Makassar (part 4) – Nyemir Sepatu

Ada-ada saja kelakuan rekan saya Rizki di kantor beberapa hari yang lalu. Saat semua orang pergi makan siang, dia sibuk menyemir sepatunya. Lihat hasil foto saya saat saya pulang makan siang :

Membawa semir botolan ke kantor mungkin ada gunanya. Tidak peduli apapun jabatannya di kantor, tidak ada salahnya kan sepatu selalu kinclong. Komik di atas hanya gurauan sarkastik saya terhadap Rizki. Menyemir sepatu sebelum datang interview kerja juga penting loh (ngomongin interview kerja itu hal yang sensitif di kantor 😀 ). Kalau saya biasanya menyemir sepatu di rumah, itu pun misalnya mau kondangan atau sepatu sudah benar-benar kotor. Hal lain yang memicu saya menyemir sepatu adalah kalau punya sepatu baru 😀 Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda selalu ngantor dengan sepatu mengkilat?

Makassar (part 3) – Sop Konro & Arena Biliar

Sabtu kemarin saya dan rekan saya Pak Nana lembur di Telkomsel Panakukang Makassar. Instalasi kabel LAN & kabel fiber Primepower 1500. Selesai kerja sekitar pukul setengah 8 malam. Lapar kami berdua naik becak ke Mal Panakukang. Lucu juga becak khas Makassar. Joknya tidak terlalu lebar seperti becak Cirebon.Saya pernah foto becak di Makassar waktu datang ke Makassar awal Juli lalu. Foto diambil dari depan hotel Singgasana dengan mode zoom, jadi tidak terlalu bagus hasilnya.

Saya dan Pak Nana sengaja ke Mal Panakukang karena ingin main biliar. Dapat informasi dari Pak Asep (Telkomsel), di Mal Panakukang ada tempat biliar. Sampai di mal kami sudah lapar jadi kami putuskan makan dulu baru main. Kami pilih makan sop konro di rumah makan Sop Saudara di food courtnya Mal Panakukang. Tampilan sop konronya seperti ini :

Rasanya : nothing special. Sebenarnya saya cari konro bakar, sayang adanya cuma sop konro. Tulang iganya doank yang gede, dagingnya sedikit. Ya cuma Rp21000,- sih jadi gak bisa berharap banyak. Selesai makan kami putar-putar Mal Panakukang, gila ramainya. Di Jakarta saya gak pernah menemukan mal yang sama ramainya (ya iyalah, ke mal aja jarang =)) ) Lebih dari 30 menit putar-putar kami tidak kunjung menemukan tempat biliar yang dimaksud Pak Asep. Susah cari informasi di mal ini, tidak ada sekuriti yang gampang ditemui. Lelah putar-putar kami putuskan pulang saja cari tempat biliar di luar mal. Di pintu keluar ada sekuriti, langsung saya tanya di mana sih tempat biliar yang namanya “Score”…..halah ternyata sudah tutup (bangkrut?). Gelo, putar-putar cari tempat yang sudah tidak ada.

Ujung-ujungnya kami naik taksi ke tempat biliar. Diantarkan oleh supir taksi di jalan Ahmad Yani, di sana ada tempat biliar namanya Arena Pool Club. Cukup bagus meja biliar dan cue-nya. Karena weekend, sejam main di sana dikenakan tarif Rp27500,-. Katanya sih kalau hari biasa dan siang hari tarifnya cuma Rp13000,- (murah ya). Yang kurang dari Arena Pool Club adalah musiknya yang terlalu berisik. Susah ngobrol kalau kita sedang main di sana. Speaker yang tidak terlalu bagus tapi dipaksa disetel keras-keras. Ah…benar-benar tersiksa telinga saya. Niatnya sih hari ini saya balik lagi main di sana 😀 . Tadi malam kami pulang ke hotel sekitar pukul 12 malam. Pegel euy dari pagi sampai tengah malam. Apalagi tadi siang instalasi di Telkomsel berasa seperti sauna, panas gara-gara AC di ruang server-nya juga baru diinstal.

Makassar (part 2) – Soal Minibar

Tadi waktu saya pertama masuk kamar 812 hotel Singgasana, yang saya cek pertama kali adalah kulkasnya. Sama seperti dua kali kedatangan saya sebelumnya, kulkasnya kosong melompong. Tadi saya diantar room boy, jadi langsung saya tanya : “kenapa sih tiap kali saya nginap di Singgasana selalu dapat kamar tanpa minibar?”

Menurut si room boy hotel Singgasana sering dikunjungi rombongan, satu kamar bisa diisi 3 orang. Belajar dari pengalaman banyak kasus 3 tamu saling tunjuk siapa yang mengambil minuman/makanan di minibar, manajemen mengambil keputusan mengosongkan isi minibar. Lucu…tidak standar. Lah kalau ada yang gak ngaku, pegang saja ketua rombongannya atau potong saja uang depositnya.

Lebih lucu lagi untuk apa donk 3x menginap di Singgasana saya selalu open card dulu waktu check in sebagai dana deposit? Tadi begitu saya komplain soal minibar, si room boy malah menyarankan silakan telepon saja room service kalau butuh makan/minum Pak. Yee..itu sih saya juga tau. Malas aja masa sekadar minum softdrink harus telepon room service.

Makassar (part 1) – Balik Lagi

Siang ini saya balik lagi ke Makassar. Rencana instalasi server baru di Telkomsel yang tadinya diundur sampai minggu depan, diubah kembali jadi akhir pekan ini. Ada-ada saja, masa akhir pekan kerja juga. Saya kali ini berangkat dengan Garuda pukul 12.50, harusnya sih pagi saya ke kantor dulu. Tapi kali ini saya gak berangkat ke kantor, jam 11 langsung berangkat dari rumah ke bandara. Hmm…kalau menurut bos saya hal semacam ini (gak ngantor dengan alasan langsung ke bandara) bisa membuat “preseden buruk” :-p . Tau kan artinya “preseden buruk”? Artinya lebih kurang = kelakuan yang salah yang lama-lama jadi suatu kebiasaan. Atau bisa juga memancing orang lain menganggap & berperilaku yang salah.

Tadi di bandara sebelum masuk ruang tunggu, saya mampir dulu di toko buku terminal 2 (apa ya lupa nama tokonya). Seperti biasa kalau masuk toko buku, ada saja godaan buku yang menggoda untuk dibeli. Akhirnya keluar bawa buku ini :

Buku tipis kecil ini karangannya Safir Senduk. Saya pernah melihat beberapa buku karangan Safir Senduk tapi dari dulu gak pernah beli buku-bukunya. Salah satu yang terkenal itu kalau gak salah “Karyawan Juga Bisa Kaya” (hmm..gak ingat pasti, maaf kalau salah. tapi kurang lebihnya seperti itu). Iseng juga saya beli buku “Mengatur Pengeluaran Secara Bijak” ini. Padahal tadi saya sudah bawa 3 buku sekaligus. Buku “Digital Fortress”-nya Dan Brown, Laskar Pelangi, dan The American yang saya beli minggu lalu. Tapi mungkin penting juga bagi saya belajar membaca buku-buku serius macam bukunya Safir itu, biar seimbang kan? Kebanyakan baca novel bisa-bisa otak saya jadi ngaco :-p . Novel Digital Fortress selesai saya baca di pesawat tadi sebelum mendarat di Makassar. Nanti saya tulis review-nya kalau sempat 😀 .

Saya sampai di Makassar kira-kira pukul 16.20 waktu setempat (maju 1 jam dari Jakarta). Mendarat di tengah hujan gerimis, begitu keluar bandara eh panas lagi. Dari bandara saya dan Pak Nana (rekan dari Siemens) langsung menuju Telkomsel. Survey sebentar lokasi instalasi mesin Primepower 1500. Jam setengah 7 baru pulang, sebelum pulang ke hotel makan malam dulu. Lucu juga, jauh-jauh ke Makassar makan malamnya ayam goreng di warung tenda khas Lamongan :)) . Besok lah cari makan yang lebih berasa “Makassar”, konro bakar 😀 . Hari ini ada kampanye pilkada di Makassar, efeknya di mana-mana macet. Macetnya tidak seperti Jakarta, macetnya Makassar itu semrawut. Golkar dan PDIP yang hari ini kampanye. Halah…bikin macet aja. Heran saya, kenapa sih orang harus keliling-keliling kota pakai motor & mobil untuk kampanye? Memangnya ngefek ya kalau keliling-keliling kota bikin macet jalan gitu terus orang akan pilih jagoan mereka?

**Ngetik postingan ini di lobi hotel Singgasana, di kamar tumben susah dapat sinyal WiFi 🙁 **

Calo Minta Maaf?

Kemarin ada yang mengirim email pada saya isinya seperti ini :

----- Forwarded Message ----
From: yunus azis
To: teddy_itb@yahoo.com
Cc: tedy_itb@yahoo.com
Sent: Wednesday, July 9, 2008 12:38:43 PM
Subject: Calo di Airport
Saya membaca tulisan anda tentang kekesalan anda atas
pengalaman sulitnya mendapatkan tiket pada saat akhir
pekan. Bisa dibilang saya juga calo . Bedanya saya
tidak berkeliaran mencari lawan. Saya cuma orang yang
lebih sering berada dibelakang panggung. Saya mohon
maaf kalau "pekerjaan" saya telah merugikan banyak
orang. Juga buat Pak Teddy. Permohonan maaf saya ini
bukan mewakili seluruh calo. Kami memang tidak pny
organisasi. mhn maaf sekali lagi.

Rupanya si pengirim sudah membaca tulisan saya tentang percaloan di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Hmm…fiktif kah si pengirim email ini?