Cetak Foto Hasil Kamera iPhone

Kemarin saya mampir ke Adorama cabang Plaza Senayan untuk mencetak hasil-hasil foto trip kemarin. Seperti yang saya tulis di tulisan sebelumnya, saya penasaran ingin tahu seperti apa sih hasil cetak foto yang yang dihasilkan oleh iPhone. Saya wanti-wanti pesan supaya operator cetaknya tidak melakukan editing apapun.

Ada 3 foto panoramik yang saya cetak sekadar untuk membandingkan foto asli, hasil edit kontras/saturasi, dan hasil olahan aplikasi. Ternyata yang paling bagus hasilnya menurut selera saya adalah hasil foto yang sudah dinaikkan kontras & saturasinya. Hasil cetak foto aslinya sebenarnya sudah bagus, hanya masih terasa agak flat. Dengan edit minim saja (menaikkan kontras & saturasi), hasil cetaknya tampak lebih menarik. Sementara hasil olahan aplikasi yang menambahkan efek filter dll, tampak terlalu berlebihan.

20130205-215038.jpg

Saya cetak ketiga foto panoramik itu ukuran 10RS (25x30cm), tentu jadi banyak bagian kosong di atas & bawahnya. Harga cetak foto glossy ukuran 10RS di Adorama, per lembarnya dikenai biaya Rp13000,-.

Saya juga cetak 15 foto hitam putih dari kumpulan foto ini. Semuanya dicetak dalam ukuran 6R. Harga cetak foto glossy ukuran 6R, ongkos cetaknya Rp7000,-/lembar. Puas saya dengan semua hasil cetak fotonya. Sepintas bila dilihat hasilnya tidak jauh beda (atau bahkan tidak bisa dibedakan) antara foto hasil kamera digital & hasil jepretan iPhone.

Ganti Hostname Solaris 11

Saya baru tahu ada banyal hal yang baru dari sistem operasi Solaris 11. Salah satunya adalah hal sederhana seperti mengganti hostname sebuah server.

solaris11_logo

Misalnya saya punya server Solaris 11 dengan hostname seperti ini :

root@solaris11:~# uname -n
solaris11
root@solaris11:~# hostname
solaris11
root@solaris11:~#

Untuk mengganti hostname dari “solaris11” menjadi “sol11_testbed01” saya perlu menggunakan perintah svccfg seperti berikut ini :

root@solaris11:~# svccfg -s svc:/system/identity:node setprop config/nodename="sol11_testbed01"
root@solaris11:~# svcadm refresh svc:/system/identity:node
root@solaris11:~# svcadm restart svc:/system/identity:node

Perubahannya instant, saya cukup relogin dan hostname-nya sudah berubah :

root@solaris11:~# su -
Oracle Corporation      SunOS 5.11      11.0    November 2011
root@sol11_testbed01:~# uname -a
SunOS sol11_testbed01 5.11 11.0 i86pc i386 i86pc
root@sol11_testbed01:~# uname -n
sol11_testbed01
root@sol11_testbed01:~# hostname 
sol11_testbed01
root@sol11_testbed01:~#

Solaris 11 langsung memperbaiki file /etc/hosts juga :

root@sol11_testbed01:~# more /etc/hosts
#
# Copyright 2009 Sun Microsystems, Inc.  All rights reserved.
# Use is subject to license terms.
#
# Internet host table
#
::1 sol11_testbed01 localhost 
127.0.0.1 sol11_testbed01 localhost loghost

Tentu ini suatu kemajuan dari apa yang dimiliki oleh Solaris 10. Di Solaris 10 saya perlu mengedit secara manual beberapa file berikut :

  • /etc/hosts
  • /etc/nodaname
  • /etc/hostname.ce0 (untuk semua interface yang ada)

Dan untuk mengaktifkan hostname baru di Solaris 10, saya perlu lakukan reboot server; tentu ini sangat tidak praktis. Solaris 11 rupanya sudah menjawab keterbatasan tersebut.

Nuansa Imlek Di Mal

20130203-235055.jpg

Mal memang gambaran multikultur yang paling nyata. Lebaran datang, berhiaslah mal dengan segala pernak pernik Idul Fitri. Biasanya ketupat jadi ciri yang paling gampang dilihat. Bila Natal datang, pohon natal & segala aksesorisnya jadi pusat perhatian di banyak mal & pusat perbelanjaan. Demikian pula dengan Imlek atau tahun baru Cina. Tahun Baru Cina (Imlek) sebentar lagi, tanggal 10 Februari kalau tidak salah. Banyak mal & pusat perbelanjaan sudah berhias dengan aneka ornamen bernuansa Chinese New Year. Tadi saya mampir ke Mal Kelapa Gading, dari pintu masuk saja sudah berhias gapura ala China. Selama menunggu jemputan di lobi, sedikitnya ada 3 group pengunjung yang menyempatkan diri berfoto dengan gapura itu sebagai latar belakangnya. Di dalam mal juga sama, banyak orang berfoto dengan background aksesoris Imlek seperti pohon-pohon Sakura (entah apa sebenarnya jenis pohon berbunga warna pink itu).

Restore Dari TimeMachine

Kemarin saya membuat kesalahan bodoh dengan menghapus aplikasi Java dari Macbook. Awalnya saya sempat berkutat dengan Java supaya bisa menggunakan aplikasi kantor berbasis Java Web Start. Setelah gagal beberapa kali menginstal Java Runtime, utak atik saya berakhir dengan salah menghapus Java bawaan Mac OSX. Sebelumnya aplikasi Java terinstal dengan baik :

ttirtawi@macbook-air:~$ java -version
java version "1.6.0_37"
Java(TM) SE Runtime Environment (build 1.6.0_37-b06-434-11M3909)
Java HotSpot(TM) 64-Bit Server VM (build 20.12-b01-434, mixed mode)
ttirtawi@macbook-air:~$

Karena salah hapus file di /System, aplikasi Java terhapus juga. Ketika saya ingin menginstal ulang Java bawaan Mac OS, proses instalasi gagal karena program menganggap sudah ada aplikasi yang sama dengan versi yang lebih baru. Bosan mencari tahu lewat Google, saya putuskan untuk melakukan full restore. Mac OSX punya aplikasi TimeMachine untuk sarana backup restore. TimeMachine terintegrasi dengan baik dengan sistem operasinya sehingga relatif sangat mudah untuk dipakai. Sejak awal menggunakan Mac, saya sudah menggunakan TimeMachine untuk backup data. Sampai kemarin saya belum pernah menggunakan TimeMachine untuk melakukan restore.

20130203-213416.jpg

Proses restore keseluruhan sistem operasi sangat mudah. Setelah menyambungkan harddisk backup, saya cukup restart Macbook sambil menekan tombol Cmd+R sampai muncul menu untuk melakukan restore. Saya disuguhi pilihan untuk melakukan restore data sampai beberapa hari ke belakang. Saya pilih untuk mengembalikan data ke kondisi hari Sabtu jam 1 siang. Proses restore data berlangsung sekitar 1 jam.

Ajaib, setelah restore selesai Macbook saya kembali ke kondisi semula (hari Sabtu siang). Semua data normal dan kembali semua. Data-data yang sudah saya hapus Sabtu sore kemarin pun muncul kembali. Aplikasi Java juga kembali lagi. Sebenarnya mungkin ada cara yang lebih mudah untuk mengembalikan aplikasi Java yang corrupt. Tapi dengan cara ini saya jadi tahu persis kegunaan TimeMachine & bagaimana powerfull-nya aplikasi ini. Dengan menggunakan TimeMachine kita bisa menyelamatkan data yang hilang, memperbaiki sistem yang corrupt, dan bahkan bisa juga dipakai untuk melakukan cloning dari satu Mac ke mesin Mac yang lain.  Sejauh ini saya puas sekali dengan aplikasi TimeMachine bawaan Mac OSX ini.

Motret Kok Miring

20130130-192831.jpg

Akhir tahun 2009 lalu saya sempat ikut kelas fotografi di Canon Photo School. Gurunya adalah Alm.Kumara Prasetya terkenal cukup keras. Keras dalam memberi doktrin pada murid-muridnya. Salah satu doktrin yang paling saya ingat adalah motret itu jangan miring. Saya masih ingat ada momen saat kami asistensi dengan beliau, salah satu rekan sekelas menyerahkan foto model yang diambil dengan angle miring. Kaget saya waktu selembar foto itu dilempar begitu saja oleh Pak Kum; sambil berkata “Apa ini?! Motret kok miring-miring!”.

Menurut saya Pak Kumara meletakkan fondasi yang bagus untuk orang yang baru mencoba belajar fotografi seperti saya. Foto bangunan atau arsitektur memang tidak boleh miring. Beliau sempat menjelaskan apa jadinya kalau kita disuruh memotret oleh perusahan real estate dan hasil foto rumah-rumahnya nampak miring seakan mau roboh. Mana ada orang tertarik membeli rumah yang terlihat akan roboh. Menyambung doktrin itu Pak Kumara mengajarkan pentingnya menggunakan tripod dan spirit level saat memotret arsitektur. Bahkan ada Pak Kumara punya teori : “tripod is a must, no tripod no photo”

Biasanya foto bangunan terlihat miring bila kamera tidak sejajar dengan horizon (tidak level). Tanpa tripod akan sangat sulit untuk mendapatkan level yang tepat. Misalnya foto Rydges hotel di atas. Saya pakai iPhone untuk memotretnya. Untuk bisa mendapat foto hotel itu secara utuh, mau tidak mau saya harus mendongakkan iPhone. Sama halnya waktu menggunakan kamera apapun. Mendongakkan kamera ke atas akan menghasilkan foto bangunan yang tampak seperti akan roboh ke belakang. Sebaliknya menundukkan kamera akan menyebabkan objek foto seolah akan roboh ke depan.

Pada kasus saya tadi bila saya mengarahkan kamera pada arah yang sejajar, maka bagian atas hotel akan terpotong tidak masuk dalam frame. Solusi pertama yang mungkin adalah dengan menggunakan lensa wide (lensa super lebar). Tapi dengan lensa wide pun ada efek negatifnya, bagian foreground akan mendominasi frame. Solusi berikutnya adalah pindah ke posisi yang lebih tinggi. Mungkin dengan memotret dari atas atap bangunan lain, atau mungkin dengan naik tangga/crane yang cukup tinggi. Seperti foto di bawah ini, rekan saya Wahyudi naik crane saat melakukan pemotretan bangunan kantor kliennya.

DSC_9120

Solusi berikutnya adalah dengan menggunakan lensa tilt and shift. Jujurnya saya belum pernah mencoba menggunakan lensa jenis ini. Katanya lensa ini sangat populer untuk foto arsitektur.

Kadang saya merasa bersalah bila memotret sesuatu dan hasilnya terlihat miring seolah akan roboh. Tapi kadang momen bisa menjadi alasan. Tanpa tripod dan tanpa lensa super lebar apakah saya jadi batal mengabadikan hotel Rydges tadi? Tentu tidak, karena tujuan saya hanya untuk mengambil foto dokumentasi, mengabadikan hotel di mana saya menginap dan bukan memotret arsitekturnya. Akan menjadi sangat konyol kalau keterbatasan alat menghentikan saya mengabadikan momen. Tapi jauh lebih konyol kalau saya bawa tripod, punya lensa super lebar tapi hasil fotonya tetap saja miring :-).