Kampanye & Macet

Macetnya Jakarta siang sampai sore ini. Jakarta memang akrab dengan kemacetan, tapi hari ini kemacetannya bisa dikatakan luar biasa. Kampanye hari terakhir Pilkada DKI jadi pemicu utama kemacetan hari ini. Siang ini saya jadi salah satu korban pawai kampanye. Terjebak macet di tengah kerumuman orang yang ikut pawai.

Dari Pancoran menuju Sudirman siang ini saya tempuh dalam waktu sekitar 1.5 jam. Gila…membosankan sekali. Apalagi perut ini lapar sekali. Perjalanan yang biasanya ditempuh kurang dari satu jam sekarang jadi berkali lipat. Mungkin waktu tempuh yang cukup lama ini terasa benar-benar lama karena perut saya yang lapar.

Dari Jl. MT Haryono sampai Semanggi (Jl.Gatot Subroto) di sekeliling mobil yang saya tumpangi diramaikan dengan mobil dan motor peserta kampanye. Yang ada di sekitar saya adalah simpatisan pendukung Cagub Adang Daradjatun.

Kendaraan yang bergerak merayap membuat saya mengamati tingkah polah para peserta kampanye. Ada ibu-ibu, bapak-bapak, remaja, anak-anak usia sekolah, sampai balita pun ada yang ikut pawai kampanye Pilkada. Ibu-ibu dan anak-anak kebanyakan naik Kopaja/Metro Mini yang dijadikan kendaraan kampanye. Anak-anak muda banyak yang duduk pula di atap angkutan tersebut. Motor adalah kendaraan yang mendominasi pawai siang ini. Sambil membawa spanduk dan bendera bergambar calon gubernur mereka berpanas-panas ria di atas motor. Sebagian ada juga yang duduk di dalam mobil carry yang dibuka pintu belakangnya.

Janjinya mau membebaskan Jakarta dari kemacetan kok malah bikin macet…..<geleng-geleng kepala> .

SPMB – Mengingat UMPTN

Sebenarnya saya berniat menulis tentang topik ini kemarin. Berhubung pulang malam dan mengantuk berat akhirnya saya urung menulis tadi malam. Kemarin itu saya membaca berita (di Detik.com kalau tidak salah) tentang situs pengumuman hasil SPMB (seleksi penerimaan mahasiswa baru).

Saya capture tampilan web SPMB saat masih belum bisa diakses, seperti ini :

spmb

Tadi baru saja saya lihat lagi ternyata webnya sudah bisa diakses para peserta SPMB, sekarang tampilannya sudah berubah menjadi seperti ini :

spmb2

Lihat situs ini jadi ingat pengalaman saya dulu menanti-nanti hasil UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negri). Bulan Agustus 2001 (tanggal tepatnya saya lupa), hasil UMPTN katanya bisa diakses via situsnya (lagi-lagi saya lupa apa nama situsnya, umptn.or.id??). Saking penasarannya saya pergi ke warnet dari sekitar pukul 11 malam sampai sekitar pukul setengah 2 dini hari. Hasilnya? Tidak bisa masuk sama sekali ke situsnya UMPTN itu. Overload mungkin servernya, atau mungkin juga akses internet dari warnet sedang jelek sekali…he..he..maklum dulu belum zaman internetan sendiri ; eh ini bisa jadi cerita sendiri tentang evolusi akses internet yang saya pakai :D.

Ok kembali ke cerita seputar UMPTN tadi, akhirnya jam setengah 2 pagi saya pulang ke kos. Pulang sambil penasaran, akhirnya malah susah tidur. Iseng mendengarkan radio, eh sekitar pukul 3 pagi saya menemukan siaran tentang pengumuman hasil UMPTN. Rupanya itu radio kampusnya ITB. Mereka membuka kesempatan bagi peserta UMPTN yang ingin tahu hasil ujian dengan cara mengirimkan SMS (nomor ujiannya). Ah ini yang saya cari untuk memuaskan rasa penasaran saya. Saya cepat-cepat SMS. Cukup lama menunggu, beberapa lagu lewat sampai akhirnya penyiarnya berkata : “untuk Tedy dengan nomor UMPTN …. , selamat datang di kampus tercinta…” Ha..ha..ha…leganya ternyata saya diterima masuk ITB.

Sebenarnya kalau mau dipikir, ngapain juga saya terjaga semalaman — penasaran hasil UMPTN; padahal keesokan harinya hampir semua surat kabar menampilkan pengumuman hasil UMPTN. Tapi ya di situ letak seni dan memorinya, rasa deg-degan dan kelegaan yang saya rasa saat tahu hasilnya.

Ok cukup nostalgilanya, selamat bagi para peserta SPMB 2007 yang sukses masuk ke perguruan tinggi negeri.

SBY Ke Mapolda Metro Jaya

Seumur-umur jadi warga Indonesia, baru hari ini saya mendengar berita seorang Presiden lapor ke polisi. Sore ini saya melihat berita Presiden Susilo Bambang Yudoyono datang melapor ke Polda Metro Jaya. Ini berkaitan dengan isu yang beredar belakangan ini bahwa dirinya diberitakan pernah menikah sebelum masuk ke akademi militer. Si penyebar isu adalah Zaenal Maarif. Mantan ketua DPR ini entah apa maksud tujuannya menyebarkan berita kepada pers bahwa SBY pernah menikah sebelum masuk ke akademi (bukan dengan Ibu Ani istri SBY sekarang tentunya).

Dalam jumpa persnya sore ini, SBY mengatakan dirinya melapor bukan dalam kapasitas sebagai Presiden RI tapi sebagai seorang warga negara Indonesia. Menurutnya setiap warga negara berhak untuk mendapat keadilan. SBY melaporkan Zaenal Maarif dengan tuduhan pencemaran nama baik, Zaenal dituding menyebarkan fitnah. TapiΒ  segoblok itukah Zaenal berkata-kata tanpa memikirkan akibatnya? Kok berani-beraninya ya Zaenal Maarif menyebar berita seperti itu? Apa ya dasarnya sampai dia berani berspekulasi menyebar berita semacam ini?

Kita lihat saja apa langkah pihak kepolisian atas laporan SBY hari ini. Akankah kasusnya cepat ditangani? Saya hanya bisa tersenyum melihat seorang Presiden mengadu ke kepolisian :).

Mengingat Nama Orang Lain

Di banyak buku pengembangan diri dan komunikasi yang pernah saya baca, mengingat nama orang lain adalah satu hal dianggap penting. Di salah satu buku yang pernah saya baca (saya lupa judulnya,kalau tidak salah adalah buku tulisan Larry King) bahkan ditulis seperti ini :

Orang tidak peduli kelaparan yang terjadi di Afrika, orang lebih peduli ketika orang lain mampu mengingat namanya dan menyebutkannya dengan benar ketika bertemu.

Anda bisa bayangkan ketika Anda sedang jalan-jalan, ada seorang kenalan Anda yang bisa menyapa Anda dengan menyebutkan nama lengkap Anda. Ada suatu rasa penghargaan yang kita terima ketika kita disapa orang dengan nama resmi kita (apalagi kalau disapa dengan nama lengkap). Rasa penghargaan ini bagi saya lebih terasa apabila yang menyapa saya adalah orang yang belum terlalu akrab dengan saya.

Saya pun kadang (boleh dikata sering πŸ˜€ ) lupa dengan nama orang lain. Beberapa kali saya bertemu dengan teman/kenalan lama, saya ingat mukanya tapi celakanya saya lupa namanya :-p . Biasanya yang saya lakukan adalah tetap berkomunikasi (ngobrol) dengan seramah/seakrab mungkin sambil berusaha mengingat-ingat namanya. Pernah suatu kali saya bertemu teman lama di sebuah restoran, sampai akhir obrolan saya tidak bisa ingat namanya πŸ˜€ … padahal obrolan sudah berlangsung cukup lama.

Karena saya tahu persis kalau nama adalah hal yang penting dalam sebuah perkenalan/hubungan, saya berusaha mengingat-ingat dengan sebaik-baiknya nama setiap orang yang saya jumpai. Tapi ini adalah hal yang tidak gampang dipraktekkan. Mungkin saya perlu mencatat nama orang lain ketika berkenalan, biar tidak lupa (sadar diri kalau sering kena gejala pikun alias gampang lupa =)) ).

Dua Hal Tentang Roxy

Dua hal yang bagi saya identik dengan kawasan Roxy : handphone & MACET. Sebenarnya nama resmi jalan rayanya adalah Jalan Hasyim Ashari. Jalan raya ini berujung di kawasan Kota pada satu sisinya, sementara sisi lainnya berujung di Jalan Kiai Tapa (Grogol). Perbatasannya kalau tidak salah di kali Grogol (kali=sungai).

Di kawasan Roxy Jakarta Barat ada 2 tempat yang menjadi pusat penjualan handphone untuk kawasan Jakarta yaitu ITC Roxy Mas dan Roxy Square. Kedua pertokoan ini letaknya berdekatan satu sama lain. Bisa dibilang Roxy menjadi salah satu barometer harga handphone di Jakarta. Roxy Square masih terbilang baru daripada ITC Roxy Mas.

Satu lagi yang tidak kalah terkenal dari Roxy, yaitu macetnya πŸ™ . Dari dulu sejak saya belum tinggal di Jakarta pun, kawasan Roxy selalu macet. Salah satu sebabnya adalah karena adanya rel kereta yang melintas di Jalan Hasyim Ashari. Sudah beberapa tahun terakhir, pemkot Jakarta merencanakan membangun fly over di kawasan Roxy untuk mengatasi masalah kemacetan. Saya lupa kapan tepatnya proyek pembangunan fly over tersebut dimulai (ada yang ingat?). Proyek tersebut sempat terbengkalai cukup lama. Akibatnya tingkat kemacetan di kawasan Roxy pun meningkat.

Belakangan saya sempat beberapa kali melintas di kawasan Roxy ini, ampun macetnya. Saya melintas di Jalan Hasyim Ashari ini sekitar pukul 6 dan 7 malam, pernah juga saya melintas sekitar pukul 9 malam. Puncak kemacetan terjadi beberapa puluh meter sebelum ITC Roxy Mas sampai jembatan kali Grogol. Beberapa kali melintas saya pun jadi mengamati apa sebenarnya yang menjadi kontributor kemacetan ini :

  • Angkutan umum yang mangkal di beberapa titik. Mulai dari bus kota, Kopaja, Metromini semuanya berebut penumpang. Berhenti seenaknya salah satunya tepat di depan ITC Roxy Mas. Tidak peduli macet dan sesaknya kendaraan di belakangnya, mereka cuek berhenti menanti penumpang.
  • Proyek fly over yang tak kunjung selesai. Jalan Hasyim Ashari benar-benar menyempit di ujung proyek pembangunan fly over tersebut. Saking lamanya proyek ini berlangsung, ada ruang di tengah-tengah proyek yang dijadikan lahan parkir liar oleh para preman.
  • Pejalan kaki dan penjual kaki lima. Dua hal ini saling berkaitan. Pejalan kaki terpaksa berjalan di badan jalan yang sudah padat karena trotoarnya sudah dipadati pedagang kaki lima. Trotoar tak ubahnya seperti pasar malam, dari penjual mie ayam, gorengan, penjual baju, sepatu, minuman, semuanya berjejal di trotoar mulai dari depan ITC Cempaka Mas sampai sekitar rel kereta.

Motor saja sulit melintas di depan ITC Cempaka Mas. Padahal biasanya motor punya kemampuan bermanuver di kemacetan Jakarta. Anda bisa membayangkan kan bagaimana macetnya. Sudah macet, polusinya tidak ampun lagi. Paling repot kalau Anda naik motor dan kebetulan berada di belakang bis atau bajaj, wah benar-benar dicekoki asap knalpot yang super menyesakan.

Mau membuktikan tulisan saya ini? Silakan berkendara di Jalan Hasyim Ashari ini sekitar pukul 6 sore. Hitung-hitung melatih kesabaran πŸ˜€ .