Instalasi RedHat Linux Via Network

Kalau biasanya saya menginstal Linux dengan cara booting dari CD media instalasinya, kali ini saya mencoba menginstal Linux dengan cara booting dari network. Caranya saya harus  membuat sebuah server yang menyediakan media booting bagi PC lain yang terhubung dengannya. Di lingkungan Linux (dalam hal ini saya pakai Red Hat Linux) ada mekanisme Kickstart Installation.

Lewat Google saya menemukan link tentang instalasi Linux lewat network, berikut adalah panduan yang saya pakai selama utak-atik :

http://www.stanford.edu/~alfw/PXE-Kickstart/PXE-Kickstart.html#toc12

Prinsip bodoh-bodohannya bagaimana mekanisme kickstart adalah seperti ini :

“………….PC yang akan diinstal “dipaksa” untuk booting via network, dia akan mencari DHCP server yang menyediakan alamat IP. Kickstart server diatur supaya bila ada request dari PC tersebut (dia tahu dari MAC address si PC), server akan merespon dengan memberikan alamat IP tertentu. Ok setelah PC mendapat IP, dia akan mencoba menggunakan boot media yang ada pada kickstart server. Proses ini menggunakan protokol TFTP. Setelah boot media berhasil digunakan oleh PC, PC akan mencari bahan-bahan instalasi. Bahan-bahan instalasi ini akan disediakan oleh kickstart server melalui sharing NFS. Selanjutnya proses instalasi akan berjalan otomatis karena di dalam kickstart server sudah disediakan pula aturan-aturan instalasi (bagaimana partisi harddisk, apa passwordnya, aplikasi apa yang perlu diinstal, dsb)………..”

Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan sebelum menuliskan langkah-langkah instalasinya :

  1. Semua konfigurasi ini dijalankan oleh user root.
  2. PC yang akan dipakai sebagai installation server menggunakan sistem operasi Red Hat Linux 5.1. Untuk selanjutnya sebut saja server ini sebagai kickstart-server.
  3. PC kosong yang perlu diinstal selanjutnya kita sebut kickstart-client.

Langkah-langkah yang harus saya lakukan pada kickstart-server adalah seperti berikut ini :

1. Mount DVD Red Hat Linux (saya  pilih Red Hat Linux Enterprise). Pada contoh ini saya menggunakan file ISO image RHEL 5.1

[root@aptserver ~]# mount -o loop /home/tedy/RHEL_5-1.iso /media/iso
mount: /home/tedy/RHEL_5-1.iso already mounted on /media/iso

2. Buat sebuah direktori baru yang akan menyimpan media instalasi. Selanjutnya kita sebut direktori ini sebagai direktori-kickstart.

[root@aptserver ~]# mkdir -p /export/cdrom

3. Salin isi DVD RHEL ke dalam  direktori-kickstart, kali ini saya menggunakan rsync :

[root@aptserver ~]# rsync -rtv /media/iso/ /export/cdrom/
building file list ... done
./
.discinfo
EULA
GPL
README-as.html
README-bn.html
README-de.html
..............
..............
..............
isolinux/rescue.msg
isolinux/splash.lss
isolinux/vmlinuz

sent 2987057878 bytes  received 52700 bytes  11083898.25 bytes/sec
total size is 2986502132  speedup is 1.00

4. Share  direktori-kickstart dengan menggunakan NFS. Caranya adalah dengan mendaftarkan direktori tersebut ke dalam file  /etc/exports seperti pada contoh berikut ini :

[root@aptserver cdrom]# cat /etc/exports
/export/cdrom/      192.168.1.20/255.255.255.0 (ro)
[root@aptserver cdrom]#

Kita juga mengatur komputer mana saja yang boleh mengakses NFS share direktori tersebut. Pada contoh di atas, yang boleh mengakses hanyalah komputer dengan alamat IP 192.168.1.20. Oh ya, client hanya boleh mengakses direktori tersebut secara read only. Setelah konfigurasi selesai baru kita mulai menjalankan service NFS server seperti berikut ini :

[root@aptserver cdrom]# service nfs start
Starting NFS services:                                     [  OK  ]
Starting NFS quotas:                                       [  OK  ]
Starting NFS daemon:                                       [  OK  ]
Starting NFS mountd:                                       [  OK  ]
[root@aptserver cdrom]# service nfs status
rpc.mountd (pid 2460) is running...
[root@aptserver cdrom]# showmount -e
Export list for aptserver:
/export/cdrom 192.168.1.20/255.255.255.0

5. kickstart-client akan mencari media boot yang tersedia di jaringan melalui protokol TFTP (trivial file transfer protocol). Buat sebuah direktori baru yang akan berfungsi sebagai boot directory, selanjutnya kita sebut direktori-TFTP.

[root@aptserver ~]# mkdir /tftpboot/
[root@aptserver ~]# mkdir /tftpboot/pxelinux.cfg/

6. Copy kernel image ke dalam direktori-TFTP :

[root@aptserver ~]# cp /export/cdrom/images/pxeboot/initrd.img /tftpboot
[root@aptserver ~]# cp /export/cdrom/images/pxeboot/vmlinuz /tftpboot

7. Copy file pxelinux.0 ke dalam direktori TFTP. File pxelinux.0 dapat diambil di dalam direktori-kickstart atau bisa juga diambil di dalam /usr/lib/syslinux/  :

[root@aptserver ~]# cp /export/cdrom/syslinux-3.73/core/pxelinux.0 /tftpboot/

8. Buat kickstart profile di dalam direktori-TFTP.  Contohnya seperti berikut ini :

[root@aptserver ~]# cat /tftpboot/pxelinux.cfg/default.netks-7.2
default linux
serial 0,9600n8
label linux ks=192.168.1.5:/export/cdrom/
kernel vmlinuz
append ksdevice=eth0 console=ttyS0,38400 console=tty0 load_ramdisk=1 initrd=initrd.img
network ks=nfs:192.168.1.5:/export/cdrom/ks.cfg
[root@aptserver ~]#

9. Buat softlink dari kickstart profile tadi. Pada contoh di bawah ini, link yang dibuat adalah  C0A80114. Kombinasi itu berasal dari alamat IP 192.168.1.20 yang diubah ke dalam bentuk hexadecimal : 192 -> C0, 168 -> A8, 1 -> 01, 20 -> 14. IP ini adalah alamat IP yang akan dipakai oleh  kickstart-client, akan dibahas di langkah selanjutnya.

[root@aptserver pxelinux.cfg]# ln -s default.netks-7.2 C0A80114
[root@aptserver pxelinux.cfg]# ls -lh
total 8.0K
lrwxrwxrwx 1 root root  17 Jan 31 04:30 C0A80114 -> default.netks-7.2
-rw-r--r-- 1 root root  38 Jan 31 02:04 default
-rw-r--r-- 1 root root 222 Jan 31 05:01 default.netks-7.2

10. Tahap berikutnya adalah menginstal TFTP server . Pada contoh ini saya menggunakan atftpd sebagai TFTP server. Oh ya karena paket atftpd tidak tersedia di dalam DVD instalasi Red Hat, jadi saya harus download dulu.

[root@aptserver ~]# wget http://www.silfreed.net/download/repo/packages/atftp/atftp-0.7-5.fc8.i386.rpm
--04:18:14--  http://www.silfreed.net/download/repo/packages/atftp/atftp-0.7-5.fc8.i386.rpm
Resolving www.silfreed.net... 66.59.109.136, 2002:423b:6d88::1
Connecting to www.silfreed.net|66.59.109.136|:80... connected.
HTTP request sent, awaiting response... 200 OK
Length: 83279 (81K) [application/x-rpm]
Saving to: `atftp-0.7-5.fc8.i386.rpm'

100%[====================================================================================>] 83,279   28.0K/s   in 2.9s

04:18:18 (28.0 KB/s) - `atftp-0.7-5.fc8.i386.rpm' saved [83279/83279]

[root@aptserver ~]# rpm -i atftp-0.7-5.fc8.i386.rpm
warning: atftp-0.7-5.fc8.i386.rpm: Header V3 DSA signature: NOKEY, key ID ed00d312
error reading information on service atftp: No such file or directory
error: %post(atftp-0.7-5.fc8.i386) scriptlet failed, exit status 1
[root@aptserver ~]#
[root@aptserver ~]# rpm -ivh atftp-0.7-5.fc8.i386.rpm
warning: atftp-0.7-5.fc8.i386.rpm: Header V3 DSA signature: NOKEY, key ID ed00d312
Preparing...                ########################################### [100%]
package atftp-0.7-5.fc8 is already installed
[root@aptserver ~]#

11. Setelah TFTP server terinstal, yang harus dilakukan adalah melakukan konfigurasi seperti berikut ini :

[root@aptserver ~]# /usr/sbin/atftpd --daemon --no-multicast --group nobody --tftpd-timeout 0 -m 1000 /tftpboot/

Dengan perintah di atas, kita memberitahu TFTP server untuk menggunakan /tftpboot/ sebagai direktori TFTP.

12. Saat mulai proses booting dari network, kickstart-client akan meminta alamat IP dari kickstart-server. Oleh karenanya, selain menjalankan TFTP server,  kickstart-server juga berfungsi sebagai DHCP server. Untuk menjalankan servis DHCP di Red Hat Linux, kita harus mengatur file /etc/dhcpd.conf terlebih dulu. Lihat contohnya sebagai berikut :

[root@aptserver Server]# cat /etc/dhcpd.conf
#
# DHCP Server Configuration file.
#   see /usr/share/doc/dhcp*/dhcpd.conf.sample
#
ddns-update-style interim;
ignore client-updates;
default-lease-time 600;
max-lease-time 7200;
deny unknown-clients;
not authoritative;
option domain-name "tedytirta.com";
option subnet-mask 255.255.255.0;
option broadcast-address 192.168.1.255;
allow bootp;
allow booting;
subnet 192.168.1.0 netmask 255.255.25.0 {
range 	192.168.1.18 192.168.1.21;
option routers		192.168.1.1;
option subnet-mask	255.255.255.0;
}
group {
next-server 192.168.1.5;
filename "gpxelinux.0";
host JumpstartClient {
hardware ethernet 08:00:27:E4:57:BB;
fixed-address 192.168.1.20;
}
}
[root@aptserver Server]#

Di dalam file/etc/dhcpd.conf kita mendaftarkan MAC address dari kickstart-client supaya bisa memperoleh IP address. Selain itu pada contoh di atas, saya juga mendefinisikan bahwa kickstart-client akan menggunakan alamat IP 192.168.1.20. Setelah file /etc/dhcpd.conf selesai diatur, baru kita bisa menjalankan DHCP server seperti terlihat pada contoh berikut ini :

[root@aptserver Server]# service dhcpd start
Starting dhcpd:                                            [  OK  ]
[root@aptserver Server]#

13. Langkah terakhir adalah membuat sebuah file konfigurasi. File ini mendeskripsikan proses instalasi yang harus dijalankan oleh kickstart-client (bagaimana partisi harddisk, apa password rootnya, aplikasi apa yang perlu diinstal, alamat IP yang harus dipakai, dsb). File ini disimpan di dalam  direktori-kickstart. Dengan adanya file ini tidak perlu lagi ada intervensi user pada saat instalasi, kita cukup boot kickstart-client lewat network dan tunggu sampai instalasi selesai. Makanya penting sekali mengatur file ini, file ini mendeskripsikan segala detail proses instalasi. Lihat contohnya berikut ini :

[root@aptserver cdrom]# cat /export/cdrom/ks.cfg
# Kickstart file automatically generated by anaconda.
install
text
nfs --server 192.168.1.5 --dir /export/cdrom
key --skip
lang en_US.UTF-8
keyboard us
network --device eth0 --bootproto=static --ip=192.168.1.231 --netmask=255.255.255.0 --gateway=192.168.1.1
rootpw --iscrypted $1$.dZrkeXj$CLB4rgZWpI7bzX5W5NINS/
firewall --enabled --port=22:tcp
authconfig --enableshadow --enablemd5
reboot
selinux --enforcing
timezone --utc Asia/Jakarta
bootloader --location=mbr --driveorder=hda --append="acpi=off rhgb quiet"
clearpart --all --drives=hda --initlabel
part /boot --fstype ext3 --size=100 --ondisk=hda --asprimary
part / --fstype ext3 --size=1024 --grow --ondisk=hda --asprimary
part swap --size=128 --grow --size=256 --ondisk=hda --asprimary
%packages
@mysql
@editors
@system-tools
@text-internet
@legacy-network-server
@dns-server
@dialup
@core
@base
@ftp-server
@network-server
@java
@smb-server
@base-x
@kde-desktop
@development-libs
@web-server
@printing
@mail-server
@server-cfg
@sql-server
@admin-tools
@development-tools
@graphical-internet
audit
kexec-tools
bridge-utils
device-mapper-multipath
dnsmasq
vnc-server
#xorg-x11-utils
xorg-x11-server-Xnest
xorg-x11-server-Xvfb
-compiz-kde
-knetworkmanager
-amarok
imake
-sysreport
mc
festival
libgnome-java
libgtk-java
libgconf-java
kexec-tools
%post
useradd -d /home/tedy -m -p tedy123 tedy
mv /etc/motd /etc/motd.orig
echo "" >> /etc/motd
echo "========================================" >> /etc/motd
echo " Kickstart Client Server" >> /etc/motd
echo "========================================" >> /etc/motd
echo "" >> /etc/motd
[root@aptserver cdrom]#

Pada contoh di atas, password root yang saya pakai dalam bentuk terenkripsi. Supaya mudah, saya salin saja password kickstart-server (lihat dari file  /etc/passwd ).

Ok sampai di sini semua konfigurasi kickstart-server sudah selesai. Tinggal tes, lihat hasil yang saya dapat :

Dalam contoh ini  kickstart-client yang saya pakai adalah sebuah virtul mesin (dibuat dengan Sun VirtualBox). Saya masuk BIOSnya lalu saya set supaya boot via network. Dan lihat proses instalasi berjalan otomatis sampai selesai. Saya tinggal tunggu sampai muncul halaman login…..ah senangnya 😀 Proses ini berguna sekali kalau ingin menginstal Linux ke dalam beberapa PC sekaligus.

Wah ternyata tulisan ini panjang sekali, lega juga bisa selesai menulisnya di blog ini. Padahal sudah lama juga saya melakukan tes instalasi kickstart. Ok sekarang saatnya berangkat ke kantor :-p

Synaptic & DVD Repo Ubuntu 8.04

Di lingkungan Ubuntu, semua software disimpan dalam repository. Ada repository yang ditaruh dalam server, ada juga yang disebarkan dalam bentuk DVD. Saya kenal dengan yang namanya DVD repository Ubuntu sejak versi 7.04. Dengan menggunakan DVD repository, kita tidak perlu koneksi internet untuk mengakses software dari server repository. Walaupun kita punya akses internet, tentu akan lebih menyenangkan memiliki repository lokal (dalam bentuk DVD) karena proses instalasi akan jauh lebih cepat daripada harus mengakses server repository lewat internet.

Ubuntu Linux punya aplikasi yang namanya Synaptic, Synaptic berfungsi me-manage semua aplikasi (software) yang dapat diinstal ke dalam Ubuntu. Secara default, Syanptic akan mencoba mengakses server-server repository Ubuntu untuk membuat daftar software/aplikasi. Untuk mendaftarkan semua software yang ada di dalam DVD repository kita harus menjalankan perintah berikut ini :

$ sudo apt-cdrom add

Dengan perintah tersebut, Synaptic akan mengenali bahwa DVD yang kita gunakan adalah repository-nya Ubuntu. Perintah tersebut harus kita ulangi untuk semua DVD repository yang kita miliki. Tulisan tentang hal ini sebenarnya sudah pernah saya tulis di sini.

Beberapa hari lalu saya sudah mendapat file image dari DVD repository Ubuntu 8.04 dari teman saya Salman. Semuanya ada 5 iso image saya simpan dalam eksternal harddisk saya. Daripada repot mengkopi semuanya ke dalam kepingan DVD, saya cari cara untuk menggunakan iso image tadi. Googling sebentar saya menemukan caranya, seperti ini :

  1. Buat mount point untuk tiap iso image, misalnya seperti ini :
    tedy@tedy-laptop:/$ sudo mkdir /media/ubuntu1
    tedy@tedy-laptop:/$ sudo mkdir /media/ubuntu2
    tedy@tedy-laptop:/$ sudo mkdir /media/ubuntu3
    tedy@tedy-laptop:/$ sudo mkdir /media/ubuntu4
    tedy@tedy-laptop:/$ sudo mkdir /media/ubuntu5
    
  2. Mount satu persatu iso image ke dalam mount point yang sudah dibuat, seperti ini:
    tedy@tedy-laptop:/media/SENSE/DVD$ sudo mount -o loop ubuntu-8.04-repository-i386-1_contrib.iso /media/ubuntu1
    tedy@tedy-laptop:/media/SENSE/DVD$ sudo mount -o loop ubuntu-8.04-repository-i386-2_contrib.iso /media/ubuntu2
    tedy@tedy-laptop:/media/SENSE/DVD$ sudo mount -o loop ubuntu-8.04-repository-i386-3_contrib.iso /media/ubuntu3
    tedy@tedy-laptop:/media/SENSE/DVD$ sudo mount -o loop ubuntu-8.04-repository-i386-4_contrib.iso /media/ubuntu4
    tedy@tedy-laptop:/media/SENSE/DVD$ sudo mount -o loop ubuntu-8.04-repository-i386-5_contrib.iso /media/ubuntu5
    
    
  3. Jalankan perintah apt-cdrom dengan tambahan opsi supaya Synaptic membaca mount point file iso image tadi, karena secara default Synaptic akan mencoba membaca CDROM (Perintah ini pun saya ulangi untuk semua mount point.) :
    tedy@tedy-laptop:/$ sudo apt-cdrom -d /media/ubuntu1 -m add
    Using CD-ROM mount point /media/ubuntu1/
    Identifying.. [c1d618279cfb4e10ca09f0e1bc5dd8b4-2]
    Scanning disc for index files..
    Found 2 package indexes, 0 source indexes, 0 translation indexes and 0 signatures
    This disc is called:
    'Ubuntu 8.04 _Hardy Heron_ - i386 - DVD Repository - Disc 1 of 5'
    Reading Package Indexes... Done
    Writing new source list
    Source list entries for this disc are:
    deb cdrom:[Ubuntu 8.04 _Hardy Heron_ - i386 - DVD Repository - Disc 1 of 5]/ hardy main restricted
    Repeat this process for the rest of the CDs in your set
    
  4. Edit file /etc/apt/source.list, hapus seluruh isinya (untuk melarang Synaptic mendownload software dari server repository) dan ganti isi file dengan baris perintah berikut :
    deb file:///media/ubuntu1 hardy main restricted
    deb file:///media/ubuntu2 hardy main multiverse universe
    deb file:///media/ubuntu3 hardy universe
    deb file:///media/ubuntu4 hardy universe
    deb file:///media/ubuntu5 hardy universe
    
  5. Yang perlu diperhatikan adalah DVD repository harus dimount secara tepat sesuai isi DVD tersebut. Karena ada 3 macam repository : main restricted, main multiverse, dan universe. Pada contoh di atas, DVD main restricted saya mount ke /media/ubuntu1 , DVD multiverse saya mount ke /media/ubuntu2 , dan 3 DVD universe saya mount berurutan di /media/ubuntu3, /media/ubuntu4, dan /media/ubuntu3 . Lalu bagaimana kita tahu mana iso image yang merupakan main restricted, main multiverse, dan universe….gampang, lihat saja isinya seperti contoh berikut ini :
    tedy@tedy-laptop:/$ ls /media/ubuntu1/dists/hardy/
    main  restricted
    tedy@tedy-laptop:/$ ls /media/ubuntu2/dists/hardy/
    main  multiverse  universe
    tedy@tedy-laptop:/$ ls /media/ubuntu3/dists/hardy/
    universe
    tedy@tedy-laptop:/$ ls /media/ubuntu4/dists/hardy/
    universe
    tedy@tedy-laptop:/$ ls /media/ubuntu5/dists/hardy/
    universe
    
  6. Update Synaptic supaya mengenali semua mount point tadi bilamana nanti akan menginstal software, perintahnya adalah :
    tedy@tedy-laptop:/$ sudo apt-get update

Dengan cara ini saya tidak perlu lagi membakar iso image ke dalam kepingan DVD. Dulu waktu menggunakan Ubuntu 7.04 tiap kali ingin menginstal sesuatu dengan bantuan Synaptic, saya harus bolak-balik mengganti-ganti DVD. Dengan menggunakan iso image, saya tinggal mount saja semua file iso image tadi dari dalam eksternal harddisk ke dalam mount point yang sudah dibuat. Syanptic akan mencari sendiri di dalam DVD yang mana software yang perlu diinstal berada. Tapi resikonya adalah saya buang sekitar 20GB ruang di harddisk eksternal saya untuk menyimpan kelima file iso image repository tadi 🙂

Mengubah Ukuran Partisi Harddisk

Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya mengubah ukuran partisi di Lifebook S7110. Ini cerita pertama saya utak-atik notebook kantor ini setelah Senin lalu saya dapat penggantian notebook.

Dua hari yang lalu saya coba mengubah ukuran partisi dalam harddisk notebook ini dengan menggunakan Partition Magic. Tapi ternyata terjadi keanehan. Setelah Partition Magic diinstal ke dalam Windows, saya tidak dapat membuka program ini. Tampilan yang muncul katanya program gagal membaca drive letter tiap partisi yang ada. Lihat screenshot-nya ini :

partitionmagic

Setelah mencoba me-restart Windows pun hal yang sama tetap saja terjadi. Bahkan beberapa kali terjadi BOD (blue screen of death)….alias Windows panic. Niat saya awalnya adalah mengecilkan ukuran partisi yang digunakan oleh Windows supaya saya punya ruang lebih untuk menginstal Linux ke dalam notebook ini. Padahal saya sudah menjalankan Partition Magic sebagai Administrator.

Lalu saya coba nekat saja menginstal OpenSUSE 10.3 ke dalam notebook ini. Baru muncul tampilan GUI instalasinya sudah muncul peringatan bahwa partisi harddisk yang ada di dalam notebook ini tidak dapat diubah ukurannya. Jadi saya hanya bisa menggunakan partisi yang sudah ada, tinggal pilih mau diinstal kemana OpenSUSEnya…..ke dalam drive D atau ke dalam drive C. Waduh…repot kalau begini. Program pemartisi bawaan OpenSUSE (apa ya namanya? gparted kah?) tidak bisa mengubah partisi yang sudah ada di dalam harddisk Fujitsu MHW2080BH ini.

Rasanya kurang lengkap punya notebook tidak dilengkapi Linux. Untung tadi teman saya, Adrianus memberi saran yang tepat. Dia menyarankan saya menggunakan Acronis Disk Director 10. Canggih nih program. Setelah diinstal ke dalam Windows, Acronis Disk Director mampu mengenali 2 partisi yang sudah ada di dalam harddisk. Tinggal pilih menu untuk mengubah ukuran partisi, saya dapat dengan mudah menciptakan sedikit ruang bebas di dalam harddisk ini. Ruang bebas ini nantinya akan saya isi dengan Linux (entah apa distronya 😀 ). Lihat nih tangkapan layar saat Acronis Disk Director ini bekerja :

acronis

Ok, saya belum sempat membagi-bagi harddisk ini seluruhnya. Tadi saya cuma mengecilkan partisi D. Ok ini saya jadikan mainan saja untuk nanti malam di rumah….membereskan partisi-partisinya Windows, lalu menginstal Linux :).

Mainan Baru Lagi

Notebook inventaris dari kantor saya diganti hari ini. Sejak beberapa bulan lalu saya menggunakan notebook Fujitsu Lifebook S6130…notebook bekas entah siapa yang pakai. Hari ini saya dikabari untuk mengambil notebook baru di divisi IT. He..he..he..akhirnya setelah sekian lama dapat juga penggantian notebook baru. Kali ini saya diberi Fujitsu Lifebook S7110. Tampilannya kurang lebih seperti ini :

s7110

Jadi hari ini saya pindahan semua data yang ada di notebook lama ke notebook baru ini. Spesifikasi Fujitsu Lifebook S7110 ini cukup powerfull, penasaran untuk segera diutak-atik (di-install-in macem-macem). Berikut adalah daftar spesifikasi Fujitsu Lifebook S7110 :

  • Intel® Core™ 2 Duo Processor T5600 @1,66GHz
  • Memory : 1 GB
  • Intel® 945GM Express Chipset
  • Intel® PRO/Wireless 3945BG network connection
  • Harddisk 80GB
  • Dual Layer DVD Super Multi Writer
  • Integrated Intel® Graphics Media Accelerator 950 with DVMT
  • RealTek ALC262 HD audio codec with dual built-in stereo speakers, HD Audio-in: External Mic-in, Line-in, Built-in Microphone, HD Audio-out: Headphone-out, Line-out
  • PC Card Type II, Smartcard Support ExpressCard™ , Secured Digital / Memory Stick® /Memory Stick® PRO / xD Card
  • Connector Interface USB 2.0 x 3, VGA (external display), RJ45 (LAN), RJ11 (modem), IEEE1394, mini S-Video out, HDA-in, HDA-out, Power Adapter DC-in, Port Replicator Interface.
  • Lengkapnya lihat di sini 😀

Entah berapa lama notebook ini akan berada di tangan saya 🙂 Tunggu saja apa yang bisa saya lakukan dengan notebook ini.

Sharing Internet Over WLAN

Eksperimen pagi ini sebelum berangkat kerja, sambil menunggu hujan reda.

Notebook saya terhubung ke modem Speedy dengan menggunakan kabel LAN. Saya menggunakan pengaturan IP dinamik untuk koneksi Speedy ini. Eksperimennya adalah menghubungkan notebook teman saya via Wireless LAN. Saya buat koneksi AdHoc antara notebook saya dengan notebook teman saya. Ini pernah saya bahas di tulisan saya yang judulnya Bertukar Data dengan Wireless LAN. Wireless LAN interface di notebook saya, saya beri IP 192.168.0.1. Menurut Windows, untuk dapat menggunakan Internet Connection Sharing IP yang digunakan harus 192.168.0.*.

Yang perlu diatur adalah menyalakan opsi Internet Connection Sharing di koneksi LAN saya (koneksi wireline yang dipakai Speedy). Lalu saya harus menyalakan DHCP server supaya notebook teman saya dapat memperoleh IP dinamik dari komputer saya. Selain DHCP server saya juga harus mengaktifkan DNS servis. Lihat contoh berikut ini :

internet connection sharing

Nah beres…teman saya sekarang bisa internetan dari Speedy saya. Tugas saya sekarang tinggal menyiapkan bon tagihan pemakaian internet teman saya =))