Catatan Kecil Tahun 2008

Tadinya saya berniat menulis catatan ini tepat di malam pergantian tahun. Waktu itu saya lupa kenapa saya malah tidak jadi menulisnya. Tulisan ini cuma catatan kecil saya tentang perjalanan yang saya lakukan sepanjang tahun 2008. Ada catatan tentang penerbangan saya, ada juga catatan tentang hotel-hotel yang saya singgahi.

Dari catatan saya, sepanjang 2008 saya menghabiskan 102 hari menginap di hotel. Sebenarnya bukan catatan tertulis tapi berupa kumpulan foto-foto saya setiap kali bepergian. Tiap kali bepergian keluar kota, saya selalu mendokumentasinya dalam jepretan-jepretan kamera digital saya. Berikut adalah daftar hotel di Indonesia yang saya singgahi (diurutkan berdasar tingkat kepuasan saya menginap di sana) :

  1. Hotel Imperial Aryaduta Makassar (nilai A) – 1 malam
  2. Hotel Singgasana Surabaya (nilai A) – 11 malam
  3. Hotel Sagita Comfort Balikpapan (nilai A) – 6 malam
  4. Hotel Singgasana Makassar (nilai A) – 7
  5. Hotel The Sultan Solo (nilai A) – 1 malam
  6. Hotel Garden Surabaya (nilai B) – 21 malam
  7. Hotel Arum Kalimantan Banjarmasin (nilai B) – 6 malam
  8. Hotel Pangeran Pekanbaru (nilai B) – 1 malam
  9. Hotel Puri Garden Batam (nilai B) – 1 malam
  10. Hotel Sahid Imara Palembang (nilai B) – 1 malam
  11. Hotel Valentino Makassar (nilai B) – 4 malam
  12. Hotel Ambacang Padang (nilai B) – 1 malam
  13. Hotel Ibis Rajawali Surabaya (nilai B) – 1 malam
  14. Hotel Quality Makassar (nilai B) – 2 malam
  15. Hotel Victoria Banjarmasin (nilai C) – 1 malam
  16. Hotel Sandjaja Palembang (nilai C) – 2 malam
  17. Hotel Wisata Palembang (nilai C) – 1 malam
  18. Hotel Royal Dago Bandung (nilai C) – 3 malam
  19. Hotel Safari Garden Puncak (nilai C) – 1 malam
  20. Hotel Garden Palace Surabaya (nilai C) – 2 malam
  21. Hotel Sahid Surabaya (nilai D) –  1 malam
  22. Hotel Dharma Delli Medan (nilai D) – 1 malam
  23. Hotel Puri Ayu Denpasar (nilai D) – 2 malam
  24. Hotel Yasmin Makassar (nilai D) – 2 malam
  25. Hotel Sahid Jaya Makassar (nilai D) – 3 malam

Hotel dengan nilai A artinya saya benar-benar puas dan berharap bisa menginap lagi ke sana; dan tentunya hotel-hotel ini masuk ke dalam daftar rekomendasi saya. Hotel dengan nilai B adalah hotel dengan kualitas cukup bagus tapi saya tidak berharap bisa balik lagi ke sana. Hotel yang saya beri nilai C berarti kalau kepepet saya masih mau menginap di sana. Nah hotel dengan nilai D artinya masuk ke “daftar hitam” saya  (serem amat ya pake daftar hitam segala =)) ), singkatnya saya tidak mau lagi balik ke hotel tersebut. Dari semua hotel yang saya datangi, semuanya kantor yang bayar. Hampir semuanya adalah perjalanan dinas kecuali hotel Safari Garden Puncak, waktu itu ada acara family gathering Fujitsu 2008 di hotel Safari Garden. Di 2008 saya juga sempat menginap di 3 hotel di luar negeri, 2 di antaranya adalah saat saya pergi training ke Jerman dan 1 sisanya di Singapura adalah saat saya liburan akhir tahun 2008 kemarin :

  1. Hotel Aspethera Paderborn Germany – 10 malam
  2. Hotel Le Meridien Paris – 1 malam
  3. Hotel 81 Singapore – 7 malam

Kalau tadi catatan tentang hotel, sekarang giliran catatan soal penerbangan. Berikut catatan saya tentang maskapai-maskapai yang saya gunakan selama tahun 2008 :

  1. Malaysia Airlines –  2 kali
  2. Lion Air – 4 kali
  3. Mandala Airlines – 1 kali
  4. Garuda Indonesia – 60 kali (58 flight untuk perjalanan dinas + 2 jalan-jalan ke Singapura)

Eh saya juga masih menyimpan foto semua boarding pass-nya :-p Ah benar-benar tulisan orang kurang kerjaan ya :))

Singapore (part 7) – Foto-Foto Terbaik Di Singapura

Setelah membeli Canon EOS 1000D di Singapura, saya banyak sekali memotret. Setidaknya ada 10GB foto yang saya ambil dengan kamera DSLR itu. Sepulangnya ke Indonesia, saya lihat hasil-hasil foto tadi dan di tulisan ini Anda bisa melihat foto-foto yang paling saya suka. Saya merasa ini adalah foto-foto terbaik yang saya ambil selama di Singapura, sangat puas dengan hasil-hasilnya. Tidak ada editing yang mengubah tampilan foto, saya hanya menambahkan signature di bagian bawah foto dengan bantuan Adobe Image Ready.

  1. Foto Fullerton Hotel Singapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/10sec, aperture F/5, focal length 18mm, ISO 1600)
  2. Foto Riverside Point di kawasan Clarke Quay

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/8sec, aperture F/4.6, focal length 18mm, ISO 400)
  3. Foto Sungai Singapura di kawasan Boat Quay

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/5sec, aperture F/4, focal length 21mm, ISO 1600)
  4. Foto gedung parlemen Singapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, using tripod, shutter speed 1/2sec, aperture F/5, focal length 42mm, ISO 400)
  5. Foto tempat parkir basement Esplanade Theatre Singapore

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/99sec, aperture F/4, focal length 24mm, ISO 1600, white balance fluorescens)
  6. Foto Novotel Hotel di kawasan Clarke Quay SIngapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/4sec, aperture F/4.6, focal length 20mm, ISO 400)
  7. Foto salah satu sisi Pulau Sentosa Singapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/10sec, aperture F/5, focal length 18mm, ISO 800)
  8. Foto sisi lain gedung parlement Singapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS, shutter speed 1/5sec, aperture F/4, focal length 21mm, ISO 1600)
  9. Foto Lain Sungai Singapura

    (Canon EOS 1000D + Zoom Lens EF-S 18-55mm f/3.5-5.6 IS , shutter speed 1/5sec, aperture F/4, focal length 18mm, ISO 1600)

Singapore (part 6) – Hotel 81

Selama di Singapura minggu lalu, saya menginap di Hotel 81 di kawasan Geylang. Sebelum berangkat ke sana saya sudah sempat mencari informasi soal budget hotel di Singapura, di Google nama Hotel 81 menduduki top search result. Budget hotel mungkin sama dengan hotel kelas melati di Indonesia, murah meriah asal bisa tidur. Daerah Geylang memang dikenal sebagai pusatnya hotel-hotel murah, supir taksi bandara Changi juga menginformasikan hal yang sama. Tadinya kami berdua masih berharap bisa mendapat hotel dengan tarif S$50/malam, sayangnya sulit sekali mendapat hotel dengan tarif tersebut. Cuma 1 hotel lain yang sempat kami singgahi untuk menanyakan tarifnya. Sayangnya hotel tersebut tidak meyakinkan, pindahlah kami ke hotel sebelah yaitu Hotel 81. Dari luar hotel ini terlihat cukup besar, bangunan hotelnya terdiri atas 8 lantai. Saat di resepsionis saya punya feeling hotel ini saja yang akan kami pilih. Tarif kamar dengan twin bed bervariasi karena sedang peak season, ada hari-hari di mana kami harus membayar $S80, S$90, dan S$100. Tarif termahal sebesar S$100 kami bayarkan untuk malam natal, hari Sabtu (27 Desember), dan malam tahun baru

Berikut adalah review singkatnya dalam komik :

Kamar hotel ini tidak terlalu besar, boleh dibilang sempit tapi bersih. Lantai kamar terbuat dari kayu parket. Ada 2 ranjang, 1 meja TV, 1 meja rias (dilengkapi dengan teko pemanas, 2 cangkir, 2 air mineral botolan, dan kopi/teh), 1 lemari baju, dan 1 kamar mandi. Benar-benar cocok sebagai tempat menginap dengan dana pas-pasan. Biarpun hotelnya kecil, fasilitas di dalam kamar mandinya cukup OK. Air dari shower cukup deras, air panas tersedia 24 jam dan tidak perlu lama menunggu untuk mendapat aliran air panas. Di kamar mandi disediakan juga sabun cair, beda dengan hotel-hotel di Indonesia. Di Indonesia baik hotel murah atau hotel mahal, rata-rata menyediakan sabun mandi batangan. Hmm rasanya kurang pas menggunakan istilah batangan, tapi apa ya yang tepat??!! Ah lupakan, yang penting Anda menangkap maksud saya. Sikat gigi, shower cap, sanitary bag, dan sisir juga disediakan di kamar mandi. Jarang-jarang di Indonesia menginap di hotel murah dengan fasilitas selengkap ini. Ups, sori ada yang lupa….biarpun ada sikat gigi tapi gak ada odolnya 🙁 Hmm kamar hotel dilengkapi dengan AC central.

Selain air panas 24 jam, yang saya senang dengan fasilitas kamar adalah teko pemanas air. Dengan adanya teko, saya tetap bisa menyeduh kopi Kapal Api yang saya bawa dari rumah 🙂 Oh ya, Hotel 81 ini melarang tamunya merokok baik di dalam kamar maupun di dalam areal hotel. Semua kamarnya adalah non smoking room. Orang-orang yang ingin merokok harus keluar dari lobi. Balik lagi soal kopi & pemanas air, dulu saat pergi ke Jerman Kapal Api sachet-an yang saya bawa tidak bisa saya minum karena di hotel tidak ada pemanas air. Sepanjang pengalaman saya menginap di hotel-hotel di Indonesia, hanya hotel bintang 4 ke atas yang menyediakan pemanas air di kamar. Beberapa hotel bintang 3 memang ada juga yang menyediakan teko pemanas air, tapi itu tidak dapat dipastikan. Bagi saya penting sekali mengawali aktivitas dengan segelas kopi panas, jadi alangkah beruntungnya saya kalau hotel menyediakan teko pemanas air di kamar.

Kasur di kamar 05-02 yang saya tinggali tidak cukup empuk. Yah memang saya tidak berharap mendapat hotel dengan kasur cukup nyaman, bayar murah kok mau enak =)) Biarpun hotel murah, HBO, Star Movie, Cinemax, ESPN ada loh di saluran TVnya. Perjalanan kali ini saya jarang berada di hotel kecuali saat malam hari, jadi lengkap tidaknya saluran TV tidak terlalu menjadi soal. Kalau biasanya saya memesan makan lewat room service, di hotel ini sepertinya tidak ada layanan makanan di room service-nya (saya tidak menemukan buku menu di kamar 😀 ). Fasilitas internet juga tersedia di tiap kamar, tidak gratis tapi membayar S$10/hari (sepuasnya sehari penuh). Di kamar ada kabel LAN tergelatak di bawah meja rias, untuk dapat menggunakannya saya harus menghubungi resepsionis untuk minta dibukakan akses menggunakan internet. Tidak saya coba karena mahal. Apalagi ada fasilitas wireless internet gratis di Singapura, jadi rasanya percuma saya mengakses internet di hotel. Hmm sayang juga di daerah Geylang tidak tercover oleh sinyal wireless gratisan (Wireless@SG).

Hotel 81 punya jaringan cukup luas, di kawasan Geylang saja setidaknya ada 8 buah Hotel 81. Masing-masing Hotel 81 punya code name sendiri-sendiri. Hotel yang saya tinggali di Geylang Road Lor 18 adalah Hotel 81 “STAR”. Ada nama-nama lain seperti Emerald, Diamond, dll. Biarpun hotel murah, jaringan Hotel 81 sudah mengantongi ISO 9001 (tertulis di piagam yang dipajang di resepsionis). Dengan demikian mereka punya standar pelayanan yang stabil dan sudah teruji. Beberapa kali kami juga sempat berpapasan dengan truk trailler ukuran sedang bertuliskan Hotel 81, mungkin truk ini dipakai untuk mendistribusikan barang-barang kebutuhan hotel.

Stasiun MRT terdekat dari hotel ini adalah stasiun MRT Aljunied, sekitar 1 km dari hotel kami. Cukup jauh, cukup menguras keringat (apalagi kalau matahari sedang terik), tapi cukup meyehatkan pula tiap hari bolak-balik stasiun MRT Aljunied :))

Singapore (part 5) – No Service No Money

Selasa siang kemarin, saya pergi ke pusat pertokoan di Orchard Road. Di stasiun MRT Orchard, saya cukup terheran-heran melihat ada orang yang duduk memainkan keyboard. Lagu yang dimainkan bernuansa tahun baru, duduk di lorong keluar stasiun yang mengarah ke Orchard Road. Saat melewatinya saya baru sadar kalau pemain keyboard tersebut adalah seorang tuna netra. Keheranan saya adalah mengapa Singapura yang memiliki aturan sedemikian ketat di mana-mana, masih membiarkan orang mengamen….apalagi di stasiun yang menjadi area publik. Terlepas dari si pengamen adalah seorang tuna netra, rasanya kok ada yang aneh memikirkan Singapura yang begitu tertib tapi meloloskan penyandang cacat mengamen. Meskipun demkian, saya sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran pengamen tadi. Sempat terlintas di pikiran saya, apakah mungkin penyandang cacat diberi ijin khusus untuk mencari uang dengan mengamen?

Sambil menyusuri Orchard, saya juga melihat 2 atraksi lain dari penyandang cacat. Yang satu duduk di kursi roda meniup terompet, sementara yang lain memainkan keyboard. Saya sempat mengambil foto dari kedua pengamen ini :

Semakin kuat saja dugaan saya kalau pemerintah Singapura memberikan ijin khusus (atau mungkin juga memfasilitasi) pada mereka yang cacat untuk dapat mencari uang secara halal, menunjukkan talentanya, tanpa harus mengemis-ngemis. Sore harinya saya juga melihat pertunjukan lain di depan Takashimaya Shopping Centre, ada atraksi dua orang gadis plastik cilik. Lihat gambarnya di bawah ini :

Ini juga hebat, agak kasihan juga sih melihat mereka kecil-kecil sudah cari uang di jalan. Tapi memang salah satu hal yang membuat saya salut, di Singapore hampir tidak ada orang yang mengemis-ngemis/meminta-minta uang. Kalaupun ada,  mereka menawarkan jasa/barang sebagai kompensasinya. Misalnya yang saya lihat di daerah Bugis, ada beberapa orang tua yang menawarkan menjual tissue seharga 50 cent. Kasihan memang…tapi saya lebih respek dengan mereka daripada melihat ibu-ibu & anak-anak jalanan di Jakarta; tanpa service apa-apa langsung menadahkan tangan meminta-minta. Kalau cacat mungkin bisa dimaklumi lah kalau sehat bugar apa gak aneh jadinya. No service, no money.

Singapore (part 4) – Internet Gratisan

Salah satu hal yang saya suka di Singapura adalah adanya fasilitas internet gratis untuk umum. Di tempat-tempat keramaian tersedia hotspot, berselancar di dunia maya jadi mudah. Tidak rugi membawa serta Lenovo Ideapad S9 saya ke sini. Untuk dapat memanfaatkan fasilitas internet ini, saya harus mendaftar dulu ke situs http://www.icellnetwork.com , mudah sekali mendaftar lewat situs ini. Saya tahu cara ini dari rekan saya Subastian, ini berkat pengalamannya saat beberapa bulan lalu saat dia training ke Fujitsu Singapore. Sebelum berangkat ke Singapura saya sudah mendaftar dulu untuk memperoleh userename & password interne, bodohnya saya lupa apa passwordnya :-p Untung saya bisa SMS pada Subastian, jadi sementara saya pinjam username & password-nya Subastian. Oh ya fasilitas internet ini katanya gratis sampai akhir tahun 2009.

Saat jalan-jalan di Singapura, saya tinggal memeriksa saja ada tidaknya sinyal wifi dengan menggunakan Nokia E51 saya. Begitu dapat sinyal Wireless@SG, saya tinggal cari tempat duduk yang nyaman lalu buka netbook untuk berinternet. Seperti misalnya sekarang, sambil menunggu teman saya meeting saya duduk-duduk saja di Starbucks Bugis Junction. Dengan modal S$6.5 untuk  segelas Coffee Frapuccino, saya bisa duduk santai browsing internet. Penting bagi saya untuk mencharge Lenovo saya penuh-penuh sebelum meninggalkan hotel. Maklum batere Lenovo saya cuma bisa bertahan 2.5 jam saja. Biarpun internet di sini gratis, kecepatannya lumayan juga loh. Hasil pengukuran Speedtest.net kecepatan downloadnya 500kbps, upload 263kbps. Gila kan, menyaingi (eh mungkin melebihi) kecepatan Speedy di kos saya 😀 Lihat hasil capture Speedtest.net di bawah ini :

Foto di atas adalah hasil jepretan Budy saat saya mencoba akses internet setelah makan siang di Mc Donald di Funan Digital Mall (dekat stasiun MRT City Hall).