Rel Kereta & Pemukiman Kumuh

Kalau saya naik kereta api dari Cirebon menuju Jakarta, pemandangan yang saya lihat mula-mula adalah hamparan sawah yang menghijau (atau menguning kalau menjelang panen). Nah cara mendeteksi apakah sudah dekat dengan Jakarta apa belum, lihat saja pemandangan di luar.

Apakah sudah muncul deretan pemukiman kumuh di sepanjang rel kereta api? Jika ya, dapat dipastikan kereta sudah mulai mendekati wilayah Jakarta :-p Foto di samping ini adalah foto yang saya ambil beberapa saat setelah kereta api meninggalkan stasiun Jatinegara. Ini adalah pertanyaan yang muncul di benak saya saat tadi pagi pulang ke Jakarta dengan kereta Argo Jati : mengapa banyak pemukiman kumuh di sisi-sisi rel kereta api? Apa sih istimewanya rel kereta api, sampai-sampai banyak orang nekat membangun rumah seadanya di sana? Ada hasil analisis bodoh-bodohan melintas di benak saya, di antaranya adalah :

  1. Daerah di pinggiran rel kereta api mungkin adalah milik PT KAI. Jadi mereka asal saja membangun rumah/gubuk di sana, tanpa takut diusir oleh pemilik tanah. Pemilik tanahnya kan PT KAI jadi mungkin PT KAI termasuk golongan ramah terhadap penduduk pemukiman kumuh di sekitar rel kereta api. Atau mungkin karena PT KAI terlalu sibuk mengurusi perkeretaapian Indonesia jadi tidak punya waktu mengurusi daerah pemukiman kumuh yang berada dekat dengan rel kereta api.
  2. Mereka yang tinggal di sana adalah perantau dari daerah yang mencoba mengadu nasib ke Jakarta. Berhubung proses perantauannya gagal, mereka jadi bermukim di daerah-daerah yang dekat dengan stasiun kereta api. Asumsi tentu mereka dulu awalnya datang ke Jakarta dengan menumpang kereta api.
  3. Tinggal di sekitar rel kereta api cukup menguntungkan bagi bisnis mereka. Misalnya daerah-daerah rel kereta api yang juga dekat dengan stasiun kereta api, mereka mungkin banyak juga yang menggantungkan usahanya dari perkeretaapian. Entah itu jadi kuli angkut di stasiun, jadi pendagang asongan yang sering nekat loncat ke dalam kereta api saat ada kereta api yang berhenti, atau jadi pemulung sisa-sisa barang yang ditinggalkan penumpang kereta api (entah itu koran bekas, botol air minum, atau mungkin roti jatah penumpang kereta).

Kalau mau dianalisis lebih jauh harusnya PT KAI bertanggung jawab dalam mengamankan daerah pemukiman kumuh di pinggiran rel kereta api. Di beberapa titik, pemukiman yang dibangun benar-benar padat dan benar-benar dekat sekali dengan rel kereta api. Apa jadinya kalau terjadi kebakaran di pemukiman itu? Sudah pasti jadwal perjalanan kereta api akan terganggu. Beberapa tahun lalu saya pernah mengalami keterlambatan yang luar biasa, saat terjadi kebakaran hebat di pemukiman padat penduduk di daerah Manggarai. Selain itu rasanya kok gak nyaman di mata melihat pemandangan pemukiman kumuh selama perjalanan. Ah sudahlah…bukan urusan saya juga kan, tadi cuma sekadar pemikiran bodoh-bodohan saya melihat daerah-daerah kumuh di sepanjang rel kereta api.

15 Jam Di Cirebon

 Hari Minggu kemarin saya pulang ke Cirebon. Sialnya saya hanya dapat tiket bisnis kereta Cirebon Express. Kelas bisnis kereta api tentu beda dengan kelas bisnisnya Garuda. Duduk di kelas bisnis KA Cirebon Express cukup menyiksa….panas. Gerbong kelas bisnis hanya dilengkapi dengan kipas angin. Itupun tidak cukup mengusir panas & gerah perjalanan di siang hari kemarin. Belum lagi perjalanan yang terlambat dari jadwal. Tapi tiket bisnis Cirebon Express masih malah loh, Rp60.000,-. Bandingkan dengan tiket kereta api eksekutif Argo Gede (Jakarta-Bandung) yang dibanting jadi Rp45.000,-. Minggu kemarin saya berangkat dari stasiun Gambir sekitar pukul 11.10 dan baru sampai di stasiun Cirebon sore pukul 3 kurang 10 menit. Perjalanan yang teorinya hanya sekitar 3 jam, harus saya tempuh selama hampir 4 jam. Tidur tidak nyaman, baca juga tidak nyaman. Ah pokoknya kemarin saya benar-benar tersiksa di kereta, pengennya cepat-cepat sampai di Cirebon.

Sampai di stasiun Cirebon, saya segera menuju tempat reservasi tiket untuk beli tiket pulang hari Senin ini. Ternyata tiket kereta api eksekutif hanya tersedia jam 6 pagi, kereta api Argo Jati. Mungkin sih kalau Senin ini saya langsung antri di loket, saya masih bisa dapat tiket kereta selain kereta jam 6 pagi. Tapi saya tidak mau ambil resiko, berhubung saya sudah pegang tiket untuk berangkat ke Padang Selasa pagi besok.

Jadilah saya pulang ke Cirebon hanya sekitar 15 jam. Tadi pagi saya pulang lagi ke Jakarta dengan kereta api Argo Jati pukul 05.45. Tadi sih perjalanan boleh dibilang tepat waktu. Berangkat dari Cirebon pukul 05.45 sampai di Jakarta pukul 08.40 (terlambat 8 menit dari jadwal yang tercetak di karcis..cukup bisa ditolerir). Pagi ini saya malah kedinginan di kereta. AC gerbong kereta Argo Jati mungkin diset maksimum. Enak sih untuk tidur, tapi kalau tidak bawa jaket seperti saya ya cukup tersiksa. Halah, komplain terus ya…kepanasan ngomel, kedinginan ngeluh :-p mau lu apa sih? Maunya sih perjalanan seperti tadi pagi, dingin, on time, & bawa jaket biar bisa nyaman tidur ;))

Hmm…sepi ya Jakarta kalau libur panjang seperti sekarang ini. Eh foto di atas adalah salah satu foto yang saya ambil di jalan naik becak dari stasiun menuju rumah. Yang ada di foto tersebut adalah gambar gerbang pelabuhan Cirebon. Pelabuhan Cirebon (kalau tidak salah disebut Pelabuhan Tanjung Mas) sendiri punya 3 pintu gerbang. Nah yang di foto itu adalah foto gerbang I.