Membuat Website Sederhana

Minggu lalu saya dimintai saran oleh salah seorang rekan tentang bagaimana sih caranya membuat website. Rekan saya bukan orang yang sehari-hari bergelut dengan dunia IT. Dia ingin membuat sebuah website sebagai website resmi kantornya. Saya jelaskan secara sederhana, paling tidak ada 4 langkah untuk membuat website :

  1. Membeli nama domain yang diinginkan. Singkatnya nama domain adalah alamat yang diakses orang untuk membuka website kita. Contohnya www.tedytirta.com.
  2. Menyewa hosting, hosting adalah tempat di mana kita akan meletakkan website kita di internet.
  3. Menginstal program untuk menjalankan website kita.
  4. Memasukkan data & mengatur tampilan website.

Biasanya langkah pertama dapat digabung dengan langkah kedua. Rata-rata hampir semua perusahaan penyedia jasa hosting menyediakan paket sewa sekaligus beli nama domain. Kemarin saya anjurkan rekan saya untuk menyewa hosting di Qwords.com. Saya rekomendasi menggunakan Qwords, karena saya sudah beberapa kali saya menggunakan jasa Qwords.com & sejauh ini cukup puas dengan pelayanannya.

Awalnya rekan saya ingin punya domain dengan akhiran .co.id. Saya bilang mengurus domain co.id tidak semudah mengurus domain bebas seperti .com, .net, dsb. Mengurus domain co.id paling tidak memerlukan surat ijin usaha (SIUP?) dan beberapa persyaratan lainnya. Sementara mengurus domain .com sangat mudah, asal nama domainnya tersedia (belum dibeli orang lain) maka kita bisa langsung menyewanya. Biaya sewa domain .com pertahun di Qwords.com adalah Rp80.000,-.

Biaya hosting sendiri biasanya bergantung dari berapa besar kapasitas yang ditawarkan. Ada paket yang menawarkan kapasitas 100MB, 250MB, dsb. Besarnya paket hosting yang perlu disewa tentu bergantung pada seberapa besar data akan ditaruh di website. Misalnya website diprediksi akan menampilkan banyak foto dengan resolusi tinggi, tentu ini harus diperhitungkan supaya hosting cukup untuk menampung semua foto.

Lalu soal isi websitenya sendiri. Sekarang banyak jasa hosting sudah menyediakan fasilitas instalasi otomatis, Softacoulus.  Dengan bantuan Softaculous kita bisa menginstal bebagai platform dengan sangat mudah. Tersedia banyak platform yang bisa digunakan seperti WordPress, Joomla, OpenCart (website untuk membuat toko online), bahkan sampai aplikasi untuk keperluan HRD tersedia di sana.

softaculous

 

Berhubung saya bukan web developer & rekan saya juga tidak terlalu paham soal internet, saya sarankan rekan saya untuk menggunakan WordPress saja. Sekarang platform WordPress tidak hanya dipakai untuk keperluan blogging, WordPress sekarang bisa dipakai untuk membuat website kantor (untuk keperluan bisnis). WordPress relatif mudah untuk dipakai, di-configure, dan dimodifikasi untuk keperluan sebuah website bisnis. Tentu website bisnis di sini lebih ke arah sebuah web statis. Bila keperluannya hanya untuk menampilkan portfolio perusahaan, visi & misi, company profile, produk yang dijual, jasa service yang disediakan, rasanya WordPress sudah bisa mengakomodir  semuanya.

Kunci Membuat Dokumentasi Teknis Yang Baik

Kunci membuat dokumentasi yang baik adalah menganggap semua calon pembaca sebagai orang awam yang tidak tahu apa-apa. Kasarnya, anggap saja semua calon pembacanya bodoh & perlu dibimbing dengan jelas. Kunci kedua adalah memahami apa sih pertanyaan yang mungkin timbul ketika orang membaca dokumen kita. Kita harus bisa mengantisipasi munculnya pertanyaan “mengapa begini” & “mengapa begitu”. Bagaimana antisipasinya? Dengan menjelaskan latar belakang mengapa kita menuliskan sebuah statement.

Tentu kita masih perlu membatasi siapa calon pembaca dokumentasi yang kita buat. Tidak mungkin kita mengakomodasi semua orang dengan berbagai macam latar belakang pengetahuan. Ini memang bagian yang sangat “tricky” untuk menentukan siapa calon pembaca dokumentasi kita.

Misalkan saja kita akan membuat dokumentasi untuk staf di kantor tentang cara menambahkan printer pada Windows 7, lalu kita tulis dalam dokumentasi kita :

  1. Klik Windows Start menu dari pojok kiri bawah layar.
  2. Lalu klik Control Panel,
  3. Lalu klik Devices & Printers.

Sepintas terlihat sudah detil setiap langkahnya. Tapi apa yang terjadi bila user yang menggunakan dokumentasi kita belum familiar dengan Windows 7? Misalnya user akan komplain “Pak..di Control Panel tidak ada pilihan Devices & Printers“. Ternyata di Control Panel-nya Windows 7, Devices & Printers hanya keliatan bila kita pilih opsi “View by : Large Icon”.  Mungkin di komputer user yang bersangkutan opsi “View by” masih diset sebagai Category.

win7-printer

Langkah sepele yang rasanya perlu ditambahkan dalam dokumentasi untuk mengantisipasi kasus seperti itu.

Hal lain yang bisa menjadikan sebuah dokumentasi gampang dipahami adalah dengan memberikan contoh hasil yang diharapkan. Dalam dunia komputer misalnya, kita bisa menambahkan log hasil test kita sendiri atau mungkin dengan menambahkan screenshot apa yang kita lakukan. Dengan adanya contoh pembaca memiliki referensi sukses atau tidaknya dia mengikuti petunjuk yang dijelaskan dalam dokumentasi tadi. Akan lebih baik lagi jika kita juga menuliskan error apa yang kemungkinan didapatkan oleh user sewaktu mengerjakan apa yang kita tulis dalam dokumentasi kita.

Waktu saya bekerja di perusahaan Jepang, saya dapat pelajaran berharga tentang bagaimana pentingnya membuat dokumentasi yang baik. Baik dalam arti tersusun dengan sistematis, jelas sampai pada detil terkecil. Orang Jepang punya kebiasaan mencatat segala detil informasi. Tidak heran bila kita temui orang Jepang ke mana-mana mengantongi buku catatan kecil. Mereka seperti memiliki filosofi bahwa semua orang seperti robot, siapa pun yang memegang dokumentasi mereka akan bisa mengerjakan apa yang ditulis di sana.

Tips lain adalah menghindari penggunakan kalimat yang terlalu panjang. Dokumentasi yang baik tidak berarti menggunakan kalimat yang panjang dan bertele-tele. Tips ini menurut saya sifatnya universal, tidak hanya cocok untuk penulisan sebuah dokumentasi teknis. Memang tidak gampang membuat sebuah dokumentasi teknis yang bagus. Perlu extra waktu, extra tenaga & perlu kepekaan tersendiri. Kepekaan berkait juga dengan kepedulian jangan sampai pembacanya kebingungan. Mentalitas “asal saya ngerti” itulah yang menghalangi orang menghasilkan sebuah dokumentasi yang baik.

Mencoba Raspberry Pi

Raspberry Pi adalah sebuah komputer mungil komplit dengan CPU & memori. Sepintas terlihat seperti sebuah PCB biasa. Karena ukurannya yang kecil, komputer ini dijual dalam kemasan yang mirip kotak kartu nama.

20130211-151332.jpg

Sebagai perbandingan ini foto Raspberry Pi dijajarkan dengan Blackberry 9320. Cukup kecil untuk ukuran sebuah komputer mini. Harga Raspberry Pi ini adalah Rp400.000,-.

20130211-151059.jpg

Untuk sumber dayanya, Raspberry Pi menyediakan konektor micro USB. Konektor ini sama seperti yang lazim dipakai di ponsel. Sayangnya adapter power tidak disertakan dalam paket penjualan Raspberry Pi. Harga adapter USBnya Rp50,000.

20130211-162512.jpg

Berikut tampak atas dari Raspberry PI.

20130211-150612.jpg

Tampak bawah dari Raspberry ini seperti berikut ini :

20130211-150620.jpg

Bagian yang berwarna hitam itu adalah slot untuk memasukkan SD Card. Raspberry PI menggunakan SD Card sebagai pengganti harddisk.

Untuk menghubungkan keyboard & mouse, saya menggunakan 2 konektor USB yang tersedia. Raspberry Pi ini juga menyediakan 1 buah konektor LAN (Ethernet) sehingga saya bisa menyambungkannya ke switch dengan kabel UTP.

20130211-150634.jpg

Karena memiliki konektor HDMI, Raspberry ini bisa juga disambungkan ke LCD TV yang memiliki konektor HDMI.

20130211-150644.jpg

Selain konektor HDMI, Raspberry Pi jug menyediakan konektor video analog/RCA (di bagian yang berwarna kuning). Selain itu juga tersedia sebuah konektor audio 3,5 mm.

Saya juga beli casing untuk Raspberry Pi ini. Casing-nya ada yang berwarna hitam, putih, dan transparan; saya pilih yang transparan.

20130211-151345.jpg

Setelah dipasang ke dalam casing, tampilannya seperti berikut ini :

20130211-150553.jpg

Ada beberapa pilihan sistem operasi yang bisa dipasang pada Raspberry Pi ini. Untuk test awal saya pilih Raspbian. Raspbian ini pada dasarnya adalah Debian Wheezy yang sudah di-compile ulang supaya bisa bekerja dengan prosesor ARM; saya download image Raspbian dari sini.

20130211-150457.jpg

Saya perlu menggunakan perintah dd pada terminal untuk menyalin image Raspbian ke dalam SD Card.

ttirtawi@macbook-air:~$ df -h
Filesystem      Size   Used  Avail Capacity  iused   ifree %iused  Mounted on
/dev/disk0s2   112Gi  101Gi   11Gi    91% 26581510 2830858   90%   /
devfs          185Ki  185Ki    0Bi   100%      639       0  100%   /dev
map -hosts       0Bi    0Bi    0Bi   100%        0       0  100%   /net
map auto_home    0Bi    0Bi    0Bi   100%        0       0  100%   /home
/dev/disk1s1   3.7Gi  800Ki  3.7Gi     1%        0       0  100%   /Volumes/UNTITLED 1
ttirtawi@macbook-air:~$ sudo diskutil unmount /dev/disk1s1 
Password:
Volume UNTITLED 1 on disk1s1 unmounted
ttirtawi@macbook-air:~$ sudo dd bs=1m if=2012-12-16-wheezy-raspbian.img of=/dev/rdisk1
1850+0 records in
1850+0 records out
1939865600 bytes transferred in 220.246458 secs (8807704 bytes/sec)
ttirtawi@macbook-air:~$ ls -tlrh 2012-12-16-wheezy-raspbian.img 
-rw-r--r--@ 1 ttirtawi  staff   1.8G Dec 17 02:52 2012-12-16-wheezy-raspbian.img
ttirtawi@macbook-air:~$

Karena tidak punya tombol ON/OFF, begitu disambungkan dengan charger-nya Raspberry Pi ini langsung booting. Pertama kali booting akan muncul menu seperti ini :

20130211-150447.jpg

Ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan seperti mengatur tipe keyboard, mengatur time zone, mengaktifkan SSH server, dsb. Setelah selesai proses booting bisa dilanjutkan sampai muncul tampilan desktop seperti berikut ini :

raspberry

Raspbian menggunakan LXDE sebagai desktop environment-nya. Tidak seperti Debian (atau Ubuntu) yang secara default menggunakan Gnome, Raspberry menggunakan LXDE karena LXDE relatif sangat ringan & bisa bekerja di perangkat yang minimalis. Waktu saya coba desktop-nya relatif lambat, mungkin faktor SD Card yang kurang bagus sehingga proses read/write-nya agak terhambat. Nanti saya perlu coba lagi dengan SD Card yang lebih tinggi kecepatan baca-tulisnya.

Berikut informasi hardware dari Raspberry Pi ini :

pi@raspberrypi ~ $ uname -a
Linux raspberrypi 3.2.27+ #250 PREEMPT Thu Oct 18 19:03:02 BST 2012 armv6l GNU/Linux
pi@raspberrypi ~ $ 
pi@raspberrypi ~ $ sudo lshw 
raspberrypi               
    description: Computer
    width: 32 bits
  *-core
       description: Motherboard
       physical id: 0
     *-memory
          description: System memory
          physical id: 0
          size: 438MiB
     *-cpu
          physical id: 1
          bus info: cpu@0
          size: 700MHz
          capacity: 700MHz
          capabilities: cpufreq
  *-network
       description: Ethernet interface
       physical id: 1
       logical name: eth0
       serial: b8:27:eb:45:7b:e2
       size: 100Mbit/s
       capacity: 100Mbit/s
       capabilities: ethernet physical tp mii 10bt 10bt-fd 100bt 100bt-fd autonegotiation
       configuration: autonegotiation=on broadcast=yes driver=smsc95xx driverversion=22-Aug-2005 duplex=full firmware=smsc95xx USB 2.0 Ethernet ip=192.168.1.118 link=yes multicast=yes port=MII speed=100Mbit/s
pi@raspberrypi ~ $