Tips Membeli Notebook

Tidak sedikit orang bertanya pada saya saat mereka ingin memilih notebook, hal yang umum ditanya adalah prosesor seperti apa yang bagus….mana yang lebih bagus Core 2 Duo atau Dual Core, bagus mana Toshiba atau Acer, dan aneka pertanyaan sejenis. Jawaban saya biasanya saya kembalikan pertanyaan pada mereka. Berapa budget mereka, untuk apa tujuan mereka membeli notebook. Jika membeli notebook hanya untuk aplikasi kantor (mengetik di Word, mengolah data di Excel, melakukan presentasi), kencangnya prosesor tidak perlu dijadikan pertimbangan utama. Lain ceritanya kalau Anda membeli notebook untuk dipakai bermain game.

Sekarang saja saya bingung dengan bermacam-macam tipe prosesor. Ambil contoh, Intel Core 2 Duo saja punya banyak varian & tiap varian berbeda-beda kecepatan prosesornya. Percayalah, Anda tidak akan terlalu merasa bedanya menggunakan prosesor Dual Core dengan speed 1.6GHz, 2.0GHz, atau 2,4GHz sekalipun. Lain halnya dengan memori, besar kecilnya memori yang terpasang sangat terasa efeknya. Tidak peduli berapapun kecepatan prosesor yang ada, Anda pasti LEBIH BISA merasakan perbedaan performa kerja notebook dengan memori 512MB dengan notebook bermemori 1GB. Dari pengalaman saya, lebih baik menambah kapasitas memori daripada meng-upgrade prosesor dengan speed yang lebih tinggi.

Tidak semua orang akrab dengan dunia IT/komputer, jadi tulisan ini lebih ditujukan bagi orang awam yang tidak terlalu familiar dengan dunia komputer. Bukan mau menggurui tapi sekadar berbagi pengalaman. Biasanya kalau saya ditanya notebook apa yang bagus, saya akan menyarankan tentukan dulu apa prioritas yang jadi pertimbangan. Apakah Anda mencari notebook dengan spesifikasi khusus atau mencari notebook dengan harga tertentu. Jika pertimbangan Anda adalah spesifikasi (asumsi harga tidak terlalu menjadi masalah), tentu hal ini tidak terlalu menjadi masalah. Pilih saja notebook merek terkenal (seperti Fujitsu atau Sony) yang harganya di atas 16juta, pasti bagus. Tapi jika Anda hanya mempertimbangkan harga, saran saya adalah tentukan dulu berapa besar budget yang ingin dianggarkan untuk membeli notebook. Dengan batasan anggaran, setidaknya kita mempersempit pilihan yang ada. Terlalu banyak spesifikasi dan fitur-fitur yang ditawarkan produsen notebook saat ini. Mengikuti teknologi tidak akan ada habisnya. Nambah 1 juta Anda sudah dapat ini itu, nambah 2 juta Anda dapat yang punya fitur ini itu, terus menerus seperti itu. Jadi paling bijaksana, tentukan titik teratas anggaran belanja notebook Anda, baru kita pertimbangkan hal teknis dan lainnya.

Setelah tahu seberapa besar anggaran Anda untuk notebook, baru kita mencari kandidat-kandidat notebook yang harganya masuk dalam anggaran Anda. Website toko komputer seperti Bhinneka.com selalu jadi acuan saya untuk membandingkan merek, fitur, & harga notebook. Dari sekian banyak pilihan merek dan tipe notebook yang ditawarkan, kita bisa mengklasifikasikannya sesuai dengan anggaran. Berikutnya adalah masalah spesifikasi. Menurut saya setidaknya Anda perlu tahu tentang spesifikasi berikut ini, sekali lagi batasan-batasan ini sifatnya fleksibel tergantung kebutuhan Anda sendiri :

  • Memori : saran saya belilah notebook dengan memori sedikitnya 1GB
  • Harddisk : saat ini rata-rata notebook sudah dilengkapi dengan harddisk berukuran minimum 120GB.
  • Koneksi wireless : koneksi wireless yang wajib ada adalah WiFi. Infrared atau Bluetooth sifatnya opsional saja.
  • Kenyamanan touchpad & keyboard : ini tidak teknis tapi penting jadi pertimbangan. Ada baiknya Anda mecoba dulu notebook yang Anda ingin beli supaya tahu nyaman tidaknya saat dipakai mengetik.
  • Ukuran layar : kalau Anda ingin menggunakan notebook untuk mengolah data di spreadsheet (Excel) maka layar 13″ ke atas lah yang harus Anda pilih. Kalau pertimbangan mobilitas (enteng dibawa-bawa) tentu jangan beli notebook berukuran lebih dari 14″.
  • Hal lain yang perlu dipertanyakan adalah masalah garansi & kemudahan layanan purna jualnya.

Saya pribadi termasuk orang yang agak sedikit fanatik terhadap merek. Biasanya kalau ditanya orang, saya selalu merekomendasi notebook-notebook yang sudah terbukti kualitasnya dan jarang punya masalah…sebut saja merek Fujitsu atau Lenovo. Merek abal-abal tidak pernah saya sebut. Ya kurang lebihnya seperti itu tips memilih notebook versi bodoh-bodohan dari saya 😀

Head To Head Lenovo & Compaq

Ini catatan saya beberapa minggu lalu yang belum sempat saya publish. Dua orang rekan saya membeli notebook dan membawanya pada saya untuk masalah instalasi OS. Yang satu datang dengan membawa Lenovo G410 sementara yang lain membawa Compaq Presario CQ40. Kedua notebook ini harganya hampir mirip & masih berada dalam kelas yang sama; low end notebook. Saya buat tulisan ini untuk sedikit me-review kedua notebook ini. Boleh percaya boleh tidak silakan tentukan sendiri pendapat Anda.

Lenovo G410 ini dijual sekitar 6 juta rupiah. Modelnya sangat klasik, mengikuti tradisi desain notebook IBM. Berkesan kotak dan kaku. Seperti tradisi desain notebook IBM, sisi layar dibuat menonjol sehingga saat layar ditutup tidak ada celah di antara layar dan keyboard yang memungkinkan debu untuk masuk. Bagi Anda yang mempertimbangkan model dalam memilih notebook, Lenovo G410 mungkin akan terlihat kurang menarik. Untuk ukuran notebook berlayar 14″, body G410 cukup tebal dan lumayan berat. Notebook berbobot lebih dari 2 kilogram pasti terasa beratnya. Karena menekan harga, Lenovo hanya memasangkan DVD Combo (DVD ROM + CD-RW drive). Optical drive-nya hanya bisa membaca DVD, tidak bisa dipakai untuk burning DVD (hanya bisa burn CD). Jaman sekarang rasanya aneh membeli notebook tanpa kemampuan menulis DVD seperti ini.

G410 ini juga tidak memiliki webcam. Untuk harga sekitar 6 juta rupiah, notebook merek lain sudah dilengkapi dengan webcam. Berikut adalah spesifikasi teknis Lenovo G410 ini :

  • CPU Intel Dual Core T2390 1.86GHz
  • Memory 1GB
  • Harddisk 160GB
  • DVD Combo
  • LAN 10/100Mbps
  • Wifi 802.11g
  • Modem 56Kbps
  • Layar 14″
  • Slot memory card (MMC, SD)

Dalam paket penjualannya, Lenovo hanya menyediakan CD driver untuk Windows Vista. Meskipun tidak dilengkapi dengan driver untuk Windows XP, hampir semua driver yang ada bisa dipakai di Windows XP. Untuk masalah performa, Lenovo G410 ini cukup handal. Walaupun dipakai terus menerus, notebook ini relatif tidak panas. Bagi saya pribadi, tidak adanya internal webcam dan bluetooth tidak terlalu menjadi masalah. Kekurangan yang cukup mengganggu saya adalah ketiadaan DVD-RW.

Compaq Presario CQ40 ini harganya sekitar 7 juta rupiah. Ini adalah notebook yang paling rewel yang pernah saya pegang. Keyboard-nya tidak nyaman digunakan, apalagi touchpad-nya. Sulit menggerakan jari di atas touchpad Compaq ini…terasa “kesat” (apa ya bahasa Indonesianya??? ya pokoknya kurang smooth deh) Berikut ini adalah spesifikasi teknis Compaq Presario CQ40 :

  • Prosesor Intel Pentium Dual Core T3400 2.16GHz
  • Memori DDR2 1GB
  • Layar 14″ wide screen
  • Harddisk 160GB
  • Wifi 802.11 b/g
  • LAN 10/100Mbps
  • Modem 56Kbps
  • DVD RW dual layer (with Lightscibe technology)
  • Webcam
  • 5 in 1 digital media reader (slot memory card)
  • Speaker Altec Lansing

Ingin menggunakan Windows XP dengan Compaq tipe ini? Jangan harap gampang, lupakan Compaq Presario CQ40 jika Anda ingin menggunakan Windows XP. Dari awal instalasi Windows XP saja, saya sudah menemui kendala. CQ40 ini benar-benar dirancang untuk Windows Vista. Awal booting dengan CD Windows XP, saya dapat eror blue screen dan harddisk-nya tidak dikenali (Compaq ini menggunakan harddisk tipe SATA). Saya harus melakukan remastering pada CD Windows XP saya untuk memasukkan driver SATA. Masalah instalasi pun bisa diselesaikan. Muncul masalah berikutnya ketika menginstal driver untuk tiap perangkat. Saya harus download semua driver dari webnya HP/Compaq. Proses download berlangsung super lambat, padahal koneksi Speedy saya cukup bagus…mungkin lambat di sisi servernya. Yang paling sulit adalah menginstal driver untuk sound card. Dua hari dua malam saya utak-atik notebook ini, nyerah juga akhirnya. Saya pasangi saja Windows Vista ke dalam Compaq CQ40 ini (Compaq hanya menyediakan CD driver untuk Windows Vista). Banyak tips yang saya baca di Internet soal Compaq CQ40 ini, masih ada 1 tips yang belum saya coba : melakukan downgrade BIOSnya. Halah….terlalu beresiko, salah-salah bisa mati total.

Keunggulan CQ40 ini dibandingkan Lenovo G410 terletak pada internal webcam dan DVD-RW. DVD-RW yang terpasang termasuk canggih, sudah dilengkapi dengan teknologi Lightscribe. Dengan teknolgi Lightscibe, Anda bisa mencetak cover CD/DVD langsung di atas kepingan CD/DVD. Teknologi ini hanya bisa dipakai jika Anda menggunakan keping CD/DVD khusus (yang bagian atasnya bisa dicetak dengan teknologi Lightscribe). Oh ya speaker CQ40 cukup bagus, dipasangi speaker Altec Lansing loh.

Head to head Lenovo G410 & Compaq Presario CQ40, saya lebih memilih Lenovo G410. Dengan segala kekurangan Lenovo G410, tetap saja rasanya kurang worthed kalau saya memilih CQ40 dengan segala kerepotannya itu.

Teks Primbon

Sejak mencoba belajar menjadi seorang Unix engineer di Fujitsu Indonesia Mei 2007 lalu, saya rutin mencatat semua ilmu, tips, dan tutorial tentang Unix. Saya tulis semuanya dalam sebuah dokumen Word. Semacam primbon kecil-kecilan lah, membantu saya mengingat semua hal tentang Unix yang sudah saya pelajari. Antisipasi suatu saat saya lupa. Tiap orang punya cara masing-masing untuk mencatat dan mendokumentasikan “primbonnya”. Teman saya Rizki di Fujitsu Indonesia, rajin sekali mencatat segala yang dia pelajari dalam sebuah buku. Hmm tulisan tangan saya tidak bagus, ditambah lagi saya malas mencatat; jadi saya pilih mengetiknya dalam sebuah file Word.

Saya catat segala hal mulai dari yang sederhana sampai yang saya anggap rumit. Misalnya saja cara membackup harddisk dengan perintah ufsdump. Atau bagaimana caranya mengkonfigurasi server/storage. Atau misalnya saya baru tahu tentang perintah Unix untuk memeriksa port-port yang terbuka, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini :

Saya pisah tiap topik dalam tiap halaman yang berbeda. Tiap catatan saya beri judul yang memudahkan saya bilamana nanti perlu mencarinya kembali. Tidak lupa saya cantumkan juga log yang berkaitan. Sampai hari ini catatan saya sudah mencapai 365 halaman.

Waktu saya mulai membuat catatan kecil ini saya masih menggunakan Microsoft Word. Ya maklum dulu di Fujitsu, notebook kantor diisi Windows XP. Awal tahun 2009 ini saya menggunakan Ubuntu di notebook kantor. Dengan menggunakan format *.doc sering timbul masalah ketika membuka catatan saya itu dengan Open Office Writer (atau sebaliknya). Font yang bisa berubah, margin yang bergeser, tabulasi yang berantakan, dan beberapa contoh masalah lainnya. Akhirnya setelah saya benahi semua catatan saya, saya simpan saja dalam format open document (*.odt). Format ini lebih enak dipakai, ukuran file-nya lebih kecil, dan bisa dibuka di semua word processor program yang sudah mendukung format open document.

Di kantor saya sekarang (eServGlobal Indonesia), rekan-rekan juga punya kebiasaan yang sama dengan saya. Mereka menyimpan catatan tentang ilmu-ilmunya, bedanya dengan saya adalah mereka mencatat dalam format plain text (*.txt). Hmm memang ada enaknya menyimpan catatan dalam format plain text. File-nya lebih cepat dibuka. Bekerja dengan komputer berbasis Linux membuat saya tidak bisa jauh dengan yang namanya Terminal/Console. Enaknya punya catatan dalam format teks, saya bisa buka catatan saya dengan menggunakan console (text based tentunya).

Saya cari-cari informasi ternyata ada juga aplikasi di Ubuntu yang dapat melakukan konversi file odt ke dalam file teks. Aplikasi itu bernama odt2txt. Ya sudah langsung saja saya pasang aplikasi itu. Cara pemakaiannya cukup mudah, tinggal tentukan nama output file yang diinginkan dan tentukan juga source dokumennya. Contohnya seperti di bawah ini :

tedy@tedy-laptop:~$ /usr/bin/odt2txt --output=/data/UNIX_text_version.txt /data/UNIX.odt

Dengan perintah di atas saya akan mendapat hasil sebuah file teks dengan nama UNIX_text_version.txt. Daripada harus mengulang mengetik perintah di atas berkali-kali, saya buat script kecil untuk mengotomatisasi proses konversi itu. Script-nya seperti berikut ini :

tedy@tedy-laptop:~$ cat bin/convert-odt
#!/bin/bash
#------------------------------------------------------------
# This script will convert UNIX.odt file into text file
#------------------------------------------------------------
echo "";
echo "---------------------------------------------------------";
echo "";
echo "Starting convert process at `date '+%Y%m%d-%H:%M:%S'`";
/usr/bin/odt2txt --output=/data/UNIX_text_version.txt /data/UNIX.odt
echo "";
echo "Finish convert process at `date '+%Y%m%d-%H:%M:%S'`";
echo "";
echo "---------------------------------------------------------";
echo "";
exit
tedy@tedy-laptop:~$

Tampilan console saat saya menjalankan script terlihat pada gambar di bawah ini :

.

Nah gampang sekarang kalau buru-buru perlu membuka catatan primbon saya ini 🙂 tinggal buka console saja. Misalnya dengan perintah view saya bisa mencari petunjuk yang diperlukan :

Saya senang menggunakan cara ini, prosesnya lebih cepat daripada harus membuka Open Office terlebih dulu. Hmm tapi memang untuk menambah isi catatan saya itu saya tetap harus menggunakan Open Office.

Nah bagaimana Anda menyimpan ilmu, tips, trik Unix Anda? 😀

Pulang Cirebon

Sabtu siang kemarin saya pulang ke Cirebon, katanya adik saya sakit. Adik perempuan saya terpaksa dirawat di rumah sakit karena terkena demam berdarah. Ya sudah pulanglah saya dengan kereta api jam 1 siang…padahal tadinya saya tidak punya rencana pulang ke Cirebon. Ah sayang Sabtu siang kemarin saya harus puas duduk di gerbong bisnis kereta Cirebon Ekspress. Tidak ada lagi kursi di kelas eksekutif, perjalanan yang kurang menyenangkan….siang-siang menuju Cirebon dengan hawa panas, duduk di kelas bisnis pula. Untung saya duduk persis di bawah kipas angin, jadi masih bisa duduk sambil baca novel. Hmm iseng sebentar waktu menunggu kereta datang di Gambir, sambil menunggu kereta datang…motret-motret.

Foto ini diambil saat kereta Cirebon Ekspress dari Cirebon menuju Jakarta baru merapat di Stasiun Gambir. Kereta ini pula lah yang akan saya naiki kembali ke Cirebon. Begitu ada pengumuman akan masuk kereta dari Cirebon, saya langsung ambil posisi di samping rel 😀 Mencari titik fokus dulu supaya saat kereta melintas saya tinggal ambil gambarnya.

Kalau foto di bawah ini adalah foto keramaian penumpang kereta Cirebon Ekspress yang baru datang tadi. Tidak terlalu ramai penumpang KA Cirebon Ekspress siang kemarin.  Susah juga ternyata memotret di tengah keramaian orang berlalu lalang. Jadi yang ada di dalam foto di bawah ini adalah penumpang yang turun belakangan dari kereta.

KA berangkat dari Gambir menuju Cirebon tepat pukul 13.15, tepat sesuai jadwal. Tiba di Cirebon juga tepat sesuai jadwal, pukul 16.15 sudah masuk stasiun Cirebon.