Solo (part 3) – Cuaca Buruk

Siang ini saya rencananya pulang dengan menumpang Garuda pukul 14.10. Dari hotel sebenarnya ada shuttle bus gratis menuju airport. Sampai jam 1 kurang 10, bus belum berangkat juga karena masih menunggu belasan tamu lain (1 rombongan) yang sedang makan siang. Halah…bosan menunggu saya putuskan naik taksi saja. Perjalanan menuju airport tidak sampai 20 menit. Saya langsung check-in & bergegas masuk ke Garuda Lounge berharap bisa internetan lagi. Ah sayang tidak ada fasilitas internet di lounge. Jadilah saya baca-baca majalah yang ada di sana.

Sekitar pukul setengah 2 hujan turun demikian lebatnya. Awal yang buruk pikir saya. Jam 2 lebih sedikit ada pengumuman bahwa GA224 dari Jakarta terpaksa dialihkan pendaratannya di Semarang karena cuaca buruk. Pesawat akan menuju Solo untuk mengangkut kami semua bila cuaca sudah memungkinkan untuk pendaratan. So here I am still waiting at Garuda Lounge. Without free internet, without power socket for my notebook, also without book. Just can post from my E51. Heavy rains still there….

Solo (part 2) – The Sultan Hotel

Saya tiba di Solo sekitar pukul 2 siang, hmm first time naik pesawat ke Solo 😀 Bandar udara Adi Sumarmo Solo ternyata kecil dan sepi. Terakhir saya mengunjungi Solo pertengahan tahun 2002 lalu. Waktu itu saya berangkat ke Solo dengan mobil rekan saya. Kali itu saya sengaja datang ke Solo, ke Rumah Sakit Dr.Oen Solo, untuk operasi mengeluarkan pen/platina yang ditanam di kaki saya. Platina itu 2 tahun tinggal di kaki saya setelah dipakai menyambungkan tulang kering saya yang remuk saat kecelakaan motor akhir tahun 1999 lalu. Ya sudah, ini bukan postingan tentang sakit penyakit 😀 saya mau cerita tentang Hotel The Sultan Solo.

Setibanya di Solo kemarin siang, saya langsung menuju Telkomsel. Memang kedatangan saya ke Solo kali ini untuk mengganti tape drive-nya Telkomsel. Tape drive itu apa? Bodoh-bodohannya tape drive adalah alat untuk menulis data ke dalam media tape, umumnya dipakai sebagai media backup data. Gambarnya seperti ini (yang dilingkari merah adalah bagian yang saya ganti kemarin):

Pekerjaan saya sebenarnya sudah beres sekitar jam 4 sore. Rupanya bos saya lupa memesankan hotel untuk saya, baru jam 5an rekan saya mencarikan hotel untuk saya dengan bantuan Dwidaya Travel. Tunggu punya tunggu sampai pukul setengah 7, Dwidaya belum bisa mencarikan hotel untuk saya. Semua rekanan Dwidaya di Solo sedang meeting & tidak bisa dihubungi…nah loh? So what kalau mereka meeting, kan saya gak perlu tahu itu; yang penting mana hotel untuk saya? Ah cape menunggu saya browsing saja di Google mencari informasi hotel di Solo. Ada Novotel juga, tapi kalau saya pesan kamar di Novotel itu sama saja ngeledek bos-bos di kantor :-p , mending cari yang lain. Dapat informasi Hotel The Sultan, segera telepon dan pesan kamar. Ada kamar Deluxe di The Sultan seharga Rp558.800,- ini sudah overbudget seorang engineer (by default budget hotel engineer maksimum Rp400.000,-) Ya sudahlah, tidak mau repot saya ok saja pesan kamar itu, resiko nombok pastinya…so what kalo nombok, taruhlah kantor Rp400.000,- saya bayar sisanya, simple kan?? 🙂

Dari Telkomsel saya naik taksi ke Hotel The Sultan. Dari awal masuk lobi, saya langsung tahu hotel ini akan nyaman disinggahi. Rupanya hotel ini dulunya bernama Hotel Quality. Entah kebetulan atau cuma sugesti saja, kamar hotel yang saya dapat memang mirip desainnya dengan Hotel Quality Makassar. Harga The Sultan sedang mengadakan promo Rainy Sunny selama bulan November ini. Promo tersebut termasuk harga kamar tadi, juga beberapa fasilitas tambahan lainnya. Misalnya : free creambath/refleksi di Happy Salon, free 1 minuman/makanan di restauran, free masuk ke Music Room, free antar jemput ke airport, dan beberapa diskon lain (diskon makanan/minuman di room service, diskon laundry, diskon fitness & spa).

Soal kamar silakan lihat review saya di komik berikut ini :

Soal room service menu, saya lihat harga-harga makanan di hotel ini cukup murah. New Zeland tenderloin steak saja cuma Rp76.000,- jarang-jarang ada steak di hotel semurah ini; langsung saya pesan 1 😀 . Steak-nya memang empuk, sayang black pepper sauce-nya terlalu sedikit. Porsinya cukup ngejeduk di perut :-p Kelemahan yang saya lihat di kamar cuma TV-nya. Mungkin karena TV-nya sudah tua sehingga waktu dinyalakan beberapa kali gambarnya bergaris-garis dan warnya kadang kabur (tidak tajam dan cenderung hitam putih).

Baru sekali datang ke Hotel The Sultan, komentar saya singkatnya hotel ini highly recommended.

Solo (part 1) – Upgrade Kursi

Selasa siang saya berangkat ke Solo. Sampai di bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 11.40. Setelah mampir sebentar makan siang di Garuda Lounge, saya bergegas masuk ke ruang tunggu F5. Baru sebentar duduk di ruang tunggu, nama saya dipanggil petugas ruang tunggu tersebut. Tidak jelas apa sebabnya saya dipanggil, boarding pass saya diminta oleh si petugas. Si petugas cuma bilang kalau kelas ekonomi penuh, ditanya detail si petugas cuma cengar-cengir gak lucu. Saya diminta duduk kembali sampai waktu boarding (naik pesawat).

Nah boarding berlangsung sekitar pukul 12.30, hampir semua penumapang sudah masuk pesawat. Tinggal saya yang bingung, balik lagi saya ke meja petugas tadi. Si mas tadi mengganti tempat duduk saya ke 2F, upgrade ke kelas bisnis 😀 Padahal di saya waktu check-in awalnya dapat tempat duduk 10C. Mungkin ini bisa terjadi karena ada beberapa kru Garuda yang ikut penerbangan ke Solo ini sehingga beberapa tempat duduk di kelas ekonomi terpaksa disisihkan untuk mereka. Mereka sepertinya adalah pramugari/a yang akan bertugas dalam penerbangan haji kloter Solo, terlihat dari tulisan yang ada di troli mereka : Hajj Crew Garuda Indonesia. Nah saya yang ketiban untung dipindah duduk ke kelas bisnis. Entah apa jadinya kalau di kelas bisnis tidak ada kursi yang kosong, disuruh pindah ke cockpit kali :))

Back To Blog – Hotel Garden Palace

Hmm sudah 2 minggu saya puasa ngeblog. Setelah banyak masalah yang memeras tenaga & pikiran, hari ini saya mulai mendapat mood kembali untuk menulis. Banyak juga topik yang sebenarnya bisa ditulis dalam 2 minggu ini, sayang mood yang tidak baik menghambat saya menuangkannya ke dalam tulisan. Tapi saya masih cukup ingat topik-topik apa saja yang ingin saya tulis. Kali ini saya tulis dulu perjalanan saya minggu lalu. Ceritanya Kamis lalu saya mengunjungi Surabaya lagi, menurut catatan saya ini perjalanan ke Surabaya yang ke-10 di tahun 2008 ini. Surabaya memang salah satu kota yang paling sering saya kunjungi tahun 2008. Cirebon saja sepertinya kalah banyak saya kunjungi. Kalau biasanya saya tulis liputan perjalanan sampai beberapa buah, kali ini cukup 1 saja 😀 jadi tidak akan ada part-2 , part-3 dst.

Enam kali ke Surabaya saya menginap ke Hotel Garden, tapi kali ini saya menginap di Hotel Garden Palace. Kata Dwidaya Travel yang mencarikan kamar untuk saya, hanya Hotel Garden Palace yang available. Entah ada even apa di Surabaya sampai susah sekali mencari hotel yang kosong. Tumben dan heran juga, padahal biasanya default kantor saya adalah Hotel Garden (lebih murah gitu loh :-p ). Hotel Garden Palace terletak berdampingan dengan Hotel Garden. Dari lobi Hotel Garden kita bisa masuk langsung ke Hotel Garden Palace, sengaja dibuat jalan terusan yang menghubungkan lobi kedua hotel. Hotel Garden Palace boleh dibilang adalah saudara muda dari Hotel Garden, karena katanya Hotel Garden Palace dibangun setelah Hotel Garden. Hotel Garden sendiri adalah hotel berbintang 3 sementara saudara mudanya itu berbintang 4.

Kalau kita bandingkan lobi Hotel Garden Palace dengan lobi Hotel Garden, sepintas kita bisa mengiyakan kalau benar Hotel Garden Palace punya rangking yang lebih baik daripada Hotel Garden. Lobinya lebih luas, dengan meja resepsionis yang lebih panjang. Lobi Hotel Garden Palace dilengkapi sofa-sofa (lengkap dengan mejanya). Hotel Garden pun punya sofa & meja di lobinya tapi kalah banyak daripada Hotel Garden palace. Dari segi bangunan Hotel Garden Palace juga lebih megah, bayangkan saja bangunannya terdiri dari 24 lantai; lebih tinggi 20 lantai daripada Hotel Garden yang cuma 4 lantai. Tapi kesan saya sedikit berubah ketika saya sudah check-in dan masuk ke kamar. Saya mencium aroma “bulukan” lagi (saya masih kesulitan menemukan padanan kata yang cocok untuk mendeskripsikan kesan “bulukan”). Sebagian besar penilaian saya tentang bagus tidaknya sebuah hotel terjadi pada menit-menit pertama masuk ke kamar hotel.

Tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menilai bahwa Hotel Garden Palace tidak jauh berbeda dengan Hotel Garden. Entah karena saya dapat kamar kelas kambing atau memang rata-rata kamar di Garden Palace memang demikian. Kamar yang saya dapat Kamis lalu terkesan tua, sedikit kotor, ah pokoknya kurang fresh suasana kamarnya. Malahan saya pikir kamar di Hotel Garden lebih mending dibandingkan kamar yang saya dapat kemarin di Garden Palace. Membaca sepintas brosur kamar yang ada di resepsionis, saya jadi tahu ada beberapa kamar dengan tema tertentu di Hotel Garden Palace ini. Yang saya ingat ada 3 tema; Romans, Japanesse, dan 1 tema lagi yang saya lupa :-p Tema ini jelas-jelas dituliskan di tembok di lantai yang bersangkutan. Misalnya Kamis siang lalu saat sampai di lantai 19, ada tulisan “Romans” tembok lantai 19. Entah apa sih maksudnya kamar bergaya Roma itu. Silakan lihat dulu liputannya dalam komik berikut ini :

Hotel Garden Palace menyediakan 4 buah lift bagi para tamu, 2 lift bisa dipakai untuk ke semua lantai sementara 2 lainnya terbatas untuk lantai-lantai tertentu. Sayang keempat lift ini lambat kerjanya, entah karena memang sudah tua atau memang sedemikian banyak pengguna lift di hotel ini. Ah tapi saya rasa karena memang sudah tua 🙂 . Tapi liftnya jauh lebih baik daripada lift di Hotel Garden. Lift di Hotel Garden sepintas dilihat dari luar lebih mirip kulkas bobrok.

Biarpun tua, kamar di Garden Palace ini cukup canggih. Semua peralatan elektronik mulai dari lampu, TV, AC semuanya dikontrol dengan control box. Control box multifungsi itu diletakkan di samping tempat tidur. Mungkin pada jamannya, teknologi ini sudah sedemikian canggih. Sayang sekarang control box-nya sudah usang, tombol yang seharusnya tombol sentuh harus ditekan keras-keras untuk dapat dioperasikan. Selain berfungsi sebagai remote control, alat yang sama berfungsi juga sebagai jam dan alarm. Semuanya digital, kalau sudah ada alat seperti ini layanan morning call masih ada gak ya? Harusnya sih semua menu yang ada di control box mudah untuk dioperasikan, dengan catatan semua informasi menu masih dapat dibaca. Rata-rata tulisan yang ada di tiap tombol sudah aus dimakan usia, terlalu banyak dipencet orang. Kemarin saya kebingungan waktu hendak menghidupkan televisi. Tombol power di TV sudah ditekan, tombol di remote TV juga sudah ditekan, tapi TV tak kunjung hidup….astaga rupanya ada 1 tombol di control box itu yang berfungsi sebagai tombol power TV. Ah sialan tulisan “TV” yang ada di tombol itu sudah tidak ada, jadilah saya seperti orang bodoh telepon housekeeping tanya bagaimana cara menghidupkan TV =))  Oh ya meskipun lampu di kamar bisa diatur lewat control box ini, tetap aja juga saklar lampu di dinding…itu juga berupa tombol sentuh.

Jumat siang saya check-out dari Hotel Garden Palace, rencana awal saya akan pulang Jumat sore. Tapi ternyata seperti biasa ada budaya tambah kerjaan mendadak. Jadilah saya bertahan di Surabaya sehari lagi. Kali ini pun Dwidaya Travel hanya berhasil mencarikan saya kamar di Hotel Garden Palace. Jumat sore saya balik lagi ke Hotel Garden Palace. Kali ini saya dapat kamar dengan tema Jepang, silakan lihat di komik berikut ini :

Hmm ini kali pertama saya membuat review hotel sampai 2 komik sekaligus. OK sekarang cerita tentang kamar dengan tema Jepang ini. Entah Jepang bagian mana yang ditiru…belum pernah ke Jepang sih (ngarep.com dikirim training ke Jepang =)) ). Kamar ini dilengkapi dengan banyak perabotan berbahan dasar rotan. Sebagian lantai kamar dibuat lebih tinggi sekitar 20 cm dari ubin. Bagian yang lebih tinggi itu dipakai untuk meletakan ranjang, meja kecil, meja TV, meja berisi pemanas air. Mungkin karena posisi ranjang yang sudah tinggi makanya sengaja dipilih ranjang yang pendek. Meja yang pendek di dekat ranjang dilengkapi dengan 2 buah kursi rotan dan bantal busa. Kita jadi dipaksa duduk lesehan, satu-satunya kursi normal yang ada hanya ada 1 di dekat meja kaca rias. Hmm mungkin bagi orang yang tergila-gila dengan budaya Jepang akan senang mendapati kamar seperti ini. Saya sih lebih pilih kamar yang standar saja deh.

Sayang seribu sayang kamar bergaya Jepang ini menyediakan kulkas kosong buat saya. Hmm salah satu yang saya benci dari sebuah kamar hotel….kulkas/minibar yang kosong melompong.  Ada kesan meremehkan yang saya dapat kalau mendapati kulkas kosong. Memangnya saya gak sanggup bayar isi minibar itu?!! Hal yang mengesalkan terjadi kemarin pagi. Hari Sabtu pagi (jam 10an itu masih pagi kan? 😀 ) saya bangun & benar-benar kehausan (mungkin karena AC terlalu dingin sehingga membuat kerongkongan saya kering). Saya telepon room service untuk pesan Aqua. Aqua gratisan yang ada di kamar sudah habis dan sialnya kulkas minibar kosong melompong. Heran juga saya kalau menginap di kamar dengan kulkas kosong. Untuk apa dimintai deposit saat check-in kalau toh kulkas minibarnya kosong. Tunggu punya tunggu Aqua pesanan saya tidak kunjung datang. Hmm saya pikir karena kamar saya berada di lantai 18 jadi pegawai room service butuh waktu lama untuk mengantarkan Aqua. Entah liftnya macet atau dia nekat jalan kaki lewat tangga darurat menuju kamar saya. Saya juga sudah agak maklum kalau layanan kamar selalu lambat, pesan makan pun sama lambatnya. Saya telepon lagi room service-nya, katanya Aqua sedang diantarkan. Sampai setengah 12 Aqua belum datang juga, saya tinggal mandi saja karena jam 12 saya harus check-out. Sampai saya check-out Aqua tidak juga diantarkan.

Harusnya saya komplain (seperti biasa) tapi kali ini saya sedang kehilangan mood untuk komplain dan marah-marah. Intinya saya kapok balik lagi ke Hotel Garden Palace, kalau ke Hotel Gardennya sih OK lah. Loh bukannya lebih baik balik lagi ke hotel bintang 4 daripada ke hotel bintang 3? Ah saya kok merasa rugi ya menginap di hotel bintang 4 tapi rasanya sama dengan hotel bintang 3. Loh tapi kan kantormu yang bayar? Tetap saja rugi, rugi kesalnya perlu dihitung juga kan. Untuk sementara ini berarti hotel terbaik di Surabaya yang pernah diberikan kantor adalah Hotel Singgasana.

Cue Tip Kamui

Sabtu malam setelah pulang dari Balikpapan kemarin, saya punya kesempatan mengganti tip shaft 314. Tip bawaan 314 terlalu keras bagi saya. Mengganti tip memang sudah lama jadi target saya, baru kemarin saya bisa ganti tip. Oh ya yang belum tau tip, tip adalah bagian ujung stik biliar yang bersentuhan langsung dengan bola. Pada foto di samping ini, tip adalah bagian di sebelah kanan yang ujungnya berwarna biru. Rata-rata tip aslinya berwarna coklat, warna biru itu berasal dari kapur biliar. Tip Kamui adalah salah satu merek tip yang cukup terkenal. Sebuah tip kamui berharga Rp125.000,- Ada juga merek-merek lain seperti Moori, Sniper, Triangle, Le Pro. Saya pilih tip Kamui atas rekomendasi Ferry Danuarta (rekan saya yang pedagang stik biliar), karena katanya menurut pengalaman tip Kamui ini paling enak dipakai.

Saya baca di websitenya Kamui ternyata tip ini dibuat dari kulit babi loh  😮 Iya betul babi…si hidung pesek berkaki pendek itu, yang dagingnya saya benci itu 🙂 Kulit babi yang dikompres sampai 10 lapis, makanya tipe tip seperti ini dikategorikan layered tip. Ada beberapa pilihan jenis tip Kamui berdasar tingkat kekerasannya; saya sendiri memilih tipe soft. Setelah dipasang di shaft Predator 314 saya, saya coba main dan ternyata memang benar tip ini enak dipakai. Enak dipakai bagaimana? Ya misalnya saja, saya lebih mudah melakukan draw stroke. Draw stroke? Itu loh pukulan yang bisa membuat bola putih mundur lagi setelah mengenai bola target. Atau jangan-jangan kemarin hanya kebetulan saja ya draw stroke-nya lagi bener? =))

Menyambung tulisan saya sebelumnya, mungkin ada yang akan bertanya : “jadi ini acara yang bikin elo balik dari Balikpapan ?” Bukan lah, saya gak segila itu pulang ke Jakarta hanya sekadar ganti tip stik biliar 😀 .