Jerman (part 9) – Engineer Raba-Raba

Ada komentar “miring” dari beberapa teman di kantor tentang kepergian saya training ke Jerman.

“Paling di sana ntar ngeblog aja…foto-foto aja…”

Ada juga komentar di blog dari Jesie, mengomentari saya main biliar di Panderborn; katanya

“…biaya training mahal-mahal cuma ngebilyar…”

Untuk menepis (mode ngeles) komentar-komentar tadi, saya buat liputan foto tentang kegiatan training yang saya sudah saya ikuti 3 hari ini. Banyak sih kegiatan lain di acara training ini yang tidak tergambar di foto-foto berikut ini, tapi mudah-mudahan foto-foto berikut cukup memberi kesan bahwa saya juga belajar loh 😀 :

Tujuan utama saya training kan sebenarnya cuma satu :

Melepas status engineer “raba-raba”

Selama ini kan jadi engineer, pegang server/storage, baca manualnya dulu, coba-coba konfigurasi, syukur kalau jalan, kalau gak jalan ngoprek dulu, kalau masih gak jalan tanya Google, kalau tetep keukeuh gak jalan baru deh tanya senior (ngelirik Ramdhan & Manggar :-p ). Saya selama ini punya istilah sendiri untuk hal ini : “engineer raba-raba“. Jadi mudah-mudahan istilah ini bisa hilang kalau sudah ikut training 😀

Jerman (part 8) – Tentang Minuman

Minuman lain yang banyak saya temui di Jerman, jus botolan. Jus botolan seperti ini nih gambarnya (tutupnya mengingatkan saya pada kemasan sambal botol di Indonesia :-p ) :

Nah kalau yang ini saya lebih suka, jus buah. Granini sepertinya merek lokal produsen jus asli dalam kemasan; mungkin seperti Berry yang banyak dijual di supermarket di Indonesia. Ada yang berisi jus apel, jus jeruk, ada juga seperti yang ada di foto ini…jus campuran macam-macam buah. Yang terbuat dari campuran buah-buahan diberi label multivitamin. Saya minum jus seperti ini di hotel (saat sarapan), di ruang training (disuguhi banyak jus botolan ini), di kantin saat makan siang (tinggal pilih jus apa dari mesin minuman).

Setiap hari saya, Manggar, dan Pak Rully bisa menghabiskan lebih dari 2 macam minuman. Lihat nih botol-botol kosong setelah training selesai :

Gratis sih, jadi dengan gampang kita bisa minum…rasanya lebih lancar di tenggorokan; kalau di hotel sih air wastafel saja lah :))

Jerman (part 7) – Tentang Air Minum

Selama di Jerman, saya sering (atau mungkin selalu) menemukan air mineral dengan soda. Istilah kerennya mungkin “sparkling water“. Contohnya seperti ini :

Rasanya aneh bagi lidah saya. Walaupun saya pecinta minuman bersoda (semacam Coca Cola) tetap saja saya tidak bisa menikmati rasa air putih bersoda ini. Di hotel saya memilih minum air dari kran wastafel saja. Katanya sih air di sini yang keluar dari kran semuanya dapat diminum. Menurut teman saya, kalau kita membeli air mineral di toko secara default kita akan diberi sparkling water. Jadi kalau ingin membeli air mineral murni tanpa soda kita jangan lupa memintanya dulu (atau membaca teliti labelnya kalau di swalayan).

Jerman (part 6) – Tentang Cuaca

Kami bertiga datang ke Jerman pada akhir musim dingin (ini menurut Donny teman saya di Stutgart). Udara masih dingin untuk ukuran saya dan rekan-rekan yang notabene dari negara tropis. Suhu udara di Frankfurt dan Paderborn rata-rata 8 derajat Celcius di pagi hari (gak tahu kalau malam berapa derajat). Udara di sini dinginnya masih bisa saya tahan, kemana-mana hanya modal winter coat tanpa sarung tangan, syal, dan tanpa topi.

Yang paling gak enak adalah anginnya. Anginnya menurut saya lebih dingin, kalau jalan dan diterpa angin yang paling terasa dingin adalah tangan dan muka. Tangan ini rasanya seperti memegang es batu…ada rasa kaku dan ngilu-nya. Jadi jangan pernah gak bawa topi, sarung tangan dan syal kalau datang ke negara yang sedang musim dingin (walaupun sekarang sudah di akhir musim dingin). Nih lihat foto Manggar & my boss Rully sedang dalam mode kedinginan 😀 :

(foto diambil Minggu pagi jam 10.32 di salah satu taman di Frankfurt)

Sudah 2 hari bangun tidur saya bangun tidur pagi hari dengan tenggorokan kering sekali. Mungkin ini karena udara di sini cenderung kering jadi pagi hari tenggorokan kering sekali. Bibir juga terasa benar-benar kering kalau diterpa angin di luar. Ada benarnya saran Erny (teman saya di Jakarta) untuk bawa lips balm. Pinjaman lotions kulit dari Erny malah belum pernah saya pakai sejak datang di sini. Kulit tangan dan muka sih tidak terasa kering. Apa karena kulit saya termasuk kulit kering ya.

Jerman (part 5) – Internet di Hotel

Sudah lama saya tidak bermain-main dengan situs penghitung kecepatan akses internet seperti Speedtest.net. Tadi iseng menghitung berapa kecepatan akses internet gratis di hotel ini. Hasilnya lumayan, bagus malah kalau dibandingkan dengan akses Speedy di kamar saya di Jakarta 😀 . Saya coba beberapa kali dan nih lihat sendiri hasilnya :

speed test internet Aspethera Hotel

Mantap kan…gratis – kencang pula. Ini saya tes dengan kondisi wireless connections yang saya pakai hanya dapat sinyal dengan kualitas LOW, gak tau deh bakal berapa cepat kalau saya dapat sinyal WiFi yang lebih bagus.