Masalah Instalasi Windows XP
Sabtu malam saya mengalami sedikit kesulitan saat menginstal Windows XP ke dalam notebook Lenovo tipe 3000 N200. Notebook ini adalah properti kantor rekan saya. Notebook Lenovo ini sudah berisi Windows Vista (preinstalled), saya diminta mengganti Windows Vista yang ada menjadi Windows XP. Masalah yang muncul adalah sistem instalasi Windows XP tidak dapat mengenali harddisk yang terpasang di dalam notebook. Pesan error yang muncul mengatakan bahwa kemungkinan harddisk diproteksi oleh pabrikan (manufacturer) atau ada setting yang salah. Saya sempat foto error yang muncul seperti berikut ini :
Masalah di atas muncul saat sistem instalasi Windows XP baru saja mulai. Ini kali kedua saya mengalami hal semacam ini. Beberapa bulan lalu saya juga sempat dimintai tolong oleh Edi teman saya untuk “membuang” Windows Vista dari dalam notebook Fujitsu Lifebook S6410 milik Edi rekan saya. Pesan error yang sama terjadi.
Ok balik dulu ke masalah instalasi Windows XP di Lenovo tadi. Pertama saya coba boot dulu Windows Vista yang sudah terinstal di dalam Lenovo. Karena ada kata-kata “manufacturer-supplied diagnostic or setup program” pada pesan error di atas, logika saya mengatakan pasti ada partisi lain di dalam harddisk yang sengaja disembunyikan dan menghalangi proses instalasi Windows. Supaya mudah melihat bagaimana partisi harddisk, saya instal Acronis Disk Director supaya mudah mengelola partisi yang ada. Dengan bantuan Acronis Disk Director saya melihat ada sebuah partisi berukuran sekitar 6GB selain partisinya Windows Vista. Saya tahu bahwa partisi itu adalah tempat menyimpan program recovery Windows (bawaan pabrik). Saya hapus saja partisi tersebut, toh Windows Vista tersebut sudah tidak dibutuhkan lagi dalam notebook ini. Setelah partisi tersebut saya hapus, saya coba lagi boot CD instalasi Windows XP. Eh ternyata pesan yang sama tetap muncul, harddisk-nya tidak dikenali ![]()
Untung tadi malam saya masih dalam kondisi fit untuk ngoprek
Segera saya tanya Google, baca-baca sebentar saya dapat pencerahan di sini. Saya harus mematikan opsi SATA pada BIOS. Saya coba cari-cari di dalam BIOS-nya Lenovo ini. Menu tersebut terlihat seperti pada gambar berikut ini :
Saya ganti opsinya menjadi pilihan Compatibility. Entah apa bedanya cuma rasa-rasanya kok itu yang jadi masalah. Setelah itu saya coba jalankan lagi instalasi Windows XP dan ternyata memang benar langkah tadi menyelesaikan masalah. Dengan mengubah opsi SATA Controller Mode itu, sekarang Windows XP dapat mengenali harddisk dan segera masuk ke menu instalasi (sebelum menampilkan menu partisi, sistem menampilkan End User Agreement dulu). Proses instalasi Windows XP sendiri sama seperti sudah pernah saya jelaskan dulu di sini.
Merasa sukses menyelesaikan masalah pada Lenovo tadi, saya jadi semangat untuk membuktikan teori tadi pada Fujitsu Lifebooknya Edisaya coba menjalankan proses instalasi Windows XP di Fujitsu-nya Edi. Menu Bios Fujitsu Lifebook sedikit berbeda dengan BIOS-nya Lenovo. Saya harus mengubah setting AHCI yang ada di bawah menu “Internal Device Configuration“. Lihat gambar di bawah ini :
Tadi sempat baca-baca di Wikipedia, AHCI (Advance Host Controller Interface) itu adalah teknologi yang memungkinkan software untuk berkomunikasi dengan SATA controller untuk menyediakan kemampuan seperti misalnya hot-plugging dan native command queuing. Selengkapnya silakan baca sendiri ya, agak-agak gak ngerti juga bacanya jadi daripada salah menjelaskan lebih baik Anda baca sendiri
Jadi kesimpulannya adalah notebook-notebook dengan OS bawaan Windows Vista (yang rata-rata sudah menggunakan harddisk tipe SATA) sudah menggunakan teknologi AHCI. Hal itu akan menjadi masalah bila kita ingin men-downgrade Vista menjadi XP. Jadi untuk menginstal Windows XP ke dalam notebook yang preinstalled Windows Vista, kita perlu mematikan dulu fitur/opsi AHCI pada setting-an SATA controller.
Masuk Majalahnya Blue Bird
Tulisan ini masih ada hubungannya dengan 2 tulisan saya sebelumnya tentang taksi Blue Bird. Tulisan saya di sini berisi pengalaman saya dengan supir taksi Blue Bird yang niat mengembalikan uang kembalian ongkos ke rumah saya. Tulisan saya lainnya di sini berisi pengalaman saya ditelepon oleh customer service-nya Blue Bird yang membaca postingan saya tadi, dia ingin tanya siapa nama pengemudi taksi yang mengembalikan uang kembalian ke rumah saya.
Nah postingan kali ini masih ada hubungannya dengan 2 postingan tadi. Hari Senin lalu saat berangkat kerja dengan menumpang taksi Blue Bird, saya iseng membaca majalah Mutiara Biru (majalah internalnya Blue Bird Group). Saya iseng membuka-buka majalan tri wulanan tersebut karena majalahnya sepertinya edisi terbaru. Di bagian surat pembaca saya kaget juga menemukan postingan blog saya muncul di sana. Hanya judulnya saja yang diubah menjadi “Mengembalikan Uang Kembalian Ke Rumah”. Aslinya postingan saya tersebut judulnya adalah “Hebatnya Supir Bluebird“. Langsung saya foto saja majalahnya
nah seperti gambar di bawah ini fotonya :
Eh rupanya Blue Bird berhasil menemukan data siapa nama pengemudi yang mengantarkan uang kembalian saya itu. Canggih ya sistem GPS dan reservasi online mereka, nama pengemudi dan nomor lambung taksi bisa terlacak dari data pemesanan saya waktu itu. Kesalahan cetak yang cukup fatal adalah pencantuman nama saya, masa ditulis “Teddy” pakai 2 “D”. Anda tahu kan saya sebel dengan kesalahan cetak nama
, kalau belum tahu silakan baca tulisan saya Tedy Dengan 1 “D” dan 1″Y”.
Puasa Ngeblog
Satu minggu ini benar-benar saya lewatkan tanpa menulis apapun di blog ini. Sibuk? Ah saya tidak senang menggunakan kata sibuk, karena sebenarnya saya tidak terlalu percaya pada sibuknya orang kerja
Sesibuk-sibuknya orang harusnya punya waktu untuk menulis blog. Saya lebih senang berdalih cape kerja
(**ngeles mode is ON**), beneran satu minggu ini badan saya cape sekali. Mungkin karena itu pula pikiran saya jadi tidak fokus untuk menulis di blog. Sejak minggu lalu saya terlibat proyek instalasi server Primepower 1500 di Telkomsel (yang ada di TB Simatupang) untuk dipakai sebagai mesin IN (intelligent network). Mesin IN itu mesin yang dipakai untuk menghitung pemakaian pulsa pengguna selular pra bayar.
Instalasi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak hari Kamis 28 September 2008 lalu. Waktu itu saya bekerja bersama minijer saya, Manggar. Sulit kah instalasinya sampai memakan waktu satu minggu lebih? Sulit secara teknikal sih tidak, tapi sulit secara fisik iya. Kesulitan terbesar saya adalah mengulur kabel puluhan meter melewati raised floor. Raised floor itu apa? Itu loh penutup lantai yang bisa dibuka-tutup semacam puzzle. Biasanya ruang server (datacentre) menggunakan raised floor dengan tujuan untuk meletakkan kabel jaringan, saluran AC, jaringan listrik di bawah lantai. Satu papan raised floor ukurannya 60cm x 60cm. Lihat foto di bawah ini saat saya pura-pura mengangkat satu papan raised floor ![]()
Papan raised floor itu cukup berat loh, punggung saya saja sakit gara-gara kebanyakan buka tutup papan raised floor. Teman saya bilang mungkin ada bagusnya saya kerja terus seperti itu, biar kurusan dikit katanya
Tidak biasa bekerja menarik kabel seperti itu membuat saya benar-benar tersiksa. Hari Sabtu minggu lalu pun Manggar terkapar sakit tidak bisa menemani saya lagi bekerja. Terpaksa mendatangkan bantuan, saya minta rekan-rekan engineer Fujitsu lainnya membantu saya. Ada Yudi, Subastian, Kusno yang sempat membantu saya bekerja. Foto di bawah ini sengaja saya ambil waktu memasukan kabel ke bawah raised floor dibantu oleh Subastian (narsis? bukan, supaya ada kenang-kenangan aja).
Kalau yang di bawah ini adalah foto Subastian yang saya ambil saat dia sedang berusaha keras merapihkan tumpukan kabel yang super ruwet (biar badan pegel, kedinginan yang penting foto-foto dulu
) :
Jujurnya sempat malu juga dengan rekan-rekan engineer Siemens yang katanya mampu menarik kabel puluhan meter melewati & meletakkannya di bawah raised floor sendirian….iya sendirian (**sambil ngelirik Pak Nana
**). Oh ya salah satu hambatan lain bekerja di bawah raised floor adalah hawa dingin yang menusuk. Di bawah raised floor ada saluran AC dengan hembusan angin yang kencang dan dingin. Di dalam ruang server saja suhu udaranya sudah dingin, apalagi di bawah raised floor. Untungnya Jumat tanggal 5 kemarin, hampir 95% pekerjaan saya di sana sudah selesai. Tinggal membuat dokumen saja, tanpa perlu tarik-tarik kabel lagi.
Thanks to Manggar, Yudi, Subastian, Kusno yang sudah banyak membantu. Thanks juga untuk Pak Nana & team yang sudah memberi banyak petunjuk ![]()
Nah jadi itu ceritanya mengapa satu minggu ini saya ikutan puasa, puasa ngeblog maksudnya. Pulang malam, badan pegel-pegel, boro-boro nulis blog
Hari ini saya akan coba menebus puasa saya dengan menulis beberapa postingan sekaligus.
Jakarta Hujan Lagi
Musim hujan sepertinya sudah datang. Sudah 1 minggu terakhir hujan turun beberapa kali di Jakarta. Sabtu kemarin saja hujan sudah turun dari jam setengah 12 siang. Seperti biasa hujan membawa efek yang tidak menyenangkan di Jakarta, genangan air & kemacetan di mana-mana. Ada beberapa kiat dari saya
:
- Bagi yang biasa pergi pulang kerja dengan kendaraan umum jangan lupa selalu bawa payung & jaket.
- Bagi yang pergi pulang kerja menggunakan motor, jangan pernah ketinggalan bawa jas hujan…bawa payung juga boleh sih kalau Anda bisa naik motor sambil megangin payung

- Bagi yang sering pergi pakai taxi siap-siap bakal susah cari taksi.
- Bagi yang ke mana-mana naik mobil pribadi, siap-siap mobilnya kotor kena air hujan.
- Bagi yang rumahnya jadi langganan banjir, lebih bijaksana membuat perencanaan evakuasi sedari dini

Maaf postingannya gak mutu, benar-benar sedang kehilangan mood menulis blog ![]()
Uang Rusak Dari ATM BCA
Hari Senin kemarin saya mengambil uang di ATM BCA Gedung Kyoei Prince Sudirman. Di sana hanya ada mesin ATM pecahan Rp50.000,-. Seperti biasa, saat uang keluar saya hanya menghitung jumlah lembaran yang saya terima. Sorenya saya pergi belanja toolkit di Glodok Plaza. Saat membayar, penjaga tokonya mengembalikan 1 lembar uang lima puluh ribuan yang saya bayarkan. Dia minta tukar dengan lembaran yang lain. Saya juga kaget melihat satu lembar uang lima puluh ribuan yang cacat di bagian ujungnya. Lihat fotonya di bawah ini :
Saya begitu yakin uang itu berasal dari mesin ATM karena sebelum mengambil uang saya hanya punya beberapa lembar seratus ribuan di dalam dompet. Kok bisa ya BCA memasukkan uang rusak macam itu ke dalam mesin ATMnya. Kalau uangnya sobek lalu disambung lagi saya masih bisa maklum. Tapi lembaran uang tadi hilang potongan ujungnya. Jadi bagian ujungnya disambung dengan kertas biru menggunakan selotip. Angka 5 dan separuh angka 0 dibuat dengan tulisan tangan, sepertinya ditulis dengan spidol. Ada yang bisa beri tahu saya gak, uang macam ini masih sah sebagai alat pembayaran gak ya?
Makan & Kartu Kredit
Belakangan saya baru tahu kalau cukup banyak rekan kantor saya yang sering makan siang dengan memanfaatkan aneka promo/diskon dari penyedia kartu kredit. Anda yang punya kartu kredit tentu tahu kalau bank penerbit kartu kredit sering mengadakan promo potongan harga dengan beberapa restoran, coffee shop, kafe, dll.
Budaya pinjam meminjam kartu kredit juga rupanya sudah berkembang di antara rekan-rekan saya di kantor. Misalnya di restoran A sedang ada promo makan potongan harga sekian persen dari kartu kredit X, beramai-ramai cari rekan yang punya kartu kredit X untuk pergi makan ke sana. Bergantian tergantung promo apa yang ada dan jenis kartu kredit yang menyediakan potongan harga. Jadi kalimat-kalimat seperti:
“Eh ayo kita makan di sana, ada potongan 10% kalau bayar pakai kartu kredit X” atau
“Kita pinjam kartu kreditnya si A aja, di sana lagi ada diskon 50% pake kartu kredit itu”
sudah biasa terdengar kalau mendekati waktu makan siang. Potongan 10% pun bisa jadi daya tarik tersendiri bagi rekan-rekan saya untuk menentukan tempat makan siang. Hmm..saya juga cukup terheran-heran dengan budaya macam ini. Potongan 10% memangnya ngefek ya? Kalau makan sejumlah Rp100.000,- berarti potongannya cuma Rp10.000,- gak gede-gede amat kan? Mungkin mereka juga tidak sadar kalau pelan-pelan digiring ke budaya konsumtif.
Memang segala yang berbau potongan harga, diskon selalu gampang menarik minat orang….apalagi wanita (karena yang saya lihat wanita yang paling sensitif dengan yang namanya potongan harga). Apalagi kalau potongan harga makanannya mencapai 50%, beramai-ramai pergi makan siang ke sana. Tapi yang paling menggelitik pikiran saya adalah : pikir-pikir kasihan amat ya mau makan saja harus nunggu-nunggu ada diskon. Itupun harus ngutang, bener kan ngutang lah kan bayarnya pake kartu kredit. Paling gak si empunya kartu kredit yang ngutang, karena teman-teman yang pergi bersamanya tentu sudah bayar cash pada si empunya kartu kredit.
Sirik aja sih lo Ted? Ya biarin, cuma menyalurkan pikiran & keheranan saya saja. Ya maklum saya tidak termasuk kelas seperti itu, level saya masih makan di warteg belum kelas makan di restoran mahal
Sudah tahu beda kelas kok masih cerewet, duit-duit mereka, kartu kredit juga punya mereka kok lu yang jadi sirik Ted. Biarin, lah blog juga blog saya terserah saya donk mau tulis apa (**ngeles mode is ON**
)
Ganti Casing Pendrive
Sepulang dari Banjarmasin hari Sabtu lalu, harddisk eksternal Pendrive Sense saya rusak. Port USB yang ada di body-nya Sense terlepas. Awalnya saya curiga kenapa ada bunyi “klotak klotak” di dalam Pendrive Sense, saya pikir ada benda apa yang menyusup masuk ke dalam perangkat itu. Saya baru sadar saat akan menyambungkan harddisk eksternal saya ke notebook, colokan USBnya sudah tidak ada. Ternyata port USB-nya lepas dan berada di dalam, itu yang menyebabkan bunyi “klotak klotak” di dalam Pendrive Sense saya.
Nekat saja saya bongkar saja Pendrive Sense itu dengan obeng plus kecil. Sempat pusing juga mencari kotak obeng saya. Setelah cari pinjaman obeng, saya bisa buka casing-nya.Kelihatan lah port USB yang lepas itu. Saya putuskan untuk mencoba menyolder sendiri port USB itu ke circuit board-nya. Setelah menyolder sendiri port USB, saya coba sambungkan harddisk eksternal ke notebook saya. Lampu Pendrive Sense menyala tapi Windows tidak bisa mengenali eksternal harddisk tersebut. Waduh, cukup panik…saya takut harddisk-nya bermasalah & data-datanya hilang.
Sebenarnya harddisk eksternal yang baru saya beli 4 Juni 2008 lalu itu masih bergaransi 3 tahun. Tapi saya malas menukarkannya ke Bhinneka.com tempat saya membelinya dulu. Jadi Senin kemarin ketika pergi ke Glodok Plaza, saya sempatkan mencari enclosure/casing untuk harddisk 2.5″ SATA yang ada di dalam Pendrive Sense saya itu. Harga casing untuk harddisk 2.5″ SATA (entah merek apa) adalah Rp60.000,- Pulang kantor, cepat-cepat saya bongkar Pendrive Sense-nya lalu saya pindahkan harddisk-nya ke dalam casing baru itu. Mudah kok proses pemindahannya. Sayang tidak sempat mengambil foto saat mengganti casing harddisk eksternal kemarin. Berikut komik kumpulan foto harddisk saya sebelum dan sesudah berganti casing.
Sekarang harddisk eksternal saya sudah bisa saya pakai kembali; dengan casing baru tentunya ![]()
Cue Stick Stabilizer
Tiap cue stick dilengkapi oleh karet pada bagian bawah butt-nya. Karet itu lazim dikenal sebagai bumper. Bumper berfungsi untuk melindungi bagian bawah stik (butt) ketika stik sedang diletakkan dengan posisi berdiri atau ketika pemain sedang memegang stiknya sambil berdiri (bumper-lah yang akan bersentuhan dengan lantai). Foto di bawah ini adalah foto cue stick Joss 101 milik saya (bumper-nya adalah bagian berwarna hitam di bawah tulisan Joss).
Bumper tersebut bisa dilepas-pasang. Wujud dari bumper itu sendiri adalah seperti ini ketika sudah dilepas dari butt.
Bentuknya bulat dilengkapi dengan bagian berulir, persis seperti sebuah baut karet berpayung lebar. Nah ceritanya beberapa minggu lalu saya mengganti bumper standar bawaan Joss 101 dengan aksesori stabilizer. Aksesori itu bermerek Limbsaver tipe X-1 Cue Stick Stabilizer. Wujudnya setelah dipasang adalah seperti berikut ini :
Dengan tambahan Limbsaver ini, bumper Joss 101 saya jadi lebih panjang. Katanya sih aksesori ini berguna untuk mengurangi goncangan, membuat kestabilan pukulan kita. Saat kita melakukan ayunan sebelum memukul bola, gerakan stik kita jadi terasa lebih mantap. Sugesti apa memang benar ya? Halah pikir-pikir bohong juga sih…kalau main biliarnya masih pas-pasan seperti saya, biarpun dipasangi stabilizer tetap saja masih jelek pukulannya
. Lah kalau gitu ngapain saya beli? Ya biar bagus aja ditambahi aksesori, sukur-sukur kalau permainan saya jadi tambah bagus
Kalau Anda berminat memasang stabilizer pada stik biliar, bisa beli di rekan saya Ferry Danuarta yang punya IB Pro Shop.
Banjarmasin (satu part aja) - Soal Taksi
Biasanya tiap kali pergi tugas keluar kota, saya banyak menuliskan ceritanya ke dalam blog ini. Perjalanan saya kemarin ke Banjarmasin luput tertuang ceritanya. Jujurnya saya sedang kehilangan mood menulis & meng-update blog ini. Sibuk? Gak sih, cuma lagi kehilangan mood aja. Ok, saya tulis saja cerita saya Jumat & Sabtu kemarin…lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali
. Jadi ceritanya Jumat sore saya berangkat ke Banjarmasin untuk melakukan penggantian tape library-nya Telkomsel. Tape library emangnya apaan sih ? Gampangnya tape library ini adalah alat untuk mengamankan (backup & restore) data. Lihat fotonya di atas. Data akan ditulis ke dalam media tape. Tape-nya seperti apa, sayang saya tidak punya fotonya
Kenapa saya gak pernah ambil foto tape-nya ya?
Saya keluar dari Telkomsel sekitar pukul 1 pagi. Sepi sekali jalan raya Ahmad Yani Banjarmasin ini. Saya tunggu-tunggu tidak ada taksi yang lewat, tukang ojek yang biasa gampang ditemui di sekitar gedung Telkomsel pun tidak ada sama sekali. Selidik punya selidik (tanya resepsionis hotel), di Banjarmasin memang tidak ada taksi yang beroperasi 24 jam. Ada 2 nomor taksi di Banjarmasin yang saya coba hubungi pun tidak ada yang menjawab. Halah…repot kalau mau pergi malam-malam. Saya coba telepon hotel Arum minta dikirim taksi hotel, hasilnya sama : tidak ada taksi
Posisi saya sudah lelah sekali. Perut lapar sejak tadi sore belum makan malam. Saya coba telepon supir taksi kenalan saya, dia sudah pulang ke rumah dan menolak untuk menjemput saya. Tapi dia bilang pada saya coba saja susuri jalan Ahmad Yani, pasti ketemu ojek. Jadilah saya malam-malam jalan kaki dengan perut lapar. Untung akhirnya ketemu tukang ojek.
Saya baru sampai hotel Arum pukul setengah 2 pagi (sudah hari Sabtu berarti). Setelah check in cepat-cepat pesan makan, sekitar jam 2 malam saya baru makan malam
. Mungkin karena tingkat lapar saya sudah tinggi sekali, makan malam ini terasa enak sekali. Malam itu saya pesan udang goreng asam manis seperti ini :
Selesai makan nonton TV sebentar lalu segera tidur sekitar pukul 2.30. Karena saya sudah pegang tiket Garuda penerbangan jam 9.25 Sabtu pagi mau tidak mau saya harus bangun pagi. Jam setengah 8 saya berangkat ke airport setelah breakfast & check out. Hitung-hitung saya cuma tinggal di hotel Arum selama 6 jam
Untung pesawat saya kemarin tidak delay, jam 10 lebih saya sudah sampai di Jakarta.
Unmirroring RAID 1 di Solaris 10
Tulisan ini saya buat untuk menjawab pertanyaan mas Taufik tentang bagaimana cara melepas mirror file system di Solaris. Dulu saya pernah menulis tentang bagaimana membuat mirror file system di Solaris 10. Proses mirroring yang sudah pernah saya tuliskan tersebut menggunakan Solaris Volume Manager. Ok supaya lebih jelas saya tulis sekali lagi tentang apa itu mirror file system (RAID 1). Singkat saja hanya untuk memberi gambaran umum.
Ketika kita menginstal Solaris ke dalam sebuah komputer/server, kita menginstal Solaris ke dalam harddisk yang selanjutnya kita sebut sebagai boot disk. Untuk meningkatkan redundansi/keamanan data, sebaiknya harddisk tersebut kita buat copy-nya atau dengan kata lain mirror-nya. Solaris sebagai operating system tidak tahu bahwa harddisk yang digunakan ada 2 (boot disk & mirror-nya). Solaris tetap akan menganggap bahwa sistemnya diletakkan pada sebuah harddisk. Padahal yang sebenarnya terjadi setelah proses mirroring adalah Solaris sebenarnya melihat sebuah virtual disk yang merupakan gabungan antara boot disk dan mirror-nya. Dengan kata lain hardisk pertama akan menjadi submirror 1 dan harddisk kedua akan menjadi submirror 2. Baik submirror 1 dan submirror 2 menyimpan informasi yang sama dan terus menerus melakukan sinkronisasi. Tiap kali booting, submirror 1 (harddisk pertama) yang akan bekerja. Submirror 2 akan bekerja bilamana submirror 2 mengalami masalah (baik secara logical maupun secara physical). Kita pun bisa memaksa Solaris untuk melakukan booting dari submirror 2. Dengan adanya mirror, operating system dan data akan tetap aman bilamana salah satu harddisk mengalami kerusakan.
Kok mau singkat tetap saja jadi panjang ya
, saya coba ringkas lagi prinsip mirroring file system jadi seperti ini (mudah-mudahan jauh lebih ringkas) :
- Instal OS ke dalam harddisk A.
- Jadikan harddisk A sebagai submirror 1.
- Tambahkan harddisk B sebagai submirror 2.
- Gabungkan submirror 1 dan submirror 2 sebagai sebuah virtual boot disk. Gabungan ini kita sebut sebagai mirror C.
- Atur Solaris supaya mengenali mirror C tadi sebagai system disk. Alih-alih menulis data hanya ke dalam hardisk A yang terjadi sekarang adalah setiap kali menulis data Solaris akan menulis ke dalam mirror C, data yang ditulis akan tercantum baik di harddisk A maupun di harddisk B.
Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana mengembalikan konfigurasi harddisk seperti awal sesaat setelah proses instalasi (menghapus mirroring tadi). Misalkan kita ingin mengembalikan harddisk A sebagai satu-satunya file system disk Solaris, caranya adalah sebagai berikut (saya akan menggunakan contoh mirror yang sudah ada di tulisan sebelumnya) :
- Jalankan perintah
metastatuntuk memeriksa semua submirror dalam kondisi OK. - Untuk melepas masing-masing submirror, perintahnya adalah seperti berikut ini :
# metadetach d10 d12
# metadetach d20 d22
# metadetach d30 d32
# metadetach d40 d42
# metadetach d50 d52 - Jalankan perintah
metarootlagi untuk mengembalikan konfigurasi direktori root, kali ini format perintah yang digunakan adalah seperti berikut :# metaroot -r /dev/dsk/c0t0d0s0 - Edit file
/etc/vfstabsupaya menggunakan konfigurasi awal (seperti awal setelah instalasi).# more /etc/vfstab
/dev/dsk/c0t0d0s0 /dev/rdsk/c0t0d0s0 / ufs 1 no -
/dev/dsk/c0t0d0s1 swap - - - -
/dev/dsk/c0t0d0s3 /dev/rdsk/c0t0d0s3 /var ufs 1 no -
/dev/dsk/c0t0d0s4 /dev/rdsk/c0t0d0s4 /opt ufs 2 yes -
/dev/dsk/c0t0d0s5 /dev/rdsk/c0t0d0s5 /export/home ufs 2 yes - - Reboot server dengan perintah berikut ini :
# shutdown -i6 -y -g0 - Setelah reboot dan Solaris sudah up kembali, jalankan perintah berikut ini :
# metaclear -r d10
# metaclear -r d12
# metaclear -r d20
# metaclear -r d22
# metaclear -r d30
# metaclear -r d32
# metaclear -r d40
# metaclear -r d42
# metaclear -r d50
# metaclear -r d52
Jangan lupa sebaiknya Anda melakukan backup data terlebih dahulu sebelum melakukan proses unmirroring ini. Untuk jaga-jaga jangan-jangan tutorial yang saya tulis ini salah ![]()




















