Sekilas Tentang IMEI

Biasanya nomor seri ponsel dicetak di badan ponsel tepat di belakang batere. Lain halnya dengan iPhone, serial number-nya dicetak di SIM card adapter. Di adapter tersebut juga tercetak nomor IMEI. Apa itu IMEI?

IMEI adalah singkatan dari International Mobile Station Equipment Identity. IMEI terdiri dari 15 digit angka. IMEI membawa informasi tentang ponsel yang bersangkutan seperti pabrik pembuat ponsel, model ponsel, dsb. Anda bisa cek IMEI ponsel Anda dengan menekan kombinasi *#06# pada tombol panggil.

Teorinya semua ponsel di dunia memiliki IMEI yang unik. Tapi pada kenyataannya banyak produsen ponsel yang kurang terkenal menggunakan nomor IMEI yang sama untuk banyak ponselnya (contohnya ponsel-ponsel murah buatan China). Parahnya ada juga pabrikan yang membajak nomor IMEI dari pabrikan lain. Jadi jangan heran bila ponsel China Anda memiliki nomor IMEI ponsel Nokia. Anda bisa coba cek sendiri keaslian IMEI ponsel Anda di web ini. Dengan bantuan web tadi kita bisa tahu apakah nama produsen dan tipe ponselnya sesuai dengan kenyataan.

Lalu apa gunanya IMEI? Salah satu contoh aplikasinya adalah operator seluler bisa menggunakan IMEI untuk memberikan promosi atau diskon khusus untuk tipe ponsel tertentu. Jadi singkatnya operator bisa mengetahui tipe ponsel yang sedang Anda gunakan lalu memberikan penawaran yang tepat. Tidak ada gunanya kan menawarkan paket internet pada ponsel seperti Nokia 1200 yang tidak punya konektivitas data. Contoh nyata lain, di menu *123# XL menampilkan tawaran paket sesuai dengan tipe ponsel. Misalnya di Blackberry saya menu *123# menampilkan tawaran BB XmartPlan. Bila saya pakai ponsel Androidnya Samsung, maka tawaran yang muncul adalah Samsung XmartPlan.

IMEI ini juga berguna untuk melaporkan kehilangan ponsel. Teorinya kerjasama antar operator bisa mencegah si pencuri untuk menggunakan ponselnya dengan mengidentifikasi IMEInya. Tapi sejauh yang saya tahu fitur ini belum digunakan di Indonesia. Kira-kira begitu sekilas tentang IMEI yang saya ketahui.

Airport Tax Masih Ada

Saat pergi ke Surabaya bulan lalu saya baru tahu kalau saya tidak perlu lagi membayar pajak bandara (airport tax). Saya baru tahu setelah saya menyodorkan uang ke petugas check-in Garuda di terminal 2F bandara Soekarno-Hatta. Si Mbak petugas menjelaskan sekarang tidak perlu lagi membayar airport tax di counter check-in. Katanya biaya pajak bandara tadi sudah termasuk ke dalam harga tiket pesawat. Sayangnya saya tidak bertanya apakah aturan tadi hanya berlaku di terminal 2F atau hanya berlaku untuk penumpang Garuda saja.

Ternyata hal yang sama juga saya alami dalam perjalanan pulang dari bandara Juanda Surabaya. Dulu saya ingat sekali bila pulang dengan Garuda dari Juanda, saya harus membayar airport tax di lantai 2. Lokasi loketnya persis di sebelah konter imigrasi. Sekarang loket itu sudah tidak ada penjaganya. Tidak ada tulisan soal airport tax pula. Saya tarik kesimpulan rupanya ada peningkatan layanan di terminal domestik bandara.

Tapi rupanya kesimpulan saya terlalu dini. Saat berangkat ke Singapura akhir bulan lalu saya masih harus membayar airport tax saat melakukan check-in.

Sayang juga saya lupa bertanya kenapa ada beda perlakuan untuk terminal keberangkatan internasional. Memang tulisan ini bukan untuk komplen karena toh ada atau tidak airport tax semua biaya perjalanan ditanggung oleh kantor. Ini hanya sebatas hasil pengamatan dan catatan perjalanan saja.

Rasa Sentosa

Akhir bulan lalu saya mengikuti training di Singapura. Trainingnya diadakan di Rasa Sentosa Resort. Lokasinya di pulau Sentosa. Rasa Sentosa masih satu grup dengan Shangrilla. Ini kali kedua saya menginap di Rasa Sentosa. Tahun lalu saya pernah ke sini saat mengikuti acara gathering kantor.

View dari kamar saya cukup menarik, menghadap langsung ke pantai Siloso. Saya coba rekam momennya dengan mode panorama seperti ini :

Dari balkon saya bisa liat banyak sekali kapal berseliweran di perairan Singapura ini. Dari kapal feri cepat sampai kapal barang yang terlihat lambat sekali pergerakannya. Bagian dalam kamar yang saya tempati seperti ini :

Kambing Bakar Cairo

Minggu lalu saya mencoba rumah makan Kambing Bakar Cairo di Kelapa Gading. Teman saya merekomendasikan tempat makan ini meskipun dia sendiri belum pernah mencobanya. Tempat makan di jalan Kelapa Nias ini papan mereknya cukup menarik perhatian.

20130721-140319.jpg

Ada 3 hal yang menarik di plang namanya :

  • katanya terlezat nomor 2 se-Timur Tengah
  • katanya kambing bakarnya rendah kolesterol
  • dan yang paling menarik ditulis kalau tidak ketagihan Anda tidak perlu membayar.

20130721-140433.jpg

20130721-140333.jpg

Saya coba pesan paha kambing bakar ukuran kecil (250gr kalau tidak salah). Tersedia pula ukuran sedang & ukuran besar. Ternyata benar daging kambingnya benar-benar lembut. Tidak perlu pisau untuk memotong-motong dagingnya, cukup dengan sendok dagingnya sudah terurai. Paha kambing ini disajikan di atas hot plate seperti yang sering dipakai di steak house. Kecap sambal dihidangkan pada piring yang terpisah. Kecapnya dilengkapi dengan irisan cabe rawit dan taburan merica. Bumbu tadi membuat rasanya seperti makan sate kambing khas solo, saya suka kombinasi daging empuk & sambal kecapnya.

Sedikit kekurangan yang saya rasa adalah nasi putihnya terasa cukup keras, seperti nasi putih yang dipakai untuk membuat nasi goreng. Seporsi paha kambing bakar & sepiring nasi putih sangat mengenyangkan. Lain kali mungkin saya akan pilih porsi kambing bakar lebih besar dengan nasi cukup setengah saja.

Tidak perlu waktu lama untuk membuat saya ingin kembali lagi ke sini. Biasanya kalau mengunjungi Kelapa Gading & ingin makan kambing, saya akan pergi ke sate kambing batibul Bang Awi. Setelah mencoba kambing bakar ini rasanya saya akan beralih tidak lagi ke sate kambing Bang Awi.

Ledre

Dulu waktu sering ke Surabaya, saya sering beli ledre di toko oleh-oleh. Pernah saya tulis juga di blog ini. Minggu lalu saat kembali mengunjungi Surabaya saya juga sempatkan beli ledre. Untuk yang belum tahu, ledre itu makan ringan yang terbuat dari tepung & pisang, dicetak tipis-tipis.
20130721-134213.jpg

Kali ini saya coba merek yang lain bukan yang dulu saya sering beli. Entah karena sudah lama tidak makan ledre atau memang ledre merek ini terasa lebih enak. Ledre ini rasanya bentuknya lebih tipis dari yang biasa saya beli. Dalam satu kotak ini ada 2 bungkusan alumunium foil, masing-masing berisi 4 ledre. Walaupun di dusnya tertulis aneka rasa, tapi saya tidak menemukan rasa yang lain seperti rasa khas ledre.

ledre1