Banjarmasin (part 2) – Mencoba K-Meleon

Sudah hampir satu jam saya online dengan akses internet gratis di Hotel Victoria Banjarmasin ini. Mata sudah mengantuk tapi ada 1 postingan yang ingin saya muat. Ini tentang web browser baru yang saya coba. Namanya K-Meleon. Awalnya saya tahu tentang web browser ketika ada yang comment di blog saya beberapa hari yang lalu. Dengan bantuan Browsersniff saya tahu kalau si pengirim komentar menggunakan web browser K-Meleon. Jadi waktu itu saya segera download file instalasi K-Meleon; ukurannya cuma 5MB. Barusan saya ingat kalau saya pernah download file tersebut. Segera saya instal web browser ini dan langsung saya coba. Berikut screenshot-nya :

Di webnya, web browser ini dibilang “extremely fast, customizable, lightweight web browser“. Ekstrim kencang, enteng, dan mudah dikustomisasi. Entah benar atau tidak sebab sampai saat ini saya selalu pakai Firefox web browser dan menurut saya Firefox paling enak dipakai. Nanti saya laporkan bagaimana kelakuan K-Meleon ini. Tampilan K-Meleon web browser ini mirip Konqueror-nya KDE 😀

Banjarmasin (part 1) – Disambut Gerimis

Siang ini saya berangkat ke Banjarmasin. Karena pesawat saya berangkat pukul 14.20, saya “dipaksa” ngantor dulu pagi harinya. Semalam saya main biliar di Tendean Billiard sampe jam setengah 1 pagi, gak aneh paginya saya kesiangan (jam 8 baru bangun). Datang kantor, cek email, terus sarapan (sarapan kok jam 10 :)) ). Siang ini saya mau berangkat ke Banjarmasin untuk mengganti harddisk yang rusak di mesin HLRi Telkomsel. Pekerjaan yang mudah, cepat beres…tinggal cabut harddisk yang rusak, pasang yang baru.

Jam 12 saat rekan-rekan kantor pergi makan siang, saya berangkat ke bandara. Pesawat saya tepat waktu berangkat pukul 14.20. Penerbangan kali ini cukup “bumpy“, cuaca kurang bersahabat. Sepanjang jalan ketemu awan tebal terus…eh salah ya, harusnya kan sepanjang udara =)) Rupanya di Banjarmasin sudah turun hujan dari siang. Tidak aneh kalau melihat awan tebal sebelum mendarat di Syamsudin Noor Airport. Turun dari pesawat pun hujan gerimis kecil masih ada, jalan becek (tapi gak ada ojek =)) ). Ini kali kedua saya datang ke Banjarmasin. Tepat setahun yang lalu saya pernah datang ke sini. Dari bandara saya naik taksi menuju hotel Victoria Riverview. Hotel ini, menurut sopir taksi, adalah hotel baru. Tapi saya kok kurang sreg dengan hotel ini. Pelayanan sih tetap ramah tapi kamarnya itu loh…masa hotel bintang 3 seperti itu (gak nyaman lah). Eh tapi ada akses internet gratis nih di seputaran lobi. Tulisan ini saya posting di coffee shop-nya ( I love free hotspot 😀 )

Berikut adalah liputan tadi dalam foto & komik :

Tadi sempat main biliar dulu 1 jam di dekat hotel. Ada tempat biliar namanya Hokky 89Pool. Tempatnya gak bagus…murah sih. Mejanya seperti yang dipakai Roxy Pool House. Sepertinya pemilik tempat biliar ini mendatangkan meja dan perlengkapannya dari Isak Billiard Jakarta (kelihatan banyak poster dan atribut Isak). Pergi ke Telkomsel Sate Saya kerja sekitar pukul 10 malam, pukul 21.30 berangkat ke Telkomsel. Tidak sampai 1 jam pekerjaan saya sudah selesai. Perut lapar belum makan malam, akhirnya saya makan sate itik. Sate itiknya unik rasanya…saya sih cocok dengan rasa & harganya. Di sini banyak makanan berbahan daging itik. Rupanya orang sini menyebut bebek dengan sebutan itik. Selesai makan saya pulang hotel tapi tidak langsung masuk kamar. Duduk dulu di coffee shop buat ngeblog :-p

Makan-makan Lagi

Senin lalu saya dengan rekan-rekan kantor pergi makan siang bersama. Hari ini merayakan salah satu project yang sudah selesai. Project selesai, sales untung besar, duit keluar….makan-makan deh :-p Ditratir makan ceritanya 😀 Ini komik hasil foto-foto acara makan siang kami :

Hmmm…tapi foto saya sendiri malah gak masuk di komik tadi 🙁

Pembatas Jalan Otomatis

Ketika training di Paderborn Jerman awal bulan ini, saya cukup heran dengan tiang pembatas jalan seperti di gambar berikut ini :

Tiang pembatas ini awalnya tidak menarik perhatian saya, Manggar, atau Pak Rully. Kami bertiga baru heran ketika tahu ada bus dengan rute melewati jalan tersebut. Bertiga kami terheran-heran bagaimana bisa ada bus yang bisa lewat ke jalan tersebut, sementara ada tiang penghalang semacam itu (bagian foto yang dilingkari merah). Naluri orang teknik membawa kami bertiga berpikir: “ow mungkin tiang itu otomatis bisa naik turun“.

Tiang penutup jalan itu berada tidak jauh dari hotel tempat kami menginap. Beberapa kali melintas, kami tidak punya kesempatan melihat bus melintas. Hingga suatu malam saat pulang training, kami melihat bus melintas dan benar dugaan kami. Kami melihat bagaimana tiang itu turun (masuk ke dalam tanah) secara otomatis sesaat sebelum bus melintas dan melihat pula bagaimana tiang tersebut muncul lagi sesaat setelah bus melintas pergi. Kalau tidak salah Manggar sempat merekam adegan naik turunnya tiang itu dengan handycam-nya (oi Mas Manggar bener kan ambil videonya…bagi donk videonya 😀 ). Katrok banget ya kita bertiga, terheran-heran melihat teknologi :)) . Sampai pulang lagi ke Indonesia, kami bertiga tetap tidak tahu bagaimana mekanisme kerja tiang tadi. Apakah dia dilengkapi dengan sensor, ataukah dilengkapi dengan receiver wireless yang dikendalikan dari dalam bus yang akan melintas, atas dilengkapi dengan GPS sehingga bisa mendeteksi bus yang mendekat. Bodohnya saya tidak bertanya kepada supir bus di sana.

Tadi sebelum menulis postingan ini, saya berpikir mungkin teknologi semacam ini bisa diterapkan juga di Jakarta. Kita yang tinggal di Jakarta sering kali mendengar, pemda dibuat pusing oleh pengguna jalan yang sering kali masuk ke jalur bus TransJakarta. Mungkin kalau di tiap ujung jalur busway dilengkapi dengan tiang ini, bisa mengurangi jumlah pengguna jalan yang masuk ke dalam jalur busway. Ah tapi apa pemerintah mau (baca : punya duit) untuk mengimplementasikan teknologi macam itu? Keren kan kalah diterapkan di Jakarta…supir busway tinggal pencet satu tombol tiap kali akan melintas masuk ke jalur busway, tiangnya akan turun memberi jalan. Setelah bus melintas segera tiangnya muncul lagi. Dijamin mobil yang nekat masuk akan menabrak tiang ini. Tapi kalau dipasang di Jakarta sepertinya tidak cukup 1 tiang di tiap jalur, kalau satu tiang saja motor masih bisa masuk ke dalam jalur busway….harus 3 tiang sekaligus kalau mau benar-benar melarang baik mobil atau motor masuk jalur busway.

Picasa On Linux

Since I’ve collected many pictures from my camera, I used Picasa for manage them. Usually I using Picasa for Windows on my notebook, because in office I use Windows for work. Beside Microsoft Windows, I also installed Ubuntu Linux on my notebook. Sometimes I prefer to use Ubuntu especially when I using my notebook at home.

When I used Ubuntu, I got stuck to see my pictures collections which lay on Windows partitions. Ubuntu has F-Spot Photo Manager to provide the user a software for managing their photo collections. But I don’t like F-Spot Photo Manager, it doesn’t have good feature and poor of their user interface.

This morning I tried to search whether Google provide Picasa for Linux user. Good for Google that provide us Linux version of Picasa. I just download them from Picasa site. They provide three types of Picasa for Linux : *rpm installer, *deb installer, and *bin installer. Although I use Ubuntu which using Debian based software management, I prefer to get *bin installer. So I download the installer : picasa-2.2.2820-5.i386.bin.

For me, the *bin installer more easy to use. The step for install Picasa are like this :

  1. To have the installer become executable, I change them using chmod command like this :
    root@tedy:/home/tedy# chmod a+x picasa-2.2.2820-5.i386.bin
  2. After that I just run them like run a executable script :
    root@tedy:/home/tedy# ./picasa-2.2.2820-5.i386.bin
  3. When I run them, the installation wizard will pop up, and it’s easy for me to just follow their instructions. Same like Windows installation wizard, just click Next and Next 😀 By default Picasa will put the installation on /opt/picasa.
  4. Yup…installation process completed for very short time. To start Picasa, just type the bin file :
    root@tedy:/usr/bin# /opt/picasa/bin/picasa
    See the Picasa on my Ubuntu Linux; it’s very similar with my Picasa that run on my Windows OS.

picasa on linux


Thanks for Google to care with Linux user like me 🙂