Jakarta Hujan Lagi

Musim hujan sepertinya sudah datang. Sudah 1 minggu terakhir hujan turun beberapa kali di Jakarta. Sabtu kemarin saja hujan sudah turun dari jam setengah 12 siang. Seperti biasa hujan membawa efek yang tidak menyenangkan di Jakarta, genangan air & kemacetan di mana-mana. Ada beberapa kiat dari saya 😀 :

  • Bagi yang biasa pergi pulang kerja dengan kendaraan umum jangan lupa selalu bawa payung & jaket.
  • Bagi yang pergi pulang kerja menggunakan motor, jangan pernah ketinggalan bawa jas hujan…bawa payung juga boleh sih kalau Anda bisa naik motor sambil megangin payung :-p
  • Bagi yang sering pergi pakai taxi siap-siap bakal susah cari taksi.
  • Bagi yang ke mana-mana naik mobil pribadi, siap-siap mobilnya kotor kena air hujan.
  • Bagi yang rumahnya jadi langganan banjir, lebih bijaksana membuat perencanaan evakuasi sedari dini 🙂

Maaf postingannya gak mutu, benar-benar sedang kehilangan mood menulis blog 🙁

Uang Rusak Dari ATM BCA

Hari Senin kemarin saya mengambil uang di ATM BCA Gedung Kyoei Prince Sudirman. Di sana hanya ada mesin ATM pecahan Rp50.000,-. Seperti biasa, saat uang keluar saya hanya menghitung jumlah lembaran yang saya terima. Sorenya saya pergi belanja toolkit di Glodok Plaza. Saat membayar, penjaga tokonya mengembalikan 1 lembar uang lima puluh ribuan yang saya bayarkan. Dia minta tukar dengan lembaran yang lain. Saya juga kaget melihat satu lembar uang lima puluh ribuan yang cacat di bagian ujungnya. Lihat fotonya di bawah ini :

 

Saya begitu yakin uang itu berasal dari mesin ATM karena sebelum mengambil uang saya hanya punya beberapa lembar seratus ribuan di dalam dompet. Kok bisa ya BCA memasukkan uang rusak macam itu ke dalam mesin ATMnya. Kalau uangnya sobek lalu disambung lagi saya masih bisa maklum. Tapi lembaran uang tadi hilang potongan ujungnya. Jadi bagian ujungnya disambung dengan kertas biru menggunakan selotip. Angka 5 dan separuh angka 0 dibuat dengan tulisan tangan, sepertinya ditulis dengan spidol. Ada yang bisa beri tahu saya gak, uang macam ini masih sah sebagai alat pembayaran gak ya?

Makan & Kartu Kredit

Belakangan saya baru tahu kalau cukup banyak rekan kantor saya yang sering makan siang dengan memanfaatkan aneka promo/diskon dari penyedia kartu kredit. Anda yang punya kartu kredit tentu tahu kalau bank penerbit kartu kredit sering mengadakan promo potongan harga dengan beberapa restoran, coffee shop, kafe, dll.

Budaya pinjam meminjam kartu kredit juga rupanya sudah berkembang di antara rekan-rekan saya di kantor. Misalnya di restoran A sedang ada promo makan potongan harga sekian persen dari kartu kredit X, beramai-ramai cari rekan yang punya kartu kredit X untuk pergi makan ke sana. Bergantian tergantung promo apa yang ada dan jenis kartu kredit yang menyediakan potongan harga. Jadi kalimat-kalimat seperti:

“Eh ayo kita makan di sana, ada potongan 10% kalau bayar pakai kartu kredit X” atau
“Kita pinjam kartu kreditnya si A aja, di sana lagi ada diskon 50% pake kartu kredit itu”

sudah biasa terdengar kalau mendekati waktu makan siang. Potongan 10% pun bisa jadi daya tarik tersendiri bagi rekan-rekan saya untuk menentukan tempat makan siang. Hmm..saya juga cukup terheran-heran dengan budaya macam ini. Potongan 10% memangnya ngefek ya? Kalau makan sejumlah Rp100.000,- berarti potongannya cuma Rp10.000,- gak gede-gede amat kan? Mungkin mereka juga tidak sadar kalau pelan-pelan digiring ke budaya konsumtif.

Memang segala yang berbau potongan harga, diskon selalu gampang menarik minat orang….apalagi wanita (karena yang saya lihat wanita yang paling sensitif dengan yang namanya potongan harga). Apalagi kalau potongan harga makanannya mencapai 50%, beramai-ramai pergi makan siang ke sana. Tapi yang paling menggelitik pikiran saya adalah : pikir-pikir kasihan amat ya mau makan saja harus nunggu-nunggu ada diskon. Itupun harus ngutang, bener kan ngutang lah kan bayarnya pake kartu kredit. Paling gak si empunya kartu kredit yang ngutang, karena teman-teman yang pergi bersamanya tentu sudah bayar cash pada si empunya kartu kredit.

Sirik aja sih lo Ted? Ya biarin, cuma menyalurkan pikiran & keheranan saya saja. Ya maklum saya tidak termasuk kelas seperti itu, level saya masih makan di warteg belum kelas makan di restoran mahal :-p Sudah tahu beda kelas kok masih cerewet, duit-duit mereka, kartu kredit juga punya mereka kok lu yang jadi sirik Ted. Biarin, lah blog juga blog saya terserah saya donk mau tulis apa  (**ngeles mode is ON** =)) )

Ganti Casing Pendrive

Sepulang dari Banjarmasin hari Sabtu lalu, harddisk eksternal Pendrive Sense saya rusak. Port USB yang ada di body-nya Sense terlepas. Awalnya saya curiga kenapa ada bunyi “klotak klotak” di dalam Pendrive Sense, saya pikir ada benda apa yang menyusup masuk ke dalam perangkat itu. Saya baru sadar saat akan menyambungkan harddisk eksternal saya ke notebook, colokan USBnya sudah tidak ada. Ternyata port USB-nya lepas dan berada di dalam, itu yang menyebabkan bunyi “klotak klotak” di dalam Pendrive Sense saya.

Nekat saja saya bongkar saja Pendrive Sense itu dengan obeng plus kecil. Sempat pusing juga mencari kotak obeng saya. Setelah cari pinjaman obeng, saya bisa buka casing-nya.Kelihatan lah port USB yang lepas itu. Saya putuskan untuk mencoba menyolder sendiri port USB itu ke circuit board-nya. Setelah menyolder sendiri port USB, saya coba sambungkan harddisk eksternal ke notebook saya. Lampu Pendrive Sense menyala tapi Windows tidak bisa mengenali eksternal harddisk tersebut. Waduh, cukup panik…saya takut harddisk-nya bermasalah & data-datanya hilang.

Sebenarnya harddisk eksternal yang baru saya beli 4 Juni 2008 lalu itu masih bergaransi 3 tahun. Tapi saya malas menukarkannya ke Bhinneka.com tempat saya membelinya dulu. Jadi Senin kemarin ketika pergi ke Glodok Plaza, saya sempatkan mencari enclosure/casing untuk harddisk 2.5″ SATA yang ada di dalam Pendrive Sense saya itu. Harga casing untuk harddisk 2.5″ SATA (entah merek apa) adalah Rp60.000,- Pulang kantor, cepat-cepat saya bongkar Pendrive Sense-nya lalu saya pindahkan harddisk-nya ke dalam casing baru itu. Mudah kok proses pemindahannya. Sayang tidak sempat mengambil foto saat mengganti casing harddisk eksternal kemarin. Berikut komik kumpulan foto harddisk saya sebelum dan sesudah berganti casing.

Sekarang harddisk eksternal saya sudah bisa saya pakai kembali; dengan casing baru tentunya :-p

Cue Stick Stabilizer

Tiap cue stick dilengkapi oleh karet pada bagian bawah butt-nya. Karet itu lazim dikenal sebagai bumper. Bumper berfungsi untuk melindungi bagian bawah stik (butt) ketika stik sedang diletakkan dengan posisi berdiri atau ketika pemain sedang memegang stiknya sambil berdiri (bumper-lah yang akan bersentuhan dengan lantai). Foto di bawah ini adalah foto cue stick Joss 101 milik saya (bumper-nya adalah bagian berwarna hitam di bawah tulisan Joss).

Bumper tersebut bisa dilepas-pasang. Wujud dari bumper itu sendiri adalah seperti ini ketika sudah dilepas dari butt.

Bentuknya bulat dilengkapi dengan bagian berulir, persis seperti sebuah baut karet berpayung lebar. Nah ceritanya beberapa minggu lalu saya mengganti bumper standar bawaan Joss 101 dengan aksesori stabilizer.  Aksesori itu bermerek Limbsaver tipe X-1 Cue Stick Stabilizer. Wujudnya setelah dipasang adalah seperti berikut ini :

Dengan tambahan Limbsaver ini, bumper Joss 101 saya jadi lebih panjang. Katanya sih aksesori ini berguna untuk mengurangi goncangan, membuat kestabilan pukulan kita. Saat kita melakukan ayunan sebelum memukul bola, gerakan stik kita jadi terasa lebih mantap. Sugesti apa memang benar ya? Halah pikir-pikir bohong juga sih…kalau main biliarnya masih pas-pasan seperti saya, biarpun dipasangi stabilizer tetap saja masih jelek pukulannya :)). Lah kalau gitu ngapain saya beli? Ya biar bagus aja ditambahi aksesori, sukur-sukur kalau permainan saya jadi tambah bagus ;)) Kalau Anda berminat memasang stabilizer pada stik biliar, bisa beli di rekan saya Ferry Danuarta yang punya IB Pro Shop.