Acroread Error

Tadi setelah menginstal Acrobat Reader di OpenSUSE 10.3, ternyata instalasinya gagal. Saat saya mencoba menjalankan Acrobat Reader dari console, saya mendapat error seperti berikut ini :

tedy@tedy:/usr/bin> ./acroread
expr: syntax error
expr: syntax error
expr: syntax error

Setelah mencari bantuan lewat Google, saya mendapat petunjuk dari sini. Rupanya bukan cuma saya yang mengalami error ini, banyak orang yang mengalami hal yang sama. Untuk mengatasi error ini yang harus saya lakukan adalah mengedit file /usr/bin/acroread. Di baris ke 418 saya harus menambahkan tanda * setelah string[0-9]yang kedua. Lihat cuplikan berikut ini (ditandai warna merah) :

echo $mfile| sed 's/libgtk-x11-\([0-9]*\).0.so.0.\([0-9]*\)00.\([0-9]*\)\|\(.*\)/\1\2\3/g'

Dan lihat setelah sedikit utak-atik tadi, Acrobat Reader sukses dibuka.

acrobatreader

Oh ya instalasi Acrobat Reader di Linux cukup mudah. Ambil dulu file source-nya di webnya Adobe. Tadi sih saya pakai installer yang sudah saya punya AdobeReader_enu-7.0.9-1.i386.tar.gz.

tedy@tedy:~> gzip -d AdobeReader_enu-7.0.9-1.i386.tar.gz
tedy@tedy:~> cd AdobeReader
tedy@tedy:~/AdobeReader> sudo ./INSTALL

Lalu ikuti saja petunjuk instalasi yang muncul. Yang harus diperhatikan adalah di direktori mana kita akan menginstal Adobe Reader ini. Secara default, direktori instalasinya adalah /usr/local/Adobe/Acrobat7.0

Internet Murah…Emang Ada?

Sejak pindahan ke blog baru ini, blog lama saya masih saja dibaca orang. Tulisan yang paling sering dibaca dan dikomentari adalah tulisan Internet via Handphone CDMA. Yang membuat saya geli adalah banyaknya komentar yang menanyakan tentang internet gratisan dengan menggunakan CDMA.

Topik tadi sebenarnya sering saya baca juga di beberapa milis IT. Ada gosip yang mengatakan kita bisa mengakses internet gratis dengan menggunakan kartu CDMA (dengan ponsel CDMA juga tentunya). Ada-ada saja ide orang dalam menawarkan dagangannya. Cukup banyak yang menawarkan trik berinternet gratis dengan ponsel CDMA. Ha…hari gini kok cari gratisan.

Bocoran yang saya terima dari beberapa milis IT dan komentar yang saya terima di blog, trik yang dimaksud adalah mengakses internet dengan terlebih dulu mengatur proxy dengan alamat IP tertentu. Katanya beberapa server di luar negeri bisa kita pakai proxynya untuk mengakses internet. Dengan cara itu katanya kita bisa mengakses internet secara gratis. Saya memang tidak pernah mencoba teknik ini, tapi ini tidak masuk sama sekali ke dalam logika saya. Kalaupun benar bisa dapat internet murah dengan teknik tersebut, saya jamin pasti lemot alias lambat sekali aksesnya.

Jujur sejak awal kali saya dengar ada rumor tentang internet gratis dengan ponsel CDMA, saya sama sekali tidak tertarik. Logika saya simpel saja, kalau rumor itu benar adanya….semua orang pasti sudah beralih menggunakan CDMA untuk mengakses internet. Apalagi setelah tahu bahwa kita harus bayar sekian ratus ribu rupiah untuk mendapatkan triknya…halah itu sih bayar juga namanya. Sampai sekarang saya masih tidak percaya dengan segala sesuatu yang ada embel-embel gratis. Bohong lah kalau ada yang menjual servis secara gratisan. Eh tapi Canonical mengirim-irimkan CD Ubuntu gratisan ya 🙂 . Secara umum tidak ada lah yang menjual servis gratisan, anggap saja apa yang dilakukan oleh Canonical itu tindakan amal.

Sekarang tiap kali ada yang mampir ke blog saya menanyakan bagaimana cara berinternet gratis, saya akan jawab : mau internet gratisan, silakan nebeng ke teman Anda yang punya akses internet =)). Tapi ini bisa dijadikan gambaran bahwa akses internet di Indonesia masih cukup mahal harganya. Dari situ saya juga bisa menyimpulkan bahwa pasar untuk internet murah di Indonesia sangat terbuka lebar. Banyak sekali orang yang menginginkan akses internet murah, saya juga masih mengidamkan internet murah loh ( murah dan kencang aksesnya :-p ). Ada tuh Fastnet….hmm tapi sialan tidak masuk ke tempat saya.

Terima kasih untuk Ridwan (salah satu yang mengirim komentar di blog saya) yang sudah berbagi pengalamannya tertipu membeli trik cara mengakses internet gratisan lewat CDMA di blog saya. Mudah-mudahan tidak ada lagi yang tertipu.

Menulis Untuk Siapa?

Sore ini seorang teman protes kepada saya saat chat di Yahoo Messenger. Teman saya protes kenapa saya belakangan jadi selalu menulis di blog dengan tema komputer. Katanya dia tidak mengerti tulisan-tulisan saya yang tentang komputer (mungkin yang dia maksud adalah tulisan saya yang berbau Linux & Solaris). Saya bisa maklum kalau teman saya ini yang protes, maklum karena sebagai pedagang berlian dia jauh dari dunia IT apalagi Unix. Hmmm…protes yang membuat saya jadi berpikir : jadi kita menulis blog untuk siapa dan untuk apa? Untuk dibaca dan dinikmati orang lain? Atau untuk menyalurkan apa yang ada di pikiran kita? Atau untuk berbagi sedikit informasi dan pengetahuan dengan orang lain?

Banyak tulisan saya membahas tentang Unix, komputer, internet. Tulisan-tulisan sederhana memang, sesuai dengan tagline blog saya : Tulisan saya yang bodoh ini….alias tulisan versi bodoh-bodohan. Tapi saya tetap menulis karena saya yakin masih banyak orang yang memerlukan tulisan “tech for dummies” ini. Buktinya masih saja ada orang yang mampir ke blog saya gara-gara bertanya kepada Google, menanyakan hal-hal yang menurut saya “sederhana”. Saya tahu itu dari fitur Search Engine Terms yang ada di Dashboard-nya WordPress. Banyak hal sederhana yang ditanyakan orang di Google, misalnya : bagaimana menginstal Microsoft Office, bagaimana mengganti IP, bagaimana cara instal damn small linux.

Jadi kesimpulan saya sementara ini, masih banyak orang yang butuh informasi ringan, singkat, praktis tentang hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang simpel. Hal menginstal Microsoft Office mungkin bagi sebagian dari Anda adalah hal yang sepele kan? Mungkin bagi sebagian orang hal-hal tersebut adalah hal yang sepele tapi belum tentu sama halnya bagi orang yang benar-benar butuh informasi tersebut. Sebagai orang yang sering sekali memanfaatkan Google untuk bertanya, saya merasa perlu juga berbagi informasi/pengetahuan dengan sekian juta orang pengguna Internet (khususnya yang berbahasa Indonesia). Ah semoga Anda menangkap maksud saya ini. Tapi saya akan berusaha juga menulis hal-hal yang bisa dimengerti oleh banyak pihak.

Konfigurasi RLOGIN

Misalkan kita punya dua buah server, sebut saja server-A dan server-B. Keduanya menggunakan Solaris OS. Jika kita sedang bekerja di server-A, untuk dapat mengakses server-B kita dapat menggunakan telnet, ssh, atau rlogin. Tiap kali mengakses server-B dari server-A, kita pasti akan diminta untuk memasukkan username dan password.

Kita bisa mengatur rlogin supaya mengijinkan kita login tanpa harus memasukkan username dan password. Caranya adalah dengan membuat sebuah file .rhost di $HOME milik server-B. File .rhost tersebut isinya adalah seperti berikut :

server-A root

Secara umum format isi file .rhost adalah

[hostname] [username]

[hostname] dapat berupa alamat IP atau nama hostname seperti yang ada di dalam file /etc/hosts.

Dengan demikian jika kita berada di server-A sebagai root lalu melakukan rlogin ke dalam server-B, server-B akan langsung mengijinkan kita login tanpa menanyakan username dan password lagi. Jika kita login ke dalam server-A bukan sebagai root, lalu kita rlogin ke server-B apa jadinya? Tentu kita akan dimintai lagi username dan password.

DHCP Client di Solaris 10

Dua hari lalu saat mencoba Solaris 10 di notebook, saya mendapat pelajaran baru tentang bagaimana mengatur Solaris supaya bisa mendapat IP secara dinamik dari DHCP server. Selama ini saya selalu menginstal Solaris dengan IP statik. Jadi bingung juga bagaimana caranya mengatur Solaris sebagai DHCP client. Sebelumnya saya juga pernah menulis bagaimana mengatur IP statik di Solaris 10 (baca ini).

Langkah untuk mengatur Solaris supaya mendapatkan IP secara dinamik adalah sebagai berikut :

  1. Pertama saya harus mengaktifkan network interface yang ada di notebook saya, Solaris mengenali Ethernet sebagai bge0. Untuk mengaktifkannya saya harus menjalankan perintah berikut ini :
    # ifconfig bge0 plumb
  2. Untuk mengatur Solaris supaya mencari IP dari DHCP server yang ada di network, saya bisa menjalankan perintah ini :
    # ifconfig bge0 dhcp start
    Dengan menggunakan perintah ini, Solaris akan mengirimkan request ke DHCP server untuk mendapatkan IP. Jika saya hanya menjalankan perintah ini maka Solaris akan kembali kehilangan IP setelah notebook saya matikan.
  3. Untuk membuat Solaris mencari IP dari DHCP server tiap kali reboot, saya harus membuat sebuah file kosong yaitu /etc/dhcp.bge0.
  4. Jika saya hanya melakukan 3 langkah di atas, saya akan mendapati hostname unknown. Padahal sewaktu saya menginstal Solaris, saya mengatur hostname Solaris tedy-solaris. Untuk mencegah Solaris kehilangan hostname saat reboot saya harus membuat sebuah file /etc/hostname.bge0 yang isinya adalah tedy-solaris. Selain itu saya juga harus mengganti isi file /etc/nodename dengan isi nama hostname : tedy-solaris.
  5. Langkah 4 di atas tidak cukup untuk membuat Solaris tetap menggunakan tedy-solaris sebagai hostname. Saya harus mencegah Solaris supaya tidak meminta hostname kepada DHCP server. Saya harus memaksa Solaris untuk menggunakan hostname yang sudah saya definisikan di dalam /etc/hostname.bge0. Caranya adalah dengan mengubah file /etc/dhcpagent. Di dalam file ini saya harus menghapus angka 12 (bagian ini yang membuat Solaris selalu meminta hostname) kepada DHCP server.