Surabaya (part 3) – Menukar Dollar

Ternyata di Surabaya ada lembaran US Dollar yang mendapat perlakuan khusus. Dollar dengan nomor seri berawalan : FB,FC, dan FL tidak gampang ditukar di semua money changer di Surabaya. Kabarnya dollar dengan nomor seri berawalan tersebut paling sering dipalsukan. Kabarnya sejak akhir 2005, semua bank dan money chenger di Surabaya menolak untuk menerima penukaran dollar yang bernomor seri dengan awalan FB, FC, atau FL. Kalaupun menerima, mereka akan mengenakan potongan. Selain nomor seri dengan awalan FB, FC, dan FL, beberapa nomor seri dengan awalan A,B sampai H (kalau tidak salah ingat) juga sudah tidak diterima lagi di sana. Ada-ada saja aturan macam ini. Kalau karena kuatir uangnya palsu, pakai donk scanner yang canggih supaya bisa membedakan dollar asli atau palsu. Kata si mbak pegawai ABN Amro, kalau di Jakarta atau Bali mungkin menukar dollar dengan nomor seri seperti tadi tidak akan jadi masalah.

Tadi ABN Amro Bank mengenakan potongan 0,75% saat saya ingin menukarkan selembar seratus dollar Amerika. Sial…baru tahu saya kalau ada nomor seri tertentu yang dikenakan perlakuan khusus. Sudah kena potongan 0.75%, saya masih dikenakan potongan 0.5% karena lembaran dollar tadi dianggap tidak mulus (ada bekas lipatan karena kelamaan ditaruh di dalam dompet. Memang rate penukaran mata uang di bank lebih mahal daripada di money changer. Tapi kalau dihitung-hitung, untuk menukarkan uang sebesar US$100 bedanya tidak seberapa (mungkin kalau saya menukar ribuan dollar saya akan berpikir ulang). Saya tadi memutuskan untuk menukar di ABN Amro karena letaknya persis di seberang Garden Hotel tempat saya menginap. Saya pikir kalaupun saya pergi ke money changer dan mendapat rate lebih bagus, tetap saja saya kena potongan karena nomor seri dollarnya termasuk yang di-black list. Belum berapa ongkos taksi yang harus saya bayar untuk pergi ke money changer.

Surabaya (part 2) – Ditanam Dulu

Menyambung tulisan sebelumnya soal Surabaya, sampai saat ini saya masih di Surabaya. Kemarin seharusnya saya pulang dengan penerbangan jam 7 malam. Berhubung masih menunggu hasil investigasi dari Fujitsu Siemens Jerman, saya diminta bertahan dulu di Surabaya sampai ada perintah dari Fujitsu Siemens Jerman untuk mengganti spare part Primepower 1500-nya Telkomsel. Jadi sekarang judulnya bukan lagi “liburan gratis” tapi “ditanam dulu” di Surabaya.

Hari Minggu kemarin saya benar-benar jobless…gak ada kerjaan. Siang saya keluar dari hotel, niatnya mau cari tempat biliar. Saya naik Bluebird pergi cari tempat biliar. Menurut rekomendasi sopir taksi yang saya naiki dari bandara ke hotel Sabtu malam lalu, di mall AJBS ada tempat biliar yang besar. Saya nurut saja ke sana…eh sial sudah tutup. Untung sopir Bluebirdnya baik mencarikan informasi ke teman-temannya lewat radio. Akhirnya saya diantarkan ke tempat biliar yang namanya Nine Ball. Adanya di dekat Tunjungan Plasa. Kalau tidak salah Nine Ball ada di jalan Kombes Duriyat. Halah gara-gara salah informasi di awal, tarif taksinya saja sudah mahal hampir sama dengan biaya saya main biliar.

Tempat biliar ini bagus dan luas. Mejanya banyak tempatnya pun nyaman. Satu yang aneh adalah ini adalah tempat biliar pertama yang saya kunjungi yang bebas asap rokok khusus. Biasanya tempat biliar itu semuanya smoking area (kecuali yang saya kunjungi di Paderborn bulan lalu). Tapi Nine Ball itu hanya smoking free kalalu hari Minggu, itupun hanya sampai jam 5 sore.Tempat ini mematok harga Rp21000,-/jam. Cukup worthed. Satu kelemahan fatal adalah cue stick yang disediakan. Semua cue stick-nya berlapis fiber glass. Gila kan…masa cue stick dilapisi fiber glass. Kerasnya bukan main, serasa main biliar dengan break cue aja. Memang sih semua cue-nya relatif lurus tapi nyebelin lah main dengan stick model begitu. Pelajaran buat saya, kalau ke Surabaya lagi harus bawa cue stick sendiri. Main 2 jam saya lalu pulang.

Dari tempat biliar tadi saya pergi ke Genteng mau beli oleh-oleh. Sebenarnya bukan oleh-oleh sih, tapi titipan rekan saya. Rekan saya titip ledre. Ledre itu kurang lebihnya adalah keripik pisang. Nanti saya upload foto seperti apa ledre itu. Ya sudahlah segitu saja postingan kali ini, bertahan dulu di Surabaya sampai disuruh pulang sama si Bos.

Surabaya (part 1) – Weekend di Surabaya

Lihat dulu gambar komik di bawah ini, harusnya dia bisa bercerita banyak :

Sabtu siang saya ditelepon bos saya (Mr Rully), ada emergency call katanya ada server yang reboot /restart di Surabaya. Katanya juga, harus ada memori atau system board yang diganti di mesin Primepower 1500 yang reboot tadi. Ada-ada saja masalahnya, kenapa harus Sabtu reboot-nya. Saat ditelepon saya sedang memasang file server di kantor teman saya. Belum selesai konfigurasi saya sudah harus pulang supaya tidak ketinggalan pesawat.

Berangkatlah saya Sabtu malam ke Surabaya dengan Garuda jam 9 malam. Sampai di bandara Juanda Surabaya sekitar pukul setengah 11 malam, sms masuk ke ponsel saya. Pak Rully mengabarkan malam ini tidak ada action apa-apa yang bisa kita lakukan. Kita masih menunggu analisis dari Fujitsu Siemens Jerman tentang problem reboot-nya Primepower 1500 milik Telkomsel tersebut….halah…tidak jadi kerja malam ini. Tunggu konfirmasi lebih lanjut dari Fujitsu Siemens untuk pemecahan masalahnya. Ya sudahlah, toh saya sudah di Surabaya dan hotel pun sudah di-booking. Jadi ambil saja positifnya : ke Surabaya malam ini sebagai hadiah liburan dari kantor =)) .

Malam ini saya menginap di Garden Hotel Surabaya. Hotel ini ada di Jalan Pemuda. Sebenarnya ada 2 hotel Garden, yang berbintang 4 namanya Garden Palace Hotel sementara yang berbintang 3 namanya Garden Hotel. Berhubung saya cuma engineer ya cukup Garden Hotel saja. Mungkin kalau saya sudah manajer saya bisa pilih Hyatt atau JW Marriot sekalian (*** sambil ngelirik Pak Rully :-p ***) Hotelnya cukup bagus, dari kemarin yang jelek cuma liftnya saja. Lift barang di kantor saya masih lebih bagus daripada lift di Garden Hotel. Jelek, berkarat, gak layak jadi lift manusia. Tapi kamarnya cukup ok dan cukup nyaman.

Akses internet ada sih tapi bayar. Di kamar saya tidak bisa. Hanya kamar-kamar Garden Palace Hotel yang dilengkapi dengan akses internet. Kalau saya mau akses internet saya harus pergi ke lobi. Tarif akses internet sejamnya Rp40000,- tapi ada juga paket 3 jam Rp65000,-. Saya ambil yang kedua, paket tiga jam akses internet yang bisa voucher-nya valid sampai 3 hari. Mahal euy…tapi mau gimana lagi adanya itu doank. Komik di atas sudah jadi tadi malam, tadi tinggal upload lalu ketik tulisan ini; menikmati liburan gratis berakhir pekan di Surabaya :))

Hebatnya Sopir Bluebird

Kemarin pagi saya naik taksi Bluebird dari rumah ke kantor. Seperti biasa saya pesan Bluebird lewat telepon (7941234). Sampai di gedung kantor (Wisma Kyoei Prince, Sudirman), tarif argo taksi menunjukan angka Rp27000,- (lebih sedikit sih). Saya serahkan uang Rp50000,- pada si supir. Eh ternyata sopir tadi tidak punya uang kembalian. Saya minta kembali Rp20000,- saja, tapi dia tidak pegang uang kecil. Katanya sih dari pagi semua penumpangnya membayar dengan uang pecahan besar.

Wah saya bingung juga bagaimana cara membayar…mau tukar uang dulu juga malas. Lagian dimana saya harus tukar uang di gedung perkantoran seperti itu. Si sopir dengan ramah mempersilakan saya turun saja tanpa membayar, katanya lain kali dia akan mampir ke rumah saya untuk mengambil uang ongkos taksi saya. Saya tidak mau dengan cara itu. Lebih baik dia yang berhutang pada saya. Saya serahkan saja uang Rp50000,- dan bilang kalau sempat Bapak kembalikan saja kembaliannya lain kali ke rumah saya. Si sopir pun berjanji akan mampir mengembalikan uang saya. Saya pun percaya karena selama ini Bluebird punya reputasi baik.

Sore ini saya baru saja menerima uang Rp20000,- dari si sopir. Tadi saya pergi jadi pembantu kos yang menerima baru menyerahkan pada saya malam hari. Katanya sih si sopir datang menyerahkan uang kembalian itu Jumat malam. Wah hebat nih sopir Bluebird. Salut untuk konsistensinya. Sayangnya saya lupa nama si sopir ini. Thanks Pak buat konsistensinya….

Medan (part 3) – Bandara Polonia

Di postingan terdahulu saya tulis sepintas kalau bandara Polonia Medan jelek, sekarang saya mau membahas lebih banyak. Lihat dulu suasana di bandara Polonia dalam foto berikut ini :

Foto ini saya ambil sesaat setelah turun dari pesawat hari Rabu siang kemarin. Sejak dari dalam pesawat pun saya sudah heran, bandara kok jelek begitu. Nuansa yang saya tangkap adalah kekumuhan lingkungan dan bangunan bandara ini. Aneh juga padahal ini kan bandara internasional (eh benar kan ya Polonia itu bandara internasional?).

Nah kalau foto yang ini saya ambil tadi sore saat menunggu pesawat ke Jakarta. Anda mungkin ingat kejadian kebakaran bandara Polonia? Sampai sekarang bangunan yang terbakar belum sepenuhnya bisa digunakan kembali. Beberapa penerbangan domestik terpaksa nebeng di terminal penerbangan luar negeri, termasuk Garuda. Gambar di atas adalah suasana ruang tunggu sementara (kayanya bakal sementahun) untuk penumpang penerbangan dalam negeri. Bangunan ini berada di terminal internasional. Ruangan dadakan ini hanya disekat dengan tripleks. Kotor dan panas.

Penerbangan saya sore tadi jam 15.30. Saya sudah datang di bandara pukul 1 kurang. Setelah check in otomatis saya harus menghabiskan waktu menunggu di sana. Tidak ada kafe/rumah makan yang enak untuk duduk menghabiskan waktu menunggu. Saya pikir tidak layak kalau bandara Polonia tidak segera dibenahi. Masa kalah sama Pekanbaru atau Palembang bandaranya? Mau pakai alasan “lah kan baru kebakaran”...jangan dijadikan excuse lah; benahi donk secepatnya.