Dogdog (part 2)

Kemarin saya cerita tentang nasi goreng dogdog, malam ini saya lengkapi cerita tentang dogdog. Barusan saya makan malam bihung goreng dogdog (Rp7000,-). Sedap ;)) Tidak lupa saya ambil foto tukang dogdognya plus gerobaknya; lengkap dengan kentongan dogdog ciri khas nasi goreng ini. Habis makan, langsung deh bikin kumpulan foto dogdog malam ini dengan bantuan Comic Life lagi 😀

Abis makan edit foto, abis edit foto posting ke blog, abis posting? Tidur dong =)) , udah jam 11 lebih nih…

Nasi Goreng DogDog

Menu makan malam hari ini : nasi goreng dogdog. Difoto dulu ah sebelum dimakan…

Mari saya perkenalkan dengan nasi goreng dogdog. Bukan nasi goreng anjing-anjing loh ya…=)) Lain kali saya harus foto gerobak dan bapak penjualnya biar jelas info tentang nasi goreng dogdog ini.  Nasi goreng dogdog, disebut dogdog karena yang jual punya kentongan khas dari bambu yang bunyinya kira-kira “dog dog dog….dog dog dog….”. Tidak seperti penjual nasi goreng keliling biasa yang menjajakan dagangannya sambil memukul-mukul wajan; kalau yang ini namanya tukang nasi goreng tektek :-p .

Saya suka sekali makan nasi goreng dogdog, rasanya lebih mirip ke nasi goreng restoran. Mungkin itu karena nasi goreng ini dimasak dengan menggunakan bawang putih, persis gaya masakan Chinese. Bawang putih dimemarkan dulu, lalu langsung dimasukkan saat minyak goreng sudah panas. Bawang putih masuk ke wajan duluan sehingga wanginya khas sekali Chinese food. Selain nasi goreng, penjualnya juga bisa menyediakan mie, bihun, kwetiau goreng. Top lah rasanya. Sampai saat ini sih sepertinya halal, karena saya tidak mencium sama sekali rasa babi di dalam nasi goreng ini.

Saya selalu memesan nasi/bihun goreng pedas. Bagi saya lebih pedas, lebih nendang. Oh ya, satu lagi ciri khas nasi goreng dogdog : dia dilengkapi kerupuk udang yang cukup besar. Lebih mantap daripada kerupuk bawang yang selalu menyertai nasi goreng tektek. Harga nasi/bihun/kwetiau goreng sekarang Rp 7000,- Lebih mahal daripada harga nasi goreng tektek. Kali ini saya bisa bilang, harga tidak bohong.

Di dekat tempat saya tinggal penjual nasi goreng dogd0g cukup banyak, ada di sekitar Jalan Mandala dan kompleks Gelong…pokoknya cukup gampang mencari nasi goreng dogdog di daerah Tomang. Jangan sampai salah kalau mencari nasi goreng dogdog, lihat dulu ada kentongan bambu besar tidak di gerobaknya.

Rawon Setan

Semalam saya bersama rekan-rekan saya mencoba makan di rumah makan Rawon Setan (mbak Endang) di Boulevard Kelapa Gading. Awalnya sekitar pukul 12.00 kami bertiga baru pulang main biliar di La Piazza. Budy rekan saya kelaparan, belum makan malam….(saya juga lapar sih :-p ). Putar-putar Kelapa Gading akhirnya mampirlah kami ke Rawon Setan ini.

Saya pernah melihat liputan tentang rumah makan ini di televisi. Tapi yang saya pernah saya lihat adalah rumah makan yang ada di Surabaya. Rupanya ada juga cabangnya di Jakarta. Semangkuk rawon dihargai Rp20000,- tambah nasi kalau tidak salah Rp3000,-. Ada juga pilihan nasi rawon (nasinya sudah dicampur ke dalam rawon) harganya cuma Rp15000,-. Entah kenapa rawon campur ini lebih murah.

Rawonnya mantap, potongan daging sapinya besar-besar & empuk. Sambalnya pueedessss sekali. Mungkin karena pedasnya ini makanya rawon di sini dinamai Rawon Setan…..pedasnya pedas Setan. Atau mungkin karena rumah makan ini buka sampai jam 2 dini hari (mulai buka pukul 9 pagi). Bagi yang suka rawon mungkin tidak perlu repot ke Surabaya untuk mencoba Rawon Setan; tinggal datang saja ke Kelapa Gading.

Update :
eh ternyata di Casablanca ada juga rumah makan yang sama….

Pecel, Hujan, & Macet

Apa hubungannya pecel, hujan, dan macet? Ketiganya memang tidak ada hubungannya, kecuali kalau hujan Jakarta pasti tambah macet 🙂 . Ini cuma cerita tentang kegiatan saya siang ini. Siang ini saya pergi ke Serpong untuk instal sesuatu di mesin Fujitsu Primepower 1500 milik salah satu client kantor saya. Mungkin cerita tentang instalasi ini bukan hal yang menarik untuk dituliskan.

Mungkin lebih menarik kalau saya menuliskan pengalaman saya makan pecel madiun di daerah Serpong. Atas rekomendasi rekan saya, kami makan siang di rumah makan Pecel Madiun. Tempatnya di Jl. Ciater Barat Raya Rawabuntu BSD, Serpong – Tangerang.

Tempatnya asik sekali untuk duduk-duduk melepas lelah sambil makan. Dari jalan raya, tidak nampak keramaian rumah makan, keramaian pengunjung pun tidak tampak. Tahu kenapa? Karena parkiran mobilnya berada di dalam kompleks rumah makan itu. Rumah makan ini cukup luas, parkiran mobil yang cukup padat mungkin bisa dijadikan indikator bahwa rumah makan ini cukup terkenal. Kompleks ini ditanami banyak pohon, dari pohon rambutan, pohon jeruk, pohon lamtoro, dll. Tanah lapang dengan rumput tertata rapi di tengah kompleks. Kita bisa memilih dimana kita akan makan, bisa makan di bangun utama rumah makan, bisa di tengah-tengah lapangan di bawah tenda-tenda, atau di pendopo-pendopo (pendopo atau bungalow ya namanya :D) di tengah lapangan…asri sekali pemandangan di tempat ini. Ada pendopo yang dilengkapi dengan meja dan kursi, ada juga pendopo yang cuma dilengkapi dengan meja (silakan duduk lesehan). Tadi saya memilih duduk di bawah tenda, cukup teduh karena tepat di bawah pohon rambutan.

Menunya standar saja sebenarnya nasi pecel, empal daging, paru goreng, tahu/tempe bacem, dll. Harganya memang tidak mahal, sepiring nasi pecel (nasi, pecel sayur, peyek kacang) cuma Rp10.000,- (sayang nasinya terlalu sedikit 🙁 ). Rasanya cukup enak…layak direkomendasikan. Walaupun siang ini pengunjung yang makan cukup ramai tapi suasananya tetap terasa “sepi”, cocok untuk meeting atau sekadar ngobrol sambil makan siang. Mungkin ini pengaruh dari luasnya tanah lapang sehingga suara dari pengunjung lain cepat terbawa angin,..he..he.. 😀 Tapi sayang jauh euy dari Jakarta.

Pulang dari Serpong sekitar pukul 13.00 lalu lintas tol Jakarta Merak padat apalagi mendekati Slipi…wuih, macet…..Saat sampai di Kebon Jeruk hujan mulai turun. Di radio diberitakan Jakarta dilanda hujan badai, pohon tumbang dimana-mana. Memang betul macet…begitu keluar di Tomang, Slipi menuju Semanggi benar-benar padat…belum lagi di Slipi sudah dibangun jalur busway. Tadi saya juga melihat di dekat Jakarta Design Centre ada juga pohon tumbang entah ada korban atau tidak. Mudah-mudahan tidak ada korban.

Nah begitu kira-kira ceritanya….jelas kan hubungannya sekarang antara pecel, hujan, & macet. Pulang makan pecel, kena macet gara-gara hujan =))