Mak Nyooossss

Kemarin sore saya memanggil tukang AC untuk membersihkan AC di kamar saya. Sudah lebih dari 4 bulan saya tidak membersihkan AC. Selain dibersihkan, AC saya yang sudah terasa kurang dingin itu ternyata butuh tambahan Freon lagi. Tadi malam saya tidur dengan AC menyala di 160C. Enak sekali rasanya AC terasa benar-benar dingin. Mak nyooossss gitu rasanya =)) Dinginnya AC yang baru diservis benar-benar dingin, biasanya saya tahan tidur dengan suhu serendah itu. Kali ini saya menyerah, jam 2 pagi saya bangun dan menaikkan suhu menjadi 210C :-p .

GRUB Loader Hilang?

Rabu malam lalu teman saya menghubungi saya karena laptopnya bermasalah. GRUBnya tidak berfungsi. Di laptopnya terinstal Windows XP dan Ubuntu 5.10. GRUB yang berfungsi sebagai boot loadernya malah error sehingga dia sama sekali tidak bisa menggunakan komputernya. Sehari-hari dia lebih sering menggunakan Windows XPnya. Ubuntu yang ada di komputernya pun dulu saya yang menginstalnya saat dulu saya mencoba mengenalkannya pada Linux 😀

Saya mulanya ingin mencoba menginstal ulang GRUB dengan bantuan Live CD Linux seperti Ubuntu atau ZenLive. Terlebih dulu saya mencari informasi dari Google tentang bagaimana memperbaiki GRUB yang rusak. Setelah mencari saya mendapatkan beberapa referensi, rata-rata referensi yang saya baca menyarankan agar booting dengan Live CD untuk kemudian menjalankan perintah grub-install /dev/hda1 (dengan asumsi Linuxnya berada di partisi /dev/hda1). Entah mengapa langkah-langkah yang saya ikuti dari beberapa referensi tersebut tidak ada yang bisa memperbaiki GRUB yang sudah terinstal di harddisk.

Rasa penasaran saya kali ini kalah dengan rasa kantuk. Jam sebenarnya baru menunjukkan pukul 10 malam, tapi kali itu saya mengantuk sekali. Akhirnya saya putuskan membuang saja Ubuntunya, ganti dengan Linux lain yang menggunakan GRUB sebagai boot loadernya. Saat saya berpikir demikian saya ingat kalau saya punya CD Damn Small Linux. Segera saya pakai CD tersebut. Sebelum saya instal, saya tetap penasaran dengan metode-metode yang sudah saya dapat sebelumnya di Google. Saya coba-coba memperbaiki GRUB juga tetap tidak bisa.

Akhirnya saya putuskan segera menginstal Damn Small Linux ke dalam laptop teman saya tersebut. DSL punya ukuran yang kecil untuk ukuran sebuah distro Linux. Ukurannya yang cuma 50MB membuatnya cepat sekali diinstal ke dalam harddisk (ini yang saya mau, cepat instalnya :-p ). DSL adalah distro Linux dengan tampilan grafis (graphical user interface) yang paling ringan yang pernah saya coba. Cukup jalankan DSL sebagai Live CD lalu pilih menu Install to Harddrive, dan tidak sampai 10 menit DSL sudah terinstal ke dalam harddisk. Lihat tampilan DSL ketika selesai diinstal berikut :

dsl
Setelah saya menginstal DSL ke dalam laptop, saya restart laptopnya dan boot loader bisa membaca ada 2 sistem operasi di dalam komputer. Windows XP dan Damn Small Linux dikenali. Yang melegakan buat teman saya, Windows XPnya bisa kembali digunakan. Dan yang lebih melegakan adalah saya bisa segera tidur =)). Ah aya-aya wae….

Malaysia Digugat

Beberapa hari ini ramai berita soal aksi penolakan warga Indonesia (sebenarnya sih cuma beberapa orang di Jakarta & daerah) terhadap Malaysia. Awal ribut-ribut ini adalah kasus pemukulan ketua wasit karate dari kontingen Indonesia, Donald Pieter Luther Kolopita, oleh beberapa oknum polisi Malaysia.

Memang apa yang dialami Donald sungguh memprihatinkan. Dia ditangkap dan dipukuli oleh beberapa aparat polisi Malaysia karena dicurigai sebagai pendatang ilegal. Matanya mengalami kerusakan cukup serius, telinganya mengalami gangguan pendengaran, kakinya dipatahkan, bahkan alat kelaminnya pun tidak luput dihajar. Pertama mendengar berita ini di Metro TV beberapa hari yang lalu, Donald sempat menuturkan kalau dirinya memang mengadakan perlawanan terlebih dulu kepada beberapa aparat polisi yang menangkapnya. Donald menceritakan refleks dirinya sebagai seorang karateka keluar, alhasil seorang polisi Malaysia pun kena tendangannya. Itulah awal keributan yang terjadi, Donald dikeroyok dan tanpa ampun dihajar habis.

Saya sendiri kasihan melihat sang wasit ini. Niatnya mengikuti kejuaran karate di Malaysia malah berakhir tragis. Kontingen Indonesia pun kabarnya menarik semua atlitnya dari kejuaran sebagai salah satu langkah protes kepada Malaysia.

Pertama kali mendengar berita ini saya langsung berpikir, wah bentar lagi pasti Jakarta direpotkan dengan aksi demo di Kedubes Malaysia. Eh benar saja, kemarin di Detik.com diberitakan puluhan orang berseragam karate mendemo Kedubes Malaysia di bilangan Kuningan Jakarta.

Dua hari yang lalu, pihak Malaysia menyatakan tidak akan meminta maaf kepada Indonesia berkaitan dengan kekerasan yang dialami Donald. Pernyataan ini disampaikan Mentri Luar Negeri Malaysia ketika datang bertemu Presiden SBY di Jakarta. Malaysia beranggapan kasus ini murni akibat ulah oknum kepolisian Malaysia saja, tidak ada kaitannya dengan hubungan bilateral kedua negara. Malaysia pun menjanjikan akan menindak tegas semua oknum yang terlibat aksi kekerasan ini sesuai undang-undang yang berlaku di negaranya. Inilah yang menambah panasnya aksi penolakan terhadap Malaysia beberapa hari ini.

Sebenarnya poin dari tulisan ini bukan yang sudah saya tulis di atas. Sebenarnya saya sendiri hanya ingin beropini tentang ribut-ribut yang terjadi di dalam negeri berkaitan dengan insiden pemukulan wasit ini. Saya setuju kalau dikatakan bahwa insiden ini berhubungan dengan martabat bangsa dan negara. Pemerintah seharusnya bisa mengambil langkah tegas yang akan dilihat rakyatnya sebagai upaya mempertahankan martabat bangsa.

Yang ingin saya komentari adalah aksi-aksi demo penolakan Malaysia yang terjadi beberapa hari terakhir. Semua orang yang berdemo sepertinya begitu ingin ambil bagian dalam ribut-ribut mengecam insiden kekerasan ini. Rasa satu bangsa dengan Donald sepertinya menjadi adrenalin yang memicu demo (bahkan kabarnya aksi sweeping terhadap warga Malaysia di Indonesia).

Satu yang di dalam pikiran saya : kenapa sedikit sekali (tidak ada) demo besar-besaran menuntut pemerintah, menuntut pemilik Lapindo yang telah menyiksa ratusan korban kasus lumpur Lapindo. Korban lumpur Lapindo sudah 1 tahun mengalami “penyiksaan”, kok tidak ada yang berani berdemo kepada pemerintah? Mungkin saya tidak tahu kalau ada yang sudah berdemo demi memperjuangkan korban Lapindo, tapi kok gaungnya tidak senyaring demo menolak Malaysia belakangan ini? Yang ada para korban sendiri yang berdemo gila-gilaan, meski hasilnya belum jelas. Coba kalau tenaga untuk mendemo Malaysia itu disalurkan untuk mendemo pemerintah dan Lapindo, saya rasa akan lebih masuk akal dan lebih bermanfaat.

Ah memang banyak sekali orang yang senang dengan yang namanya sensasi. Hubungan dengan bangsa lain diurusi, anak bangsa sendiri melarat, kelaparan, tak punya tempat tinggal, sedikit yang mau bersuara. Hal-hal yang seharusnya bisa dijadikan alasan logis untuk mendemo pemerintah malah tidak pernah disentuh, hal-hal yang sensasional yang tidak ada hubungan langsungnya dengan rakyat malah diributkan.

Rebutan papais kosong ceuk Sundana mah (terjemahannya : rebutan pepesan kosong)

Update : ribut-ribut soal Malaysia berlanjut dengan pernyataan minta maaf dari Perdana Mentri Malaysia kepada Presiden SBY, begitu beritanya di Detik.com .

Reset Password Ubuntu

Gara-gara menulis postingan sebelumnya ini , saya iseng mencoba hal yang sama dengan Ubuntu saya. Saya hapus string yang sama (plus string yang ada di account “tedy”) pada /etc/shadow yang ada di Ubuntu saya. Lalu saya restart PC dan walah….saya tidak bisa login sama-sekali #-o .

Segera saya booting PC dengan ZenLive Linux supaya bisa mencari di internet cara mengembalikan password pada Ubuntu Linux. Ketemu sumber yang tepat di sini. Langkah-langkah yang tadi saya lakukan untuk me-reset password di Ubuntu adalah :

  1. Restart PC, masuk ke menu GRUB dengan menggunakan tombol Esc.
  2. Pada tampilan menu GRUB, edit bagian kernel dengan menambahkan init=/bin/sh
    Untuk mengedit baris kernel ini, cukup tekan “e”. Setelah baris di atas disisipkan tekan “b” untuk memulai proses booting.
  3. Dengan langkah di atas, Ubuntu akan masuk langsung ke terminal tanpa menampilkan jendela login. Kemudian saya menjalankan perintah :
    # mount / -o remount,rw
    Perintah ini melakukan mounting ulang pada partisi root.
  4. Untuk mengganti password root (maupun password account “tedy”), saya menggunakan perintah passwd.
  5. Saya jalankan lagi perintah pada nomor 3.
  6. Berikutnya saya menjalankan perintah sync lalu merestart PC saya dengan perintah reboot.

Ah sukses deh balik lagi masuk ke dalam Ubuntu 😀 .