Sebelum mendarat di Jakarta Sabtu sore kemarin, saya lihat langit Jakarta menarik sekali untuk diabadikan.
Sementara dua foto berikut ini difoto saat pesawat sudah hampir mendarat. Waktu sekitar pukul 6.13 sore.
Sabtu kemarin saya pulang dari Singapura dengan Garuda. Saya mendapat kursi 21K, agak bingung juga mengapa saya diberi stiker merah alias barisan depan. Saat saya tanya tipe pesawatnya, petugas check-in bilang Boeing 737. Saya pikir info tadi keliru karena sepanjang yang saya bepergian dengan Garuda, di pesawat sekelas 737 kursi 21K ada di barisan belakang.
Agak ngantuk juga waktu tiba saat boarding, saya masuk pesawat tanpa melihat lagi nomor kursi di barisan depan. Reflek saya berjalan ke barisan belakang. Setelah melewati beberapa baris kursi di kelas ekonomi saya kaget karena ternyata nomor kursinya sudah 30an. Astaga ternyata 21K adalah baris pertama kursi di kelas ekonomi, tepat di belakang kelas bisnis. Alhasil saya agak bersusah payah balik lagi ke barisan depan, melawan penumpang lain yang bergerak menuju barisan belakang.
Rupanya sekarang di pesawat Boeing 737-800 New Generation ini, Garuda menggunakan penomoran yang tidak urut seperti biasanya. Kelas ekonomi menggunakan nomor kursi mulai dari 21. Entah apa alasannya menggunakan penomoran yang agak janggal ini.
Akhir tahun 2009 lalu saya sempat ikut kelas fotografi di Canon Photo School. Gurunya adalah Alm.Kumara Prasetya terkenal cukup keras. Keras dalam memberi doktrin pada murid-muridnya. Salah satu doktrin yang paling saya ingat adalah motret itu jangan miring. Saya masih ingat ada momen saat kami asistensi dengan beliau, salah satu rekan sekelas menyerahkan foto model yang diambil dengan angle miring. Kaget saya waktu selembar foto itu dilempar begitu saja oleh Pak Kum; sambil berkata “Apa ini?! Motret kok miring-miring!”.
Menurut saya Pak Kumara meletakkan fondasi yang bagus untuk orang yang baru mencoba belajar fotografi seperti saya. Foto bangunan atau arsitektur memang tidak boleh miring. Beliau sempat menjelaskan apa jadinya kalau kita disuruh memotret oleh perusahan real estate dan hasil foto rumah-rumahnya nampak miring seakan mau roboh. Mana ada orang tertarik membeli rumah yang terlihat akan roboh. Menyambung doktrin itu Pak Kumara mengajarkan pentingnya menggunakan tripod dan spirit level saat memotret arsitektur. Bahkan ada Pak Kumara punya teori : “tripod is a must, no tripod no photo”
Biasanya foto bangunan terlihat miring bila kamera tidak sejajar dengan horizon (tidak level). Tanpa tripod akan sangat sulit untuk mendapatkan level yang tepat. Misalnya foto Rydges hotel di atas. Saya pakai iPhone untuk memotretnya. Untuk bisa mendapat foto hotel itu secara utuh, mau tidak mau saya harus mendongakkan iPhone. Sama halnya waktu menggunakan kamera apapun. Mendongakkan kamera ke atas akan menghasilkan foto bangunan yang tampak seperti akan roboh ke belakang. Sebaliknya menundukkan kamera akan menyebabkan objek foto seolah akan roboh ke depan.
Pada kasus saya tadi bila saya mengarahkan kamera pada arah yang sejajar, maka bagian atas hotel akan terpotong tidak masuk dalam frame. Solusi pertama yang mungkin adalah dengan menggunakan lensa wide (lensa super lebar). Tapi dengan lensa wide pun ada efek negatifnya, bagian foreground akan mendominasi frame. Solusi berikutnya adalah pindah ke posisi yang lebih tinggi. Mungkin dengan memotret dari atas atap bangunan lain, atau mungkin dengan naik tangga/crane yang cukup tinggi. Seperti foto di bawah ini, rekan saya Wahyudi naik crane saat melakukan pemotretan bangunan kantor kliennya.
Solusi berikutnya adalah dengan menggunakan lensa tilt and shift. Jujurnya saya belum pernah mencoba menggunakan lensa jenis ini. Katanya lensa ini sangat populer untuk foto arsitektur.
Kadang saya merasa bersalah bila memotret sesuatu dan hasilnya terlihat miring seolah akan roboh. Tapi kadang momen bisa menjadi alasan. Tanpa tripod dan tanpa lensa super lebar apakah saya jadi batal mengabadikan hotel Rydges tadi? Tentu tidak, karena tujuan saya hanya untuk mengambil foto dokumentasi, mengabadikan hotel di mana saya menginap dan bukan memotret arsitekturnya. Akan menjadi sangat konyol kalau keterbatasan alat menghentikan saya mengabadikan momen. Tapi jauh lebih konyol kalau saya bawa tripod, punya lensa super lebar tapi hasil fotonya tetap saja miring :-).