Instalasi Solaris – How To

Iseng bikin contoh cara instalasi Solaris 9 di Fujitsu server. Silakan dilihat di sini (8.6MB). Gambar-gambar yang ada di dokumen tadi adalah hasil capture sewaktu saya instalasi Solaris. Dokumennya baru saya buat Sabtu kemarin sewaktu nganggur di Cirebon. Semoga ada yang dapat manfaat dari tulisan saya tersebut.

Tulisan ini saya daftarkan juga di halaman Download.

Repotnya Jadi Auditori

Siang ini saya kembali ke Jakarta dengan kereta Argo Jati. Ini kereta baru dari Cirebon, alternatif dari kereta Cirebon Ekspres. Saya tidak tahu persisnya kapan kereta ini mulai beroperasi (akhir tahun 2007 sudah mulai berjalan sih). Rangkaian kereta Argo Jati semuanya kelas eksekutif. Gerbongnya sepintas memang lebih bagus, interiornya juga lebih bagus daripada kereta Cirebon Ekspres. Sayangnya lama perjalanan sama saja dengan Cirebon Ekspres. Kelebihan lain dari Cirebon Ekspres dia tidak berhenti di beberapa stasiun yang disinggahi oleh Cirebon Ekspres.

Di tiap gerbong ada televisinya, dari Cirebon televisi sudah menyala. Awalnya cuma iklan, lama-lama kok jadi film. Sepanjang jalan dari Cirebon sampai menjelang Jakarta, yang ditayangkan adalah sinetron ABG. Ini yang membuat saya tidak bisa tidur. Tidak bisa tidur bukan karena menikmati sinetronnya, tapi karena terganggu dengan tayangan sinetron tadi. Secara pelayanan mungkin tayangan televisi sepanjang perjalanan bisa dianggap hebat…full TV. Tapi buat saya yang ingin tidur di perjalanan, hal ini sangat mengganggu. Karena apa? Pertama, saya yang tipe auditori sangat sensitif terhadap suara di sekeliling. Kedua, saya tidak suka sinetron. Dari Cirebon saya sudah niatkan untuk tidur di jalan, eh malah disodori sinetron…bubar deh rencana tidur di jalan. Tayangan televisi ini cukup keras & merata suaranya, mungkin karena speaker yang ada di beberapa bagian gerbong. Saya yang duduk di kursi 10D saja cukup jelas mendengar tayangan televisi tersebut, meskipun televisi yang menyala berada jauh di depan.

Mungkin ini repotnya jadi orang bertipe auditori, gampang terganggu dengan suara-suara di sekeliling. Mungkin sebaiknya di tiap kursi disediakan earphone. Jadi penumpang yang mau nonton silakan dengar suaranya lewat earphone; dan yang tidak ingin nonton tidak terganggu dengan suara televisi. Ah tapi itu cuma khayalan saya….bayar Rp80000,- aja minta macem-macem ;))

Tunggu Paspor

Jam 1 saya masih di kantor Imigrasi Cirebon. Lumayan di sini ada hotspot..bisa berinternet gratis. Sampai sekarang paspor saya belum keluar, padahal kereta saya ke Jakarta berangkat jam 2 siang. (mode deg-degan ON) :-S.

Ngeblog dulu deh..daripada tegang menanti paspor. Lumayan kencang akses internetnya.

Update :

Akhirnya paspor saya keluar jam 14.30 13.30. Udah makin deg-degan…takut ketinggalan kereta. Untungnya Nyoman rekan saya di imigrasi berbaik hati mengantarkan saya ke stasiun 🙂 jadi on time gak ketinggalan kereta. Kereta Argo Jati berangkat tepat pukul 14.00, sampai di Gambir 17.00 (terlambat 20 menitan).

Combo Mati Lagi

Ini kali ketiga kepulangan saya ke Cirebon dengan Flexi Combo yang tidak bisa digunakan. Akhir tahun lalu saat libur tahun baru saya pulang ke Cirebon selama satu minggu. Flexi Combo saya tidak bisa aktif sama sekali selama 1 minggu sampai akhirnya saya pulang ke Jakarta. Awal bulan Januari lalu saat saya pulang ke Cirebon, hal yang sama terulang. Saya tidak dapat menggunakan Flexi Combo lagi. Akhir pekan ini lengkap 3 kali Flexi Combo saya tidak dapat digunakan di Cirebon…..hatrick!!!

Dalam ketiga kasus saya ini, saya mendapat jawaban & respon yang sama dari customer service Telkom di 147. Semuanya mengatakan akan membantu supaya Flexi Combo saya dapat aktif. Semuanya menggunakan jawaban standar….“Bapak tadi sebelum berangkat sudah mengaktifkan combonya?, baik nanti akan kami bantu Pak, tunggu 1 jam lagi, nanti coba restart ponsel Bapak.”

Mungkin kalau ditotal saya sudah lebih 10 kali menelepon 147 untuk ketiga kasus ini. Lama-lama saya menyerah juga, malas juga jadinya menelepon 147 tanpa mendapat solusi. Operator di 147 memang ramah-ramah, semuanya bekerja sesuai prosedur. Saya tidak dapat menyalahkan mereka karena saya tahu persis kesalahan ada di sisi teknis Telkom, bukan karena kebodohan mereka. Mungkin pihak Telkom harus peka terhadap kasus-kasus seperti yang saya alami ini.

Sejak tahun 2007 saya menggunakan Telkom Flexi, ketiga pengalaman tadi bukan pengalaman pertama saya menggunakan layanan Combo dari Telkom Flexi. Saya sudah pergi ke berbagai daerah dan semuanya berjalan lancar. Saya pergi ke Pekanbaru, Banjarmasin, dll…di semua kota yang saya datangi nomor Flexi saya tetap bisa digunakan. Entah mengapa ini terjadi belakangan saja dan kebetulan ketiganya terjadi di Cirebon. Bantuan 147 pun tidak dapat diharapkan. Saya tidak paham bagaimana prinsip kerja layanan Combo. Mungkin stok nomor virtual yang dapat digunakan sudah habis digunakan pengguna Flexi lain yang datang ke Cirebon.

Layanan Combo dari Telkom Flexi memungkinkan pengguna Telkom Flexi untuk tetap menyalakan ponselnya saat berada di luar kota. Misalnya kartu saya adalah kartu Flexi Jakarta. Tanpa layanan Combo, saat saya meninggalkan Jakarta praktis nomor Flexi saya menjadi tidak aktif. Dengan adanya layanan Combo tersebut, nomor Flexi saya tetap bisa aktif saat berada di kota lain. Ada beberapa langkah untuk mengaktifkan layanan Combo dari Telkom Flexi.

  1. Pertama, sebelum meninggalkan kota asal saya harus mengirim sms ke nomor 777; isinya adalah ON <kota tujuan>. Contoh, sesaat sebelum pergi menuju Cirebon saya mengirim sms ke 777 yang isinya adalah ON CIREBON. Dengan demikian, saat saya mencapai Cirebon teorinya saya akan memperoleh nomor telepon virtual (bodoh-bodohannya Flexi saya dapat digunakan di Cirebon).
  2. Kedua, setelah sampai di kota tujuan saya harus menelepon ke nomor *77 untuk mengaktifkan call forwarding. Dengan langkah ini, orang yang menelepon saya ke nomor Jakarta saya tetap bisa menghubungi saya walaupun saya berada di luar kota. Akan tetapi layanan ini membuat saya kena charge Rp50,-/menit (kalau tidak salah) setiap kali ada yang menelepon ke nomor Jakarta saya.
  3. Ketiga, saat pulang kembali ke Jakarta saya harus menelepon ke nomor *770 untuk menonaktifkan layanan call forwarding tadi.

Kalau terus menerus seperti ini, saya bisa saja mengeluarkan teori sendiri : Telkom Flexi tidak dapat dihandalkan saat bepergian keluar kota. Untuk perjalanan keluar kota lebih baik mengandalkan operator GSM.

Membuat Paspor

Pagi ini saya pergi mengurus paspor ke kantor imigrasi Cirebon. Gila sekarang kantornya pindah jauh dari keramaian kota. Dulu yang saya tahu, kantor imigrasi Cirebon ada di seberang sekolah saya di Jl.Sisingamangaraja Cirebon. Sejak bulan Desember lalu kantor imigrasi pindah ke jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Saya baru sekali ini datang ke daerah ini. Di jalan raya Plered ada jalan masuk tidak jauh di seberang jalan Pilang, jalan masuk ini tidak jauh dari pertigaan by pass dan Tuparev.

Untung ada teman saya, Nyoman yang bekerja di kantor imigrasi, urusan jadi gampang dan sederhana 🙂 Tinggal datang, membayar formulir pendaftaran Rp10000,-. Kalau mengurus sendiri proses pembuatan paspor bisa memakan waktu 4-5 hari. Spesial kasus seperti saya tentu butuh spesial tarif. Tapi kayanya kurang pas kalau saya beberkan di sini tarif pengurusan paspor tadi :D.

Untuk mengurus paspor, dokumen yang harus dilengkapi antara lain adalah :

  1. Akte lahir asli + fotokopinya
  2. Kartu keluarga asli + fotokopinya
  3. Ijasah SMA / sederajat + fotokopinya
  4. KTP + fotokopinya
  5. Surat nikah + fotokopinya bagi yang sudah menikah
  6. Surat ganti nama (jika ada untuk WNA)
  7. Surat pengantar dari instansi (misalnya karyawan swasta)
  8. Materai Rp6000,-

Setelah menyerahkan dokumen pada teman saya, saya pulang dulu. Siangnya sekitar pukul 2 siang saya kembali lagi ke sana. Kali ini saya harus difoto dan diambil data sidik jari dengan biometric reader. Dari siang sampai sore Cirebon diguyur hujan rintik-rintik. Menyiksa juga pergi-pergi dengan angkutan umum di tengah cuaca yang tidak bersahabat seperti ini. Paspor saya baru selesai Senin depan. Mudah-mudahan tepat seperti yang direncanakan, karena saya kemarin sudah beli tiket kereta api Senin depan.