Wedding Shoot

Ceritanya akhir pekan lalu saya pulang ke Cirebon. Sepupu saya menikah di Cirebon. Kesempatan memotret bagi saya, kesempatan juga mencoba Speedlite dan diffuser-nya juga 😀 Tidak gampang memotret momen pernikahan. Apalagi saya hanya bermodal lensa fix 50mm. Untuk zoom in saya harus mendekat ke objek, untuk memotret beberapa orang sekaligus saya harus mundur jauh ke belakang. Untung mundur-mundur tidak sampai terjebur kolam…ah emangnya filmnya Dono Kasino Indro :))

Sebenarnya saya agak segan memotret di tengah acara seperti itu, karena sudah ada fotografernya. Untungnya lensa 50mm saya punya aperture cukup besar, sehingga saya masih bisa memotret tanpa harus menggunakan flash. Agak ragu juga saya menggunakan flash, takut mengganggu fotografer aslinya. Saya kan bukan fotografer resmi acara nikahan itu, malu mengganggu mereka. Untung juga lampu sorot milik fotografernya cukup kuat, foto di samping ini misalnya cukup menggunakan f/4 dengan ISO 800. Hmm niatan awal mencoba flash eksternal jadi dialihkan untuk memotret kerabat yang kebetulan datang di acara resepsi. Motret pengantinnya (seperti foto di samping ini) malah hampir semuanya tidak pakai flash sama sekali.

Ngomong-ngomong soal mengganggu fotografer resmi, tadi malam saya tanpa sengaja membaca postingan di forum fotografi (Fotografer.net) tentang keluh kesah salah satu wedding photographer. Ceritanya dia sebagai fotografer acara pernikahan merasa terganggu dengan adanya fotografer-fotografer lain yang ikut memotret di tengah acara. Ramai juga diskusi di forum itu, beberapa komentar juga mengiyakan pengalaman mereka memotret acara pernikahan dengan “selingan” fotografer tidak resmi. Fotografer tidak resmi bisa saja yang amatiran, fotografer beneran yang dibawa sebagai tambahan oleh pihak keluarga pengantin, atau bisa juga kerabat/saudara yang ikut memotret. Walah saya jadi berpikir, jangan-jangan apa yang saya lakukan kemarin mengganggu fotografer resmi acara nikahan kemarin itu (padahal paragraf pertama dan kedua sudah saya tulis di draft sejak hari Senin tapi belum selesai-selesai)

Flash back sebentar saya ingat-ingat apa saja yang saya lakukan. Hmm rasaanya saya motret pengantin tanpa flash, flash saya pakai juga sih tapi saat si fotografer tidak sedang memotret, rasanya saya berdiri tidak menghalangi area jepretan (frame) si fotografer….rasa-rasanya sih saya tidak mengganggu. Gak tau juga kalau ternyata fotografernya dongkol lihat saya motret-motret :-p Tapi saya penasaran juga dengan topik ini. Jadi saya putuskan untuk coba melemparkan topik di forum tentang apakah bolehkah memotret di tengah acara pernikahan. Sekadar ingin tahu pendapat mereka yang sehari-hari berkecimpung sebagai wedding photographer. Hampir semua komentar yang masuk mengatakan boleh-boleh saja seorang pehobi foto seperti saya mengambil foto di tengah acara pernikahan, tentunya dengan etika tertentu. Salah seorang anggota forum yang berprofesi sebagai wedding photographer menuliskan seperti ini :

  • Sudah mendapat izin dari yang punya hajat dan atau EO nya
  • Adanya komunikasi dengan fotografer utama, jika ada termasuk mengikuti aturan yang diterapkan fotografer utama.
  • Tidak menghalangi atau berdiri berlawanan dengan fotografer utama
  • Tidak mengganggu jalannya acara & mengganggu fotografer utama (mis. pemakaian flash yang malah mentrigger flash fotografer utama, jika ada slave flash)
  • Dapat menghargai fotografer utama dalam menjalankan tugas
  • Hanya mengingatkan kembali bahwa fotografer utama mempunyai tanggung jawab hasil foto yang baik utk klien nya sedangkan kita hanya sekedar ikut motret
  • Walaupun kita di minta bantuan / di sewa oleh salah satu mempelai, tetap harus komunikasi dan menghargai fotografer utama nya

Rangkuman yang bagus dan cukup menjawab pertanyaan saya. Dari sekian banyak daftar etika tadi, satu yang kemarin tidak saya lakukan : berkomunikasi dengan fotografer utamanya. Hmm mereka sibuk & saya segan untuk ijin motret (segan atau malu ya? 😀 ). Jadi pelajaran buat saya kalau memotret liputan yang punya fotografer resmi kudu ijin dulu sebelumnya.

8 thoughts on “Wedding Shoot

  1. Pingback: Blognya Tedy Tirtawidjaja » Nikahan Buchari

Leave a Reply