Restore Dari TimeMachine

Kemarin saya membuat kesalahan bodoh dengan menghapus aplikasi Java dari Macbook. Awalnya saya sempat berkutat dengan Java supaya bisa menggunakan aplikasi kantor berbasis Java Web Start. Setelah gagal beberapa kali menginstal Java Runtime, utak atik saya berakhir dengan salah menghapus Java bawaan Mac OSX. Sebelumnya aplikasi Java terinstal dengan baik :

ttirtawi@macbook-air:~$ java -version
java version "1.6.0_37"
Java(TM) SE Runtime Environment (build 1.6.0_37-b06-434-11M3909)
Java HotSpot(TM) 64-Bit Server VM (build 20.12-b01-434, mixed mode)
ttirtawi@macbook-air:~$

Karena salah hapus file di /System, aplikasi Java terhapus juga. Ketika saya ingin menginstal ulang Java bawaan Mac OS, proses instalasi gagal karena program menganggap sudah ada aplikasi yang sama dengan versi yang lebih baru. Bosan mencari tahu lewat Google, saya putuskan untuk melakukan full restore. Mac OSX punya aplikasi TimeMachine untuk sarana backup restore. TimeMachine terintegrasi dengan baik dengan sistem operasinya sehingga relatif sangat mudah untuk dipakai. Sejak awal menggunakan Mac, saya sudah menggunakan TimeMachine untuk backup data. Sampai kemarin saya belum pernah menggunakan TimeMachine untuk melakukan restore.

20130203-213416.jpg

Proses restore keseluruhan sistem operasi sangat mudah. Setelah menyambungkan harddisk backup, saya cukup restart Macbook sambil menekan tombol Cmd+R sampai muncul menu untuk melakukan restore. Saya disuguhi pilihan untuk melakukan restore data sampai beberapa hari ke belakang. Saya pilih untuk mengembalikan data ke kondisi hari Sabtu jam 1 siang. Proses restore data berlangsung sekitar 1 jam.

Ajaib, setelah restore selesai Macbook saya kembali ke kondisi semula (hari Sabtu siang). Semua data normal dan kembali semua. Data-data yang sudah saya hapus Sabtu sore kemarin pun muncul kembali. Aplikasi Java juga kembali lagi. Sebenarnya mungkin ada cara yang lebih mudah untuk mengembalikan aplikasi Java yang corrupt. Tapi dengan cara ini saya jadi tahu persis kegunaan TimeMachine & bagaimana powerfull-nya aplikasi ini. Dengan menggunakan TimeMachine kita bisa menyelamatkan data yang hilang, memperbaiki sistem yang corrupt, dan bahkan bisa juga dipakai untuk melakukan cloning dari satu Mac ke mesin Mac yang lain.  Sejauh ini saya puas sekali dengan aplikasi TimeMachine bawaan Mac OSX ini.

Motret Kok Miring

20130130-192831.jpg

Akhir tahun 2009 lalu saya sempat ikut kelas fotografi di Canon Photo School. Gurunya adalah Alm.Kumara Prasetya terkenal cukup keras. Keras dalam memberi doktrin pada murid-muridnya. Salah satu doktrin yang paling saya ingat adalah motret itu jangan miring. Saya masih ingat ada momen saat kami asistensi dengan beliau, salah satu rekan sekelas menyerahkan foto model yang diambil dengan angle miring. Kaget saya waktu selembar foto itu dilempar begitu saja oleh Pak Kum; sambil berkata “Apa ini?! Motret kok miring-miring!”.

Menurut saya Pak Kumara meletakkan fondasi yang bagus untuk orang yang baru mencoba belajar fotografi seperti saya. Foto bangunan atau arsitektur memang tidak boleh miring. Beliau sempat menjelaskan apa jadinya kalau kita disuruh memotret oleh perusahan real estate dan hasil foto rumah-rumahnya nampak miring seakan mau roboh. Mana ada orang tertarik membeli rumah yang terlihat akan roboh. Menyambung doktrin itu Pak Kumara mengajarkan pentingnya menggunakan tripod dan spirit level saat memotret arsitektur. Bahkan ada Pak Kumara punya teori : “tripod is a must, no tripod no photo”

Biasanya foto bangunan terlihat miring bila kamera tidak sejajar dengan horizon (tidak level). Tanpa tripod akan sangat sulit untuk mendapatkan level yang tepat. Misalnya foto Rydges hotel di atas. Saya pakai iPhone untuk memotretnya. Untuk bisa mendapat foto hotel itu secara utuh, mau tidak mau saya harus mendongakkan iPhone. Sama halnya waktu menggunakan kamera apapun. Mendongakkan kamera ke atas akan menghasilkan foto bangunan yang tampak seperti akan roboh ke belakang. Sebaliknya menundukkan kamera akan menyebabkan objek foto seolah akan roboh ke depan.

Pada kasus saya tadi bila saya mengarahkan kamera pada arah yang sejajar, maka bagian atas hotel akan terpotong tidak masuk dalam frame. Solusi pertama yang mungkin adalah dengan menggunakan lensa wide (lensa super lebar). Tapi dengan lensa wide pun ada efek negatifnya, bagian foreground akan mendominasi frame. Solusi berikutnya adalah pindah ke posisi yang lebih tinggi. Mungkin dengan memotret dari atas atap bangunan lain, atau mungkin dengan naik tangga/crane yang cukup tinggi. Seperti foto di bawah ini, rekan saya Wahyudi naik crane saat melakukan pemotretan bangunan kantor kliennya.

DSC_9120

Solusi berikutnya adalah dengan menggunakan lensa tilt and shift. Jujurnya saya belum pernah mencoba menggunakan lensa jenis ini. Katanya lensa ini sangat populer untuk foto arsitektur.

Kadang saya merasa bersalah bila memotret sesuatu dan hasilnya terlihat miring seolah akan roboh. Tapi kadang momen bisa menjadi alasan. Tanpa tripod dan tanpa lensa super lebar apakah saya jadi batal mengabadikan hotel Rydges tadi? Tentu tidak, karena tujuan saya hanya untuk mengambil foto dokumentasi, mengabadikan hotel di mana saya menginap dan bukan memotret arsitekturnya. Akan menjadi sangat konyol kalau keterbatasan alat menghentikan saya mengabadikan momen. Tapi jauh lebih konyol kalau saya bawa tripod, punya lensa super lebar tapi hasil fotonya tetap saja miring :-).

Arsitektur Langit-Langit

Arsitektur langit-langit bisa menjadi salah satu ciri khas sebuah bandara. Misalnya di bandara Soekarno Hatta Jakarta ini :

20130128-185852.jpg

Bandara Internasional Sydney juga punya arsitektur yang unik di Terminal 1 keberangkatan internasionalnya :

20130128-185907.jpg

Airbus A380

Sejak pagi tadi waktu saya mendarat dari Wellington, Sydney sudah diguyur hujan deras. Proses landing jadi sedikit menegangkan. Hujan rupanya bertahan sampai siang ini. Sambil makan siang saya ambil foto situasi bandara internasional Sydney saat masih hujan rintik-rintik. Di foto nampak 2 pesawat Airbus A380 milik Qantas dan Singapore Airlines.

20130127-132802.jpg

20130127-152046.jpg

Pesawat yang benar-benar bongsor. Pesawat lain sekelas Boeing 737-800 jadi nampak kecil sekali bila melintas di antara 2 pesawat besar ini.

Mudah-mudahan penerbangan saya selanjutnya menuju Jakarta berlangsung aman di tengah hujan seperti ini.