Jerman (part 1)

Sore ini saya berangkat menuju Jerman. Diantar Budy & Manus, saya berangkat ke bandara pukul setengah 4 sore. Berangkat bersama 2 rekan saya (Manggar & Rully…eh salah Pak Rully bukan teman saya, tapi manager saya =)) ).

Pesawat Malaysia Airlines (Boeing 737-400) berangkat tepat pukul 18.20. Penerbangan  2 jam ini berlangsung mulus, sampai di Kuala Lumpur Internasional Airport pukul 9.20 (waktu Malaysia, di sini lebih cepat 1 jam daripada Jakarta). Sekarang saya ngeblog memanfaatkan fasilitas free hotspot di KL International Airpot. Sambil memindahkan data dari SD card Nikon saya, saya ketik postingan ini 😀 Mau upload foto tapi sepertinya lambat akses Internetnya. Eh bisa nih upload foto…foto dengan Manggar sambil menunggu monorail untuk pindah terminal.

.KL Airport

Pesawat saya berikutnya menuju Frankfurt Jerman berangkat pukul 23.29 waktu Malaysia. Masih cukup banyak waktu untuk keliling-keliling bandara, foto-foto (mode ndeso ON :)) ), sambil ngeblog juga.

Internasional Roaming Simpati Telkomsel

Setelah beberapa saat sulit menghubungi customer service (CS) Telkomsel (Caroline), saya bisa juga berbicara dengan salah satu operatornya. Menu Caroline Telkomsel ini menurut saya kurang pas susunan menu-menunya, masa saya mau berbicara dengan operator saja harus menunggu mesin menceritakan menu-menu customer service. Kalau menurut saya harusnya menu untuk berbicara dengan operator harus diletakan di awal, sesaat setelah konsumen diminta memilih bahasa yang akan digunakan.

Pertanyaan saya pagi ini adalah bagaimana cara mengaktifkan internasional roaming kartu Simpati saat saya berada di luar negeri. Penjelasan yang diberikan CS cukup gamblang, caranya cukup simpel yaitu :

Kirim SMS ke 6616 isinya :
IR <16 angka di belakang SIM card>

SMS ke nomor 6616 dikenakan tarif normal SMS Rp350,- Oh ya, yang penting diingat adalah untuk dapat menggunakan Telkomsel di luar negeri pulsa Simpati minimal harus Rp50000,-. Perincian tarif layanan Telkomsel bagi pelanggannya yang berada di luar negeri adalah :

  • Menelepon ke nomor Telkomsel di Indonesia tarifnya adalah Rp13100,-/menit
  • Menelepon ke operator di negara bersangkutan tarifnya berbeda-beda untuk tiap negara. Tadi saya hanya bertanya tarif panggilan saat saya berada di Jerman, besarnya Rp22300,-/menit
  • Mengirimkan SMS ke semua operator di Indonesia tarifnya adalah Rp4500,-/1 SMS (160 karakter).
  • Menerima panggilan dari Indonesia, kita akan dikenakan tarif roaming sebesar Rp16600,-/menit. Gelo ya mahal amat 🙂

Saat kita berada di luar negeri, kita pun bisa melakukan pengisian pulsa Simpati. Caranya sudah pernah dibahas oleh rekan saya di sini. Fitur internasional roaming ini cukup sekali saja diaktifkan; artinya jika kita sudah kembali ke Indonesia fitur ini akan otomatis mati dan saat kita kembali pergi meninggalkan Indonesia fitur ini otomatis aktif. Canggih ya teknologi GSM sekarang. Lintas negara euy….

Dogdog (part 2)

Kemarin saya cerita tentang nasi goreng dogdog, malam ini saya lengkapi cerita tentang dogdog. Barusan saya makan malam bihung goreng dogdog (Rp7000,-). Sedap ;)) Tidak lupa saya ambil foto tukang dogdognya plus gerobaknya; lengkap dengan kentongan dogdog ciri khas nasi goreng ini. Habis makan, langsung deh bikin kumpulan foto dogdog malam ini dengan bantuan Comic Life lagi 😀

Abis makan edit foto, abis edit foto posting ke blog, abis posting? Tidur dong =)) , udah jam 11 lebih nih…

Comic Life – The Story of Abah

Kemarin saya iseng-iseng mencoba menggunakan Comic Life.

Nih lihat hasil keisengan saya kemarin :-p :

Tokoh komik di atas namanya Eddy Sumaryadi, manajer yang benar-benar low profile (lihat saja gaya berpakaiannya). Eddy adalah saudara bapak kos saya, jadi sehari-hari saya bisa ketemu beliau dengan mudah. Awalnya gara-gara kamera baru saya, saya jadi gatel cari objek. Keseringan ketemu Eddy, jadilah banyak fotonya mampir di kamera saya. Makanya ketika kemarin saya mencoba-coba Comic Life, dia yang pas banget dijadikan tokoh komik :D.

Oh ya karena Eddy itu orang Sunda, makanya saya buat komiknya dalam bahasa Sunda; berikut terjemahannya :

  • Punten ah abdi teh Eddy Sumaryadi alias Abah = Permisi, nama saya Eddy Sumaryadi alias Abah
  • Urang teh aseli ti Bandung; ayeuna di Jakarta = Saya adalah orang Bandung asli, sekarang tinggal di Jakarta
  • Urang teh saban poe daharna pizza = saya tiap hari makannya pizza
  • Urang teh ayeuna kerja jadi manajer = sekarang saya kerja sebagai manajer
  • Miyabi oh miyabi = “lagi terpana liat klipnya miyabi” =))
  • Urang saban poe ngisep Dji Sam Soe = tiap hari saya merokok Dji Sam Soe
  • Urang teh resep pisan lalajo tipi sareng pilem = saya suka sekali menonton televisi dan menonton film
  • Urang teh resep pisan ngebut..tah eta mobilna = saya senang ngebut; lihat mobil yang sering saya pakai ngebut
  • Urang teh baheula jagoan di Bandung = saya tuh dulunya jagoan di Bandung
  • Geus ah crita urang, sayonara = sudah dulu cerita saya, sampai jumpa

Eddy (biasa saya panggil Abah) sekilas tampangnya biasa-biasa saja, tapi dia jago loh berbahasa Inggris dan sedikit berbahasa Jepang. Sehari-hari saya sering sekali ngobrol dengan beliau dalam bahasa Inggris. Memang kita gak boleh menilai orang dari luarnya saja, tampang boleh biasa-biasa tapi kemampuan mungkin kan luar biasa?

Thanks for you Sir for become my comic actor
;))

Nasi Goreng DogDog

Menu makan malam hari ini : nasi goreng dogdog. Difoto dulu ah sebelum dimakan…

Mari saya perkenalkan dengan nasi goreng dogdog. Bukan nasi goreng anjing-anjing loh ya…=)) Lain kali saya harus foto gerobak dan bapak penjualnya biar jelas info tentang nasi goreng dogdog ini.  Nasi goreng dogdog, disebut dogdog karena yang jual punya kentongan khas dari bambu yang bunyinya kira-kira “dog dog dog….dog dog dog….”. Tidak seperti penjual nasi goreng keliling biasa yang menjajakan dagangannya sambil memukul-mukul wajan; kalau yang ini namanya tukang nasi goreng tektek :-p .

Saya suka sekali makan nasi goreng dogdog, rasanya lebih mirip ke nasi goreng restoran. Mungkin itu karena nasi goreng ini dimasak dengan menggunakan bawang putih, persis gaya masakan Chinese. Bawang putih dimemarkan dulu, lalu langsung dimasukkan saat minyak goreng sudah panas. Bawang putih masuk ke wajan duluan sehingga wanginya khas sekali Chinese food. Selain nasi goreng, penjualnya juga bisa menyediakan mie, bihun, kwetiau goreng. Top lah rasanya. Sampai saat ini sih sepertinya halal, karena saya tidak mencium sama sekali rasa babi di dalam nasi goreng ini.

Saya selalu memesan nasi/bihun goreng pedas. Bagi saya lebih pedas, lebih nendang. Oh ya, satu lagi ciri khas nasi goreng dogdog : dia dilengkapi kerupuk udang yang cukup besar. Lebih mantap daripada kerupuk bawang yang selalu menyertai nasi goreng tektek. Harga nasi/bihun/kwetiau goreng sekarang Rp 7000,- Lebih mahal daripada harga nasi goreng tektek. Kali ini saya bisa bilang, harga tidak bohong.

Di dekat tempat saya tinggal penjual nasi goreng dogd0g cukup banyak, ada di sekitar Jalan Mandala dan kompleks Gelong…pokoknya cukup gampang mencari nasi goreng dogdog di daerah Tomang. Jangan sampai salah kalau mencari nasi goreng dogdog, lihat dulu ada kentongan bambu besar tidak di gerobaknya.