Mobil Favorit Mudik

Sepanjang perjalanan mudik kemarin saya perhatikan tipe-tipe mobil yang meramaikan jalur pantura. Yang paling banyak saya temui adalah Toyota Avanza (dan saudaranya Daihatsu Xenia). Memang bukan pengamatan yang detail (scientific), dari perhitungan kasar saja Avanza sepertinya menempati urutan pertama mobil yang paling banyak dipakai untuk mudik. Lucunya foto-foto yang saya ambil sepanjang perjalanan juga menangkap mobil Avanza di dalamnya. Padahal itu hanya kebetulan saja, saya bukan sengaja memotret mobil Avanzanya.

Jenis mobil lain yang juga banyak dipakai sebagai kendaraan mudik adalah Kijang Inova dan Toyota Rush (dan saudaranya Daihatsu Terios). Dan terakhir adalah Suzuki Ertiga, meskipun tergolong tipe mobil baru populasi Ertiga cukup banyak di sepanjang jalur mudik Pantura.

Kartun Di Rumah Sakit

Di Rumah Sakit Elisabeth Semarang banyak gambar kartun (karikatur?) berisi peringatan. Menurut saya ini sangat unik, cara yang cukup ramah untuk menyampaikan pesan peringatan. Misalnya peringatan tentang maksimum 2 penunggu pasien berikut ini :

Atau larangan untuk merokok di seputar lingkungan rumah sakit. Pesannya dikemas dalam kartun yang lucu :

Sate Sari Mendo Tegal

Dalam perjalanan pulang dari Semarang saya mampir makan sate kambing muda di Tegal. Atas petunjuk rekan saya via telepon, saya diarahkan ke rumah makan sate kambing Sari Mendo. Dari jalur utama Pantura yang menuju Cirebon, saya belok kiri di samping Pasifik Mal. Setelah belok jalan lurus terus mengikuti jalan itu saya harus belok kiri. Begitu belok kiri saya harus belok kanan menyeberangi rel kereta api. Dari rel kereta api tadi, lokasi Sari Mendo tidak jauh lagi di sisi kiri jalan. Parkirannya luas karena halaman ruko di sampingnya dijadikan tempat parkir juga.

Rumah makan ini terbilang luas memanjang ke belakang. Saat itu sekitar pukul 7 malam tidak terlalu banyak pengunjung yang makan di sana. Tapi ini membuat saya heran karena pelayanannya terbilang lambat. Perlu waktu lebih dari 20 menit sampai makanan datang. Mereka tampaknya tidak menjual sate kambing daging polos, semuanya diberi lemak (gajih). Dagingnya lumayan empuk tapi masih kalah empuk dengan sate kambing di Prupuk yang saya kunjungi bulan Juni yang lalu.

Selain sate saya juga pesan sop kambingnya. Sopnya terasa segar hanya sayang isi dagingnya sedikit. Untuk sopnya saya masih lebih suka sop kambing Sate Casmadi di belakang Wisma Mulia Jakarta.

Overall lumayan untuk makan malam mengganjal perut setelah berjam-jam terjebak kemacetan di Pekalongan.

Bandeng Presto

Selain lunpia, Semarang juga terkenal dengan oleh-oleh bandeng prestonya. Ikan bandeng yang sudah dimasak dalam panci presto tulangnya jadi lembut sekali dan bisa dimakan. Sepanjang jalan Pandanaran Semarang, banyak penjual bandeng presto. Salah satu gerai yang menjual bandeng presto menggunakan merek “Presto”. Toko ini terletak di pertigaan jalan Pandanaraan dan jalan MH Thamrin. Letaknya di hook belokan menuju jalan MH Thamrin.

Dalam perjalanan ke Semarang kemarin saya sempat mampir ke sana. Banyak sekali perubahan di gerai Presto, sekarang nampak lebih modern. Papan nama pun terlihat mencolok. Sekarang Presto punya area parkir sendiri di depan tokonya, tidak luas tapi cukup menampung 5-6 mobil. Gerai bandeng Presto juga menjual berbagai oleh-oleh khas Semarang.

Oh ya, gerai Presto ini lokasinya berada di seberang Menara Suara Merdeka. Saat saya datang susah sekali mencari tempat parkir karena banyaknya pengunjung. Tidak heran memang mengingat arus lalu lintas di Jalan Pandanaran sedang padat-padatnya.

Suasana dalam toko benar-benar sibuk. Sepintas seperti menunggu antrian obat di apotik karena pegawainya beberapa kali memanggil nama pembeli saat pesanannya sudah siap. Soal rasa tiap-tiap orang punya selera masing-masing. Ada juga yang bilang katanya bandeng presto yang enak adalah merek Juwana. Tapi saya sendiri lebih cocok dengan rasa Bandeng Presto, yang asli merek Presto. Hmmm sayangnya saya lupa foto ikan bandengnya :-).

Kelenteng Tay Kak Sie Semarang

Semarang terkenal memiliki banyak Kelenteng sebagai tempat beribadah umat Budha & Konghucu. Dalam perjalanan ke Semarang kemarin saya sempat mampir ke salah satu kelenteng, namanya Kelenteng Tay Kak Sie. Kelenteng tua ini ada di Gang Lombok, meskipun untuk menuju ke kelenteng ini harus melalui sebuah gang yang cukup sempit tapi halaman depan Kelenteng Tay Kak Sie ini cukup luas. Terdapat area parkir mobil yang cukup luas. Saya tidak masuk ke dalam bangunan Kelenteng, saya hanya melihat-lihat di halaman depan Kelenteng saja. Di tengah-tengah halaman Kelenteng terdapat sebuah patung besar Laksamana Cheng Ho.

Bangunan kecil berwarna merah di depan Kelenteng Tay Kak Sie ini adalah panggung tempat pertunjukan wayang potehi. Sayang tidak ada pertunjukan wayang di siang hari.

Pada foto di atas terlihat bangunan tinggi seperti tugu dibalut kain merah. Itu sebenarnya adalah lilin berukuran raksasa. Lilin itu merupakan donasi dari umat Budha. Lilin itu dibiarkan menyala sepanjang hari. Sepertinya lilin tersebut sengaja ditutup dengan kain untuk melindungi nyala api dari angin yang cukup kencang di Semarang. Sementara itu di bawah pohon besar yang nampak pada foto di atas terdapat sebuah patung Budha.

Katanya pohon tersebut adalah pohon Bodhi. Sepintas batang pohon ini dililit oleh akar yang besar-besar.

Selain patung Laksamana Cheng Ho & patung Budha, di halaman Kelenteng Tay Kak Sie ini terdapat 2 patung dewa lainnya. Dua patung tadi berdiri menjaga gerbang masuk Kelenteng.

Di samping Kelenteng Tay Kak Sie ini mengalir sebuah sungai. Sungai ini yang membatasi Gang Lombok dari gang lainnya. Bukan sungai yang bersih, tapi saya lihat tidak banyak tumpukan sampah di sana.

Uniknya ada sebuah replika kapal layar di sungai tadi. Kabarnya kapal ini adalah replika kapal yang dipakai oleh Laksamana Cheng Ho ketika datang ke pulau Jawa.

Sebenarnya saya tidak sengaja mampir ke Kelenteng ini, secara kebetulan saja karena saya sedang menunggu antrian pesan lunpia Gang Lombok. Tapi ini jadi pengalaman yang menarik, lain kali mungkin saya bisa mencoba untuk masuk ke Kelentengnya & mungkin bisa menyempatkan waktu mengunjungi Kelenteng terkenal lainnya di Semarang.