Lock Folder Dengan Password Di Mac OSX

Di Mac saya bisa mengamankan folder dengan password tanpa perlu ada tambahan software khusus. Ini mengingatkan saya pada software Folder Lock di Windows. Cukup dengan Disk Utility saya bisa memiliki folder yang terenkripsi dengan password. Folder tersebut akan dienkripsi & diubah formatnya menjadi format Disk Image (dmg).

Berikut adalah langkah-langkah mudah yang bisa Anda ikuti untuk mengamankan folder dengan bantuan Disk Utility.

  1. Untuk mengakses Disk Utility biasanya saya menggunakan Spotlight, menekan tombol ⌘ & Space lalu tinggal ketik Disk Utility & akhiri dengan tombol Enter. Ini adalah tampilan Disk Utility di Mac OSX 10.9 (Mavericks).  photo Image1-11-14at512PM_zpsf6fc9f6a.jpg
  2. Untuk memilih folder yang akan “diamankan”, klik FileNewDisk Image From Folder seperti pada contoh berikut ini : Photobucket Pictures, Images and Photos
  3. Disk Utility akan menampilkan jendela baru untuk memilih folder yang akan dienkripsi. Photobucket Pictures, Images and Photos
  4. Pada gambar di bawah ini misalnya saya ingin mengamankan folder “Important_Data” yang berada di dalam folder DATA : Photobucket Pictures, Images and Photos
  5. Pada pilihan Image Format Anda bisa memilih mode read/write bila ingin tetap bisa mengubah isi folder tadi. Bila Anda yakin tidak akan mengubah-ubah isi folder tadi selamanya, maka Anda bisa memilih mode read-only. Saya pilih read/write karena mungkin saya perlu mengubah isi folder tadi. Photobucket Pictures, Images and Photos
  6. Supaya bisa memberi password, Anda harus mengaktifkan opsi Encryption. Anda bisa memilih mode Encryptionnya 128-bit atau 256-bit, ini maksudnya tingkat kesulitan algoritma pengacakan datanya. Makin tinggi angkanya, teorinya isi datanya lebih sulit dibaca (di-hack?). Saya pilih 128bit saja karena memilih 256bit memerlukan pemrosesan CPU yang lebih lama saat ingin membuka folder tersebut. Photobucket Pictures, Images and Photos
    Bila sudah menentukan Encryption tinggal lanjutkan proses dengan klik tombol Save.
  7. Disk Utility akan segera memproses folder tadi & memberinya perlindungan dengan akses password. Disk Utility akan meminta Anda untuk memasukkan password yang ingin dipakai untuk melindungi folder tersebut. Untuk memastikan Anda benar-benar yakin dengan password tersebut, Anda akan diminta untuk memasukkan password yang sama dua kali.
     photo Image1-11-14at538PM2_zpsaec0bd00.png
    Ada indikator di bagian bawah (Password Strength) yang menunjukkan seberapa mudah ditebaknya password yang sudah dimasukkan. Anda bisa memilih untuk menyimpan password tersebut ke dalam Mac Keychain. Untuk keamanan maksimum tentu sebaiknya jangan pilih opsi ini.
  8. Perlu waktu beberapa saat bagi Disk Utility untuk membuat disk image dari folder tersebut. Nama disk image-nya sama dengan nama folder aslinya. Lamanya tergantung besarnya ukuran folder.
     photo Image1-11-14at539PM_zps00415294.png
  9. Bila sudah selesai disk image akan muncul di bagian kiri Disk Utility :
     photo Image1-11-14at539PM2_zpsf3a963da.png
  10. Anda bisa cek juga dari Finder bahwa disk image tadi sudah terbentuk sempurna. Pada contoh saya tadi, disk image-nya bernama “Important_Data.dmg”.
     photo Image1-11-14at539PM3_zps7e3b7e5a.png
  11. Sampai tahap ini Anda bisa hapus folder aslinya dan beralih menggunakan disk image tadi untuk menyimpan data. Setiap saat Anda membuka disk image, Finder akan meminta Anda memasukkan password (asumsi Anda tidak menyimpan password-nya di dalam Keychain).
     photo Image1-11-14at540PM_zpseb72d680.png
  12. Karena berbentuk disk image, saat sukses dibuka dengan password yang benar, folder tadi akan tampil seolah-olah seperti harddisk & USB flashdisk.
     photo Image1-11-14at540PM1_zps4bc82f51.jpg
    Bila sudah selesai digunakan, Anda perlu mengklik tombol ⏏ (Eject) yang ada di sisi kanan nama folder tadi.

Simpel dan tidak perlu ekstra software untuk mengunci folder.

Masalah Dengan BOOTFS Pada Solaris 11

Tadi pagi rekan saya mengajak diskusi tentang masalah bootfs di Solaris 11. Ceritanya rekan saya sedang melakukan recovery boot disk server Solarisnya yang bermasalah. Cara recovery-nya adalah dengan melakukan restore dari ZFS snapshot. Setelah boot servernya dengan menggunakan DVD Solaris, rekan saya sudah melakukan partisi root disk seperti ini :

partition> label
[0] SMI Label
[1] EFI Label
Specify Label type[0]: 0
Ready to label disk, continue? y

partition> p
Current partition table (unnamed):
Total disk cylinders available: 14087 + 2 (reserved cylinders)

Part      Tag    Flag     Cylinders         Size            Blocks
  0       root    wm       0 - 14085      136.70GB    (14086/0/0) 286678272
  1 unassigned    wu       0                0         (0/0/0)             0
  2     backup    wu       0 - 14086      136.71GB    (14087/0/0) 286698624
  3 unassigned    wm       0                0         (0/0/0)             0
  4 unassigned    wm       0                0         (0/0/0)             0
  5 unassigned    wm       0                0         (0/0/0)             0
  6 unassigned    wm       0                0         (0/0/0)             0
  7 unassigned    wm       0                0         (0/0/0)             0

partition> label
[0] SMI Label
[1] EFI Label
Specify Label type[0]: 0
Ready to label disk, continue? y

partition>

Harddisk yang dialokasikan sebagai boot device di Solaris 11 harus menggunakan label SMI. Tapi rekan saya keliru saat membuat rpool, dia membuat rpool tanpa mendefinisikan slice 0. Perintah yang dia pakai adalah seperti berikut ini :

root@solaris:/# zpool create -o version=33 -f -o failmode=continue -R /a -m legacy -o cachefile=/etc/zfs/zpool.cache rpool c3t0d0

Karena argumen yang dipakai hanya c3t0d0 (keseluruhan harddisk) hasil rpool-nya menjadi seperti berikut ini :

root@solaris:/root# zpool status
  pool: rpool
 state: ONLINE
  scan: none requested
config:

        NAME      STATE     READ WRITE CKSUM
        rpool     ONLINE       0     0     0
          c3t0d0  ONLINE       0     0     0

errors: No known data errors
root@solaris:/root#

Akibatnya rekan saya menemukan masalah saat mendefinisikan bootfs, dia mendapatkan error seperti berikut ini :

root@solaris:/root# zpool set bootfs=rpool/ROOT/solaris rpool
cannot set property for 'rpool': property 'bootfs' not supported on EFI labeled devices
root@solaris:/root#

Ternyata walaupun di awal tadi harddisk c3t0d0 sudah diberi label SMI, labelnya berubah lagi karena penggunaan perintah zpool yang kurang tepat. Pembuatan rpool tanpa mendefinisikan slice, mengakibatkan Solaris melabel ulang harddisk tersebut dengan label EFI. Harddisk dengan label EFI ditandai dengan adanya partisi nomor 8, ini bisa dilihat dengan menggunakan perintah prtvtoc seperti contoh berikut ini :

root@solaris:/root# prtvtoc /dev/rdsk/c3t0d0
* /dev/rdsk/c3t0d0 partition map
*
* Dimensions:
*     512 bytes/sector
* 286739329 sectors
* 286739262 accessible sectors
*
* Flags:
*   1: unmountable
*  10: read-only
*
* Unallocated space:
*       First     Sector    Last
*       Sector     Count    Sector
*          34       222       255
*
*                          First     Sector    Last
* Partition  Tag  Flags    Sector     Count    Sector  Mount Directory
       0      4    00        256 286722656 286722911
       8     11    00  286722912     16384 286739295
 root@solaris:/root#

Di akhir diskusi saya sarankan untuk menghapus saja rpool yang sudah dibuat. Setelah dihapus, saya sarankan untuk membuat rpool dengan mendefinisikan harddisk lengkap sampai slice-nya (c3t0d0s0). Contoh perintahnya seperti berikut ini :

root@solaris:/root# zpool create -o version=33 -f -o failmode=continue -R /a -m legacy -o cachefile=/etc/zfs/zpool.cache rpool /dev/dsk/c3t0d0s0
root@solaris:/root#

root@solaris:/root# zpool status
  pool: rpool
 state: ONLINE
  scan: none requested
config:

        NAME        STATE     READ WRITE CKSUM
        rpool       ONLINE       0     0     0
          c3t0d0s0  ONLINE       0     0     0

errors: No known data errors
root@solaris:/root#

Sampai saat ini saya tidak tahu apakah ada caranya supaya boot disk di mesin Sparc (dengan Solaris 11) bisa menggunakan harddisk dengan EFI label.

Menyimpan Password dalam KeePassX

Sampai saat ini saya punya banyak password yang perlu saya ingat-ingat. Mulai dari password beberapa akun email, login ke banyak website, Paypal, iTunes, VPN, dsb. Memang paling gampang menggunakan 1 macam passsword untuk segala kebutuhan. Tapi cara ini kurang bijaksana & berbahaya. Karena begitu banyak password yang perlu saya hafalkan, saya kerap lupa password apa yang harus saya pakai saat login ke suatu website. Belum lagi kalau websitenya jarang saya akses, kemungkinan besar akan lupa password login-nya. Atau misalnya saat password sebuah website-nya sudah disimpan otomatis oleh web browser, sehingga saya lupa total apa password loginnya saat saya mengakses web tersebut dari komputer lain.

Saya memilih untuk menggunakan KeePassX untuk menyimpan semua password saya. KeePassX ini adalah aplikasi yang dibuat untuk menyimpan banyak password dalam sebuah database terenkripsi. Idenya adalah kita buat database password, lalu kita beri password (lagi-lagi password..hehehe…). Sehingga kita cukup mengingat-ingat 1 password untuk membuka database tersebut. Database-nya berupa 1 file dengan ekstensi *.kdb yang ukurannya tidak terlalu besar. Hmmm mungkin ukurannya bisa membengkak bila menyimpan sampai ribuan password. File database KeePass saya cuma berukuran 16KB.

KeePassX ini tersedia secara gratis untuk Mac OSX, Windows, & juga untuk Linux.

Ini contoh langkah-langkah menggunakan KeePassX di Ubuntu Linux (langkah ini sama bisa dipakai juga di Windows atau Mac OSX).

  1. Setelah membuka aplikasi KeePassX, tampilan yang muncul seperti berikut ini :Untuk mulai membuat database, klik ikon New di pojok kiri atas seperti ditunjukkan oleh tanda panah.
  2. Kita akan diminta untuk memasukkan master password untuk database baru ini :Ini langkah yang penting, jangan sampai lupa master password ini.
  3. Setelah itu kita bisa mulai memasukkan data-data password yang ingin kita simpan dalam KeePassX. Caranya tinggal klik kanan di area yang kosong atau klik ikon “Add New Entry” seperti yang ditunjukkan oleh tanda panah berikut ini :
  4. Akan muncul jendela baru seperti tampilan berikut ini :Di sini kita akan menyimpan data-data seperti misalnya username, password, URL website, keterangan, dsb.
  5. Di sebelah kanan kolom password ada ikon bergambar mata. Ikon ini dipakai untuk menampilkan/menyembunyikan password yang kita masukkan.
  6. Di sebelah kanan kolom password, ada juga ikon bertulisan Gen. Ikon ini fungsinya untuk menampilkan menu password generator. KeePassX bisa membantu kita membuatkan password yang rumit.Kita bisa memilih berapa panjang password yang diinginkan, lalu kombinasi karakter apa saja yang ingin dipakai. Tinggal klik tombol Generate untuk mendapatkan password baru. Akhiri dengan mengklik tombol OK.
  7. Bila semua data yang ingin disimpan sudah dimasukkkan, akhiri dengan menekan tombol OK pada tampilan berikut ini :
  8. Kita bisa mengulang langkah-langkah tadi untuk menyimpan semua password yang ingin kita simpan. Bila sudah selesai kita perlu menyimpan database KeePassX ini. Klik tombol Save seperti ditunjukkan pada gambar di bawah ini :
  9. Kita tinggal mendefinisikan nama file database ini & mengakhiri dengan menekan tombol Save :
  10. Tadi saya memilih nama mypassword, KeePassX akan otomatis menambahkan ekstensi *kdb seperti terlihat di bawah ini :

Supaya bisa diakses dari komputer & handphone, saya menyimpan database file tadi ke dalam folder-nya Dropbox. Ini contoh di Mac OSX, saya bisa akses database file tadi dari Dropbox.Saya bisa langsung membukanya dengan aplikasi KeePassX :Tentu saya perlu memasukkan master password yang tadi saya set saat membuat database-nya. Bila saya memasukkan master password yang tepat maka saya bisa mengakses isi database tadi :File database KeePass tersebut bisa dibuka juga di Android dan di IOS. Saya pakai aplikasi KeePassDroid, sementara di IOS ada aplikasi iKeepPass yang bisa membuka file database yang sudah kita buat. iKeePass di IOS perlu dibayar dengan harga $0.99.

Ini contoh saat saya mencoba mengakses database password tadi dengan menggunakan iKeePass di iPhone.

  1. Saat pertama diinstal ada database bawaan yaitu “Test database”.
  2. Untuk menambah database yang tadi ada di Dropbox, tap pada menu Setting – Databases. Lalu tap menu Add yang ada di kanan atas :
  3. Lalu kita pilih Type-nya Dropbox & pilih file database tadi :
  4. Kita bisa memasukkan master password sekarang pada kolom Password & akhiri dengan tap menu Ok :
  5. KeePassX akan melakukan sinkronisasi file database tersebut dengan Dropbox :
  6. Tidak lama kemudian KeePassX akan menampilkan isi database password :

Mirip caranya di Android saat menggunakan KeePassDroid :
KeePassDroid juga bisa mengakses database file yang disimpan dalam Dropbox :
Dengan memasukkan master password yang tepat, kita bisa membaca semua isi password yang tersimpan dalam database tadi :

Kira-kira begitu alternatif menyimpan banyak password yang saya pakai sekarang.

NFS Share di Solaris 11

Biasanya di mesin Solaris yang menggunakan filesystem ZFS, untuk mengaktifkan NFS sharing saya cukup menggunakan perintah :

zfs set sharenfs=on /share-directory

Ini pernah saya tulis di postingan sebelumnya. Hari ini saya menemukan masalah sharing NFS di Solaris 11. Cara tadi tidak bisa dipakai di Solaris 11. Tadi saya ingin mengaktifkan NFS sharing untuk direktori /rpool/testing.

root@testbed:~# zfs list | grep testing
rpool/testing                                         31.5K   148G  31.5K  /rpool/testing
root@testbed:~# 
root@testbed:~# zfs set sharenfs=on rpool/testing
root@testbed:~# share
root@testbed:~#

Tapi cara tadi gagal terus. Lalu saya coba cek & aktifkan servis NFS server-nya. Saat dicek servis NFS server masih offline.

root@testbed:~# svcs | grep nfs
online         Nov_15   svc:/network/nfs/fedfs-client:default
offline        11:16:01 svc:/network/nfs/server:default
root@testbed:~#

Saya coba untuk aktifkan dengan perintah svcadm enable, ternyata gagal dengan tampilan error seperti berikut ini :

root@testbed:~ # svcadm enable -rst network/nfs/server
svcadm: Instance "svc:/network/nfs/server:default" has been disabled by another entity.
root@testbed:~#

Googling sebentar membawa saya ke website Oracle ini. Ternyata caranya berbeda di Solaris 11, menurut dokumen tadi tidak perlu lagi mengaktifkan servis NFS untuk bisa membagi direktori lewat NFS. Caranya cukup dengan menggunakan perintah berikut ini :

root@testbed:~# zfs set share=name=testing,path=/rpool/testing,prot=nfs rpool/testing
name=testing,path=/rpool/testing,prot=nfs
root@testbed:~# 
root@testbed:~# share
testing /rpool/testing  nfs     sec=sys,rw      
root@testbed:~#

Bila ingin mendefinisikan kontrol IP mesin mana yang bisa mengakses direktori tadi, saya tinggal tambahkan opsi seperti berikut ini :

share=name=testing,path=/rpool/testing,prot=nfs,rw=10.23.103.62,root=10.23.103.62

Dengan menggunakan perintah tadi, Solaris 11 akan otomatis mengaktifkan servis NFS server.

root@testbed:~# svcs | grep nfs/server
online         11:48:45 svc:/network/nfs/server:default
root@testbed:~#

Bila kita ingin menghapus share directory tadi caranya cukup dengan :

root@testbed:~# zfs unshare rpool/testing
root@testbed:~# share
root@testbed:~#

Lucunya NFS servis akan tetap aktif meskipun sudah tidak ada lagi direktori yang di-share.

Whew, makin kagum dengan Google…semua informasi cuma sejauh jangkauan keyboard & mouse saja.

2014-01-07 Macet Casablanca

Kemarin pagi saya terjebak macet di fly over Pejompongan dari Tanah Abang menuju Casablanka. Sejak naik fly over sampai turun lagi itu memakan waktu 45 menit, luar biasa merayap. Saya lihat ada 3 yang menyebabkan efek kemacetan sampai sejauh itu. Satu adalah penyempitan di depan London School, plus mobil yang keluar masuk ke sana. Lalu arus lalu lintas dari jalan tikus samping London School. Yang terakhir adalah kendaraan yang berputar balik di depan CityWalk. Walaupun ada polisi juga tidak terlalu banyak membantu, karena memang volume kendaraan yang memang sangat banyak.

U Turn Citywalk Tanah Abang photo 2014-01-08 08.30.38_zpskcfplfpv.png

Saking macetnya saya liat 1 mobil & beberapa motor nekat putar balik melompati pembatas jalan. Rupanya adanya JLNT (Jalan Layang Non Tol) yang baru diresmikan itu menambah kepadatan di putaran balik CityWalk tadi. Ketika saya berhasil menembus macet itu & naik ke JLNT, jalur menuju Kampung Melayu itu benar-benar sepi. Yang banyak malah motor, sepanjang jalan saya tidak bertemu mobil lainnya. Di arah sebaliknya kemacetan mulai dari ujung JLNT. Kabarnya kalau sore yang terjadi sebaliknya, yang macet adalah jalur menuju Kampung Melayu.

Saat sore hari sekitar pukul setengah 4 saya pulang memilih lewat bawah (depan Mal Ambassador), tidak seperti dulu sekarang terlihat lancar. Tidak ada antrian lagi di putaran balik CityWalk. Pelajarannya, pagi hari sekitar pukul 8–10 adalah puncak macet daerah situ. Sebisa mungkin harus berangkat lebih pagi jika ingin lancar melewati Tanah Abang – Casablanca.