SUDO Di Windows

Di lingkungan sistem operasi Linux maupun Unix ada perintah su atau sudo untuk menjalankan perintah sebagai user root. Misalnya, untuk mengubah konfigurasi IP kita harus login sebagai root. Bila kita login ke dalam sistem sebagai user biasa, kita juga bisa mengubah IP tanpa harus keluar dulu dan login kembali sebagai root; cukup jalankan perintah :

# sudo ifconfig eth0 192.168.1.6 netmask 255.255.255.0
Password :

Sistem akan meminta kita memasukkan password root. Dengan cara seperti ini kita tidak perlu logout dulu dan login kembali sebagai root untuk menjalankan sebuah program.

Di Windows, user yang sama fungsinya dengan root adalah Administrator. User Administrator adalah user dengan hak akses paling tinggi (dia memiliki akses untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan sistem). Salah satu yang bisa dikerjakan oleh Administrator adalah menginstal sebuah program. Selama ini jika ingin menginstal sebuah program ke dalam Windows, saya harus keluar dulu dan login kembali sebagai Administrator…rasanya merepotkan. Saya berpikir enak di Unix, bisa kerja sebagai user lain tanpa harus login ulang.

Tadi saya baru tahu setelah Googling bahwa perintah yang sama dengan sudo adalah runas. Misalnya saat login sebagai user biasa, kita ingin menginstal sebuah program dengan nama contoh.exe maka melalui command prompt kita bisa menginstal program tersebut. Perintahnya seperti ini :

E:\> runas /user:Administrator contoh.exe
Enter the password for Administrator:

Pada contoh di atas saya menjalankan instaler contoh.exe sebagai Administrator. Baik di Unix maupun Linux yang lebih penting adalah kita harus tahu dulu password Administratornya atau password root 😀 Kalau tidak tahu, tidak ada gunanya kedua perintah tadi…he..he..he..

DHCP Restart

Di rumah saya menggunakan Speedy. Kadang Ubuntu saya sering susah mendapat IP DHCP..entah kenapa padahal sudah dapat PPP. Biasanya kalau sudah begitu saya restart modemnya dan kalau masih belum dapat IP saya restart juga servis dhcpnya. Di Ubuntu saya menggunakan perintah ini untuk mereset servis networking supaya Linux saya segera mendapat IP :

# sudo /etc/init.d/networking restart

atau ini :

# sudo /etc/init.d/networking force-reload

Biasanya sukses langsung dapat IP begitu perintah ini dijalankan. Kalau saya menggunakan Windows, cepat sekali dapat IPnya (asumsi PPP sudah dapat – kelihatan dari lampu WAN di modem ADSL saya sudah menyala). Kenapa ya Ubuntu sering begitu?

RAID 1 Di Solaris 10

RAID (redundant array of inexpensive disks) adalah gabungan beberapa harddisk untuk menjalankan fungsi tertentu; bisa untuk mirroring, atau bisa juga untuk menggabungkan volume dari beberapa harddisk menjadi 1 kesatuan virtual disk. Ada beberapa level RAID. Di tulisan ini saya hanya mau menulis soal RAID 1. RAID 1 adalah RAID level yang digunakan untuk mirroring 2 atau lebih harddisk. Mirroring gampangnya dapat disebut sebagai kloning harddisk.

Misalkan sebuah harddisk yang berisi sistem operasi Solaris 10, digabungkan dengan sebuah harddisk lain menggunakan RAID 1. Harddisk kedua akan berisi sama persis seperti harddisk pertama. Harddisk kedua ini akan membackup harddisk utama bilamana terjadi kerusakan pada harddisk pertama; begitu pula sebaliknya (dengan kata lain kedua harddisk saling menjaga kelangsungan kerja sistem). Kedua harddisk bekerja secara redundant. Sistem tidak akan mati jika salah satu dari harddisk gagal berfungsi. Dengan demikian RAID 1/mirroring salah satu cara untuk meningkatkan performansi sistem. Sistem operasi yang bekerja di dalamnya akan melihat kedua harddisk tersebut sebagai sebuah harddisk saja (virtual disk). Lihat ilustrasi berikut ini :

raid 1

Solaris 10 memiliki fitur untuk membuat RAID, yaitu Solaris Volume Manager. Jadi dengan Solaris kita bisa membuat mirroring 2 atau lebih harddisk. Pada gambar di atas misalkan kita memiliki 2 harddisk dalam sebuah sistem. Ketika dibuat menjadi RAID 1, harddisk pertama akan dikenal sebagai submirror 1 dan harddisk kedua akan dikenal sebagai submirror 2. Virtual disk adalah perangkat yang dikenali oleh sistem operasi setelah proses mirroring dilakukan.

Berikut ini adalah contoh command line yang digunakan untuk membuat mirror dari 2 harddisk yang terpasang pada sebuah server dengan Solaris 10 sebagai sistem operasi. Harddisk pertama adalah c0t0d0 (sebagai system disk), harddisk kedua adalah c1t0d0.

  1. Mula-mula kita lihat dulu konfigurasi file vfstab untuk melihat mount point dari masing-masing slice. Contohnya seperti ini :
    # more /etc/vfstab
    /dev/dsk/c0t0d0s0  /dev/rdsk/c0t0d0s0   /             ufs   1   no      -
    /dev/dsk/c0t0d0s1    			swap           -    -  	-       -
    /dev/dsk/c0t0d0s3  /dev/rdsk/c0t0d0s3   /var          ufs   1   no      -
    /dev/dsk/c0t0d0s4  /dev/rdsk/c0t0d0s4   /opt          ufs   2   yes     -
    /dev/dsk/c0t0d0s5  /dev/rdsk/c0t0d0s5   /export/home  ufs   2   yes     -
  2. Kita harus membuat salinan dari VTOC (volume table of contents) yang berisi informasi partisi harddisk pertama.
    # prtvtoc /dev/rdsk/c0t0d0s2 | fmthard –s - /dev/rdsk/c1t0d0s2
  3. Langkah berikutnya adalah membuat metadb dari mirror yang akan kita buat. Metadb ini adalah file database yang akan menampung semua data konfigurasi mirror yang dibuat. Sebaiknya metadb ini diletakkan pada slice yang belum terpakai, dalam kasus ini metadb diletakkan pada slice 7.
    # metadb –a –c 3 –f c0t0d0s7 c1t0d0s7
  4. Tiap slice yang ada di dalam harddisk kita buat virtual devicenya dengan perintah metainit.
    # metainit –f d11 1 1 c0t0d0s0
    # metainit –f d12 1 1 c1t0d0s0
    # metainit d10 –m d11
    # metainit –f d21 1 1 c0t0d0s1
    # metainit –f d22 1 1 c1t0d0s1
    # metainit d20 –m d21
    # metainit –f d31 1 1 c0t0d0s3
    # metainit –f d32 1 1 c1t0d0s3
    # metainit d30 –m d31
    # metainit –f d41 1 1 c0t0d0s4
    # metainit –f d42 1 1 c1t0d0s4
    # metainit d40 –m d41
    # metainit –f d51 1 1 c0t0d0s5
    # metainit –f d52 1 1 c1t0d0s5
    # metainit d50 –m d51
  5. Setelah kita membuat virtual device untuk masing-masing slice, kita perlu memberitahu operating system bahwa root sistem sekarang berupa virtual device bukan slice harddisk lagi.
    # metaroot d10
  6. Restart server
    # shutdown -g0 -i6 -y
  7. Tambahkan virtual device yang berasal dari harddisk kedua ke mirror yang bersesuaian.
    # metattach d10 d12
    # metattach d20 d22
    # metattach d30 d32
    # metattach d40 d42
    # metattach d50 d52
  8. Lihat status mirror yang terbentuk dengan perintah # metastat , seharusnya pada tahap ini kedua harddisk sudah mulai melakukan proses sinkronisasi. Kalau anda melihat file vfstab setelah proses mirroring ini maka file ini sudah berbeda dengan yang kita lihat pada awal proses ini.
    # more /etc/vfstab
    /dev/md/dsk/d10  /dev/md/rdsk/d10   /             ufs   1   no      -
    /dev/md/dsk/d20    		    swap           -    -   -       -
    /dev/md/dsk/d30  /dev/md/rdsk/d30   /var          ufs   1   no      -
    /dev/md/dsk/d40  /dev/md/rdsk/d40   /opt          ufs   2   yes     -
    /dev/md/dsk/d50  /dev/md/rdsk/d50   /export/home  ufs   2   yes     -

Sebaiknya harddisk yang akan dijadikan mirror berada pada kontroler yang berlainan dengan sistem disk.  Pada contoh di atas, harddisk pertama dan kedua berada pada kontroler yang berlainan.

GRUB Loader Hilang?

Rabu malam lalu teman saya menghubungi saya karena laptopnya bermasalah. GRUBnya tidak berfungsi. Di laptopnya terinstal Windows XP dan Ubuntu 5.10. GRUB yang berfungsi sebagai boot loadernya malah error sehingga dia sama sekali tidak bisa menggunakan komputernya. Sehari-hari dia lebih sering menggunakan Windows XPnya. Ubuntu yang ada di komputernya pun dulu saya yang menginstalnya saat dulu saya mencoba mengenalkannya pada Linux 😀

Saya mulanya ingin mencoba menginstal ulang GRUB dengan bantuan Live CD Linux seperti Ubuntu atau ZenLive. Terlebih dulu saya mencari informasi dari Google tentang bagaimana memperbaiki GRUB yang rusak. Setelah mencari saya mendapatkan beberapa referensi, rata-rata referensi yang saya baca menyarankan agar booting dengan Live CD untuk kemudian menjalankan perintah grub-install /dev/hda1 (dengan asumsi Linuxnya berada di partisi /dev/hda1). Entah mengapa langkah-langkah yang saya ikuti dari beberapa referensi tersebut tidak ada yang bisa memperbaiki GRUB yang sudah terinstal di harddisk.

Rasa penasaran saya kali ini kalah dengan rasa kantuk. Jam sebenarnya baru menunjukkan pukul 10 malam, tapi kali itu saya mengantuk sekali. Akhirnya saya putuskan membuang saja Ubuntunya, ganti dengan Linux lain yang menggunakan GRUB sebagai boot loadernya. Saat saya berpikir demikian saya ingat kalau saya punya CD Damn Small Linux. Segera saya pakai CD tersebut. Sebelum saya instal, saya tetap penasaran dengan metode-metode yang sudah saya dapat sebelumnya di Google. Saya coba-coba memperbaiki GRUB juga tetap tidak bisa.

Akhirnya saya putuskan segera menginstal Damn Small Linux ke dalam laptop teman saya tersebut. DSL punya ukuran yang kecil untuk ukuran sebuah distro Linux. Ukurannya yang cuma 50MB membuatnya cepat sekali diinstal ke dalam harddisk (ini yang saya mau, cepat instalnya :-p ). DSL adalah distro Linux dengan tampilan grafis (graphical user interface) yang paling ringan yang pernah saya coba. Cukup jalankan DSL sebagai Live CD lalu pilih menu Install to Harddrive, dan tidak sampai 10 menit DSL sudah terinstal ke dalam harddisk. Lihat tampilan DSL ketika selesai diinstal berikut :

dsl
Setelah saya menginstal DSL ke dalam laptop, saya restart laptopnya dan boot loader bisa membaca ada 2 sistem operasi di dalam komputer. Windows XP dan Damn Small Linux dikenali. Yang melegakan buat teman saya, Windows XPnya bisa kembali digunakan. Dan yang lebih melegakan adalah saya bisa segera tidur =)). Ah aya-aya wae….

Reset Password Ubuntu

Gara-gara menulis postingan sebelumnya ini , saya iseng mencoba hal yang sama dengan Ubuntu saya. Saya hapus string yang sama (plus string yang ada di account “tedy”) pada /etc/shadow yang ada di Ubuntu saya. Lalu saya restart PC dan walah….saya tidak bisa login sama-sekali #-o .

Segera saya booting PC dengan ZenLive Linux supaya bisa mencari di internet cara mengembalikan password pada Ubuntu Linux. Ketemu sumber yang tepat di sini. Langkah-langkah yang tadi saya lakukan untuk me-reset password di Ubuntu adalah :

  1. Restart PC, masuk ke menu GRUB dengan menggunakan tombol Esc.
  2. Pada tampilan menu GRUB, edit bagian kernel dengan menambahkan init=/bin/sh
    Untuk mengedit baris kernel ini, cukup tekan “e”. Setelah baris di atas disisipkan tekan “b” untuk memulai proses booting.
  3. Dengan langkah di atas, Ubuntu akan masuk langsung ke terminal tanpa menampilkan jendela login. Kemudian saya menjalankan perintah :
    # mount / -o remount,rw
    Perintah ini melakukan mounting ulang pada partisi root.
  4. Untuk mengganti password root (maupun password account “tedy”), saya menggunakan perintah passwd.
  5. Saya jalankan lagi perintah pada nomor 3.
  6. Berikutnya saya menjalankan perintah sync lalu merestart PC saya dengan perintah reboot.

Ah sukses deh balik lagi masuk ke dalam Ubuntu 😀 .