Nuansa Liburan

Pagi ini saya berangkat ke kantor seperti biasa, kantor saya baru mulai libur Jumat besok. Nuansa libur sudah terasa di Jakarta sejak kemarin sore. Pagi ini jalan-jalan yang biasanya padat terlihat lengang. Sungguh enak jalan-jalan di Jakarta pada hari-hari di sekitar lebaran seperti sekarang ini, bebas macet. Di kantor saya pun nuansa libur terasa sekali. Banyak rekan-rekan yang sudah mengambil cuti hari ini. Sepi juga rasanya 🙂 .. tapi menyenangkan, tidak ada beban kerja seperti hari-hari biasanya.

Bagaimana liburan Anda? Mudik kah Anda lebaran kali ini?  Apapun yang Anda lakukan liburan kali ini, I just wanna say : enjoy your holiday 🙂 Selamat berlibur, selamat berlebaran bagi Anda yang merayakan.

Libur Tambah Lagi

Libur Lebaran tahun ini awalnya dijadwalkan jatuh pada tanggal 12-16 Oktober 2007. Dengan perhitungan tanggal 12, 15, dan 16 adalah hari cuti bersama. Baru Selasa lalu diumumkan bahwa cuti bersama nasional diperpanjang sampai tanggal 19 Oktober 2007. Ada yang suka dan ada juga yang merasa kesal dengan adanya perpanjangan libur nasional ini.  Saya tidak termasuk keduanya. Minggu lalu saya memang sudah mengajukan cuti untuk tanggal 17,18.19 sehingga tidak menjadi masalah bagi saya libur cuti bersama diperpanjang atau tidak. Yang merasa kesal dengan perpanjangan ini antara lain adalah orang yang sudah membeli tiket kembali dari kampung halaman dan orang yang jatah cutinya sudah hampir habis. Bayangkan saja jatah cuti yang sudah hampir habis dirampok lagi dengan cuti bersama ini.

Saya sendiri merasa aneh dengan yang namanya cuti bersama nasional. Ngapain sih pemerintah ikut-ikutan mengatur cuti karyawan. Mau memberi libur pada para pegawai negeri? Saya lebih setuju kalau pemerintah menetapkan hari libur nasional saja sekalian…tanpa mengganggu urusan pribadi tiap karyawan. Dengan cuti bersama nasional ini saya dan banyak karyawan lain tidak punya pilihan dengan pemotongan jatah cuti tahunan. Jatah cuti yang seharusnya bisa digunakan untuk keperluan lain bisa-bisa habis terpotong momen seperti ini. Kalau seorang karyawan kehabisan jatah cuti 2007 gara-gara pemotongan cuti bersama ini mau tidak mau, suka tidak suka dia harus “ngutang” cuti di tahun kerja 2008. Kantor saya memberi pilihan lain, silakan masuk kantor pada tanggal 17,18, 19….ada-ada saja ya urusan kebijakan HRD ini 🙂

Busway Koridor Baru

Di beberapa titik jalan di ibukota saat ini sedang diadakan pembangunan jalur busway baru. Kabarnya di daerah Pluit, Slipi, Tanjung Priok sudah diramaikan dengan proyek pembangunan jalur busway. Siang ini saya mengalami sendiri macetnya jalan gara-gara proyek pembangunan jalur busway. Dari Wisma Mulia sampai Tomang macet total. Padahal biasanya sekitar jam 2 jalanan di sini cukup lancar. Alhasil waktu tempuh yang seharusnya sekitar setengah jam harus saya tempuh dalam waktu 1 jam. Yang membuat macet adalah proyek jalur busway di dekat Slipi Jaya. Kabar-kabarnya akan ada koridor busway  baru dari Cawang menuju Grogol…bagus juga sih kalau benar dibuat seperti itu :D.

Tadi pagi pun demikian. Jalan Gatot Subroto ke arah Cawang dari dekat pintu tol Pejompongan sampai Semanggi macet (padat merayap..hampir padat ngesot 🙁 ) Sewaktu berangkat dari rumah ke kantor di Sudirman sekitar pukul setengah 8, jalan yang biasa lancar mendadak padat. Padahal proyeknya jalur busway-nya baru tahap sekitar pintu tol Semanggi 1. Hmm..rupanya benar apa yang sering diobrolkan orang belakangan ini kalau Jakarta tambah macet gara-gara busway. Kita nantikan saja semoga kemacetan belakangan ini sepadan dengan manfaat busway yang baru nanti.

Secara Lagi Secara Lagi

Belakangan saya jadi lebih sering memperhatikan penggunaan kata “secara” yang aneh. Entah apa maksudnya orang menggunakan kata “secara” secara tidak tepat (eh ini betul kan penggunaannya?). Kalau saya perhatikan, orang-orang yang menggunakan kata “secara” sebenarnya mau mengatakan “karena”. Aneh kan? Masa kata “kalau” jadi “secara”? Misalnya : “Hari ini gua gak berangkat kerja, secara tadi pagi perut mules.”

Dulu saya tidak memperhatikan banyaknya orang yang menggunakan kata secara dengan cara yang aneh ini. Suatu kali saya pernah membaca tulisan Sdr.Mertanus tentang hal ini, tapi saya belum ngeh kalau ada orang yang sering menggunakan kata ini. Gara-gara membaca tulisan itu saya jadi memperhatikan tiap kali ada orang yang menggunakan kata “secara” dalam perkataannya. Tiap kali mendengar kata “secara” dipakai dengan gaya baru itu, saya selalu heran kok bisa-bisanya “karena” diganti “secara”.

Akhir-akhir ini saya cukup “gerah” setiap kali mendengar orang menggunakan kata “secara” ala gaul ini. Kalau ada yang bicara pada saya dan menggunakan kata tadi pasti saya tanyakan apa sih artinya? Tahu sih artinya, sekadar ingin mengingatkan mereka saja dengan bahasa yang ngawur itu. Yang repot dan yang lebih membuat gerah adalah kalau saya mendengar orang lain ngobrol dan menggunakan kata “secara”. Rasanya ingin saya ikut ngobrol untuk bertanya pada orang tersebut apa sih maksudnya dia menggunakan kata secara dengan cara aneh ini. Sayang bukan urusan saya untuk mencampuri obrolan mereka.

“Secara” itu sebenarnya berarti “dengan cara” (silakan liat tulisan Sdr Mertanus tadi untuk melihat kutipan dari kamus tentang penggunaan kata “secara”); contoh penggunaannya :

“Menyelesaikan tiap masalah harus secara damai”.

Coba apa jadinya kalau kalimat ini diartikan menggunakan “secara” versi gaul :

“Menyelesaikan tiap masalah harus karena damai”.

Jadi ngaco kan artinya. Sampai saat ini saya belum menemukan literatur dalam Bahasa Indonesia yang mengatakan bahwa kata “secara” memiliki arti “karena”. Atau ini semua terinspirasi Debby Sahertian yang sukses mempopulerkan bahasa gaulnya yang membingungkan itu?

Tidak hanya dalam penggunaan lisan, di beberapa blog ternyata saya pun menjumpai ada blogger yang menggunakan kata secara baik dalam tulisannya maupun dalam menuliskan komentar. Di televisi juga saya lihat beberapa artis dalam acara infotainment juga ada yang menggunakan kata “secara”. Hal yang aneh. Mengapa hal yang salah kok dijadikan tren seperti ini.

Ayo yang sering menggunakan kata “secara” silakan dikomentari…. 😀

Razia Makanan Kalengan

Beberapa hari ini saya cukup bosan mendengar berita tentang penyitaan daging olahan dalam kemasan kalengan. Di beberapa daerah seperti misalnya Kupang, Yogyakarta, Balikpapan diberitakan dilakukan razia kepada sejumlah daging impor kalengan dan makanan-makanan lain seperti sirop dan biskuit. Razia disponsori oleh BPOM (Badan Pengawasan Obat & Makanan) dibantu aparat satpol PP. Ada juga yang melibatkan petugas dari dinas peternakan.

Hal yang menurut saya lucu adalah mereka menduga daging olahan tersebut berasal dari sapi yang terjangkit sapi gila. Hah…kok bisa tahu? Tahu darimana sapinya gila atau sapinya penyakitan? Penyakit kuku & mulut dan penyakit sapi gila biasanya sering disebut-sebut ketika razia dilakukan. Mungkin ada yang bisa beritahu saya bagaimana cara mendeteksi daging olahan dalam kaleng itu berasal dari sapi yang penyakitan? Yang lebih membuat saya mengernyitkan dahi adalah kenapa baru belakangan saja razia semacam ini dilakukan. Ada udang kah di balik batu? Atau ada yang utuh bahan makanan gratisan? Memang sih ada yang ramai-ramai membakar kornet tapi berapa sebanyak yang disita dan tidak diberitakan akan diapakan sitaannya.

Pikiran saya jadi negatif melihat banyaknya aksi serupa, jangan-jangan itu hanya akal-akalan sejumlah oknum yang butuh bahan makanan murah menyambut hari raya. Kok menjelang hari raya semua ramai-ramai razia makanan. kemarin-kemarin kemana Pak, kemana Bu? Kalau sudah curiga mengapa menunggu dan membiarkan barang terlanjut beredar di pasaran? Larang donk bahan makanan impor yang dicurigai untuk masuk Indonesia. Sudah terlanjur beredar, baru mereka keliling merazia pasar untuk mencari bahan makanan tadi.

Alasan apa yang mereka si perazia dapat berikan? Peduli kesehatan masyarakat? Omong kosong…kalau memang peduli harusnya di seluruh penjuru tanah air dilakukan hal yang sama. Tapi faktanya? Anda bisa lihat. Tidak semua pasar baik pasar tradisional dan pasar swalayan dirazia untuk mengamankan bahan makanan tadi. Toh semua barang impor seperti makanan kalengan tadi masuk Indonesia lewat pintu-pintu perdagangan yang sama. Ambil contoh kornet. Daging sapi olahan dalam kemasan kaleng ini banyak yang merupakan barang impor. Pegang saja importirnya..cek kemana saja kornet didistribusikan ke seluruh Indonesia. Kalau satu diduga berbahaya, BPOM harusnya mampu menarik semua kornet serupa dari seluruh pasar di Indonesia.

Mungkin saya yang terlalu cerewet mengomentari fenomena ini. Tapi ini hanya sekadar menyalurkan pendapat dari pikiran yang terus tergelitik menyaksikan berita yang sama berulang kali di media massa. Mudah-mudahan Anda paham dengan apa yang ada di pikiran saya ini; mudah-mudahan Anda bisa memahami mengapa saya bisa berpikir negatif seperti di atas.