Memindahkan Oracle DB File

Salah satu komponen dari Oracle Database adalah “datafile”. Pengertian sederhana dari datafile adalah kumpulan berkas tempat menyimpan semua database object. Contoh database object antara lain adalah tables, indexes, constraints, packages, sequences, dsb. Ada juga yang menyebut datafile sebagai “DB File”. Datafile umumnya menggunakan file extension *.dbf, seperti contoh berikut ini :

[oracle@svn ~]$ ls -tlr /oracle/database/oradata/SVN/*dbf
-rw-r----- 1 oracle oinstall  30416896 Oct 12 02:05 /oracle/database/oradata/SVN/temp01.dbf
-rw-r----- 1 oracle oinstall   5251072 Oct 12 02:06 /oracle/database/oradata/SVN/users01.dbf
-rw-r----- 1 oracle oinstall 104865792 Oct 12 02:06 /oracle/database/oradata/SVN/example01.dbf
-rw-r----- 1 oracle oinstall 713039872 Oct 12 02:07 /oracle/database/oradata/SVN/system01.dbf
-rw-r----- 1 oracle oinstall 104865792 Oct 12 02:07 /oracle/database/oradata/SVN/undotbs01.dbf
-rw-r----- 1 oracle oinstall 524296192 Oct 12 02:07 /oracle/database/oradata/SVN/sysaux01.dbf
[oracle@svn ~]$ 

Meskipun demikian Oracle Database tidak serta merta menulis data ke dalam datafile. Semua datafile tersebut disusun secara logical dalam bentuk tablespace. Sebuah tablespace dapat tersusun dari beberapa datafile sekaligus. Bila tablespace sudah kehabisan ruang kosong, kita bisa menambahkan datafile yang baru untuk memperluas tablespace. Di dalam tablespace inilah semua database object disimpan. Komponen Oracle Database lainnya adalah controlfile. Kalau datafile digunakan untuk menyimpan data, controlfile bertugas menyimpan informasi struktur fisik database. Misalnya database name, lokasi datafile, lokasi dari redolog, dsb.

Selain datafile & controlfile, Oracle Database memiliki komponen penting lainnya yaitu initialization parameters file. Saat pertama kali dihidupkan, Oracle Database akan membaca parameter-parameter yang disimpan oleh initialization parameters file tersebut. Salah satu parameter yang dibaca adalah lokasi tempat controlfile berada. Oracle Database memiliki 2 jenis initialization parameters file : SPFILE atau PFILE. PFILE adalah berkas teks biasa yang bisa dimodifikasi dengan editor teks seperti vi atau Notepad (di Windows). Sementara SPFILE adalah berkas binary yang hanya bisa dimodifikasi oleh Oracle Database melalui perintah SQL. Baik SPFILE maupun PFILE biasanya disimpan dalam direktori $ORACLE_HOME/dbs.

Relasi antara initialization parameters file, datafile, dan controlfile gampangnya seperti ini :

  • Oracle DB membaca SID (System ID) dari environment variable.
  • Oracle DB mencari PFILE/SPFILE yang bersesuaian dengan SID tadi. Biasanya nama berkas PFILE & SPFILE adalah init<SID>.ora atau spfile<SID>.ora (contoh : misalnya SID = ORCL, maka PFILE akan menggunakan nama initORCL.ora).
  • Oracle DB membaca PFILE (atau SPFILE) tersebut untuk mengetahui lokasi controlfile.
  • Oracle DB lalu membaca controlfile untuk mengetahui datafile mana saja yang menyusun database.
  • Barulah Oracle DB bisa mengakses semua datafile dan menyiapkan semua database object.

Berikut ini adalah catatan pribadi saya tentang cara memindahkan datafile & controlfile ke lokasi yang baru :

  1. Pertama saya mencari tahu dulu di mana datafile & controlfile yang digunakan oleh database. Cara paling mudah adalah dengan melihat tabel v$controlfile & v$datafile seperti contoh berikut ini :
    [oracle@svn ~]$ sqlplus / as sysdba
    
    SQL*Plus: Release 11.2.0.1.0 Production on Sun Oct 12 02:08:23 2014
    
    Copyright (c) 1982, 2009, Oracle.  All rights reserved.
    
    
    Connected to:
    Oracle Database 11g Enterprise Edition Release 11.2.0.1.0 - 64bit Production
    With the Partitioning, OLAP, Data Mining and Real Application Testing options
    
    SQL> COLUMN NAME FORMAT A60
    SQL> SELECT NAME FROM V$CONTROLFILE;
    
    NAME
    ------------------------------------------------------------
    /oracle/database/oradata/SVN/control01.ctl
    /oracle/database/flash_recovery_area/SVN/control02.ctl
    
    SQL> SELECT NAME FROM V$DATAFILE;
    
    NAME
    ------------------------------------------------------------
    /oracle/database/oradata/SVN/system01.dbf
    /oracle/database/oradata/SVN/sysaux01.dbf
    /oracle/database/oradata/SVN/undotbs01.dbf
    /oracle/database/oradata/SVN/users01.dbf
    /oracle/database/oradata/SVN/example01.dbf
    
    SQL> 
    

    Dari hasil perintah SQL tersebut saya paham ada beberapa berkas pada 3 direktori yang perlu dipindahkan :

    • /oracle/database/oradata/SVN : berisi controlfile #1.
    • /oracle/database/flash_recovery_area/SVN : berisi controlfile #2.
    • /oracle/database/oradata/SVN/ : berisi datafile.
  2. Untuk memeriksa initialization parameters file yang sedang digunakan oleh Oracle Database saya bisa menggunakan perintah berikut ini :
    SQL> SHOW PARAMETER SPFILE
    
    NAME                     TYPE    VALUE
    ------------------------------------ ----------- ------------------------------
    spfile                   string  /oracle/database/11.2.0/server
                             /dbs/spfileSVN.ora
    SQL> 
    

    Dalam contoh ini database saya menggunakan berkas /oracle/database/11.2.0/server/dbs/spfileSVN.ora sebagai initialization file-nya.

  3. Sebelum mulai memindahkan datafile & controlfile saya siapkan dulu direktori baru untuk menyimpan berkas-berkas tadi. Misalnya saya ingin pindahkan semua datafile dan controlfile ke dalam direktori /oracle/database/oradata_NEW/SVN :
    [oracle@svn ~]$ cd /oracle/database
    [oracle@svn ~]$ mkdir -p oradata_NEW/SVN
    [oracle@svn ~]$ chown -R oracle:oinstall oradata_NEW
    [oracle@svn ~]$ 
    
  4. Berikutnya saya perlu mengatur ulang database untuk memindahkan controlfile. Karena database-nya menggunakan SPFILE, saya perlu memodifikasi berkas SPFILE dengan perintah ALTER SYSTEM seperti berikut ini :
    SQL> ALTER SYSTEM SET CONTROL_FILES='/oracle/database/oradata_NEW/SVN/control01.ctl','/oracle/database/oradata_NEW/SVN/control02.ctl' SCOPE=SPFILE;
    
    System altered.
    
    SQL> 
    

    Hal tersebut berbeda bila database menggunakan PFILE. Bila database menggunakan PFILE & kita mencoba mengubah lokasi controlfile dengan perintah di atas akan muncul error seperti ini :

    SQL> ALTER SYSTEM SET CONTROL_FILES='/oracle/database/oradata_NEW/SVN/control01.ctl','/oracle/database/oradata_NEW/SVN/control02.ctl';
    ALTER SYSTEM SET CONTROL_FILES='/oracle/database/oradata_NEW/SVN/control01.ctl','/oracle/database/oradata_NEW/SVN/control02.ctl'
                     *
    ERROR at line 1:
    ORA-02095: specified initialization parameter cannot be modified
    
    
    SQL> 
    

    Bila database kita menggunakan PFILE, maka cukup edit berkas init.ora untuk memodifikasi parameter control_files seperti contoh berikut ini :

    [oracle@svn dbs]$ grep -i control initSVN.ora
    *.control_files='/oracle/database/oradata_NEW/SVN/control01.ctl','/oracle/database/oradata_NEW/SVN/control02.ctl'
    [oracle@svn dbs]$ 
    
  5. Setelah itu saya perlu mematikan database terlebih dulu :
    SQL> SHUTDOWN IMMEDIATE;
    Database closed.
    Database dismounted.
    ORACLE instance shut down.
    SQL> 
    
  6. Pada tahap ini saya bisa memindahkan semua berkas datafile & controlfile :
    [oracle@svn ~]$ mv /oracle/database/oradata/SVN/control01.ctl /oracle/database/oradata_NEW/SVN/
    [oracle@svn ~]$ mv /oracle/database/flash_recovery_area/SVN/control02.ctl /oracle/database/oradata_NEW/SVN/
    [oracle@svn ~]$ mv /oracle/database/oradata/SVN/*dbf  /oracle/database/oradata_NEW/SVN/
    [oracle@svn ~]$     
    
  7. Setelah semua berkas sukses dipindahkan, berikutnya saya bisa menyalakan kembali database. Pada tahap ini saya harus menyalakan database dengan mode mount saja.
    [oracle@svn ~]$ sqlplus / as sysdba
    
    SQL*Plus: Release 11.2.0.1.0 Production on Sun Oct 12 02:19:03 2014
    
    Copyright (c) 1982, 2009, Oracle.  All rights reserved.
    
    Connected to an idle instance.
    
    SQL> STARTUP MOUNT;
    ORACLE instance started.
    
    Total System Global Area 1653518336 bytes
    Fixed Size          2213896 bytes
    Variable Size         973080568 bytes
    Database Buffers      671088640 bytes
    Redo Buffers            7135232 bytes
    Database mounted.
    SQL> 
    
  8. Setelah database sudah dalam status mounted, sekarang saya perlu mengatur ulang database untuk mengganti nama setiap datafile dengan perintah “ALTER DATABASE RENAME FILE” seperti contoh berikut ini :
    SQL> ALTER DATABASE RENAME FILE '/oracle/database/oradata/SVN/system01.dbf' TO '/oracle/database/oradata_NEW/SVN/system01.dbf';
    
    Database altered.
    
    SQL> ALTER DATABASE RENAME FILE '/oracle/database/oradata/SVN/sysaux01.dbf' TO '/oracle/database/oradata_NEW/SVN/sysaux01.dbf';
    
    Database altered.
    
    SQL> ALTER DATABASE RENAME FILE '/oracle/database/oradata/SVN/undotbs01.dbf' TO '/oracle/database/oradata_NEW/SVN/undotbs01.dbf';
    
    Database altered.
    
    SQL> ALTER DATABASE RENAME FILE '/oracle/database/oradata/SVN/users01.dbf' TO '/oracle/database/oradata_NEW/SVN/users01.dbf';
    
    Database altered.
    
    SQL> ALTER DATABASE RENAME FILE '/oracle/database/oradata/SVN/example01.dbf' TO '/oracle/database/oradata_NEW/SVN/example01.dbf';
    
    Database altered.
    
    SQL> 
    

    Untuk memastikan semua controlfile & datafile pada lokasi yang baru, saya bisa memeriksanya dengan perintah berikut ini :

    SQL> SELECT NAME FROM V$CONTROLFILE;
    
    NAME
    --------------------------------------------------------------------------------
    /oracle/database/oradata_NEW/SVN/control01.ctl
    /oracle/database/oradata_NEW/SVN/control02.ctl
    
    SQL> SELECT NAME FROM V$DATAFILE;
    
    NAME
    --------------------------------------------------------------------------------
    /oracle/database/oradata_NEW/SVN/system01.dbf
    /oracle/database/oradata_NEW/SVN/sysaux01.dbf
    /oracle/database/oradata_NEW/SVN/undotbs01.dbf
    /oracle/database/oradata_NEW/SVN/users01.dbf
    /oracle/database/oradata_NEW/SVN/example01.dbf
    
    SQL> 
    
  9. Setelah itu barulah kita bisa mengganti mode database ke mode open (mode open maksudnya semua isi datafile bisa diakses kembali oleh user). Untuk memindahkan mode database dari mode mount ke open saya gunakan perintah berikut ini ;
    SQL> ALTER DATABASE OPEN;
    
    Database altered.
    
    SQL> 
    

Begitu kira-kira langkah yang saya gunakan untuk memindahkan datafile dan controlfile Oracle Database. Saya menggunakan Oracle Database 11g (Enterprise Edition Release 11.2.0.1.0) untuk membuat contoh langkah-langkah di atas. Oracle Database tersebut terpasang pada Oracle Linux 6.5. Semoga bermanfaat.

Sunflower Garden Changi Aiport

Tanggal 16 Agustus 2014 lalu saya pulang dari Manila dengan menumpang Singapore Airlines (SQ917). Pesawat harusnya berangkat dari Manila pukul 14.15 (waktu Manila lebih cepat 1 jam dari Jakarta). Saat itu saya juga sudah memegang tiket lanjutan dari Singapura ke Jakarta pukul 18.40 menggunakan SQ966. Waktu transit di Singapore sangat singkat. Ternyata penerbangan saya dari Manila delay sehingga baru berangkat sekitar pukul setengah 3 lebih. Saya was-was khawatir tidak dapat mengejar pesawat lanjutan ke Jakarta. Di layar monitor pesawat ini saya bisa melihat gate kedatangan berada dekat dengan gate tempat pesawat saya ke Jakarta. Informasi yang cukup melegakan karena saya tinggal berjalan beberapa gate saja.

Ternyata pesawat baru mendarat di Singapore pukul 18.25. Dalam hati saya masih berharap bisa berlari ke gate berikutnya. Ternyata setelah pesawat berhenti pun, pintu tidak kunjung dibuka. Akhirnya sebelum pintu pesawat dibuka, pramugari mengumumkan penumpang penerbangan lanjutan harus melapor kepada petugas. Itu termasuk para penumpang SQ966 ke Jakarta. Begitu turun pesawat beberapa kru Singapore Airlines sudah menunggu, kami diminta menukarkan boarding pass karena pesawat SQ966 sudah tutup boarding-nya. Saya mendapat pesawat pengganti SQ968 yang dijadwalkan terbang ke Jakarta pukul 9 malam. Pihak Singapore Airlines memberikan kupon makan sebagai complimentary.

Saya punya waktu cukup lama untuk berjalan-jalan di Terminal 2 Changi. Saya ingat ada taman bunga yang belum pernah saya kunjungi di Terminal 2. Taman bunga tersebut terletak di lantai 2 Terminal 2 Changi Airport. Untuk menuju ke taman tadi, saya perlu ke lantai 2 melewati hotel, game center, bioskop, dan kemudian keluar dari pintu bertuliskan “Sunflower Garden”. Ya betul, objek utama taman ini adalah bunga matahari. Meskipun demikian taman ini memiliki beberapa jenis tanaman bunga lainnya.

Saya kagum melihat tanaman bunga matahari yang besar-besar, berada di balkon bangunan bandara berlatar belakang pesawat berlalu-lalang. Saat itu waktu hampir menunjukkan pukul 7 malam, tapi karena Singapore 1 jam lebih cepat dari Jakarta langit masih cerah & sinar matahari masih cukup untuk memotret. Segera saya memotret dengan kamera Fuji X100s yang selama di Manila belum pernah saya pakai memotret. Ini beberapa foto yang saya dapat dari Sunflower Garden :




Belum puas memotret Fuji X100s saya kehabisan batere. Akhirnya saya beralih memotret dengan menggunakan kamera ponsel saja.


Tidak heran bila Changi Airport (kode : SIN) beberapa kali menjadi langganan The Best Airport in The World. Bandara ini benar-benar memanjakan penumpang yang singgah ke Singapore. Menikmati taman bunga ini cukup mengurangi kekesalan saya ketinggalan pesawat. Setelah puas menikmati taman ini, saya pergi makan malam. Di kupon makan yang saya dapat tercantum beberapa nama restoran, tapi cuma satu yang menarik untuk dikunjungi; Hard Rock cafe yang berada di Terminal 3 Changi. Bertambah kagum saya dengan Changi Aiport, bagaimana tidak kagum bandar udara ini memiliki Hard Rock cafe sendiri. Selesai makan di Hard Rock saya baru tahu kalau kupon makan tadi hanya bernilai SGD $20. Sisa tagihannya saya bayar sendiri. Bolak-balik dari Terminal 2 ke Terminal 3 sangat mudah, tinggal menggunakan SkyTrain saja. SkyTrain ini juga salah satu hal yang saya kagumi dari Changi Airport. Begitu kira-kira pengalaman saya “berwisata” singkat di Changi.

Mengganti Ethernet Instance Number – RHEL 6

Di Linux, network interface card (NIC) Ethernet dikenali dengan simbol eth. Masing-masing interface punya nomor yang unik. Misalnya bila cuma ada 1 interface maka namanya adalah eth0. Bila ada 2, maka kita bisa lihat akan ada 2 interface : eth0 dan eth1. Penomoran ini diatur udev (Dynamic Device Management). Saat proses booting, udev akan mencocokan data perangkat yang aktif dengan aturan yang sudah ada sebelumnya. Misalnya untuk NIC, udev menyimpan aturan (rule) penomoran NIC dalam berkas /etc/udev/rules.d/70-persistent-net.rules seperti contoh berikut ini.

root@rhel6:~# cat /etc/udev/rules.d/70-persistent-net.rules
# This file was automatically generated by the /lib/udev/write_net_rules
# program, run by the persistent-net-generator.rules rules file.
#
# You can modify it, as long as you keep each rule on a single
# line, and change only the value of the NAME= key.


# PCI device 0x8086:0x100e (e1000)


# PCI device 0x8086:0x100e (e1000)
SUBSYSTEM=="net", ACTION=="add", DRIVERS=="?*", ATTR{address}=="08:00:27:d9:19:33", ATTR{type}=="1", KERNEL=="eth*", NAME="eth0"


# PCI device 0x8086:0x100e (e1000)
SUBSYSTEM=="net", ACTION=="add", DRIVERS=="?*", ATTR{address}=="08:00:27:14:05:a7", ATTR{type}=="1", KERNEL=="eth*", NAME="eth1"
root@rhel6:~# 

Pada contoh di atas ada 2 NIC yang terdaftar. Ethernet dengan MAC address “08:00:27:d9:19:33” akan selalu diberi nama eth0 sedangkan NIC dengan MAC Address “08:00:27:14:05:a7” akan diberi nama eth1. Misalnya ada penambahan NIC baru pada komputer, udev akan otomatis menambahkan 1 nomor sehingga NIC tersebut akan dikenali sebagai eth2.

Selain rule untuk perangkat jaringan di atas, udev juga memiliki beberapa berkas lain seperti misalnya :

[root@dummyuim rules.d]# ll
total 36
-rw-r--r--. 1 root root 1652 Nov 20  2010 60-fprint-autosuspend.rules
-rw-r--r--. 1 root root  153 Oct 10  2013 60-ipath.rules
-rw-r--r--. 1 root root 1060 Jul 25  2010 60-pcmcia.rules
-rw-r--r--. 1 root root  316 Oct 12  2013 60-raw.rules
-rw-r--r--. 1 root root  530 Oct  1 22:43 70-persistent-cd.rules
-rw-r--r--. 1 root root  585 Oct  2 07:50 70-persistent-net.rules
-rw-r--r--. 1 root root  320 Dec 20  2012 90-alsa.rules
-rw-r--r--. 1 root root   83 May 21  2011 90-hal.rules
-rw-r--r--. 1 root root  292 Nov 18  2013 98-kexec.rules
[root@dummyuim rules.d]# 

Proses udev akan melakukan scanning pada semua perangkat yang terdeteksi oleh kernel Linux saat proses booting berlangsung. Tidak cuma mengatur penomoran masing-masing perangkat, udev juga bertanggung jawab untuk menjalankan program yang diperlukan untuk mengaktifkan perangkat. Misalnya dengan udev kita bisa menentukan driver module mana yang diperlukan oleh sebuah perangkat (udev akan memanggil program modprobe untuk mengaktifkan driver tersebut).

Kembali ke soal penamaan network interface tadi, biasanya penomoran Ethernet akan relatif statis tidak pernah berubah-ubah. Penomoran Ethernet akan berubah pada kasus tertentu saja; misalnya ada penggantian NIC yang rusak. Tentu hal semacam itu relatif jarang terjadi. Berbeda halnya saat saya menggunakan VirtualBox, saya bisa dengan mudah menggonta-ganti NIC & MAC Address-nya dengan mudah. Gambar berikut adalah contoh cara mengganti MAC Address pada sebuah virtual machine (VirtualBox akan otomatis menghasilkan MAC Address baru):

Misalnya VM RedHat Linux saya awalnya memiliki 1 buah NIC dengan MAC Address “08:00:27:d9:19:33”. NIC tersebut dikenali oleh Linux sebagai eth0. Lalu saya sengaja mengganti MAC Address-nya “08:00:27:14:05:a7”. Karena pada contoh ini saya menggunakan Network Manager & DHCP, Network Manager akan otomatis mengaktifkan NIC tersebut. Akibatnya saya mendapati NIC saya berubah menjadi eth1 seperti contoh berikut ini :

root@rhel6:ttirtawi# ip addr
1: lo: <LOOPBACK,UP,LOWER_UP> mtu 16436 qdisc noqueue state UNKNOWN
    link/loopback 00:00:00:00:00:00 brd 00:00:00:00:00:00
    inet 127.0.0.1/8 scope host lo
    inet6 ::1/128 scope host
       valid_lft forever preferred_lft forever
2: eth1: <BROADCAST,MULTICAST,UP,LOWER_UP> mtu 1500 qdisc pfifo_fast state UP qlen 1000
    link/ether 08:00:27:14:05:a7 brd ff:ff:ff:ff:ff:ff
    inet 192.168.56.2/24 brd 192.168.56.255 scope global eth1
    inet6 fe80::a00:27ff:fe14:5a7/64 scope link
       valid_lft forever preferred_lft forever
root@rhel6:ttirtawi# 

Bila saya cek udev rule saya mendapati 2 baris yang mengatur Ethernet seperti ini :

root@rhel6:~# cat /etc/udev/rules.d/70-persistent-net.rules
# This file was automatically generated by the /lib/udev/write_net_rules
# program, run by the persistent-net-generator.rules rules file.
#
# You can modify it, as long as you keep each rule on a single
# line, and change only the value of the NAME= key.


# PCI device 0x8086:0x100e (e1000)


# PCI device 0x8086:0x100e (e1000)
SUBSYSTEM=="net", ACTION=="add", DRIVERS=="?*", ATTR{address}=="08:00:27:d9:19:33", ATTR{type}=="1", KERNEL=="eth*", NAME="eth0"


# PCI device 0x8086:0x100e (e1000)
SUBSYSTEM=="net", ACTION=="add", DRIVERS=="?*", ATTR{address}=="08:00:27:14:05:a7", ATTR{type}=="1", KERNEL=="eth*", NAME="eth1"
root@rhel6:~# 

Bila saya ingin mengembalikan nama eth0 pada NIC tersebut saya bisa memodifikasi berkas 70-persistent-net.rules tadi menjadi seperti ini :

root@rhel6:~# vi /etc/udev/rules.d/70-persistent-net.rules
# This file was automatically generated by the /lib/udev/write_net_rules
# program, run by the persistent-net-generator.rules rules file.
#
# You can modify it, as long as you keep each rule on a single
# line, and change only the value of the NAME= key.


# PCI device 0x8086:0x100e (e1000)


# PCI device 0x8086:0x100e (e1000)
SUBSYSTEM=="net", ACTION=="add", DRIVERS=="?*", ATTR{address}=="08:00:27:14:05:a7", ATTR{type}=="1", KERNEL=="eth*", NAME="eth0"
root@rhel6:~# 

Saya hapus saja baris yang masih mengatur NIC eth0 & MAC Address lama (“08:00:27:d9:19:33”). Lalu saya ubah baris berisi eth1 menjadi eth0 (untuk baris berisi MAC Address “08:00:27:14:05:a7”). Untuk mengaktifkan rule baru tersebut, cara paling mudah adalah dengan me-restart VM ini. Bila saya perlu melakukannya tanpa me-restart mesin, saya bisa menggunakan perintah udevadm.

Jadi setelah mengubah berkas 70-persistent-net.rules tadi, saya perlu menonaktifkan interface eth1 terlebih dulu seperti contoh berikut ini :

root@rhel6:~# ifconfig eth1 down

Barulah saya bisa menggunakan perintah udevadm seperti berikut ini :

root@rhel6:~# udevadm trigger --attr-match=subsystem=net

Perintah tersebut “memaksa” proses udev untuk membaca ulang rules yang dimilikinya & mengatur ulang penomoran Ethernet. Dengan begitu NIC yang awalnya menggunakan nama eth1 sekarang otomatis berubah menjadi eth0.

root@rhel6:~# ifconfig -a
eth0      Link encap:Ethernet  HWaddr 08:00:27:14:05:A7 
          inet addr:192.168.56.2  Bcast:192.168.56.255  Mask:255.255.255.0
          inet6 addr: fe80::a00:27ff:fe14:5a7/64 Scope:Link
          UP BROADCAST RUNNING MULTICAST  MTU:1500  Metric:1
          RX packets:2 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0
          TX packets:37 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0
          collisions:0 txqueuelen:1000
          RX bytes:1180 (1.1 KiB)  TX bytes:2482 (2.4 KiB)


lo        Link encap:Local Loopback 
          inet addr:127.0.0.1  Mask:255.0.0.0
          inet6 addr: ::1/128 Scope:Host
          UP LOOPBACK RUNNING  MTU:16436  Metric:1
          RX packets:757 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0
          TX packets:757 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0
          collisions:0 txqueuelen:0
          RX bytes:65098 (63.5 KiB)  TX bytes:65098 (63.5 KiB)


root@rhel6:~# 

Kira-kira begitu catatan saya untuk mengubah penamaan network interface Ethernet pada RedHat Linux.

Upgrade SSD Macbook Air

Macbook Air saya cuma punya SSD berukuran 128GB. Ruang sebesar 128GB ini hampir seluruhnya terisi dengan data-data pekerjaan saya. Praktis tidak ada berkas musik, foto, atau film yang bisa saya simpan di dalam Macbook Air. Bahkan untuk menyimpan berkas virtual harddisk-nya VirtualBox, saya cuma bisa menyimpan 1 berkas VDI saja. Akibatnya, saya jadi kurang leluasa bekerja dengan beberapa virtual machine. Saya memutuskan untuk melakukan upgrade media penyimpanan SSD ini. Setahu saya agak sulit menemukan SSD untuk Macbook Air di Jakarta.

Dari pengalaman upgrade SSD Mac Mini, saya tahu kalau web Other World Computing menjual SSD untuk Macbook Air. Dulu saya membeli OWC Data Doubler untuk tambahan harddisk Mac Mini. OWC menjual berbagai macam komponen Mac termasuk SSD untuk Macbook Air. Setelah browsing-browsing sebentar, saya pilih SSD OWC 480GB Aura. SSD berukuran 480GB ini dibanderol dengan harga USD$409 . Harga ini sudah termasuk sebuah casing untuk SSD asli Macbook Air (Envoy USB 2.0/3.0 Enclosure).

Dulu waktu membeli OWC Data Doubler, saya menggunakan jasa pengiriman US Postal Service. Kali ini saya agak ragu untuk menggunakan jasa pengiriman yang sama mengingat harga SSD tadi cukup mahal. Karena khawatir SSD pesanan saya akan hilang saat proses pengiriman, saya memilih jasa pengiriman DHL. Ongkos pengiriman dengan DHL sebesar $24.11 (sekitar Rp270.000,- dengan kurs Rp11500,-). Jadi total biaya yang harus saya bayar ke OWC adalah USD$433.11.

Sebenarnya saya agak ragu menggunakan jasa DHL karena beberapa cerita di Internet tentang aneka pungutan yang dibebankan pada penerima paket. Beberapa cerita tentang bagaimana paket ditahan oleh pihak jasa pengiriman sebelum penerima membayar sejumlah tagihan. Tapi saya nekat saja memilih DHL. Saya siap dengan resiko membayar pajak atau pungutan lain-lainnya. DHL menyediakan sistem tracking online, fasilitas ini memudahkan saya mengetahui sudah sampai mana pengiriman paket saya dari Amerika. Ternyata paket ini sempat singgah ke Hongkong dan Taiwan terlebih dulu sebelum akhirnya sampai di Indonesia. Paket saya diperkirakan sampai pada tanggal 4 Agustus. Ternyata meleset 1 hari, saya baru menerima paketnya hari Selasa 5 Agustus 2014.

Saya sempat heran juga saat menerima paket, DHL tidak memberikan tagihan apa-apa. Ternyata keesokan harinya petugas DHL yang sama datang lagi membawa lembar invoice bernilai total Rp1.460.000,-. Saya sedikit curiga mengapa tagihan pajak ini datang terlambat, dalam hati saya mempertanyakan keaslian tagihan itu. Petugas DHL tersebut beralasan tagihan telat karena kemarin printer di kantor bermasalah. Alasan macam ini makin membuat saya curiga. Saya minta si bapak kembali lagi esok harinya. Saya ingin crosscheck dulu keaslian tagihan pajak DHL tersebut. Seorang teman yang pernah punya pengalaman buruk dengan DHL menyarankan saya untuk tidak membayar tagihan tersebut. Tapi karena komitmen awal untuk siap dengan aneka tagihan DHL, singkat cerita akhirnya saya bayar lunas tagihan tersebut. Saya sempat telepon kantor DHL Jakarta untuk meminta perincian pajak. Tapi sampai tulisan ini dibuat DHL belum mengirimkan email perincian pajak yang saya minta.

Proses Pasang SSD

Kemasan paket SSD OWC 480GB Aura terlihat seperti berikut ini :

Dalam paket ini disertakan juga 2 buah obeng Torx.

SSDnya sendiri dibungkus lagi dalam kemasan plastik kaku seperti ini :

Bentuk SSD untuk Macbook sekilas mirip seperti memori komputer desktop.

OWC menyediakan petunjuk lengkap cara memasang SSD Macbook Air. Saya tonton dulu video instruksinya dari URL ini. Pertama yang harus dilakukan adalah melepas tutup belakang Macbook Air. Ada 10 sekrup yang memegang tutup belakang ini ke body Macbook Air. Ini tampilan belakang Macbook Air setelah saya melepas tutupnya.

Mengikuti instruksi yang diberikan, selanjutnya saya melepas konektor batere. Konektor ini bentuknya seperti IC dan ukurannya cukup kecil. Untung saya masih menyimpan plastik pencongkel yang dulu saya dapat saat membeli OWC Data Doubler.

SSD bawaan Macbook Air hanya dikencangkan dengan 1 sekrup saja. Setelah sekrup dilepas, SSD sangat mudah dilepaskan. Cukup angkat ujung kanannya sedikit lalu menariknya keluar (pada foto terlihat ke arah kanan)

Lalu saya segera pasang OWC Aura 480GB ke posisi yang sama.

Ternyata SSD ini ukurannya lebih panjang, bagian ujung SSD tidak bisa masuk ke ceruk tempat SSD. Ada sedikit kelebihan plastik PCBnya (bagian yang berwarna kekuningan). Saya sempat kuatir karena bukan hal yang mudah menukar SSD ini ke penjualnya.

Ini tampilan lebih dekat hasil cropping foto :

Saya putuskan untuk mengamplas saja bagian ujung plastik SSD tersebut. Sayangnya saya tidak menemukan kertas amplas. Nekat saja saya ambil pisau cutter untuk mengikis sedikit-sedikit bagian plastik PCB tersebut. Perlu beberapa kali percobaan sampai akhirnya SSD tadi bisa ditempatkan dengan sempurna.

Proses Restore Data

Setelah SSD terpasang, saya segera boot Macbook Air ini dengan USB berisi OSX Maverick. Saya bukan ingin melakukan fresh install tapi ingin melakukan restore dari Time Machine. Setelah sukses boot dari USB, saya buka aplikasi Disk Utility. SSD OWC tadi terdeteksi dengan baik.

Segera saya buat 1 partisi baru dengan filesystem jenis Mac OS Extended (journaled). Saya beri nama volume ini “MacOSX”.

Setelah menutup aplikasi Disk Utility saya kembali ke menu utama, saya pilih menu Restore :

Sebelumnya saya sudah memasangkan USB External Disk tempat saya menaruh backup Time Machine. Harddisk eksternal tersebut saya namai TIMEMACHINE_MBA.

Saya tinggal pilih backup file terakhir yang ada dalam harddisk eksternal tadi.

Lalu saya diminta untuk menentukan tujuan restore. Saya pilih harddisk dengan nama MacOSX.

Berikutnya muncul peringatan bahwa proses restore akan menghapus semua data yang ada dalam target harddisk.

Saya hitung proses restore ini berlangsung kurang lebih 1 jam.

Setelah proses restore selesai saya bisa langsung boot Macbook Air ini seperti biasanya dari SSD. Saat saya ukur kecepatan baca tulis SSD baru ini dengan aplikasi BlackMagic, saya mendapati hasil seperti ini :

Hasilnya masih kalah dengan kecepatan baca tulis SSD asli bawaan Macbook Air :

Tapi saat dipakai sehari-hari saya belum menemukan perbedaan & penurunan performa SSD baru ini. Yang jelas saya sekarang bisa leluasa menyimpan banyak file dengan SSD besar ini.

Enclosure

SSD lama bawaan Macbook Air saya pasangkan pada enclosure Envoy. Enclosure ini menyulap SSD 128GB tadi menjadi harddisk eksternal dengan tampilan yang keren. Enclosure-nya terbuat dari bahan alumunium, bahan & bentuknya pun senada dengan body Macbook Air.

Di dalamnya ada konektor SSD tempat saya meletakkan SSD bawaan tadi.

Enclosure ini dilengkapi dengan port USB 3, jadi sudah cukup kencang untuk dipakai mentransfer data ke Mac.

Saat dihubungkan dengan Mac, ada lampu indikator berwarna biru yang menyala. Bila sedang terjadi proses transfer data, lampu indikator tersebut akan terus berkedip.

Saya beberapa kali mengalami SSD eksternal ini tidak dikenali oleh komputer (baik itu Mac maupun PC). Sepertinya konektor bagian dalam enclosure ini mudah tergoyang. Biasanya saya coba ketuk-ketukan enclosure ini di bagian tempat konektor SSD berada (dengan harapan SSD & konektornya kembali ke posisi yang benar). Dan cara bodoh-bodohan tadi biasanya berhasil, setelah diketuk-ketuk SSD bisa dibaca lagi oleh komputer.

Lalu Lintas & Taksi Di Manila

Minggu lalu saya pergi ke Manila untuk urusan pekerjaan. Ini kali kedua saya pergi Manila setelah kunjungan kali pertama tahun 2011 lalu. Bagi saya Manila banyak miripnya dengan Jakarta, terutama dalam urusan lalu lintas & macetnya. Perbedaan paling mencolok menurut saya cuma posisi berkendara di sebelah kanan (setir mobil ada di sisi kiri). Bepergian dengan taksi yang dikemudikan di sisi kiri, bagi saya membuat pusing.

Di sepanjang jalan kota Manila saya bisa lihat mayoritas tipe mobil hampir sama dengan Jakarta. Misalnya Toyota Vios, Avanza, Innova banyak sekali di Manila. Saya juga amati cukup banyak juga mobil jenis pickup seperti Toyota Hilux atau Mitsubishi Strada. Kendaraan unik yang menurut saya bisa dibilang sebagai maskotnya Filipina adalah Jeepney (dibaca “jip-ni”). Jeepney ini adalah kendaraan hasil modifikasi mobil jip menjadi semacam bus kecil. Jeep lama seperti ini kalau di Indonesia sering dipakai sebagai kendaraan offroad. Anda yang pernah ke Bromo pasti pernah melihat (atau pernah menggunakan jeep) untuk naik ke puncak Bromo . Entah bagaimana persisnya mereka melakukan modifikasi, yang jelas chassis mobil jip ini diperpanjang sehingga bisa menampung penumpang dalam jumlah banyak.

jeepney

Jeepney sebagai angkutan umum punya banyak kemiripan dengan angkot di Indonesia. Penumpang Jeepney duduk dalam 2 baris saling berhadap-hadapan. Bedanya dengan angkot yang umumnya memiliki pintu di sisi mobil, penumpang Jeepney masuk dari bagian belakang mobil. Mudah sekali menjumpai Jeepney di jalanan Manila. Beberapa kali saya juga menjumpai pangkalannya dengan Jeepney yang terpakir sangat banyak. Meskipun menggunakan mesin mobil tua, saya beberapa kali melihat supir Jeepney mengemudikan kendaraannya cukup kencang di jalanan yang lowong. Dari hasil obrolan dengan supir taksi katanya ongkos naik Jeepney ditentukan berdasar jarak, lagi-lagi mirip angkot di Indonesia. Hal lain yang menurut saya mirip dengan angkot adalah budaya menggunakan soundsystem yang diputar dengan kencang. Tiap-tiap Jeepney dihias sedemikian rupa dengan cat dan gambar-gambar yang mencolok.

Sejauh ini bagi saya yang paling menyebalkan dari transportasi di Manila bukan soal macetnya. Bagi saya taksi Manila lebih menyebalkan dari macetnya sendiri. Macetnya Manila menurut saya masih kalah dengan macetnya Jakarta. Macet di sana lebih banyak karena lampu merah. Kalaupun lalu lintas padat, kendaraan masih bergerak pelan-pelan. Entah mungkin karena saya belum terlalu lama berada di Manila, saya belum menjumpai macet horor seperti di Jakarta saat kendaraan berhenti bergerak untuk waktu yang cukup lama.

Kebanyakan taksi yang lalu lalang di Manila menggunakan sedan Toyota Vios. Lucunya hampir di semua taksi yang saya jumpai, nama pengemudi dicat di pintu mobilnya. Saya cukup heran mengapa cat yang digunakan untuk menuliskan informasi pada badan taksi itu hanya cat biasa. Kalau diamati dari dekat seperti dicat dengan kuas secara manual. Tadinya saya pikir itu hanya dilakukan oleh taksi-taksi tua yang sudah tidak terawat. Tapi saya pun menjumpai mobil baru dengan cara pengecatan seperti itu.

manila-taxi

Bagi saya lucu melihat hampir semua taksi bertuliskan “Air Con”. Seolah-olah AC mobil adalah hal istimewa tersendiri bagi taksi tersebut. Saya mendapati pengalaman yang kurang menyenangkan dengan taksi di Manila. Dari dua kali kunjungan ke Manila, saya belum sekalipun menjumpai pengemudi taksi umum yang mengemudikan taksinya dengan nyaman. Saya senang memperhatikan gaya mengemudi supir taksi khususnya di Jakarta. Di Jakarta pengemudi taksi BlueBird/SilverBird yang menurut saya mengemudikan mobilnya dengan baik (cukup nyaman bagi penumpang). Meskipun demikian taksi lain pun relatif masih OK. Apa sih ukuran nyamannya? Gampang, amati saja mulai dari gaya memindahkan gigi persneling, cara menginjak pedal gas, cara menyalip mobil, cara berpindah jalur, dan yang paling penting cara mengerem. Di Manila tidak satupun yang nyaman. Seburuk-buruknya supir taksi di Jakarta, menurut saya masih jauh lebih baik dari supir taksi di Manila.

Pengalaman kedua saya dapatkan pada trip kemarin. Saya menginap di Holiday Inn Makati. Makati ini pusat kota dan juga business district, anggap saja kawasan Sudirman-Thamrin atau Mega Kuningan-nya Jakarta. Saya harus mengunjungi client yang kantornya terletak di kawasan Pasig City. Letaknya sekitar 10–15km dari hotel tempat saya menginap. Selain jauh lokasinya melewati daerah pusat kemacetan. Berangkat ke sana tidak terlalu menjadi soal karena ada pangkalan taksi di lobi hotel. Pulangnya yang repot. Sekitar pukul setengah 8 malam saya mulai menunggu taksi di pinggir jalan. Setidaknya ada 5 taksi yang menolak untuk membawa saya ke Makati. Masih cukup bersabar saya menunggu taksi, dengan plan B saya akan menelepon hotel minta dijemput saja.

Setelah 1 jam menunggu akhirnya saya berhasil juga mendapat taksi yang bersedia membawa saya kembali ke hotel. Dari Makati sampai Pasig City biaya taksinya antara 300–400 Peso. Saya tidak tahu berapa normalnya, kabarnya sudah umum argometer taksi di sana tidak pernah akurat alias argo siluman. Mulai hari kedua saya sudah kapok menggunakan taksi umum. Saya pilih menggunakan taksi hotel saja. Sekali jalan saya harus membayar 900 Peso. Relatif mahal dari taksi biasa. Tapi kalau saya hitung-hitung ongkosnya mirip dengan menggunakan SilverBird di Jakarta. Nilai tukar Phillipine Peso itu sekitar Rp250,-.

Dari Google saya jadi tahu tidak sedikit cerita pengalaman orang tentang taksi di Manila. Kurang lebih sama dengan pengalaman saya tadi. Untuk urusan kenyamanan berkendara dengan taksi, saya masih lebih menjagokan Jakarta. Kira-kira begitu sedikit cerita tentang taksi dan lalu lintas di Manila.