Tunggu Paspor

Jam 1 saya masih di kantor Imigrasi Cirebon. Lumayan di sini ada hotspot..bisa berinternet gratis. Sampai sekarang paspor saya belum keluar, padahal kereta saya ke Jakarta berangkat jam 2 siang. (mode deg-degan ON) :-S.

Ngeblog dulu deh..daripada tegang menanti paspor. Lumayan kencang akses internetnya.

Update :

Akhirnya paspor saya keluar jam 14.30 13.30. Udah makin deg-degan…takut ketinggalan kereta. Untungnya Nyoman rekan saya di imigrasi berbaik hati mengantarkan saya ke stasiun 🙂 jadi on time gak ketinggalan kereta. Kereta Argo Jati berangkat tepat pukul 14.00, sampai di Gambir 17.00 (terlambat 20 menitan).

Combo Mati Lagi

Ini kali ketiga kepulangan saya ke Cirebon dengan Flexi Combo yang tidak bisa digunakan. Akhir tahun lalu saat libur tahun baru saya pulang ke Cirebon selama satu minggu. Flexi Combo saya tidak bisa aktif sama sekali selama 1 minggu sampai akhirnya saya pulang ke Jakarta. Awal bulan Januari lalu saat saya pulang ke Cirebon, hal yang sama terulang. Saya tidak dapat menggunakan Flexi Combo lagi. Akhir pekan ini lengkap 3 kali Flexi Combo saya tidak dapat digunakan di Cirebon…..hatrick!!!

Dalam ketiga kasus saya ini, saya mendapat jawaban & respon yang sama dari customer service Telkom di 147. Semuanya mengatakan akan membantu supaya Flexi Combo saya dapat aktif. Semuanya menggunakan jawaban standar….“Bapak tadi sebelum berangkat sudah mengaktifkan combonya?, baik nanti akan kami bantu Pak, tunggu 1 jam lagi, nanti coba restart ponsel Bapak.”

Mungkin kalau ditotal saya sudah lebih 10 kali menelepon 147 untuk ketiga kasus ini. Lama-lama saya menyerah juga, malas juga jadinya menelepon 147 tanpa mendapat solusi. Operator di 147 memang ramah-ramah, semuanya bekerja sesuai prosedur. Saya tidak dapat menyalahkan mereka karena saya tahu persis kesalahan ada di sisi teknis Telkom, bukan karena kebodohan mereka. Mungkin pihak Telkom harus peka terhadap kasus-kasus seperti yang saya alami ini.

Sejak tahun 2007 saya menggunakan Telkom Flexi, ketiga pengalaman tadi bukan pengalaman pertama saya menggunakan layanan Combo dari Telkom Flexi. Saya sudah pergi ke berbagai daerah dan semuanya berjalan lancar. Saya pergi ke Pekanbaru, Banjarmasin, dll…di semua kota yang saya datangi nomor Flexi saya tetap bisa digunakan. Entah mengapa ini terjadi belakangan saja dan kebetulan ketiganya terjadi di Cirebon. Bantuan 147 pun tidak dapat diharapkan. Saya tidak paham bagaimana prinsip kerja layanan Combo. Mungkin stok nomor virtual yang dapat digunakan sudah habis digunakan pengguna Flexi lain yang datang ke Cirebon.

Layanan Combo dari Telkom Flexi memungkinkan pengguna Telkom Flexi untuk tetap menyalakan ponselnya saat berada di luar kota. Misalnya kartu saya adalah kartu Flexi Jakarta. Tanpa layanan Combo, saat saya meninggalkan Jakarta praktis nomor Flexi saya menjadi tidak aktif. Dengan adanya layanan Combo tersebut, nomor Flexi saya tetap bisa aktif saat berada di kota lain. Ada beberapa langkah untuk mengaktifkan layanan Combo dari Telkom Flexi.

  1. Pertama, sebelum meninggalkan kota asal saya harus mengirim sms ke nomor 777; isinya adalah ON <kota tujuan>. Contoh, sesaat sebelum pergi menuju Cirebon saya mengirim sms ke 777 yang isinya adalah ON CIREBON. Dengan demikian, saat saya mencapai Cirebon teorinya saya akan memperoleh nomor telepon virtual (bodoh-bodohannya Flexi saya dapat digunakan di Cirebon).
  2. Kedua, setelah sampai di kota tujuan saya harus menelepon ke nomor *77 untuk mengaktifkan call forwarding. Dengan langkah ini, orang yang menelepon saya ke nomor Jakarta saya tetap bisa menghubungi saya walaupun saya berada di luar kota. Akan tetapi layanan ini membuat saya kena charge Rp50,-/menit (kalau tidak salah) setiap kali ada yang menelepon ke nomor Jakarta saya.
  3. Ketiga, saat pulang kembali ke Jakarta saya harus menelepon ke nomor *770 untuk menonaktifkan layanan call forwarding tadi.

Kalau terus menerus seperti ini, saya bisa saja mengeluarkan teori sendiri : Telkom Flexi tidak dapat dihandalkan saat bepergian keluar kota. Untuk perjalanan keluar kota lebih baik mengandalkan operator GSM.

Membuat Paspor

Pagi ini saya pergi mengurus paspor ke kantor imigrasi Cirebon. Gila sekarang kantornya pindah jauh dari keramaian kota. Dulu yang saya tahu, kantor imigrasi Cirebon ada di seberang sekolah saya di Jl.Sisingamangaraja Cirebon. Sejak bulan Desember lalu kantor imigrasi pindah ke jalan Sultan Ageng Tirtayasa. Saya baru sekali ini datang ke daerah ini. Di jalan raya Plered ada jalan masuk tidak jauh di seberang jalan Pilang, jalan masuk ini tidak jauh dari pertigaan by pass dan Tuparev.

Untung ada teman saya, Nyoman yang bekerja di kantor imigrasi, urusan jadi gampang dan sederhana 🙂 Tinggal datang, membayar formulir pendaftaran Rp10000,-. Kalau mengurus sendiri proses pembuatan paspor bisa memakan waktu 4-5 hari. Spesial kasus seperti saya tentu butuh spesial tarif. Tapi kayanya kurang pas kalau saya beberkan di sini tarif pengurusan paspor tadi :D.

Untuk mengurus paspor, dokumen yang harus dilengkapi antara lain adalah :

  1. Akte lahir asli + fotokopinya
  2. Kartu keluarga asli + fotokopinya
  3. Ijasah SMA / sederajat + fotokopinya
  4. KTP + fotokopinya
  5. Surat nikah + fotokopinya bagi yang sudah menikah
  6. Surat ganti nama (jika ada untuk WNA)
  7. Surat pengantar dari instansi (misalnya karyawan swasta)
  8. Materai Rp6000,-

Setelah menyerahkan dokumen pada teman saya, saya pulang dulu. Siangnya sekitar pukul 2 siang saya kembali lagi ke sana. Kali ini saya harus difoto dan diambil data sidik jari dengan biometric reader. Dari siang sampai sore Cirebon diguyur hujan rintik-rintik. Menyiksa juga pergi-pergi dengan angkutan umum di tengah cuaca yang tidak bersahabat seperti ini. Paspor saya baru selesai Senin depan. Mudah-mudahan tepat seperti yang direncanakan, karena saya kemarin sudah beli tiket kereta api Senin depan.

Cerita Seputar Libur Imlek

Siang ini saya pulang ke Cirebon, hari ini kantor libur libur tahun baru Imlek. Jam 12 berangkat dari rumah menuju Gambir. Jalanan cukup lengang..hanya Tomang menuju Slipi yang sedikit padat, mungkin banyak juga yang menuju ke mal Taman Anggrek. Tadinya saya tidak ingin pulang ke Cirebon libur kali ini. Anda tahu kan besok tidak jadi hari kejepit nasional? Hal yang lucu pemerintah mengubah keputusan yang sudah dibuat setahun lalu tentang pengaturan hari libur nasional dan hari kejepit nasional. Dan yang lebih menyebalkan, pemerintah mengeluarkan keputusan tersebut baru hari Selasa kemarin.

Saya siang ini rencananya mau pulang Cirebon dengan kereta pukul 1 siang. Khawatir juga takut kehabisan tiket, saya pikir stasiun Gambir akan padat ternyata tidak. Setelah dapat tiket kereta Cirebon Express, saya naik ke atas mau makan dulu di Hoka Hoka Bento. Sudah lama saya tidak makan di Hoka Bento stasiun Gambir ini. Kereta api yang akan saya tumpangi datang jam 1 kurang 10 menit. Tumben juga siang ini kereta api berangkat tepat sesuai jadwal. Sepanjang jalan saya tidur saja. Bravo to PT KAI….sore ini kereta datang di stasiun Cirebon pukul 16.10. Tepat seperti apa yang ditulis di karcis. Rupanya Cirebon baru saja diguyur hujan seharian. Sampai di stasiun Cirebon saya segera menuju tempat ke tempat reservasi karcis. Saya beli karcis kereta Argo Jati untuk keberangkatan hari Senin pukul 14.00. Dari stasiun saya pulang ke rumah naik becak.

Tidak lama setelah sampai di rumah, saya berangkat main biliar dengan Fendi. Fendi mau balas dendam atas kekalahannya di Bandung hari Sabtu lalu :D. Benar saja, saya dikalahkan Fendi dengan skor 9-5. Untungnya saya bisa mengembalikan pola permainan saya yang sedikit ngaco. Gantian saya menang dengan skor 12-5. Setelah itu kami lanjutkan. Permainan terakhir kami sudah sama-sama kelelahan. Jadi saya pun terpaksa menang dengan skor tipis 12-11.

Total kami main biliar selama 5 jam lebih. Lelah…meninggalkan Spot Biliar gerimis rintik-rintik. Pulang, mandi, ngopi dulu lalu buka notebook ketik tulisan ini :). Oh ya saya lupa cerita, acara saya pulang Cirebon hari ini bukan untuk merayakan Imlek. Saya cuma mau mengurus paspor besok pagi. Mudah-mudah besok semua urusan pengurusan paspor berjalan dengan lancar. Oh ya bagi yang merayakan Imlek saya ucapkan :

“Gong Xi Fat Choi…”

Mengubah Ukuran Partisi Harddisk

Kali ini saya mau cerita tentang pengalaman saya mengubah ukuran partisi di Lifebook S7110. Ini cerita pertama saya utak-atik notebook kantor ini setelah Senin lalu saya dapat penggantian notebook.

Dua hari yang lalu saya coba mengubah ukuran partisi dalam harddisk notebook ini dengan menggunakan Partition Magic. Tapi ternyata terjadi keanehan. Setelah Partition Magic diinstal ke dalam Windows, saya tidak dapat membuka program ini. Tampilan yang muncul katanya program gagal membaca drive letter tiap partisi yang ada. Lihat screenshot-nya ini :

partitionmagic

Setelah mencoba me-restart Windows pun hal yang sama tetap saja terjadi. Bahkan beberapa kali terjadi BOD (blue screen of death)….alias Windows panic. Niat saya awalnya adalah mengecilkan ukuran partisi yang digunakan oleh Windows supaya saya punya ruang lebih untuk menginstal Linux ke dalam notebook ini. Padahal saya sudah menjalankan Partition Magic sebagai Administrator.

Lalu saya coba nekat saja menginstal OpenSUSE 10.3 ke dalam notebook ini. Baru muncul tampilan GUI instalasinya sudah muncul peringatan bahwa partisi harddisk yang ada di dalam notebook ini tidak dapat diubah ukurannya. Jadi saya hanya bisa menggunakan partisi yang sudah ada, tinggal pilih mau diinstal kemana OpenSUSEnya…..ke dalam drive D atau ke dalam drive C. Waduh…repot kalau begini. Program pemartisi bawaan OpenSUSE (apa ya namanya? gparted kah?) tidak bisa mengubah partisi yang sudah ada di dalam harddisk Fujitsu MHW2080BH ini.

Rasanya kurang lengkap punya notebook tidak dilengkapi Linux. Untung tadi teman saya, Adrianus memberi saran yang tepat. Dia menyarankan saya menggunakan Acronis Disk Director 10. Canggih nih program. Setelah diinstal ke dalam Windows, Acronis Disk Director mampu mengenali 2 partisi yang sudah ada di dalam harddisk. Tinggal pilih menu untuk mengubah ukuran partisi, saya dapat dengan mudah menciptakan sedikit ruang bebas di dalam harddisk ini. Ruang bebas ini nantinya akan saya isi dengan Linux (entah apa distronya 😀 ). Lihat nih tangkapan layar saat Acronis Disk Director ini bekerja :

acronis

Ok, saya belum sempat membagi-bagi harddisk ini seluruhnya. Tadi saya cuma mengecilkan partisi D. Ok ini saya jadikan mainan saja untuk nanti malam di rumah….membereskan partisi-partisinya Windows, lalu menginstal Linux :).