Medan (part 2) – Sekrup Terkutuk

Mengapa harus ada temuan ini…sekrup dengan kepala bintang 6 (bahasa kerennya = Torx screw). Tadi malam saya terpaksa terus-terusan mengumpat “terkutuk orang yang menciptakan sekrup dan obeng bintang 6 ini” X-(. Juga terkutuklah orang yang pakai sekrup model ini untuk membuat mesinnya.

Sekrup model seperti ini butuh obeng khusus pula untuk membukanya. Untuk membuka sekrup model begini kita harus pakai obeng khusus (Torx driver). Lihat gambar obeng khusus ini:

Sialnya juga saya membawa obeng kombinasi macam itu. Gagangnya yang cukup lebar membuat saya tidak leluasa (bahkan tidak bisa) membuka sekrup yang berada pada posisi yang sulit. Karena menggunakan obeng kombinasi, gagang obeng seringkali mentok di sisi tertentu sehingga sulit sekali memutar sekrup. Terpaksa diputar sedikit demi sedikit (milli demi milli).

Heran saya kenapa harus ada sekrup model begini, apa sih untungnya pakai sekrup model seperti ini? Lebih aman gitu? Ah…lebih nyusahin itu pasti X-(. Kenapa tidak pakai sekrup yang umum saja (dengan kepala min atau plus). Obeng min dan obeng plus kan lebih banyak dan gampang dijumpai di pasaran. Mau pinjam juga kan lebih gampang. Tulisan penuh kekesalan ini saya tulis setelah semalaman berkutat dengan mesin Fujitsu Siemens Scalar 100. Mesin ini adalah tape library seperti ini :



Anyway, thanks to
Pak Irwanto atas pinjaman obeng Torx-nya.

Medan (part 1)

Pagi ini saya berangkat dari rumah pukul 8.30 padahal saya akan naik pesawat pukul 10.30. Ini gara-gara kemarin Mbak Juli dari Dwidaya Travel menginfokan bahwa jalan tol menuju bandara dua hari terakhir macet karena ada perbaikan di ruas tol dekat Jembatan Dua. Hmm..gak mau ambil resiko saya berangkat 3 jam sebelum jadwal. Halah…ternyata lancar-lancar saja tuh. Jam 8.10 saya sudah sampai di Soekarno Hatta. Sarapan dulu di KFC di depan terminal 2F.

Eh ternyata saya bisa lolos membawa obeng dan aneka toolkit masuk ke dalam kabin :-p Tadinya saya kuatir akan disuruh mengeluarkan semua toolkit dari dalam tas. Saya sebenarnya malas memasukan tas ke dalam bagasi, saya hanya membawa 1 tas berisi laptop, toolkit, dan pakaian. Untuk alasan kepraktisan saya lebih senang membawa 1 tas masuk ke dalam kabin alias hand carry. Dua pemeriksaan dengan metal detector bisa saya lewati..ah aman kalau begitu. Mudah-mudahan ini berlaku pula ketika saya pulang nanti dari bandara Polonia Medan.

Cukup lama saya menunggu sampai waktu boarding. Jadwal boarding dan take off terlambat, dijanjikan boarding pukul 10.10 saya baru bisa masuk pesawat pukul 10.30; pesawat yang harusnya berangkat pukul 10.30 berangkat pukul 10.45. Masih bisa ditolerir :-p

Sampai di Medan jam 12.55. Bandara Polonia kok jelek ya? Dari sejak turun pesawat sampai keluar, saya tidak menemukan titik yang bagus. Suasana hiruk pikuk mirip terminal. Dari bandara saya naik taksi ke hotel Inna Dharma Deli. Hotel Inna Dharma Deli ada di jalan Balai Kota nomor 2. Hotel berbintang tiga ini dari luar keliatan sebagai hotel tua. Eh suasana di dalamnya juga…tapi bersih dan masih bisa menunjukan kelasnya sih. Kamar yang saya dapat pun cukup nyaman. Jauh lebih nyaman daripada hotel Victoria yang saya singgahi minggu lalu di Banjarmasin. Hanya sayang di hotel ini tidak ada akses internet. Tidak ada akses internet di hotel Inna Dharma Deli Medan. Wah payah juga nih hari gini belum ada fasilitas akses internet di hotel, berbayar maupun gratis tidak ada sama sekali. Saya kan jadi repot kalau mau kerja….eh salah…repot gak bisa ngeblog tepatnya =))

Berhubung akses internet yang terbatas mungkin saya harus menunda dulu tulisan ini untuk di-publish sampai memperoleh akses internet. Baru saya posting setelah saya pulang ke Jakarta nih. Ini saya ketik di kamar sambil sedih karena gak dapat akses internet…sialnya saya pun tidak bawa handphone CDMA. Kalau bawa kan bisa internetan dari dalam kamar.

Berita Menarik Hari Ini

Pagi ini saya baca Detik.com ada berita menarik (sekaligus lucu) menurut saya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono “sewot” ketika dia melihat ada bupati yang tidur saat dirinya menyampaikan pidato. Ada-ada saja ulah pejabat negeri ini. Berani-beraninya tidur di acara penting macam itu (acara pembekalan konsolidasi pemerintah daerah di Lemhanas) :D. Ini screenshot dari Detik :

sby marah

Simpati PeDe Gak PeDe Lagi

Dulu saya pernah menulis tentang Simpati Pede Telkomsel. Mulai April ini kalau tidak salah, tarif Simpati Pede tidak lagi seperti yang pernah saya tulis dulu. Sekarang tarif Simpati Pede untuk panggilan ke sesama Telkomsel, polanya berulang setiap 5 menit. Detilnya hitungan tarif per detik seperti ini :

menit 1 = Rp 25,- * 60 = Rp 1500,-
menit 2 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 3 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 4 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 5 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-

menit 6 = Rp 25,- * 60 = Rp 1500,-
menit 7 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 8 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 9 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-
menit 10 = Rp 0.5,- * 60 = Rp 30,-

….
….
….
dst

Tarif panggilan ke operator lain tetap sama seperti dulu, flat Rp25,-/detik. Baru saja saya menelepon ke nomor As Telkomsel selama 14 menit lebih 5 detik, pulsa saya langsung terpotong Rp 4833,- Hmm..enak tarif yang dulu euy menelepon 14:05 menit saya hanya membayar Rp 1895,- Aneh juga katanya semua operator selular diminta menurunkan tarif dasar telepon, ini kok malah jadi lebih mahal dari biasanya.