Banjarmasin (part 2) – Closet atau Closed

Foto di bawah adalah peringatan di dalam WC gedung Telkomsel Banjarmasin. Tulisannya cukup memancing keisengan saya untuk memotret ๐Ÿ˜€

Entah siapa yang mencetaknya, cleaning service atau pihak manajemen gedung. Memang lembar peringatan di dalam WC bukan sesuatu yang butuh ketelitian bahasa tinggi, tapi boleh kan saya berkomentar? ๐Ÿ˜€

Entah apa kata “closet” sendiri sudah merupakan kata serapan dalam Bahasa Indonesia, tapi setahu saya kata “closet” bukan bagian dari Bahasa Indonesia. Di dalam bahasa Inggris sendiri, penulisan yang benar adalah “closet”. Hmm dalam Bahasa Indonesia padanan katanya tentu kakus atau WC. Eh tapi bukankah WC sendiri adalah singkatan dari “water closet”? Tapi tentu saja menuliskan โ€œclosedโ€ jelas lucu karena artinya malah menjadi โ€œtutupโ€.

Ah atau mungkin yang mengetik tulisan “closed” tadi adalah orang Jawa dengan logat medok ๐Ÿ˜€ Seperti rekan saya yang menyebut (dan menuliskna) “laptop” menjadi “labtop” =))

Banjarmasin (part 1) – Soal JBOD

Belakangan saya jadi agak malas meng-update blog, bukan sibuk tentunya (karena saya tidak percaya orang sibuk tidak sempat ngeblog ๐Ÿ˜€ ). Senin kemarin saya datang ke Banjarmasin, terakhir saya mengunjungi Banjarmasin tanggal 22 Agustus lalu. Kali ini salah satu tujuan kedatangan saya ke Banjarmasin adalah untuk mengganti salah satu harddisk milik Telkomsel yang rusak. Hmm saya lebih senang menulis harddisk dalam huruf miring daripada harus menggunakan terjemahan “cakram keras” =)) Dalam literatur berbahasa Inggris, harddisk lebih sering dituliskan sebagai “disk”; sementara piringan optik (CD) ditulis sebagai “disc”.ย  Oh ya CD sendiri kan singkatan dari “compact disc” bukan “compact disk”.

Harddisk yang saya ganti kemarin adalah salah satu harddisk dalam FibreCAT S80 storage system. FibreCAT S80 storage keluaran Fujitsu Siemens ini adalah perangkat penyimpanan data yang terdiri dari jajaran14 harddisk dengan interface optik (biasa disebut fibre channel disk).

Tidak seperti harddisk kelas konsumer yang memiliki interface IDE, SATA, atau SCSI, harddisk yang digunakan dalam S80 menggunakan interface fiber optic. S80 juga dilengkapi dengan RAID controller sehingga masing-masing harddisk bisa diatur dalam rangkaian RAID sistem (redundant array of inexpensive disk). Satu box S80 tersusun dari 2 RAID controller dengan14 slot harddisk. Harddisk yang diganti tersebut merupakan bagian dari sistem JBOD. JBOD sendiri merupakan singkatan dari “just bunch of disks”

Dalam terminologi RAID system, JBOD dapat disamakan dengan RAID 0. Sekumpulan harddisk digabungkan menjadi 1 buah virtual disk dengan kapasitas jumlah kapasitas masing-masing harddisk. Misalnya 4 buah harddisk berukuran 73GB digabungkan menjadi sebuah JBOD, maka ukuran virtual disk yang didapat adalah sebesar 4*73GB atau sebesar 292GB. Virtual disk sendiri maksudnya adalah harddisk yang dikenali oleh operating system. Jika sebuah JBOD terhubung dengan sebuah server, server tidak akan tahu berapa jumlah physical harddisk yang tergabung dalam konfigurasi JBOD. Server hanya akan mengenali JBOD sebagai sebuah harddisk tunggal. JBOD tidak memiliki redudansi apapun. Artinya jika salah satu harddisk mengalami kerusakan maka virtual disk (JBOD) tersebut akan โ€œhancurโ€, semua data dapat dipastikan akan hilang. Menggunakan JBOD untuk mendapat storage yang besar memang ekonomis. Sayangnya mendapat storage yang besar tidak diimbangi dengan ketahanan data (redudansi) yang baik.

Bandingkan dengan RAID1 atau RAID 0+1 (mirror disk), Dengan RAID 1 atau RAID 0+1, harddisk (atau sekumpulan harddisk) dipasangkan dengan harddisk (atau sekumpulan harddisk yang lain) yang lain sebagai kloningnya. Jika salah satu harddisk rusak, harddisk yang lain akan memegang keutuhan data. Tapi sistem mirror ini tentu memboroskan resource harddisk yang tersedia. Pada contoh 4 harddisk 73GB, bila kita bentuk menjadi RAID 0+1 maka kapasitas yang didapat hanya 2x73GB atau sekitar 146GB. Lalu ke mana kapasitas 2 harddisk yang lain? Tentu saja 2 harddisk yang lain akan menjadi backup/salinannya. Kapasitas yang dapat digunakan hanya 146GB. Bila keutuhan dan redudansi menjadi isu penting, makan RAID 0+1 lebih bijaksana untuk digunakan.

Untuk mengatasi kekurangan redudansi dari sistem JBOD, biasanya digunakan redudansi secaraย  dengan kedua JBOD tersebut menggunakan Solaris sebagai sistem operasi, maka proses mirroring bisoftware. Misalnya dua buah JBOD sistem akan di-mirror secara software. Bila server yang terhubungsa menggunakan Solaris Volume Manager. Atau bisa pula proses mirroring dilakukan dengan menggunakan third party software semisal Veritas Volume Manager. Ya memang, ujung-ujungnya akan menjadi RAID 0+1 lagi tapi dalam konteks RAID secara software.

Soal Telepon Umum

Foto di samping ini diambil 3 hari yang lalu di depan kos saya. Waktu itu sekitar jam setengah 10 pagi, saya belum berangkat kantor :-p saat itu saya sedang menunggu taksi. Taksi tak kunjung datang, ada pegawai Telkom yang datang mengambil koin dari dalam telepon umum koin. Setelah memeriksa telepon umumnya sepertinya dia juga melakukan pengecekan apakah telepon dalam kondisi prima.

Si petugas juga membawa serenteng kunci (banyak sekali), mungkin dia memang bertugas memeriksa puluhan telepon umum di Jakarta Barat. Yah memang di depan kos saya ada sebuah telepon umum koin yang masih berfungsi. Masih ada juga loh yang menggunakan telepon umum itu. Salah satunya adalah pembantu kos saya yang sok cantik & doyan cekikikan (**pengen ngelempar botol rasanya**)

Saya sendiri sudah 2 tahun tinggal di situ belum pernah sekalipun mencoba menelepon menggunakan telepon umum itu. Sekali-kali nanti saya harus coba sebelum telepon umumnya rusak dan punah ๐Ÿ™‚

Saya juga sudah lupa kapan terakhir menelepon menggunakan telepon umum koin. Cuma saya masih ingat sekali dulu waktu kecil sering ikut mamah saya menelepon di telepon umum. Hmm berarti itu jaman sebelum tahun 1995, karena saya ingat rumah saya dipasangi telepon waktu saya kelas 5 SD. Entah apakah sekarang telepon umum yang dulu sering dipakai mamah saya itu masih ada atau tidak. Telepon umumnya masih seperti akuarium, ditempatkan di sebuah ruangan dari kaca. Ya jelas sekali saya ingat telepon umum yang ada di Jalan Yos Sudarso Cirebon itu salah satunya ada di dekat Kantor Pos Besar Cirebon.

Dulu sebelum era ponsel, saya perhatikan wartel lah yang mula-mula menggeser eksistensi telepon umum koin. Di mana-mana kita gampang menemukan wartel (warung telekomunikasi), dari yang benar-benar dikelola secara profesional sampai yang cuma 1 kamar sempit pengap. Wartel yang dikelola secara profesional misalnya pernah saya jumpai di Jalan Padjajaran Bandung. Ruangan ber-AC, dengan tempat tunggu cukup luas, KBU yang banyak berjajar (KBU – Kamar Bicara Umum). Wartel yang pas-pasan juga banyak dijumpai; dulu di dekat kos saya di Dago Bandung, ada sebuah warung yang juga beroperasi sebagai wartel. Cuma ada 2 KBU dengan ukuran tidak tidak lebih dari 1 meter persegi. Tidak ada AC, cuma kipas angin kecil. Dulu telepon umum kartu juga sempat beroperasi, tapi sepertinya hanya sebentar saja popularitasnya.

Kurun tahun 2001-2002 penggunaan ponsel juga masih jarang. Saya masih ingat waktu awal-awal kuliah, masih banyak teman saya yang tidak punya ponsel. Sekarang sepertinya malah aneh mendengar orang belum berponsel. Pulsa telepon operator telepon seluler juga belum semurah sekarang. Coba bayangkan, kalau kita sekarang masih tergantung pada telepon umum macam itu; repot sekali kalau cuma ingin tanya kabar harus jauh-jauh jalan ke telepon umum (perlu cari-cari uang logam seratusan juga ๐Ÿ™‚ ). Sudah jaman ponsel, mau tanya kabar tinggal SMS murah meriah, praktis pula. Kalau pagi-pagi bangun kesiangan kan repot juga kalau harus jalan ke telepon umum telepon bos ijin datang terlambat :-p Eh tapi bahaya juga sih pakai ponsel, sudah bangun kesiangan, melek mata terus kirim SMS ke bos “Pak maaf telat masuk kantor”. SMS terkirim eh bablas merem tidur lagi =)) ….bahaya kan?

Jadi masih ingatkah Anda kapan terakhir kali menelpon dari telepon umum? ๐Ÿ™‚

Lunch @Blacksteer

Senin lalu kami tim Unix Fujitsu Indonesia pergi makan siang di Blacksteer Grand Indonesia. Makan steak ceritanya. Ada yang ulang tahun? Oh bukan…ini makan-makan merayakan hadiah Fujitsu President Award untuk NSN IN Project. Sebenarnya hadiah ini sudah cukup lama kami dapat, waktu acara Fujitsu Family Gathering Agustus lalu. Awalnya kami tidak punya rencana memilih Blacksteer sebagai tempat makan siang, kami ber-18 cuma berangkat ke Grand Indonesia tanpa tahu mau makan di mana.

Salah satu alasan memilih Blacksteer adalah adanya promo diskon 30% bagi pemegang kartu kredit UOB dan 50% bagi pemegang kartu kredit Mandiri. Hmm…saya sih bukan pecinta diskonan kartu kredit, tapi berhubung yang pegang dana bukan saya (yang pegang dana jagoan kartu kredit juga kali :-p ) ya saya sih manut saja mau makan di mana. Ternyata diskonan kartu kredit itu ada syarat dan ketentuannya juga. Diskon hanya berlaku untuk pembelanjaan makan sebesar Rp2juta. Jadi misalnya total makan adalah Rp3.5juta maka diskonan tidak berlaku. Bisa dinego dengan kasirnya jadi begini, Rp2juta dapat diskon sementara sisa Rp1.5juta tunai. Hmm…payah tidak transparan. Tapi ya memang tidak bisa disalahkan juga, lah wong namanya iklan kan harus semenarik mungkin apalagi bagi para pecinta diskonan kartu kredit seperti teman-teman saya itu tuh ;))

Oh ya tiap kali ada acara makan-makan kantor, bagi saya yang lebih menarik adalah foto-fotonya. Saya bisa mengambil foto banyak hal, dari foto dokumentasi acara sampai foto kekonyolan teman-teman saya ๐Ÿ˜€ Ujung-ujungnya tentu dikompilasi jadi komik seperti di bawah ini (tentu komentar yang ada di komik hanya rekaan saya saja).

Solo (part 4) – Bersepeda

Mampir sebentar di Solo 2 hari lalu saya mengamati fenomena bersepeda di sana. Yang pertama saya lihat adalah rombongan pelajar bersepeda saya jumpai di sekitar Jalan Adisucipto Surakarta. Perjalanan dari dan ke bandara, saya selalu berpapasan dengan pengendara sepeda. Tidak sedikit mereka yang bersepeda adalah anak-anak sekolah. Karena saya melintas sekitar pukul 1 siang, mereka pastinya baru pulang dari sekolah. Tidak cuma anak sekolah, banyak juga saya lihat ibu-ibu bersepeda, para karyawan bersepeda. Di taksi sewaktu menuju airport Rabu siang, saya berhasil memotret beberapa anak sekolah yang di bawah gerimis kecil mengayuh sepeda pulang dari sekolah.

Sepeda yang mereka gunakan juga berbagai macam, ada yang bertahan dengan sepeda kumbang (foto kanan), ada juga yang bersepeda dengan sepeda gunung (foto kiri). Mungkin harus dicari tahu apakah di Solo toko sepeda masih punya pasar yang cukup besar, mengingat masih banyak yang bersepeda di Solo. Hal yang unik bagi saya untuk mengamati mengapa di Solo masih banyak orang yang bersepeda di tengah jalan raya. Situasi kota Solo yang tenang dan tidak terlalu padat lalu lintasnya mungkin salah satu alasan mengapa orang masih gemar bersepeda ke sana ke mari. Tentu semuanya itu terlepas dari pikiran negatif kalau mereka cuma punya sepeda sebagai alat transportasi. Lalu lintas dan kota yang cukup tenang boleh jadi menjadi tempat yang menyenangkan untuk bersepeda. Di Yogyakarta saja yang katanya berpredikat kota pelajar, motor sudah jadi alat transportasi umum yang memenuhi kota. Jangan-jangan budaya bersepeda ini ada korelasinya dengan budaya orang Jawa yang “alon-alon asal kelakon”, pelan-pelan asal sampai (ah sok berfilosofi lu Ted :-p )

Di Jakarta belum tentu tiap hari kita bisa melihat orang bersepeda di tengah jalan protokol ibukota. Eh mungkin kalau melintas pagi-pagi di Sudirman masih bisa melihat rombongan Bike To Work. Bike To Work adalah kumpulan orang-orang yang senang bersepeda dari rumah menuju kantor. Jangan bayangkan kalau jarak rumah dan sepeda hanya dekat saja, salah satu rekan saya di kantor bersepeda dari Cibubur menuju Sudirman beberapa kali seminggu….terbayang gak sih jauhnya? Naik sepeda di jalan-jalan besar Jakarta mungkin bisa jadi sebuah aktivitas yang menguras adrenalin. Bayangkan saja bagaimana pengendara sepeda harus bersaing dengan ramainya kendaraan bermotor mulai dari bajaj, motor, mobil, bahkan kontainer. Lain kota lain juga memang motivasi orang bersepeda. Di Jakarta mungkin orang akan gembar-gembor soal mengurangi polusi udara dengan cara bersepeda ke kantor, atau bersepeda supaya sehat. Di Solo mungkin lain lagi motivasinya atau boleh jadi memang tanpa motivasi apapun saking terbiasanya bersepeda ke mana-mana.

**** woi buruan mandi terus berangkat kerja, jam 9 nih belum berangkat malah posting gak jelas soal naik sepeda :D….eh naik apa ya nanti ke kantor? sepeda, ojek atau taksi saja? ;)) ****