kapan posisinya terbalik seperti itu. Untuk sementara saya bisa mengembalikan posisi angka 12 di atas. Tadi sepulang kantor saya lihat posisinya sudah ngaco lagi. Lihat tuh posisinya jadi aneh seperti di gambar di bawah ini :

Gambar kiri adalah gambar arloji waktu masih waras, gambar kanan adalah gambar sore ini saat arloji saya ngaco.

Arloji ini saya dapat dari rekan saya Budy waktu dia lulus kuliah akhir tahun lalu. Aneh kan…harusnya saya yang beri dia hadiah karena sudah berhasil “keluar” dari kampusnya 😀 tapi malah saya yang diberi hadiah. Atau mungkin dia bagi-bagi hadiah sebagai ucapan syukur sudah bisa jadi sarjana setelah *(off the record)* tahun Yah biarin sajalah…orang kaya kan bebas, bebas ngapa-ngapain…..mau tukar anthurium sama Inova ya bisa, mau buka perkebunan di Thailand ya bisa, mau beli stik biliar ratusan dollar dari Amerika ya bisa, termasuk mau bagi-bagi hadiah ya bisa…pokoknya bebas lah :)) Saya sih senang-senang saja diberi hadiah ;)) Jam tangan ini unik bentuknya, sepintas terlihat sangat tipis kalau sedang dipakai. Dia juga tidak memiliki jarum detik, hanya jarum panjang dan pendek saja. Sekarang harus segera dibawa ke tempat servis nih kalau melihat “ngaco”-nya hari ini.

Surabaya Lagi??? – Pagi di Cengkareng

Pagi ini saya berangkat lagi ke Surabaya. Padahal Sabtu kemarin saya baru pulang ke Jakarta. Jadi di Jakarta seharian kemarin, saya hanya :
1. Panggil tukang AC untuk service AC kamar saya yang gak dingin lagi
2. Potong rambut.
3. Configure DHCP server di kantor teman saya.

Malam tadi sudah disms lagi untuk “diperintahkan” berangkat lagi ke Surabaya. Server yang lain lagi panic, reboot sendiri. Heran…kok lagi musim ya Primepower 1500 panic dan reboot. Saya baru dikabari sekitar setengah 11 malam, waktu itu saya masih di Kelapa Gading dari tempat teman saya. Katanya saya harus berangkat sepagi mungkin, kalau bisa berangkat jam 7 pagi. Halah…berarti saya harus sudah jalan dari rumah jam 5 pagi. Idealnya saya harus segera tidur supaya gak kesiangan. Tapi kali ini spesial gak bisa ideal, sampai pagi saya tetap terjaga. Ya sudahlah berangkat ke bandara saja.

Datang ke bandara saya langsung menuju counter Garuda di terminal 2F. Hmm..saya hanya diberi form untuk ikutan waiting list. Disuruh masuk ke counter check in dan mendaftar di loket yang bertuliskan “Penumpang Antrian”. Prinsipnya, setengah jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat, petugas di sana akan mengumumkan kursi yang tersisa untuk diperebutkan. Saya tunggu penerbangan berikutnya jam 07.00. Entah apakah ini sesuatu yang normal di bandara, bahwa hari Senin pagi adalah masa-masa yang sibuk. Antrian masuk ke ruang check in dari subuh sudah mengular sampai ke pintu keluar ruang tunggu. Gila. Jam setengah 7, makin banyak pula orang yang mengantri di loket menunggu sisa kursi yang ada. Nihil…kelas ekonomi maupun bisnis penuh semua. Kalau mau silakan tunggu lagi sampai jam setengah 8 untuk penerbangan jam 8 pagi ini.

Sepanjang malam tidak tidur membuat saya tidak sabaran. Saya keluar dari terminal 2F, naik shuttle bus menuju terminal 1 sambil berharap dapat tiket di maskapai lain. Lion Air, Wings Air, Air Asia penuh semua. Beberapa calo ngoceh pada saya katanya hanya tinggal Mandala yang available (lewat dia tentunya) seharga Rp750000,- berangkat pukul 07.45. Setelah lapor ke Bos, akhirnya saya putuskan beli tiket yang ditawarkan calo tadi. Tiket itu adalah tiket Mandala Airlines pukul 07.45 (tujuan Kupang yang transit dulu di Surabaya).

Dari terminal 1A saya diantar si calo naik motor ke terminal 1F (karena di sana Mandala beroperasi). Saya ikuti saja si calo yang langsung masuk ke counter check in. Sudah tahu sama tahu rupanya, jadi petugas penjaga pintu counter check in pun tidak tanya apa-apa. Saya dibuatkan boarding pass oleh petugas di counternya Mandala, rupanya dia teman si calo. Setelah boarding pass dan kuitansi diserahkan saya bayar ke si calo Rp750000,-. Wuih….berangkat juga akhirnya (cerita tentang berangkatnya menyusul ya 😀 silakan liat di komik saja ). Saya cukup terheran-heran dengan pengalaman pagi ini. Gila pagi-pagi dibantu mafia calo…baru pernah nih beli tiket pesawat langsung dari calo. Jangan-jangan tadi juga petugas di counter Garuda itu menutup-nutupi kursi yang masih tersedia; kongkalikong” sama calo di luar. Foto/comic menyusul….masih ngantuk belum fit untuk bikin comic :-p