Buku Anti Marketing

Waktu akan berangkat ke Banjarmasin hari Rabu lalu, saya mampir di toko buku yang ada di bandara Soekarno Hatta. Toko bukunya namanya Parakmukti Slamet. Toko buku di terminal 2F ini tidak begitu besar. Koleksi buku yang dijual juga sedikit. Iseng mencari-cari buku untuk bahan bacaan di jalan, saya menemukan buku ini (dan akhirnya membelinya juga seharga Rp55000,-) :

Ini adalah bukunya Kafi Kurnia, judulnya “Anti Marketing”. Dulu saya pernah membeli buku Kafi Kurnia yang judulnya “Intrik – 7 Jurus Sukses”, seperti ini gambar covernya :

Sekilas membaca “Anti Marketing”, kurang lebih saya bisa menyimpulkan isinya adalah trik-trik/tips-tips pemasaran secara kreatif, keluar dari pakem pemasaran konvensional. Banyak tulisan dalam buku ini adalah tulisan-tulisan Kafi Kurnia yang pernah diterbitkan pada majalah Gatra. Tiap bab berisi cerita pendek tentang pemasaran produk/jasa. Cerita dilengkapi pula dengan pandangan-pandangan Kafi Kurnia tentang ilmu pemasaran. Tidak terlalu berat cara penyajiannya, sehingga saya pun yang bukan berlatar belakang ekonomi pemasaran bisa memahami maksud/pesan yang ingin disampaikan.

Saya baru baca sekitar 95 halaman selama perjalanan pergi pulang Jakarta – Banjarmasin. Dari banyak cerita yang disajikan dalam “Anti Marketing”, saya menemui setidaknya 5 tulisan yang pernah dimuat di buku “Intrik”. Hmm..kurang bahan kah Kafi Kurnia? Atau memang tulisan serupa diperlukan untuk menambah tebal isi buku? Atau sedemikian kuat dan hebatnya tulisan tersebut sampai dirasa perlu untuk dimuat berkali-kali. Sepertinya ini hal yang wajar di dunia tulis menulis buku. Seorang penulis mungkin saja lupa kalau bahan tulisan yang sama pernah dimuat di bukunya terdahulu. Dulu saya pun menjumpai hal yang sama di buku-buku karangan Hermawan Kertajaya. Tulisan dengan inti cerita yang sama dimuat beberapa kali di buku yang berbeda. Bahkan beberapa tulisan dimuat persis sama susunan kalimatnya.

Meskipun demikian tetap saja saya kagum dengan orang-orang yang bisa produktif menerbitkan buku. Terserah orang mau bilang apa, faktanya dia bisa menelurkan buku baru dan “memaksa” orang (seperti saya) penasaran lalu membelinya 🙂

Banjarmasin (part 3) – Lift Hotel

Ada tempelan di dalam lift hotel Victoria yang menarik perhatian saya untuk di foto :

Menurut saya kok sepertinya kurang pas kalau pihak hotel menempelkan peringatan semacam itu. Bayangkan kesan yang dapat ditimbulkan dari tempelan peringatan macam itu. Terkesan lift memang sering mati karena listrik padam. Aneh juga masa hotel bintang 3 tidak bisa menyediakan listrik cadangan. Mungkin saja sebenarnya ini adalah langkah preventif dan hotel ini sama sekali tidak pernah mengalami pemadaman listrik…tapi yang namanya kesan bisa timbul dengan paradigma yang beraneka ragam kan?

Ada lagi hal lain yang bisa dikritisi (penyakit terlalu kritis :-p ) : penulisan kata “di mohon” kan salah tuh. Bukannya seharusnya ditulis dengan cara disambungkan? Memangnya ada tempat namanya “mohon” =))

Banjarmasin (part 2) – Mencoba K-Meleon

Sudah hampir satu jam saya online dengan akses internet gratis di Hotel Victoria Banjarmasin ini. Mata sudah mengantuk tapi ada 1 postingan yang ingin saya muat. Ini tentang web browser baru yang saya coba. Namanya K-Meleon. Awalnya saya tahu tentang web browser ketika ada yang comment di blog saya beberapa hari yang lalu. Dengan bantuan Browsersniff saya tahu kalau si pengirim komentar menggunakan web browser K-Meleon. Jadi waktu itu saya segera download file instalasi K-Meleon; ukurannya cuma 5MB. Barusan saya ingat kalau saya pernah download file tersebut. Segera saya instal web browser ini dan langsung saya coba. Berikut screenshot-nya :

Di webnya, web browser ini dibilang “extremely fast, customizable, lightweight web browser“. Ekstrim kencang, enteng, dan mudah dikustomisasi. Entah benar atau tidak sebab sampai saat ini saya selalu pakai Firefox web browser dan menurut saya Firefox paling enak dipakai. Nanti saya laporkan bagaimana kelakuan K-Meleon ini. Tampilan K-Meleon web browser ini mirip Konqueror-nya KDE 😀

Banjarmasin (part 1) – Disambut Gerimis

Siang ini saya berangkat ke Banjarmasin. Karena pesawat saya berangkat pukul 14.20, saya “dipaksa” ngantor dulu pagi harinya. Semalam saya main biliar di Tendean Billiard sampe jam setengah 1 pagi, gak aneh paginya saya kesiangan (jam 8 baru bangun). Datang kantor, cek email, terus sarapan (sarapan kok jam 10 :)) ). Siang ini saya mau berangkat ke Banjarmasin untuk mengganti harddisk yang rusak di mesin HLRi Telkomsel. Pekerjaan yang mudah, cepat beres…tinggal cabut harddisk yang rusak, pasang yang baru.

Jam 12 saat rekan-rekan kantor pergi makan siang, saya berangkat ke bandara. Pesawat saya tepat waktu berangkat pukul 14.20. Penerbangan kali ini cukup “bumpy“, cuaca kurang bersahabat. Sepanjang jalan ketemu awan tebal terus…eh salah ya, harusnya kan sepanjang udara =)) Rupanya di Banjarmasin sudah turun hujan dari siang. Tidak aneh kalau melihat awan tebal sebelum mendarat di Syamsudin Noor Airport. Turun dari pesawat pun hujan gerimis kecil masih ada, jalan becek (tapi gak ada ojek =)) ). Ini kali kedua saya datang ke Banjarmasin. Tepat setahun yang lalu saya pernah datang ke sini. Dari bandara saya naik taksi menuju hotel Victoria Riverview. Hotel ini, menurut sopir taksi, adalah hotel baru. Tapi saya kok kurang sreg dengan hotel ini. Pelayanan sih tetap ramah tapi kamarnya itu loh…masa hotel bintang 3 seperti itu (gak nyaman lah). Eh tapi ada akses internet gratis nih di seputaran lobi. Tulisan ini saya posting di coffee shop-nya ( I love free hotspot 😀 )

Berikut adalah liputan tadi dalam foto & komik :

Tadi sempat main biliar dulu 1 jam di dekat hotel. Ada tempat biliar namanya Hokky 89Pool. Tempatnya gak bagus…murah sih. Mejanya seperti yang dipakai Roxy Pool House. Sepertinya pemilik tempat biliar ini mendatangkan meja dan perlengkapannya dari Isak Billiard Jakarta (kelihatan banyak poster dan atribut Isak). Pergi ke Telkomsel Sate Saya kerja sekitar pukul 10 malam, pukul 21.30 berangkat ke Telkomsel. Tidak sampai 1 jam pekerjaan saya sudah selesai. Perut lapar belum makan malam, akhirnya saya makan sate itik. Sate itiknya unik rasanya…saya sih cocok dengan rasa & harganya. Di sini banyak makanan berbahan daging itik. Rupanya orang sini menyebut bebek dengan sebutan itik. Selesai makan saya pulang hotel tapi tidak langsung masuk kamar. Duduk dulu di coffee shop buat ngeblog :-p