Beberapa hari ini salah satu berita yang paling sering diberitakan adalah tentang permen berformalin. Produk permen White Rabbit buatan China dikabarkan mengandung formalin. Padahal dulu waktu kecil saya juga sering mengkonsumsi permen merek ini #-o . Dulu saya menyebutnya permen susu, permen putih dengan lapisan agar-agar tipis mirip kertas dibungkus kemasan warna putih dan biru. Wah sudah dua puluhan tahun saya tidak melihat permen itu, gara-gara berita ini saya jadi ingat kalau dulu ada permen seperti itu. Kalau tidak lihat berita ini mungkin saya sudah lupa 😀 . Saya sendiri tidak tahu persisnya mengapa baru sekarang-sekarang ini digolongkan sebagai makanan berbahaya. Selain permen White Rabbit, pasta gigi merek Maxam juga ditarik dari peredaran. Sama-sama mengandung formalin katanya. Kalau begini ceritanya apa fungsinya BPOM (Badan Pengawasan Obat & Makanan) donk?
Author Archives: Tedy Tirtawidjaja
Kering
Minggu ini sepertinya adalah minggu yang “kering” tulisan. Terakhir saya menulis artikel Selasa 24 Juli kemarin 🙁 . Kenapa ya jadi susah untuk menulis? Ada hubungannya kah dengan kondisi badan yang seminggu ini tidak fit? Hidung yang “meler” terus, campur batuk yang tidak hilang-hilang… :-& atau karena sibuk <sok sibuk mode ON 😀 >.
Mengingat Nama Orang Lain
Di banyak buku pengembangan diri dan komunikasi yang pernah saya baca, mengingat nama orang lain adalah satu hal dianggap penting. Di salah satu buku yang pernah saya baca (saya lupa judulnya,kalau tidak salah adalah buku tulisan Larry King) bahkan ditulis seperti ini :
Orang tidak peduli kelaparan yang terjadi di Afrika, orang lebih peduli ketika orang lain mampu mengingat namanya dan menyebutkannya dengan benar ketika bertemu.
Anda bisa bayangkan ketika Anda sedang jalan-jalan, ada seorang kenalan Anda yang bisa menyapa Anda dengan menyebutkan nama lengkap Anda. Ada suatu rasa penghargaan yang kita terima ketika kita disapa orang dengan nama resmi kita (apalagi kalau disapa dengan nama lengkap). Rasa penghargaan ini bagi saya lebih terasa apabila yang menyapa saya adalah orang yang belum terlalu akrab dengan saya.
Saya pun kadang (boleh dikata sering 😀 ) lupa dengan nama orang lain. Beberapa kali saya bertemu dengan teman/kenalan lama, saya ingat mukanya tapi celakanya saya lupa namanya :-p . Biasanya yang saya lakukan adalah tetap berkomunikasi (ngobrol) dengan seramah/seakrab mungkin sambil berusaha mengingat-ingat namanya. Pernah suatu kali saya bertemu teman lama di sebuah restoran, sampai akhir obrolan saya tidak bisa ingat namanya 😀 … padahal obrolan sudah berlangsung cukup lama.
Karena saya tahu persis kalau nama adalah hal yang penting dalam sebuah perkenalan/hubungan, saya berusaha mengingat-ingat dengan sebaik-baiknya nama setiap orang yang saya jumpai. Tapi ini adalah hal yang tidak gampang dipraktekkan. Mungkin saya perlu mencatat nama orang lain ketika berkenalan, biar tidak lupa (sadar diri kalau sering kena gejala pikun alias gampang lupa =)) ).
Deteksi Browser & OS
Dari dulu saya selalu kagum melihat plugin buatan Mas Priyadi di blognya yang bisa mendeteksi browser internet dan sistem operasi yang dipakai para pengirim komentar. Karena dulu saya menggunakan blog gratisan di WordPress, saya tidak pernah bisa menggunakan plugin ini. Sekarang setelah menggunakan WordPress di server hosting, saya bisa mencoba menggunakan plugin ini di blog baru saya. Thanks Mas Priyadi buat sharing pluginnya 😀 .
Lihat gambar berikut yaitu hasil screenshot dari tampilan deteksi browser dan operating sistem yang muncul pada tiap komentar di blog saya :
Cara menggunakan plugin ini di blog yang menggunakan WordPress dapat dibaca di sini. Untuk menampilkan plugin ke dalam tiap komentar kita harus mengedit file comments.php yang ada di di dalam direktori themes yang kita gunakan. Tinggal tambahkan <?php pri_print_browser("Using ", "", true, 'on');?> setelah baris <? foreach ($comments as $comment) :?>.
Dua Hal Tentang Roxy
Dua hal yang bagi saya identik dengan kawasan Roxy : handphone & MACET. Sebenarnya nama resmi jalan rayanya adalah Jalan Hasyim Ashari. Jalan raya ini berujung di kawasan Kota pada satu sisinya, sementara sisi lainnya berujung di Jalan Kiai Tapa (Grogol). Perbatasannya kalau tidak salah di kali Grogol (kali=sungai).
Di kawasan Roxy Jakarta Barat ada 2 tempat yang menjadi pusat penjualan handphone untuk kawasan Jakarta yaitu ITC Roxy Mas dan Roxy Square. Kedua pertokoan ini letaknya berdekatan satu sama lain. Bisa dibilang Roxy menjadi salah satu barometer harga handphone di Jakarta. Roxy Square masih terbilang baru daripada ITC Roxy Mas.
Satu lagi yang tidak kalah terkenal dari Roxy, yaitu macetnya 🙁 . Dari dulu sejak saya belum tinggal di Jakarta pun, kawasan Roxy selalu macet. Salah satu sebabnya adalah karena adanya rel kereta yang melintas di Jalan Hasyim Ashari. Sudah beberapa tahun terakhir, pemkot Jakarta merencanakan membangun fly over di kawasan Roxy untuk mengatasi masalah kemacetan. Saya lupa kapan tepatnya proyek pembangunan fly over tersebut dimulai (ada yang ingat?). Proyek tersebut sempat terbengkalai cukup lama. Akibatnya tingkat kemacetan di kawasan Roxy pun meningkat.
Belakangan saya sempat beberapa kali melintas di kawasan Roxy ini, ampun macetnya. Saya melintas di Jalan Hasyim Ashari ini sekitar pukul 6 dan 7 malam, pernah juga saya melintas sekitar pukul 9 malam. Puncak kemacetan terjadi beberapa puluh meter sebelum ITC Roxy Mas sampai jembatan kali Grogol. Beberapa kali melintas saya pun jadi mengamati apa sebenarnya yang menjadi kontributor kemacetan ini :
- Angkutan umum yang mangkal di beberapa titik. Mulai dari bus kota, Kopaja, Metromini semuanya berebut penumpang. Berhenti seenaknya salah satunya tepat di depan ITC Roxy Mas. Tidak peduli macet dan sesaknya kendaraan di belakangnya, mereka cuek berhenti menanti penumpang.
- Proyek fly over yang tak kunjung selesai. Jalan Hasyim Ashari benar-benar menyempit di ujung proyek pembangunan fly over tersebut. Saking lamanya proyek ini berlangsung, ada ruang di tengah-tengah proyek yang dijadikan lahan parkir liar oleh para preman.
- Pejalan kaki dan penjual kaki lima. Dua hal ini saling berkaitan. Pejalan kaki terpaksa berjalan di badan jalan yang sudah padat karena trotoarnya sudah dipadati pedagang kaki lima. Trotoar tak ubahnya seperti pasar malam, dari penjual mie ayam, gorengan, penjual baju, sepatu, minuman, semuanya berjejal di trotoar mulai dari depan ITC Cempaka Mas sampai sekitar rel kereta.
Motor saja sulit melintas di depan ITC Cempaka Mas. Padahal biasanya motor punya kemampuan bermanuver di kemacetan Jakarta. Anda bisa membayangkan kan bagaimana macetnya. Sudah macet, polusinya tidak ampun lagi. Paling repot kalau Anda naik motor dan kebetulan berada di belakang bis atau bajaj, wah benar-benar dicekoki asap knalpot yang super menyesakan.
Mau membuktikan tulisan saya ini? Silakan berkendara di Jalan Hasyim Ashari ini sekitar pukul 6 sore. Hitung-hitung melatih kesabaran 😀 .
