Saya buka kaca jendela taksi, saya tanya : “minta berapa?” Bocah tadi cengar-cengir bingung menjawab, dengan masih cengar-cengir akhirnya di jawab “terserah aja”. Saya jawab lagi “gak mau terserah sih, minta berapa?”. Eh dia ulangi lagi jawabannya, terserah lagi. Saya juga tidak mau kalah, saya ulangi lagi jawaban saya : “minta berapa?” Akhirnya dia bilang “seribu Om”. Saya rogoh saku kemeja, ambil selembar uang Rp1000,- dan saya berikan ke anak tadi. Wadow…langsung 4 orang anak lain berlarian ke arah taksi saya. “Om saya juga Om, saya juga Om…saya minta lima ribu Om….” ramai sekali jadinya. Langsung saya tutup kaca jendela. Traffic light tidak kunjung hijau, 4 orang anak tadi masih merapat di kaca jendela dan terus merengek…“saya aja Om saya aja Om…seribu aja Om.”
Ini cerita saya kemarin sore. Di Jalan Wahid Hasyim, saya mau pulang ke kantor dengan taksi. Di lampu merah (yang dekat Abuba Steak) seorang anak anak laki-laki, mungkin usia anak kelas 1 atau 2 SD, mendekati taksi saya lalu menadahkan tangan minta-minta. Menyebalkan memang melihat anak-anak jalanan dari kecil sudah belajar meminta-minta. Kemarin jiwa iseng saya muncul. Di saku kemeja saya ada uang seribuan, lima ribuan, dua puluh ribuan, di dompet ada lima puluh ribuan. Keisengan kali ini sebenarnya terinspirasi cerita teman saya. Katanya mengapa pengemis susah kaya, karena dia tidak berani “mimpi” (Sepertinya saya tidak berkompeten untuk menulis tentang hal ini lagi, mungkin nanti tunggu teman saya saja yang menulis tentang hal ini). Ditanya minta berapa cuma berani minta Rp1000,-. Padahal emarin saya yang lagi iseng siap kalau dia minta lebih dari itu. Tapi ternyata teman saya benar, si anak tadi cuma berani minta Rp1000,-.
Pesan saya : hati-hati kalau mau memberi uang ke pengemis di seputaran Wahid Hasyim, bisa-bisa Anda dimintai Rp100.000 sama pengemis di sana =))