Balikpapan (part 4) – Pulang Sebentar

Kemarin saya pulang dulu dari Balikpapan meninggalkan pekerjaan yang ternyata ditunda pelaksanaannya sampai Senin besok. Saya pulang dengan Garuda pukul 10 pagi dan mendarat di Jakarta pukul 11 siang. Tadinya saya berharap sisa pekerjaan di Telkomsel bisa diselesaikan hari Jumat malam. Ternyata ada perubahan jadwal dari pihak Telkomsel, mereka ingin pekerjaan upgrade firmware S80 (external disks) dilanjutkan hari Senin saja πŸ™Β  Pilihan paling ekonomis (kalau menurut manajer saya) adalah saya tinggal saja di hotel sampai selesai pekerjaan, dengan kata lain saya harus tetap berada di Balikpapan hari Sabtu dan Minggu ini. Tentu lebih murah membayar biaya hotel saya untuk hari Sabtu-Minggu daripada mengongkosi saya pulang balik Balikpapan Jakarta.

Ah tapi bagaimana dengan acara saya hari Minggu ini. Apakah kali ini pun saya harus mengorbankanΒ  acara pribadi untuk urusan kantor. Biasanya saya punya banyak story tentang kerja di hari libur atau kerja di hari Minggu; tidak sedikit yang menyenggol bahkan menggagalkan acara pribadi saya. Dengan “berat hati” saya terpaksa minta pulang saja ke Jakarta karena acara hari Minggu ini benar-benar tidak bisa saya abaikan. (Jangan tanya apa acaranya ya…pokoknya penting :-p ). Biasanya sebagai “anak kecil” saya selalu nurut disuruh apapun oleh bos saya, tapi kali sedikit berbeda ceritanya. Beruntunglah saya punya bos yang bijaksana, bisa mengerti keadaan saya dan mengijinkan saya pulang dulu ke Jakarta. Rencananya Senin besok saya akan kembali lagi ke Balikpapan. Mudah-mudahan sisa pekerjaan upgrade firmware S80 dapat selesai dengan baik.

Many thanks for Mr Rully for your kindness, my business on Jakarta finished successfully today.

Balikpapan (part 3) – Soal Traktir Makan

Tadi malam saya sedikit berdebat dengan teman saya soal kebiasaan saya mentraktir makan teman-teman. Teman saya protes katanya saya boros. Ada 1 pernyataannya yang cukup memancing saya untuk berkomentar. Dia bilang “ya jelas kalo elo traktir makan orang-orang pasti mau dekat/akrab sama elo”. Waduh kok begitu komentarnya, tentu ini langsung saya sanggah. Saya tidak pernah berharap untuk “membeli” keakraban dengan rekan-rekan cuma dengan traktiran makan. Naif sekali rasanya kalau saya membayari orang makan hanya supaya orang tersebut mau akrab dengan saya. Saya memang senang mentraktir teman-teman, entah apa sebabnya. Yang jelas saya senang saja kalau melihat orang bisa puas makan. Saya cukup bisa merasakan bagaimana gak enaknya gak bisa makan. Bukan berarti teman-teman yang saya bayari makan itu tidak mampu makan sendiri. Tapi bagi saya soal makan adalah hal yang penting. Senang aja rasanya melihat orang puas makan.

Jadi lucu kalau saya dengar ada orang yang bilang “Eh kamu kan ulang tahun, kapan nih makan-makannya?” Kasihan kan makan-makannya setahun sekali kalau ada yang ulang tahun. Banyak juga yang makan-makannya hanya kalau ada orang yang resign dari kantornya, alias makan-makan saat farewell party. Selama saya punya uang lebih, tidak terlalu jadi soal membayari orang makan. Tentu itu juga kalau mood saya mentraktir orang sedang bagus :-p . Oh ya satu lagi…bagi saya mentraktir orang bukan juga karena saya ingin dianggap hebat, bukan saya ingin dipuji-puji. Susah memang mendeskripsikan senangnya saya membayari orang lain makan, sama susahnya kalau Anda yang suka belanja di mal-mal mewah disuruh menjelaskan kenapa bisa senang belanja di sana. Apakah traktir-mentraktir itu sama dengan yang namanya kebaikan? Rasanya hanya Tuhan yang tahu. Saya cuma percaya siapa banyak menabur akan banyak menuai.

Soal boros atau tidak itu lain masalahnya, bagi saya boros atau tidak adalah hal yang relatif. Ambil saja contoh tentang kebiasaan dan hobi belanja. Orang yang enggan membelanjakan dananya untuk beli aneka macam barang akan memandang rekannya yang shopping mania sebagai orang yang boros. Sementara orang yang doyan shopping akan menganggap rekannya tadi sebagai orang yang pelit. Atau mungkin juga dia akan memandang temannya memang miskin : “Ah dasar lu aja yang gak bisa shopping jadi bilang gua itu boros belanja melulu“…nah kan? Mudah-mudahan Anda menangkap maksud saya. Boros atau murah hati juga relatif sifatnya tergantung dari sudut apa kita melihat. Hemat dan pelit juga relatif sifatnya. Orang yang pelit dengan mudah berdalih ah saya sih memilih untuk hidup hemat. sementara orang lain mungkin akan melihat dirinya sebagai orang yang pelit. Kaya atau miskin memang relatif. Orang dengan tabungan 1 milyar mungkin akan memandang rekannya yang hanya bergaji Rp1juta/bulan sebagai orang miskin. Tapi si miskin tadi bisa memandang dirinya lebih kaya daripada gelandangan pengemis atau anak-anak jalanan.

Dalam dunia fisika, Albert Einsten populer dengan hukum relativitasnya. Nah ternyata bukan hanya dalam dunia fisika saja kan hukum relativitas berlaku, tapi juga dalam sikap dan cara pandang seseorang terhadap sesuatu hal. Segalanya memang serba relatif, jadi haruskah kita hidup dengan kerelativitasan pandangan orang lain?

Foto ilustrasi adalah foto sup asparagus kepiting di Hotel Sagita.

Balikpapan (part 2) – Free Lunch

Setelah makan malam dengan voucher hadiah, Kamis siang saya dapat makan siang gratis lagi di Hotel Sagita. Kali ini saya ditraktir makan oleh General Manager Hotel Sagita, Pak Dodhy Achadiyat. Tadinya saya sama sekali tidak berharap akan dijamu makan siang, alias tidak berniat dapat makan siang gratis lagi. Tapi namanya rejeki gak boleh ditolak kan? :-p

Pak Dodhy yang sepertinya begitu senang melihat komik review hotelnya di blog saya, menyempatkan waktunya bertemu saya. Dari kemarin saya sudah dikabari oleh Pak Raharja, bahwa beliau ingin bertemu dengan saya.Β  Kamis pagi sekitar pukul 8 Pak Dodhy sudah menelepon saya, padahal saya baru bisa memejamkan mata sekitar pukul 5 pagi πŸ™ Saya baru pulang dari Telkomsel sekitar pukul 3 pagi dan baru sialnya tidak bisa segera tidur. Mata ini melek terus sampai sekitar pukul 5. Saya ajak saja Pak Dodhy bertemu saat lunch.

Siangnya saya baru bangun hampir pukul 1 siang, hampir lewat jam makan siang πŸ˜€ Singkatnya saya baru bertemu Pak Dodhy sekitar pukul 13.45 di Chop Stick Restaurant (lantai dasar Hotel Sagita). Untung tadi siang Pak Dodhy tidak pakai dasi dan jas lengkap, kalau tidak tentu situasinya akan jadi aneh berhadapan dengan saya yang cuma pakai T-Shirt :)) Obrolan sambil makan siang itu berlangsung sampai sekitar pukul 15.15. Banyak hal juga yang kami obrolkan mulai dari soal komik, background pendidikan kami masing-masing, masalah environment sampai pemanasan global :)) Rupanya selaku GM hotel, Pak Dodhy ini adalah orang yang punya banyak pengalaman dengan yang namanya lingkungan. Nyebrang bidang keilmuan tepatnya, tanpa latar pendidikan perhotelan/pariwisata tapi bisa jadi GM Hotel Sagita.Ternyata selain sebagai GM Hotel Sagita, Pak Dodhy juga menjabat sebagai ketua PHRI (Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia) di Balikpapan.

Topik pembicaraan lain yang cukup menarik adalah soal pelayanan. Pak Dodhy bercerita bagaimana membudayakan pelayanan sepenuh hati di hotelnya. Dengan slogan “Absolutely, serve with genuine…above the expectation”, karyawan Hotel Sagita dihimbaunya untuk selalu melayani dengan tulus. Dan sepertinya memang benar terlihat slogan ini berhasil membawa segenap staf Hotel Sagita melayani dengan ramah & sepenuh hati. Well, sepertinya memang benar kalau leadership tidak selamanya berhubungan dengan latar belakang & tinggi rendahnya pendidikan seseorang.Obrolan tidak berlangsung canggung walaupun kita berdua beda “status” πŸ˜€ , yang satu General Manager yang lain cuma engineer biasa. Mungkin itu bukan karena saya yang jago menggelar percakapan tapi beliau yang ramah dan rendah hati. Oh ya, siang itu saya makan kailan cah sapi….enak pastinya bukan karena gratisnya loh ya πŸ˜€ tapi karena memang menu-menu di Chop Stick memang enak/cocok dengan selera saya.

Ok Pak Dodhy, many thanks for the lunch and very nice to meet you πŸ˜€

Tulisan ini terlambat saya posting, baru sekarang bisa saya posting sambil tunggu pesawat di Bandara Sepinggan Balikpapan. Padahal tulisan ini sudah saya tulis sejak Kamis malam. Dan ternyata, baik Pak Dodhy & Pak Raharja sudah mampir di blog ini lagi & meninggalkan komentar di tulisan saya sebelumnya.

Balikpapan (part 1) – Back To Sagita

Kali ini saya balik lagi ke Balikpapan. Perjalanan yang tidak menyenangkan karena cuaca buruk hampir sepanjang perjalanan Jakarta Balikpapan. GA 561 yang saya tumpangi berkali-kali mengalami guncangan keras (hmm..belum sampai ada penumpang yang teriak-teriak sih πŸ˜€ ). Tadinya saya pikir di Balikpapan turun hujan deras, ternyata sewaktu mendarat cuaca Balikpapan cukup cerah meskipun mendung menghiasi langit Balikpapan. Hmm cuaca yang saya suka daripada panas terik seperti kalau mendarat di Denpasar.

Ada yang sedikit berbeda dengan kepergian saya ke luar kota kali ini. Biasanya dari bandara saya menuju hotel dengan menggunakan taksi alias tidak ada yang menjemput, tapi kali ini tidak. Saya dijemput di bandara Sepinggan saat mendarat sekitar pukul 17.10 (1 jam lebih cepat daripada Jakarta). Eh ini kali kedua loh saya dijemput di bandara dengan penjemput yang membawa kertas bertuliskan nama saya. Yang pertama saya masih ingat 15 Oktober 2007 lalu di Surabaya, waktu itu saya dijemput di bandara Juanda oleh stafnya PT Bumi Menara Internusa. Dulu disambut dengan tulisan “Selamat Datang Bpk Tedy Tirtawidjaja – PT Fujitsu Indonesia”. Nah yang kedua sore ini, saya dijemput oleh stafnya hotel Sagita Comfort. Yang jemput 2 perempuan dengan seragam karyawan Hotel Sagita, salah satunya pegang kertas bertuliskan : “Selamat Datang Bp Tedy Tirtawidjaya” =))

Kenapa saya dijemput? Ok ceritanya mundur sebentar kemarin. Hari Selasa siang Dwidaya Travel tidak bisa mendapatkan kamar di Hotel Sagita, tepatnya tidak ada kamar yang sesuai budget kantor saya (bukan salah Mbak Juli Dwidaya kok :-p ) Bingung juga karena saya tidak pernah menginap di hotel lain di Balikpapan, lah ke Balikpapannya aja baru 1 kali. Atas ide Bu Wawa, salah satu petinggi Fujitsu (petinggi maksudnya ngantornya di lantai 10…tinggi kan? =)) ), saya disarankan menelepon manajer Hotel Sagita yang pernah meninggalkan comment di tulisan saya tentang Hotel Sagita. Saya iseng coba menelepon manajer Pak Fuji (Business Development Executive Hotel Sagita), ternyata dia ingat pernah membaca review hotelnya di blog saya. Lewat Pak Fuji, dia memberi saya kamar yang sama seperti kamar yang saya dapat 11 September lalu. Tadi pagi Pak Fuji mengirim saya SMS, memberitahu akan mengirim jemputan di bandara Sepinggan. Nah kurang lebih seperti itu background ceritanya.

Cukup surprise dengan penyambutan yang diberikan pada saya oleh staf Hotel Sagita. Semua staf kok jadi tiba-tiba tahu nama saya, semua menyapa nama saya “selamat datang Pak Tedy”. Wah sepertinya pasti sudah ada briefing dulu sebelum saya datang, kalau tidak bagaimana bisa door man pun tahu nama saya. Mulanya saya disambut Pak Ridwan (room manager) lalu baru saya bertemu dengan Pak Fuji (hmm rupanya dia lebih senang dipanggil Raharja, tadi dia memperkenalkan diri dengan nama belakangnya). Pak Ridwan membawa juga 2 koleganya, sama-sama manajer Hotel Sagita. Geli juga rasanya diberi sambutan seperti ini. Pak Fuji bercerita kalau General Manager Hotel, Pak Dodhy, antusias membaca tulisan saya di blog. Ada 2 amplop titipan Pak Dodhy untuk saya. Amplop pertama adalah voucher makan di Chop Stick Restaurant, amplop kedua isinya seperti ini :

Yang menarik buat saya dari surat di atas adalah apresiasi Pak Dodhy untuk komik saya tentang Hotel Sagita. Istilah “E-Comic” menarik buat saya. Ternyata ada juga yang memberi apresiasi terhadap komik saya. Ya tentu saja apresiasi itu muncul karena komik tersebut ada kaitannya dengan hotel Sagita Comfort Balikpapan. Oh ya, dulu saya cukup heran mengapa staf Hotel Sagita bisa menemukan review yang saya publish di blog. Dulu saya berpikir, mereka kok bisa-bisanya menemukan link blog saya. Tadi itu menjadi hal pertama yang saya tanyakan pada Pak Fuji. Rupanya dia menemukan tulisan saya lewat Google dengan kata kunci pencarian “hotel sagita”. Hebat memang Google bisa menghubungkan 2 orang yang tidak saling kenal di dunia maya.

Sayangnya nama saya ditulis tidak tepat, masa nama saya ditulis “Tedy Tirtawidjaya” yang benar kan “Tedy Tirtawidjaja” :(( Perlu segera diklarifikasi nih secepatnya.

Makassar (part 5) – Tentang Pisang Epe

Selasa sore saya pulang dari Makassar. Sampai di Jakarta sekitar pukul 17.30, bukan waktu yang baik untuk pulang ke Jakarta karena pada jam-jam itu lalu lintas masih macet. Saya masih punya 1 cerita lagi dari Makassar yang belum sempat saya publish. Rencananya tulisan ini mau saya publish saat saya berada di Bandara Hasannudin Makassar, tapi sayangnya saya tidak bisa menemukan wireless internet gratis di bandara maupun di Garuda Lounge. Cerita ini tentang penjual pisang epe di Makassar.

Senin malam saya dan Rachmat keluar hotel makan ikan di restoran Lae-Lae. Lae-Lae ada di kawasan pantai Losari, tidak terlalu jauh dari hotel Quality tempat kami menginap. Karena baru pertama kali makan di tempat tersebut, kami baru tahu kalau kami harus memilih langsung ikan/udang/cumi yang kami pesan. Begitu datang langsung cari meja dan duduk, ah malunya ternyata lauknya harus kita pilih sendiri sekaligus tawar-menawar harga. Lewat mbak pelayan yang datang kami hanya bisa pesan nasi, minum, dan sayur-sayuran. Cukup puas kami berdua makan di Lae-Lae. Pulang dari Lae-Lae Rachmat ingin beli pisang epe, saya juga jadi ingin beli penasaran seperti apa sih pisang epe itu. Enam kali datang ke Makassar belum sekalipun saya makan pisang epe. Padahal di seputaran pantai Losari banyak sekali pedagang pisang epe. Di Trans TV pun pernah dibahas kalau pisang epe jadi salah satu jajanan favorit bagi orang-orang yang mengunjungi pantai Losari.

Sebelum ke inti cerita saya ceritakan dulu sepintas apa itu pisang epe. Pisang epe adalah pisang yang dibakar lalu disiram dengan saos. Saosnya sendiri bisa terbuat dari gula merah yang dicairkan, coklat, atau sari durian. Kita juga bisa minta pisangnya diberi parutan keju. Pisang yang digunakan kalau tidak salah pisang raja. Tentu pisang yang dipakai adalah pisang yang tidak terlalu lembek seperti layaknya pisang ambon. Dinamai pisang epe karena sebelum dan sesudah dibakar, pisang ditekan dengan alat pres sederhana (terbuat dari 2 buah balok). Jadi epe sendiri mungkin maksudnya pisangnya jadi gepeng karena dipencet-pencet dulu. Sepanjang pantai Losari itu kita bisa dengan mudah menemukan penjual pisang epe dengan gerobaknya masing-masing. Di jalan yang menuju Lae-Lae saja kami melewati setidaknya 3 penjual pisang epe.

Nah Rachmat yang sudah pernah membeli pisang epe lebih memilih membeli pisang epe lagi di penjual yang ada di sebelah utara hotel Quality. Padahal kalau mau cepat di depan rumah makan Lae-Lae juga ada pedagang pisang epe. Tapi saya malah nurut saja dengan Rachmat beli pisang epe di tempat yang lebih jauh daripada yang kami lewati tadi. Memang sih tampilan penjual pisang epe yang kami lewati kurang meyakinkan (itu versi Rachmat). Karena tidak semua penjual pisang epe menyalakan petromaxnya, gerobak terkesan gelap apalagi ditambah sepi pembeli membuat kita ragu membeli pisang epenya. Kalau saya perhatikan mereka memang mengirit pemakaian BBM dengan meyalakan petromax hanya kalau ada orang yang memesan pisangnya, tentu si penjual perlu penerangan untuk meracik pisang epenya. Rejeki orang memang tidak ada yang tahu, tepatnya mungkin hanya Tuhan yang tahu tentang rejeki seseorang. Ada juga yang berpendapat semuanya (rejeki, jodoh, mati) di tangan Tuhan. Dalam kasus tadi penjual pisang epe dalam foto di atas itulah yang beruntung, dari sekian penjual pisang yang kami lewati eh malah dia yang dapat pembeli. Sebungkus pisang epe coklat keju dijual dengan harga Rp7000,- (berisi 3 buah pisang). Seperti ini nih bentuk pisang epe :

Buat lidah saya, pisang epe ini terlalu manis. Campuran gula merahnya mungkin yang terlalu banyak. Kalau saja kejunya lebih banyak sepertinya lebih pas, keju memberi rasa asin dan gurih sekaligus membantu menetralkan manisnya kuah coklat & gula merah itu. Seporsi ini cukup bisa mengganjal perut kalau malam tiba-tiba lapar di hotel πŸ™‚ Selain pesan dibungkus, kita juga bisa langsung makan di sana. Penjual pisang epe ini menyediakan beberapa bangku plastik berjaga-jaga kalau-kalau ada pembeli yang ingin makan di tempat.

**waduh sudah jam 9.24 dan saya masih asik ngeblog di kamar…kerja euy kerja =)) **