Roy Suryo & Supersemar

Pagi ini saya senyum-senyum sendiri menonton berita di ANTV. Roy Suryo diberitakan tampil lagi membeberkan bukti sejarah. Dalam sebuah acara di Solo, RS mengungkapkan bahwa Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) bukan merupakan perintah pemindahahan kekuasaan dari Presiden Soekarno kepada LetJend Soeharto. Dalam upaya pembuktiannya RS memperdengarkan rekaman suara pidato Pres. Soekarno. Rekaman pidato tersebut berisi pernyataan tegas bahwa Supersemar adalah surat perintah untuk mengamankan negara — bukan mengambil alih kekuasaaan.

Sensasi lain dari RS? Kita tunggu saja ;))

Tiga Ancaman Bom Hari Ini

Hari ini saya membaca 3 berita serupa di Detik.com, semua bercerita soal ancaman bom di Jakarta. Yang pertama saya baca adalah ancaman bom yang diterima oleh radio Elshinta. Yang kedua adalah ancaman bom kepada Kedutaan Besar Amerika. Dan yang ketiga adalah ancaman bom kepada kedutaan besar Denmark. Ancaman bom kepada 2 kedutaan besar tersebut diterima oleh Traffic Management Center Polda Metro Jaya melalui layanan SMSnya di nomor 1717.

Mudah-mudahan ini cuma lelucon konyol semata. Banyak orang iseng di negri ini kan? Beberapa hari lalu ada juga orang iseng (atau tepatnya gila) yang menggergaji rel kereta di daerah Jawa Tengah. Akibatnya kereta api Gumarang mengalami kecelakaan, beberapa gerbongnya terguling. Kalau menggergaji rel saja ada yang berani melakukan, apalagi cuma mengirimkan SMS ke 1717. Kemungkinannya cukup besar ada orang yang iseng mengirimkan ancaman palsu ini. Tapi saya berharap kepolisian tidak lantas mengabaikan ancaman-ancaman berikutnya karena terlalu sering diisengi dengan lelucon semacam ini.

Sepinya Sudirman Pagi Ini

Pagi ini saya melintas di Jl Jend Soedirman dari arah Semanggi dan mendapati jalanan cukup lengang. Saat itu kurang lebih pukul 7 pagi. Hampir tiap pagi saya melewati jalur ini dan hampir tiap pagi pula saya mendapati keramaian di sepanjang Sudirman. Yang pertama adalah pertemuan arus kendaraan dari jalur atas dan bawah jembatan Semanggi. Tepatnya di depan gedung BRI. Biasanya di situ lalu lintas sedikit tersendat karena jalanan yang menyempit dan tidak sedikit kendaraan yang ingin memotong untuk masuk ke gedung BRI. Titik kepadatan lain adalah sekitar bawah layang Casablanca (dekat halte busway Karet). Di sini lalu lintas tiap pagi biasanya dipadati angkutan umum dari Metromini, Kopaja, sampai bus kota yang mengurangi kecepatan bahkan berenti untuk menaik-turunkan penumpang.

Pagi ini dari Semanggi sampai kantor saya (daerah Dukuh Atas) lancar sekali. Tidak ada kepadatan lalu lintas sama sekali, padahal jam sudah hampir menunjukkan pukul 7 pagi. Hmm…pikiran saya langsung ingat dengan libur besok. Apa gara-gara besok libur? Long weekend kan salah satu hal yang paling dinanti para karyawan di Jakarta ;)) . Jangan-jangan karena Jumat libur, banyak orang yang cuti masuk kantor untuk memperpanjang libur akhir pekannya besok ..he..he.. atau dengan kata lain mencuri start libur =)). Saya juga senang dengan libur di hari Jumat, akhir pekan rasanya lebih panjang. Yang menyebalkan kalau tanggal merah di hari Sabtu seperti minggu lalu. Rasanya sia-sia saja, karena merah atau tidak kalendernya tetap saja Sabtu memang kantor libur. Dipikir-pikir mirip dengan anak sekolahan juga ya; mikirnya kapan libur kapan libur :-p.

Selamat libur dulu deh untuk semua warga Jakarta, baik yang “mencuri start” libur hari ini maupun yang masih masuk kantor seperti saya :)) .

Supir Taksi Tanpa Telapak Tangan

Sore ini sepulang latihan biliar di Batavia Sport (Jl.Panjang – Green Garden) saya pulang dengan menggunakan taksi. Cukup lama saya menunggu taksi di Jalan Panjang itu. Lalu lintas cukup ramai, tapi taksi yang lewat jumlahnya sedikit. Beberapa taksi lewat tapi sudah ada penumpangnya. Biasanya saya selalu mencari taksi Blue Bird (fanatik merek 😀 ) tapi sayang tidak satupun Blue Bird yang kosong. Akhirnya saya putuskan taksi berikutnya yang lewat dan kosong apapun mereknya akan saya gunakan.

Lewat juga taksi berwarna biru, entah apa namanya. Langsung saya naik dan mengatakan tujuan saya, Tomang. Supirnya seorang bapak tua bertubuh kecil. Saat taksi berjalan saya cukup kaget saat melihat ternyata tangan kanan supir ini tidak ada telapak tangannya. Tangan kirinya hanya sampai lengan bawah (tepat di pergelangan tangan). Waduh, salah pilih taksi nih pikir saya. Apa bisa ya orang ini mengemudikan taksi dengan benar, bagaimana caranya dia memindahkan perseneling mobil. Apalagi ternyata bapak ini juga kurang pendengarannya. Saya harus mengulang-ulang tiap ucapan saya saat dia menanyakan rute yang saya mau.

Selang beberapa waktu si bapak bercerita kalau dirinya cacat dari lahir. Rupanya si bapak ini ingin sedikit membanggakan diri bahwa meskipun cacat tangannya dia masih bisa bekerja sebagai supir taksi. Ah saya makin kaget, rupanya tangan kanannya pun sama seperti tangan kirinya – tanpa telapak tangan. Lalu dia juga bercerita kalau telinga kirinya kurang pendengarannya karena jatuh dari pohon kelapa. Sebelum jadi supir taksi si bapak pernah juga jadi kuli bangunan. Salah satu proyek yang dia ikut di dalamnya adalah proyek jembatan Tomang. Hampir setahun saya tinggal di Tomang, hampir tiap hari melewati jembatan Tomang, saya baru tahu kalau jembatan itu dibuat antara tahun 1976-1977. Ini menurut cerita Pak Ali (nama si supir tadi)…nanti saya cross check lagi kebenaran cerita ini 😀 .

Awalnya saya yang deg-degan disupiri oleh supir yang “unik” ini, akhirnya jadi tertarik mendengar ocehan dia. Tentang bagaimana perjuangannya cari nafkah di Jakarta, dia sebenarnya orang Yogyakarta. Saya juga jadi dapat beberapa informasi tentang daerah Tomang dan sekitarnya. Hmm…kalau dihadapkan pada orang semacam ini saya cuma bisa menarik nafas panjang dan bersyukur pada Tuhan karena diberi tubuh yang lengkap dan kesempatan hidup yang jauh lebih baik daripada dia. Untuk hal bersyukur kita memang harus melihat ke bawah, melihat bahwa banyak orang yang kurang beruntung daripada kita. Loh kok malah kotbah… =))