Jakarta Sunset

Dari pagi sampai siang hari ini cuaca di Jakarta sangat tidak bersahabat, panas terik luar biasa. Menjelang pukul 3, langit mulai dihiasi mendung yang cukup gelap. Angin berhembus kencang di luar, terlihat dari jendela kantor pohon-pohon palem bergoyang hebat dihembus angin. Hujan turun dengan derasnya, percikan air yang menghempas kaca jendela cukup jadi indikator seberapa kuat hujan angin sore ini. Hujan mulai mereda sekitar pukul 5 sore tadi. Ajaib, langit Jakarta berubah jadi indah sekali setelah hujan sekian jam tadi. Langit menjadi orange dengan gradasi halus kekuning-kuningan.

Langsung keluarkan kamera poket dan berdiri di dekat jendela. Jepret satu dua kali, sayang tirai jendela jadi ikut terekam dalam foto. Tidak kurang akal saya ambil sehelai kertas HVS untuk menutupi salah satu sisi kamera agar tirai-tirai jendela tidak ikut masuk ke dalam foto. Hasilnya memang tidak maksimal, cukup lah untuk dokumentasi. Hasilnya seperti ini :

Ah indahnya langit sore ini, tidak seindah macetnya jalanan ibukota yang dilaporkan sudah macet di mana-mana. Jakarta dan hujan tidak pernah harmonis, hujan pasti akan diikuti oleh kemacetan di mana-mana. Tapi paling tidak saya dapat sesuatu yang indah dari hujan di Jakarta, langit yang indah untuk difoto 😀

Blue Sky

Hari ini cuaca Jakarta panas terik, angin berhembus kencang sekali. Mungkin tidak semua lokasi di Jakarta tapi di daerah Mega Kuningan begitulah adanya. Pagi tadi rekan saya bilang langit Jakarta hari ini bagus untuk difoto. Saat pergi makan siang saya lihat memang benar langit Jakarta cerah dan bagus untuk diabadikan. Berikut hasil jepret-jepret sepulang makan siang tadi :


Memang tidak ada ruginya tiap hari pergi sambil bawa kamera digital, pocket digicam pun jadilah 😀

Selamat Tahun Baru 2010

Tulisan yang sudah cukup basi…saya terlambat mem-posting ucapan selamat tahun baru ini. Tapi tak apa, masih dalam suasana tahun baru 2010 ijinkan saya mengucapkan selamat tahun baru 2010 bagi Anda semua. Tulisan ini sekaligus jadi tulisan pertama di tahun 2010 blog ini. Tahun 2009 lalu jumlah tulisan saya menurun jauh dibandingkan tahun 2008, semoga di tahun 2010 saya bisa lebih giat lagi menulis.

Kartu ucapan tahun baru di atas adalah foto kembang api yang saya potret di malam pergantian tahun kemarin. Hari Rabu 31 Desember 2009, sekitar pukul 21 kembang api sudah mulai menghias langit Jakarta. Saya naik ke atap dan mencoba memotret beberapa kembang api. Hasilnya masih jauh dari bagus, kembang api yang tertangkap kamera hanya yang dilontar orang di sekitaran kos. Kembang apinya tidak sebagus yang dilontarkan di Monas ataupun di Bundaran HI. Ya sudah tak apa, yang penting sekarang tahu caranya memotret kembang api 😀

Selamat Natal 2009

Selamat Natal 2009 & selamat menyambut tahun baru 2010 🙂

Sedikit nyeleneh dari umumnya kartu ucapan natal, saya pilih foto bunga yang saya ambil di TMII beberapa minggu lalu. Umumnya memang kartu ucapan selamat natal bergambar pohon Natal, hiasan-hiasannya, salju, sinterklas, dan segala pernak-pernik Natal lainnya. Yah pokoknya apapun gambarnya ucapannya tetap sama : Selamat Merayakan Natal bagi Anda yang merayakan. Tak lupa selamat menyambut tahun baru 2010 bagi Anda semua.

DIY Snoot & Grid

Beberapa artikel di website DIY Photography cukup menginspirasi saya untuk membuat beberapa alat untuk memanipulasi cahaya. DIY itu singkatan dari “Do It Yourself”, alias buat sendiri peralatanmu…..kreatif & kurang modal memang tipis bedanya =)) (kurang modal atau kurang kerjaan ya :p ) Tapi memang kekreatifan yang dicontohkan itu cukup menarik untuk dicontoh dan dipraktekan sendiri. Di tulisan ini saya sekadar ingin bercerita tentang 2 alat yang saya pakai untuk mengatur bentuh cahaya yang dihasilkan oleh flash kamera (external flash tentunya).

Yang pertama saya coba beberapa minggu lalu adalah snoot. Contohnya saya baca di sini. Snoot dibuat untuk membuat cahaya menjadi lebih terfokus pada satu titik saja. Di webnya disarankan membuat snoot dengan bahan berwarna hitam. Karena hanya memanfaatkan barang-barang yang bisa saya jangkau di kamar, saya hanya bisa menemukan karton putih. Itupun awalnya adalah sebuah map yang saya ambil waktu saya menginap di Hotel Sunan Solo ;)) Kartonnya saya potong menjadi sebuah persegi panjang, ukurannya saya sesuaikan dengan kepala flash terlebih dulu. Setelah dipotong lalu digulung dan direkatkan dengan menggunakan selotip. Hasilnya seperti ini :

Hasil foto dengan snoot terpasang pada flash lebih kurang seperti ini :

Ada apel di kulkas milik teman saya, saya pinjam sebentar jadi objek percobaan 🙂 Difoto di atas meja pinjaman berlapis kain hitam sebagai backdrop.

Barang kedua yang saya contoh dari websitenya DIY Photography adalah honeycomb atau disebut juga grid. Grid ini fungsinya meredam kekuatan cahaya dan memperkecil cakupan area yang terkena cahaya flash. Tutorialnya saya contek dari sini. Hmm tapi karena saya tidak punya bahannya, saya memilih mencontek tulisan dari blognya strobist. Bahan dasarnya cuma karton bekas, memanfaatkan tekstur kardus yang berlubang-lubang. Kardus dipotong kecil-kecil dan direkatkan satu sama lain sampai menjadi seperti ini :

Hmm walaupun grid itu sudah saya buat beberapa minggu lalu, baru kemaren sore saya coba lagi untuk memotret. Karena tidak ada model maka saya aktifkan saklar narsis saya sebentar :p Jadilah self portrait seperti berikut ini :

Foto di atas di ambil dengan kecepatan 1/200 supaya cahaya lampu kamar tidak ikut tertangkap kamera. Jadi walaupun kamar saya terang benderang, saya tetap bisa mendapatkan background yang gelap total. Dengan grid terpasang di flash, cahaya yang keluar hanya bisa menyinari area yang sempit. Cahaya flash sudah diredam sehingga area di belakang saya tetap gelap. Tanpa grid, bagian kamar di belakang saya pasti terlihat dengan jelas. Awalnya sempat bingung juga karena berkali-kali cahaya flash terpantul di kacamata saya. Teorinya saya harus meletakkan posisi flash di posisi yang tepat supaya cahayanya tidak terpantul di kacamata. Akhirnya menemukan posisi yang tepat, flash harus sedikit lebih tinggi dari mata saya. Sayang kemaren batere flash saya yang lain habis, tadinya saya mau coba juga memotret dengan 2 flash. Flash yang lain sebagai rim lights, sedikit menyinari kepala saya dari belakang (paling tidak jadi terlihat mana rambut gondrong saya 😀 ). Ya sudah mau tidak mau kemaren saya harus cukup puas dengan 1 flash saja.