Linux Backup Script

Di bawah ini adalah script untuk proses backup sehari-hari server kami di kantor :

script backup

Script di atas dibuat untuk mengotomatisasi proses backup file server yang dipakai oleh kami yang ada di tim UNIX. Server ini sebenarnya PC Fujitsu Deskpower yang dijadikan file server dengan OpenSUSE 10.3 sebagai sistem operasinya. Sebenarnya ada beberapa Fujitsu Primepower server yang bisa dipakai. Cuma entah mengapa bos saya memutuskan untuk menggunakan desktop ini sebagai file server. Dulu saya dan rekan saya, Ramdhan, yang menginstal OpenSUSEnya. Lalu saya yang mengkonfigurasi Samba supaya kami yang sehari-hari menggunakan Windows di notebook bisa dengan mudah mengakses file server tadi.

Setelah file yang ditaruh semakin banyak, jadi timbul kebutuhan untuk mengamankan data-data yang ada. Saya lalu memanfaatkan sebuah Fujitsu Primepower 450 sebagai NFS server untuk menjadi tempat menaruh backup-nya. Supaya gampang saya menggunakan perintah tar untuk melakukan backup. Supaya proses backup-nya otomatis, maka saya buatkan script di atas lalu saya daftarkan di crontab OpenSUSE. Saya jadwalkan proses backup berjalan jam 8 malam. Benar-benar script bodoh-bodohan untuk membuat pekerjaan backup jadi otomatis :)) Script itu saya buat di sela-sela pekerjaan saya yang lain. Lumayan lah, saya puas dengan hasilnya. Puasnya karena saya jadi terpacu untuk belajar bash scripting lagi 😀

Awalnya saya hanya buat script untuk mem-backup saja. Tapi dipikir-pikir bisa penuh lama-lama NFS server-nya. Maka saya tambahkan script untuk membatasi jumlah backup file hanya 3 hari ke belakang saja. Sudah beberapa minggu ini saya pantau terus hasilnya tiap pagi saat datang kantor. Memeriksa apakah backup sudah sukses semalam. Satu bagian yang kurang, membuat script ini mengirimkan email ke saya secara otomatis untuk melaporkan hasil proses backup tiap malam. Ini tentu akan memudahkan saya untuk memantau hasil backup, tinggal lihat email report-nya saja.

Ke Kedutaan

Hari ini saya pergi ke kedutaan Jerman mengurus visa. Katanya saya akan dikirim training ke Jerman oleh kantor. Ini pertama kalinya saya masuk gedung kedutaan asing. Kedutaan Besar Jerman itu letaknya di Jalan Jend.Sudirman tepat di samping hotel Mandarin Oriental. Benar-benar ketat pemeriksaan keamanan di sana. Baru datang di gerbang depan saja sudah ditanyai mana paspornya. Lalu di pos satpam diminta mengeluarkan semua barang yang ada di saku. Ponsel pun harus dititipkan di pos satpam. Kita (saya dan rekan kantor) diberi 1 loker untuk menaruh ponsel-ponsel kita.

Tapi sayang visa belum bisa diajukan karena ada dokumen yang masih kurang. Surat pengantar dari kantor yang belum dibuat….sialan, padahal di webnya kedutaan besar Jerman tidak disebutkan harus menyertakan surat pengantar dari kantor. Yang dicantumkan di sana hanya formulir pengajuan visa, paspor, foto berwarna, tiket (order booking-nya), asuransi perjalanan, & dalam kasus saya surat undangan dari tempat penyelenggara training. Ya sudah terpaksa balik lagi ke kantor, besok kembali lagi. Pelayanan visa di kedutaan besar Jerman ini dibuka sampai jam setengah 12 siang saja, jadi tidak mungkin balik lagi hari ini juga.

KBBI Online

Saya baru tahu kalau ternyata Pusat Bahasa membuat versi online dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Anda dapat lihat versi online kamus yang tebalnya minta ampun tersebut di : http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

Saya tidak tahu apakah versi online ini sudah mencakup semua entri yang ada di versi cetaknya. Tapi lumayan sajalah kalaupun memang belum lengkap. Sekarang tinggal tunggu versi CDnya :)) …jadi keren kan macam Cambridge Dictionary yang bagus sekali CD instalasinya.

KBBI Online

Contoh di atas adalah salah satu keisengan saya mencoba KBBI online ini. Penjelasan yang aneh tentang mouseeh salah…tetikus maksudnya 🙁 .

Instalasi Solaris – How To

Iseng bikin contoh cara instalasi Solaris 9 di Fujitsu server. Silakan dilihat di sini (8.6MB). Gambar-gambar yang ada di dokumen tadi adalah hasil capture sewaktu saya instalasi Solaris. Dokumennya baru saya buat Sabtu kemarin sewaktu nganggur di Cirebon. Semoga ada yang dapat manfaat dari tulisan saya tersebut.

Tulisan ini saya daftarkan juga di halaman Download.

Repotnya Jadi Auditori

Siang ini saya kembali ke Jakarta dengan kereta Argo Jati. Ini kereta baru dari Cirebon, alternatif dari kereta Cirebon Ekspres. Saya tidak tahu persisnya kapan kereta ini mulai beroperasi (akhir tahun 2007 sudah mulai berjalan sih). Rangkaian kereta Argo Jati semuanya kelas eksekutif. Gerbongnya sepintas memang lebih bagus, interiornya juga lebih bagus daripada kereta Cirebon Ekspres. Sayangnya lama perjalanan sama saja dengan Cirebon Ekspres. Kelebihan lain dari Cirebon Ekspres dia tidak berhenti di beberapa stasiun yang disinggahi oleh Cirebon Ekspres.

Di tiap gerbong ada televisinya, dari Cirebon televisi sudah menyala. Awalnya cuma iklan, lama-lama kok jadi film. Sepanjang jalan dari Cirebon sampai menjelang Jakarta, yang ditayangkan adalah sinetron ABG. Ini yang membuat saya tidak bisa tidur. Tidak bisa tidur bukan karena menikmati sinetronnya, tapi karena terganggu dengan tayangan sinetron tadi. Secara pelayanan mungkin tayangan televisi sepanjang perjalanan bisa dianggap hebat…full TV. Tapi buat saya yang ingin tidur di perjalanan, hal ini sangat mengganggu. Karena apa? Pertama, saya yang tipe auditori sangat sensitif terhadap suara di sekeliling. Kedua, saya tidak suka sinetron. Dari Cirebon saya sudah niatkan untuk tidur di jalan, eh malah disodori sinetron…bubar deh rencana tidur di jalan. Tayangan televisi ini cukup keras & merata suaranya, mungkin karena speaker yang ada di beberapa bagian gerbong. Saya yang duduk di kursi 10D saja cukup jelas mendengar tayangan televisi tersebut, meskipun televisi yang menyala berada jauh di depan.

Mungkin ini repotnya jadi orang bertipe auditori, gampang terganggu dengan suara-suara di sekeliling. Mungkin sebaiknya di tiap kursi disediakan earphone. Jadi penumpang yang mau nonton silakan dengar suaranya lewat earphone; dan yang tidak ingin nonton tidak terganggu dengan suara televisi. Ah tapi itu cuma khayalan saya….bayar Rp80000,- aja minta macem-macem ;))